Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Pertengkaran pertama setelah bercerai


__ADS_3

"Kamu mau kayak aku May? Aku malah pengen kayak kamu. Apa kita bisa tukaran aja ya? Kalau kita bisa tukeran kan enak." kata Ana sambil memakan makanannya.


"Ya nggak bisalah, kalian tuh udah tanda tangan kontrak. Kalian kan ditempatkan di tempatnya masing-masing sesuai dengan pekerjaan yang kalian lamar waktu pertama kali disini." kata Aldi ikut menimpali.


"Iya juga sih. Pekerjaan kamu susah enggak sih May? Aku sih nggak begitu sulit ya. Cuma bikin laporan di Excel aja. Kamu gimana?" tanya Ana lagi.


Aku menjawab pertanyaan Ana sambil sesekali mengunyah makananku, kalau kelamaan ngobrol takutnya jam istirahat udah habis dan aku belum selesai makan.


"Aku sih belum tahu ya, aku baru ngecekin data aja. Kalau aku lihat pekerjaannya Ka Anggi sih kayaknya sulit deh atau mungkin karena aku belum terjun langsung kali ya jadi aku belum jago." kataku.


"Leo kok diem aja sih? Leo kayaknya orangnya pendiam ya? Kalau sama kita suka diem aja gitu." tanya Ana.


"Enggak juga sih. Aku nyimak aja percakapan kalian." jawab Leo. Lagi-lagi mataku dan mata Leo saling bertemu. Dan lagi-lagi aku cepat-cepat membuang muka.


"Eh aku belum nanya, Leo kamu tinggalnya di mana?" tanya Ana lagi.


"Aku di Selatan." jawab Leo sambil menghabiskan makanannya.


"Wah samaan dong sama Maya? Kalian bisa pulang bareng tuh. Enggak kayak aku sama Aldi yang beda. Aku di timur dan Aldi di barat." ujar Ana.


"Selatan kan luas, Na. Belum tentu mereka tinggal deketan. Siapa tahu mereka pulangnya ada yang dijemput gitu." celetuk Aldi ikut menimpali.


"Iya juga sih. Kamu memangnya ntar dijemput May? Ya... kalau dijemput bisa kali aku nebeng he...he...he..."


"Dijemput sama abang kopaja. Kamu mau ikut, Na? Kalau kamu mau ikut ayo aja." jawabku sambil menahan senyum. Ngapain juga nebeng sama aku? Mungkin Ana pikir aku naik turun mobil kali ya jadi Dia kalau nebeng enak. Aku juga masih naik Kopaja.


"Kamu naik Kopaja? Tapi kok dandanan kamu kayak gitu sih?" tanya Aldi yang sepertinya tertarik dengan jawaban yang aku berikan.


"Dandanan gimana maksud kamu Di? Kan memang kerja pakai kemeja dan rok?" tanya aku bingung.


"Maksudnya Aldi kamu tuh nggak takut apa di godain dalam kopaja? Ya setidaknya kamu mendingan pakai jaket atau celana panjang gitu loh. Kan banyak tuh kasus pelecehan di kopaja. Emang kamu nggak tahu ya?" tanya Ana.


Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak tahu. Aku udah lama nggak naik kopaja. Ini juga aku nanya sama temen aku kalau mau ke kantor naik apa dan dikasih tahu naik kopaja."


"Memangnya kamu nggak tinggal di sini sebelumnya?" tanya Ana lagi.


"Dulu sempat tinggal disini tapi kan aku udah berhenti kuliah terus aku lanjut kuliah lagi di tempat lain. Aku belum lama kok balik lagi ke sini." jawabku dengan jujur. Sepertinya Leo mulai tertarik deh dengan jawaban yang kuberikan karena kulihat ia menghentikan makannya dan mendengarkan dengan serius.


"Oh kamu bukan orang asli Jakarta? Aku pikir kamu tuh orang asli sini." tanya Aldi menimpali.


"Bukan. Orang tuaku nggak tinggal di sini, aku ngontrak di sini." jawabku.


"Ngontrak apa tinggal sama suaminya di sini?" tanya Leo dengan sinis.


