
Sabtu pagi aku dan Leo memutuskan pergi ke rumah Duo Julid terlebih dahulu untuk memberikan asinan yang kemarin aku beli dan sudah dimasukkan ke kulkas tentunya.
Aku udah makan semalam. Setelah makan malam yang lezat buatan Leo kami tutup dengan makan asinan bareng. Lagi-lagi Papa Dibyo satu selera denganku, memilih asinan sayur dibanding asinan buah.
"Wah ini kesukaan Papa, May. Tau aja kamu!" puji Papa yang sudah nambah kerupuk beberapa kali.
"Maya enggak tau, Pa. Nebak aja. Eh ternyata kita satu selera."
"Itu namanya kita udah kontak batin, May. Nanti kapan-kapan kita kesana lagi ya. Ajak Mama Lena juga ya."
"Ih Papa mah modus tuh. Biar bisa PDKT sama Mama. Eh tapi aku beliin buat Mama juga kok. Papa mau anterin langsung enggak? Biar ada alesan gitu ke rumah Mama?!" aku memainkan alisku sambil menggoda Papa.
Lucu tau ngeledekkin orang tua yang lagi dimabuk asmara. Papa pun malu-malu tapi mau.
"Kita ke rumah Mama aja semuanya besok? Gimana? Nanti aku telepon Mama deh. Suruh masak yang banyak." usul Richard.
"Ide bagus tuh! Boleh juga. Nanti Papa pesenin kue jajanan pasar kesukaan Mama di Monami. Cepat telepon Mama, Cat!" perintah Papa langsung.
"Siap, Pa!"
Dan jadilah siang ini kami ada acara makan siang bareng di rumah Mama Lena. Sebelum ke rumah Mama Lena, aku mampir dulu ke dua sahabatku, siapa lagi kalau bukan Duo Julid.
Seperti biasa Leo memarkirkan mobilnya di depan warung Pak Husin. Kedatangan Leo disambut hangat oleh Pak Husin seperti biasanya. Aku dan Leo mampir dulu ke makam Adam.
Sejak kami rujuk, kami belum pernah ke makam Adam. Bukan malas, tapi memang belum sempat. Kan disuruh ke outlet terus sama Pak Johan. Dan enggak mungkin juga ke kuburan malam-malam, takut ada dedemit ih... takut!
Jika sebelumnya setiap pergi ke makam Adam baik aku maupun Leo selalu menangis sedih namun kali ini berbeda. Aku mau menunjukkan pada Adam bahwa Mama dan Papanya sudah kembali bersama.
"Adam Sayang, hari ini Mama dan Papa datang nengokin kamu. Maaf ya kemarin Mama sama Papa belum sempet nengokin kamu. Mama bawa kabar gembira untuk kamu. Mama dan Papa sudah kembali bersama. Seperti yang Adam inginkan juga bukan? Semoga Mama dan Papa bisa menjadi keluarga yang berbahagia. Tunggu Mama dan Papa nanti di alam sana ya, Nak."
Entah kenapa aku pun bisa merasakan kalau Adam juga turut bahagia atas kebahagiaan aku dan Leo. Dia pasti senang melihat Mama dan Papanya kembali bersama. Setidaknya aku udah mulai ikhlas melepas kepergian Adam dan menerima takdirku.
Setelah dari makam Adam, kami pun ke tempat Duo Julis biasa nongkrong. Mereka lagi di tukang bakso tadi pas aku telepon ternyata mereka sedang pergi.
"Enak nih kayaknya? Makan nggak bagi-bagi!" aku mengagetkan Bu Sri dan Bu Jojo yang sedang asyik makan kerupuk yang dicelup celup kuah bakso. Bukti kongkret kalau emak-emak enggak mau rugi. Biar kuah baksonya habis ya pakai kerupuk. Makan baksonya kurang kenyang. Kalau dicampur kerupuk lumayan nambah kenyang dikit.
"Eh ada penganten baru." ledek keduanya kompak.
"Mau bakso enggak?" tanya Bu Jojo menawari.
"Enggak usah, Bu. Makasih. Habis ini mau ke rumah Mama, disana mau ada makan siang bareng." tolakku halus.
"Yaudah kalau kamu enggak mau makan bakso mah gak apa-apa. Tapi Bos Leo mau kan bayarin kita? He...he...he..." mulai deh aksi memalak Leo dimulai.
Leo tertawa melihat ulah dua sahabatku ini. "Siap, Bu." Leo lalu menghampiri tukang bakso dan memberikan uang seratus lima puluh ribu. "Buat bayar pesanan dua ibu-ibu cantik itu, sisanya bungkus aja buat mereka bawa pulang."
"Asyiiiik! Kita dibayarin lagi sama Bos Leo. Makasih ya Bos. Semoga rejekinya ditambah lagi sama Allah." doa Bu Sri.
"Aamiin." aku dan Leo mengaminkan doa kedua ibu-ibu julid itu. Kita enggak pernah bisa tahu dari mulut siapa doa itu akan terkabul, iya kan?
Dan enaknya berbagi dengan orang lain selain membuat orang lain bahagia juga didoakan oleh orang tersebut. Enggak akan pernah kekurangan deh pokoknya. Dijamin! Bukan sama aku tapi sama Allah.
"Tuh sampai lupa deh Maya mau kasih sesuatu buat ibu." aku mengeluarkan dua buah asinan bogor beserta kerupuk mie yang kemarin aku beli.
"Wah asinan. Mantep banget nih habis makan bakso cemilannya asinan. Baek bener deh nih pasangan suami istri ini. Semoga cepet dikasih momongan ya." doa Bu Jojo.
"Aamiin." dan diaminkan oleh Bu Sri.
"Aamiin." dan oleh aku dan Leo juga tentunya.
"Ayo May! Nanti kita kesiangan kesananya." Leo melihat jam di tangan kirinya.
"Bu, Maya pergi dulu ya. Nanti Maya main lagi." aku berpamitan dulu sama Duo Julid.
"Iya. Harus sering main May! Jangan di rumah terus. Nanti bulukan loh!" ledek Bu Sri.
"Memangnya Maya roti? Pake bulukan segala!"
****
Tugas memberikan asinan pada Duo Julid sudah beres. Next ke rumah Mama Lena. Kebetulan sekali jalur yang aku dan Leo ambil adalah melewati rumah Angga.
Leo yang sedang asyik mengemudi sambil bersenandung mengikuti lagu yang diputar di radio tiba-tiba berhenti mendadak.
__ADS_1
"Loh kenapa?" tanyaku heran.
Leo tak menjawab pertanyaanku. Ia sibuk mengambil Hp dan mulai membidik foto.
"Kenapa sih?" aku mulai penasaran.
"Itu! Kamu enggak lihat? Mobil itu masuk ke dalam parkiran rumah!" Leo menunjuk mobil warna hitam yang masuk ke dalam rumah Angga.
"Memangnya kenapa?" aku masih belum mengerti.
"Kamu enggak inget? Mobil itu yang waktu itu kasih amplop ke Pak Johan!" Leo masih sibuk dengan aksi mata-matanya. Sekarang Ia mengubah kamera menjadi mode video.
"Ah masa sih?!" aku menajamkan penglihatanku.
"Eh iya loh bener. Nomor polisinya sama. Mau apa mobil itu di rumah Angga?" aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal.
"Itu rumah Angga? Si Kupret?" Leo memang belum tau dimana rumah Angga sebenarnya.
Aku mengangguk. "Iya."
"Wah pantas saja.... Ketebak nih sekarang. Ternyata Johan bekerjasama dengan kubu Hadikusuma! Oke, semakin jelas. Tinggal nyari bukti lebih konkret tentang Johan." Leo menyimpulkan sesuatu yang aku enggak ngertia maksudnya apa.
Sadar kalau istrinya yang agak oon ini enggak segampang itu memahami suatu masalah, Leo menjelaskan kesimpulannya padaku.
"Jadi gini loh Sayang," Leo menjalankan lagi mobilnya. "Perusahaan Papa dan Perusahaan Hadikusuma itu musuh bebuyutan sejak dulu. Sama kayak Papa Dibyo dan Pak Broto yang sejak dulu enggak akur. Saling tikung, saling tusuk dan saling serang. Selama ini masih pakai cara yang halus, wajar aja sih kan sama-sama pelaku usaha kalau saingan sudah biasa,"
"Nah yang bikin enggak biasa nih, dari pihak Hadikusuma menjebak Papa. Membuat Papa seolah-olah melakukan aksi penyuapan. Padahal bukan suap. Seperti kayak kasih komisi gitu loh. Cuma kebetulan kemarin saat dijebak komisi yang diberikan besar karena nilai tendernya juga besar,"
Leo menunggu Pak Ogah yang biasa menjaga tiap jalan keluar menuju jalan raya memberikan instruksi. Leo mengambil selembar uang lima ribuan dan memberikan pada Pak Ogah tersebut yang menyambutnya dengan sukacita.