"Suami? Emangnya kamu udah nikah May?" tanya Ana yang mulai terpancing dengan kata-kata Leo.


Aku tersenyum kecil. Berusaha tetap tenang menghadapi sikapnya Leo. Aku juga nggak tahu maksudnya Leo apa ngomong kayak gitu.


"Udah nggak usah didengerin. Tahu dari mana juga dia aku udah merit atau belum? Kita juga kan baru kenal." jawabku.


"Tapi tunggu deh, kalau aku lihat kok kayaknya kalian kayak udah kenal deh sebelumnya. Ya aneh aja gitu sama Leo, daritadi diem aja tapi dia nyeletuk pas kamu ngejawab." curiga Aldi.


"Aku sih kenal. Kita dulu sempet satu kampus. Ya mungkin Maya yang primadona kampus enggak kenal kali sama remahan rengginang kayak aku." jawab Leo lagi. Kali ini makanannya udah habis dan Ia sedang menikmati minumnya sambil memainkan handphone.


"Yang bener May? Kamu sama Leo satu kampus? Wah kebetulan banget ya kalian bisa satu kantor juga, satu bagian lagi. Jangan-jangan kalian jodoh lagi." celetuk Ana dengan seenaknya.


Belum sempat aku menjawab eh Leo udah tertawa. Tapi tawa mengejek. "Ha...ha...ha... Ya nggak bakalan lah Maya mau sama aku? Maya tuh sukanya sama yang tajir-tajir, sama yang duitnya banyak. Sama yang mobilnya mahal. Mana mau dia sama orang susah kayak aku?"


"Bener May?" tanya Aldi tak percaya.


"Orang stress jangan ditanggepin, Di." aku menaruh sendok makan di nampanku. Sudah tidak nafsu makan lagi.

__ADS_1


Aku meminum air mineral milikku untuk menenangkan diri.


"Wah kalau enggak bener kan aku masih punya kesempatan gitu sama Ana." ledek Aldi.


Kekesalanku mencair mendengar perkataan Aldi. "Boleh- boleh aja sih." jawabku sambil tersenyum mengejek ke arah Leo.


Tanpa bersuara Leo mengucapkan satu kata. "Kecentilan."


Aku langsung menatapnya tajam. Untung Ana dan Aldi tidak ada yang melihat. Beneran ya nih orang ngeselin.


"Aku duluan ya. Aku mau ke kamar mandi dulu." aku mengangkat nampanku dan pergi duluan meninggalkan semuanya.


"Ok. Bye May." kata Ana.


Aku menaruh nampanku lalu menuju lift. Tak lama pintu lift terbuka. Kosong tak ada orang di dalamnya.


Aku masuk ke dalam lift dan saat aku mau menutup pintu lift tiba-tiba Leo masuk dan menutup pintunya. Ia lalu menekan tombol lantai paling atas.


Aku curiga dengan apa yang akan Leo lakukan. Dengan sigap aku maju dan hendak menekan tombol lift sesuai lantai tempatku bekerja tapi Leo menepis tanganku.


"Mau ngapain kamu?"


"Ada yang mau aku bicarakan!" ujar Leo.


"Enggak mau! Enggak ada lagi yang harus dibicarakan!" tolakku dengan tegas.


Leo tak menggubris perkataanku sampai akhirnya lift berhenti saat ada yang hendak naik. Aku hendak keluar lift namun tangan Leo mencekal tanganku dan memaksaku tetap tinggal.


Tak mau menimbulkan keributan, akhirnya aku pasrah sampai akhirnya kami berhenti di lantai terakhir dan Leo menarikku keluar lift. Kami Lalu naik tangga darurat untuk menuju balkon atas. Aku heran kenapa Leo sepertinya sangat mengenal tempat ini padahal kami kan sama-sama anak baru.


Sesampainya di balkon Leo pun melepaskan tanganku. Ia melirik sekitar dan tak menemukan ada orang lain selain kami berdua.


"Udah cepetan mau ngomong apaan? Aku nggak ada waktu!"


"Anak? Kamu tanya anak kamu? Sekarang? Untuk apa?" tanyaku sambil tersenyum sinis.


"Ya aku perlu tahu lah dimana keberadaan anak aku. Cepat kasih tahu sekarang dimana Dia?"