"Gede bener ngasihnya? Kalau di jalan ada sepuluh Pak Ogah udah habis lima puluh ribu tuh!" protesku.
Pak Ogah memberikan isyarat agar mobil Leo dapat jalan lagi dan melaju di jalan raya.
"Kan kamu yang bilang. Kasihnya dilebihkan. Membuat orang bahagia kan ibadah. Aku sudah mulai menjalankan apa yang kamu nasihatkan padaku nih!"
"Oh iya juga ya. Bagus! Lalu selanjutnya gimana?" aku meminta Leo melanjutkan lagi ceritanya yang sempat terputus karena Pak Ogah.
"Kok bisnis jahat banget sih? Kamu jangan kayak gitu loh Sayang!"
Leo tersenyum. "Aku udah pernah bilang sama kamu, dunia bisnis tuh kejam. Lebih kejam dari pada ibu tiri. Tikung menikung, tusuk menusuk, sikut menyikut. Yang paling kuat yang akan menang. Tapi kamu tenang aja, bagi aku enggak apa-apa sedikit yang penting berkah."
"Sedikit apaan? Uang belanja di ATM aku aja ada lima ratus juta. Dalam dua tahun kerja udah bisa beli mobil dan rumah cash. Itu sedikitnya dari mana?" sindirku.
Leo sekarang tertawa sampai lesung pipinya kelihatan. "Ya itu sedikit dibanding dengan apa yang Papa dan Richard miliki. Harga mobil dan rumah yang hendak aku beli juga enggak ada apa-apanya dibanding koleksi mobil mewah milik Richard."
"Enak dong jadi Kakanda. Enggak usah kerja, tinggal minta aja semua terpenuhi." keluhku.
"Ya itu kan dulu. Sekarang Richard udah punya kesadaran untuk bekerja. Richard punya semua kan karena Papa memanjakan dia. Setiap memenangkan lomba Papa selalu menghadiahkan sesuatu."
"Kamu enggak iri apa Sayang?" pertanyaan yang selalu membuatku penasaran.
Leo menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku mah sadar diri. Aku enggak cerdas seperti Richard. Nilai kuliah aja pas-pasan. Aku mensyukuri apa yang aku dapat dalam hidup aku. Biar sedikit asal berkah. Pasti cukup kok."
Dalam bayanganku sekarang Leo dikelilingi sinar yang membuatnya terlihat amat menyilaukan mata. "Ah.... Oppa... Sarangheyo....."
"I love you too." balas Leo.
"Aku cinta kamu." balasku.
"Aku tresno karo kowe."
"Abdi bogoh ka anjeun."
"Ik hou van jou."
"Wo ai ni."
"Ich liebe dich."
"Ih bahasa apaan tuh?"
"Jerman." jawab Leo.
__ADS_1
"Udahan ah. Aku enggak tau lagi bahasa negara lain." aku pura-pura ngambek.
"Iya... Iya... Kita juga udah mau sampai kok.Tuh di depan rumah Mama." Leo menunjuk rumah Mama Lena. Sudah ada mobil Papa dan Richard yang terparkir di garasi mobilnya.
"Kenapa sih Papa dan Richard enggak satu mobil bareng aja? Selain boros bensin juga bikin macet jalanan." keluhku.
"Mereka memang kayak gitu. Udah kebiasaan. Nanti kalau kita punya banyak anak, biar anak-anak kita naik mobil mereka. Sekalian jadi baby sitter he...he...he..."
"Boleh juga tuh idenya." aku melepas seat belt dan mengikuti Leo masuk ke dalam rumah. Tak lupa asinan juga kubawa.
Mama Lena langsung menyambut kedatanganku dengan senyumnya yang hangat dan tangannya yang terbuka lebar.
"Lama banget sih datangnya!"
Aku memeluk Mama yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. "Tadi mampir dulu Ma. Mama gimana keadaannya? Sehat?"
Mama melepaskan pelukanku. "Sehat dong. Mau menyambut menantu kesayangan ya harus sehat." Mama tersenyum seraya mengusap lengan tanganku lembut.
Leo juga menghampiri Mama dan mencium kening Mama. Ia lalu masuk ke dalam rumah membaur dengan Papa dan kakaknya.
"Ayo kita masuk. Mama sudah masak banyak nih." Mama menggandengku masuk ke dalam rumah.
Di dalam sudah ada Papa yang sengaja membawa PS 5 kesayangannya untuk main bareng kedua anaknya. Dasar ya Papa, kemanapun berada harus ada PS.
"Pa, Leo dapet bukti nih!" Leo menghampiri Papa dan menunjukkan bukti video yang sudah Ia kumpulkan. Richard yang sedang tiduran di sofa pun terduduk kaget.
"Bukti apaan?" tanya Richard bingung.
"Bukti keterlibatan Johan dengan Hadikusuma. Nih Papa lihat!" Leo menunjukkan foto video saat Pak Johan sedang menerima amplop dari dalam mobil. "Papa bandingin sama video yang baru aja Leo rekam."
Kini Papa melihat video mobil yang terparkir di dalam garasi rumah Angga. "Ini rumah siapa?"
"Rumah Si Kupret alias Angga."
"Angga anaknya Hadikusuma yang kemarin mau melamar Maya?" tanya Papa Dibyo.
"Iya. Siapa lagi?! Tadi Leo kebetulan lewat depan rumahnya dan melihat mobil yang sama dengan mobil yang ngasih amplop ke Johan. Gimana Pa? Masih kurang enggak buktinya?" tanya Leo dengan penuh semangat.
Papa Dibyo terlihat berpikir sejenak. Keningnya terlihat berkerut. "Masih kurang kayaknya. Kalau begini saja enggak bakalan bisa nyerang Johan. Pasti akan di kick balik sama dia. Jabatan sebagai kepala audit yang bisa nanganin karyawan enggak beres bikin dia jago ngeles."
"Yah... Padahal ini udah susah payah lo Pa." raut semangat Leo berubah menjadi kekecewaan.
"Hmm... Gimana kalau kita periksa rekening Johan? Tanggal Ia menerima amplop keesokan harinya pasti akan Ia setorkan ke rekening. Bukan rekening gaji tapi rekeningnya yang lain." saran Papa.
"Tapi buka rekening itu enggak segampang yang kita pikir, Pa. Harus ada kuasa dan kalau memang untuk tujuan pemeriksaan harus ada laporan dari pihak kepolisian. Enggak semudah itu." Leo sudah hopeless duluan.
Aku yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka pun akhirnya buka suara. "Biar Maya yang turun tangan!"
Semuanya langsung menatap ke arahku. "Bagaimana caranya?"
"Maya gitu loh!" aku mengambil Hp dan mencari nomor seseorang yang kutahu bisa membantuku.
"Hallo Adelku Sayang." sapaku setelah mendengar suara di ujung telepon sana.
"Adel?" tanya Leo dan Richard bersamaan. Richard malah langsung antusias mendengar nama Adel kusebut.
"Del, kamu bisa bantu aku enggak? Tolong bukakan rekening atas nama Johan Saipudin. Saipudin pake P ya bukan f. Sekalian print rekening korannya selama 2,5 tahun terakhir. Oke makasih."
Aku tutup teleponku diiringi dengan pandangan penuh rasa ingin tahu dari Papa, Leo dan Richatd. Ha...ha...ha... Pasti enggak ada yang nyangka si Oon ini bisa gerak cepat ha....ha...ha....
***
Minal aidin wal faidzin semuanya....
Mohon maaf lahir bathin....
Maaf kalau ada salah kata......
Maaf dari kemarin belum Up. Kangen ya? Aku juga kangen sama vote kalian #ups...
Spesial salam buat Mama Rina yang jadi silent rider aku, enggak pernah komen dan selalu baca novelku. Hi Mama Na.... 😘😘😘 Jangan di WA ya kalau belum Up hihihi...
Sekali lagi, maaf lahir bathin ya gaes... yuks sekarang kita makan ikan asin dan sambel lagi. #Edisi bosan rendang dan semur. Merdeka!
__ADS_1