Aku tertawa kembali. Kali ini tawaku semakin kencang. "Ha...ha..ha... penasaran? Baru sekarang penasarannya? Kemarin-kemarin ke mana?"


Aku melipat kedua tanganku di dada. Aku siap menunggu respon Leo berikutnya.


"Kamu yang menghilang! Kenapa nggak pernah datang saat sidang cerai?"


"Untuk apa? Justru dengan ketidak-hadiranku malah membuat proses cerai kita semakin cepat kan?" tanyaku membalikkan perkataan Leo.


"Iya sih. Orang kalau udah selingkuh itu emang pengen cepet-cepet cerai biar cepat jadi janda, iya kan?" kata Leo dengan tajam dan benar-benar menusuk hatiku.


Aku balas Leo dengan tersenyum sinis. "Iyalah. Untuk apa berlama-lama hidup dengan cowok pengecut dan nggak bertanggung jawab kamu."


Wajah Leo memerah karena Ia marah dengan ucapanku. Aku melihat Ia mencengkram buku jarinya sampai memutih. Aku tahu Leo sedang menahan emosinya saat ini. Aku udah gak peduli. Mau dia marah seperti dulu sampai melempar piring juga aku nggak peduli.


Aku bukan siapa-siapanya lagi sekarang. Dia udah nggak berhak lagi atas hidup aku. Kalau Ia sampai melakukan kekerasan terhadapku, itu sudah jatuhnya ke ranah kriminal dan aku bisa menuntutnya kantor polisi.


"Terserah kamu mau bilang apa yang penting dimana anak aku sekarang? Aku mau ketemu sama dia. Kamu nggak berhak ya melarang aku untuk bertemu dengan anak aku sendiri." ujar Leo sambil masih tetap menahan emosinya.


Rupanya, seiring dengan berjalannya waktu Leo sudah mulai bisa mengontrol amarahnya. Sudah tidak seperti dulu yang kalau marah bisa melakukan tindakan yang impulsif.


"Kata siapa aku nggak berhak? aku berhak. Aku lebih dari berhak. Aku nggak akan biarin kamu ketemu sama anak aku. Kamu nggak pernah ada di saat dia lahir di dunia ini. Kamu nggak akan pernah bisa melihatnya lagi!" Aku berusaha menahan air mataku yang mulai memanas.


Jangan. Aku jangan sampai menangis di depan Leo. Aku nggak mau jadi Maya yang seperti dulu. Maya yang cengeng, yang lemah dan dengan mudah menuruti semua perkataan Leo. Aku bukan istrinya lagi sekarang. Ini hidup aku, dan Leo nggak berhak untuk mengatur hidupku lagi.

__ADS_1


"Baiklah kalau kamu memang nggak mau kasih tahu dimana dia. Aku akan datang sendiri ke rumah orang tua kamu dan aku akan ngambil sendiri anak aku!" ancam Leo.


Tunggu. Kayaknya aku baru menyadari sesuatu deh. Kenapa dari tadi Leo bilang ingin melihat anak aku. Bahkan dia juga bilang mau mengambil anak aku. Apa Leo benar-benar tidak tahu kalau anak aku sudah meninggal?


Saat aku memutuskan untuk kuliah di Bandung, Bapak secepatnya mengirim aku ke sana. Aku tak pernah tahu apakah Leo datang mencariku atau tidak di rumah Bapak. Menurutku udah nggak penting lagi. Aku menandatangani surat cerai dan aku nggak pernah datang ke persidangan. Biarlah Bapak yang mengurus semua.


Apa Leo menceraikanku karena Ia tidak tahu kalau anaknya sudah meninggal? Lalu bagaimana kalau Ia tahu? Apakah Ia akan mengurungkan niatnya?


Aku menggelengkan kepalaku. Aku nggak peduli mau dia mengurungkan niatnya atau tidak aku tetap ingin bercerai darinya. Aku nggak akan mau hidup dengan laki-laki tidak bertanggung jawab seperti dia. Bagaimanapun, Leo yang sudah membunuh anakku.


"May, jangan pura-pura melamun deh! Katakan dimana anakku! Atau aku benar-benar akan ke rumah kamu dan mengambil anakku!" ancaman Leo menyadarkanku dari lamunan.


Aku berpikir cepat. Kubiarkan saja Leo dengan ketidaktahuannya. Biar kubuat Ia menderita. Menderita dalam ketidaktahuannya. Itu tidak akan setimpal dengan perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa anaknya sendiri.


"Oh... Silahkan saja. Datang saja ke rumah Bapak. Aku enggak peduli. Silahkan cari disana kalau kamu bisa menemukannya!"


"Jadi kamu menyembunyikan anakku? Katakan May, dimana anakku?" Leo sepertinya sudah kehilangan kesabaran. Ia menghampiriku dan mengguncang-guncang lenganku.


Aku berusaha melapaskan diri. Lalu tanpa aku sadari tangan kananku terangkat dan....


Plak...


Aku menampar wajah Leo.


(Yah adegan tampar menampar lagi. Demen banget authornya bikin kayak gini. Yaiyalah masa adegan cipook menciiipookk?)


Leo terdiam. Tamparanku membuatnya sedikit lebih tenang.


Aku menatap tangan kananku yang gemetar. Tak kusangka aku akan punya keberanian sebesar ini untuk menampar Leo. Dulu, mana pernah aku melakukan hal seperti ini pada laki-laki yang kucintai? Apa aku memang sudah tidak mencintai Leo lagi.


Leo memegang pipinya yang memanas terkena tamparanku. Bekas tanganku membekas di wajahnya yang putih tersebut.


"Jangan harap kamu bisa melihat Adam!"


Aku lalu pergi meninggalkan balkon. Aku berlari secepat mungkin sambil sesekali melihat ke belakang. Aku takut Leo akan mengejarku dan membalas tamparanku tadi.


Ternyata Leo tidak mengejarku, tapi aku terus berlari dan masuk ke dalam lift. Saat di lift baru aku bisa bernafas lega.


Aku langsung masuk ke dalam ruanganku. Untunglah belum jam 1. Aku duduk di mejaku dan meneguk air minum yang sudah disediakan OB.


Jantungku masih berdegup kencang. Tanganku juga masih panas. Ternyata begini rasanya menampar seseorang. Kenapa aku tidak merasa senang?


Kuperhatikan tanganku. Kenapa tangan ini sampai melakukan hal yang tidak kusadari? Padahal tangan inilah yang dulu selalu membelai lembut Leo. Tangan inilah yang dulu selalu membuatkan minuman dan masakkan kesukaan Leo.


Ada sedikit rasa sesal di hati. Kenapa aku melakukannya? Aku aku tidak bisa berbicara baik-baik dengan Leo?


Penghuni ruanganku perlahan-lahan mulai berdatangan. Hanya Leo saja yang belum datang. Apa Leo melakukan sesuatu yang nekat?


Hatiku terasa tidak tenang. Aku mengkhawatirkan apa yang akan terjadi pada Leo. Tak lama Leo datang dan aku menghembuskan nafas lega.


Syukurlah.... syukurlah Ia tidak melakukan sesuatu yang gila. Loh kenapa aku masih mengkhawatirkan Leo? Tidak Maya, enggak usah pedulikan si pembunuh lagi! Jangan dikasih hati lagi laki-laki kayak gitu!


Leo berjalan lurus menuju mejanya. Terlihat Ia habis mencuci muka dan merapihkan rambutnya yang tadi berantakan.


Leo sempat melemparkan tatapan matanya yang tajam terhadapku. Jujur saja, aku takut. Aku memilih untuk menunduk tak membalas tatapannya.


Aku lalu berkutat dengan pekerjaanku. Tak kuperdulikan Leo yang sesekali masih menatapku tajam.


"Tolong diperiksa laporan keuangan ini ya May." pesan Kak Fahri. Ia memberikan setumpuk laporan yang harus aku periksa.


"Iya, Kak." jawabku.

__ADS_1


Aku melirik ke sebelah kananku dan kulihat Leo juga sibuk dengan pekerjaannya. Sadar ada yang memperhatikan Leo mengangkat pandangannya. Kami sama-sama saling membuang muka tak sudi melihat satu sama lain.


__ADS_2