
Kalau kita merasa sangat down, terkadang suatu kenyataan pahit tuh tidak dengan mudah bisa kita terima. Seperti yang terjadi ketika dokter menyampaikan suatu berita duka padaku.
Telingaku mendengar, otakku mereka merespon, namun hatiku tidak bisa menerimanya. Ketidaksinkronan yang terjadi dalam tubuhku mengakibatkan aku cuma bisa diam. Mulutku ingin berteriak. Tanganku ingin mengambil pisau dan menusuk jantungku tersendiri sendiri. Tapi tidak bisa kulakukan. Semua serasa mati rasa.
Hanya satu yang bisa merespon, yaitu mataku. Air mataku tanpa harus aku komando sudah menetes dan membasahi wajahku Perlahan kesadaranku pun tiba. Hatiku yang ingin berteriak telah disampaikan oleh mulutku.
Aku menangis. Menangis amat histeris. Aku berteriak-teriak. Aku menggila.
Suara teriakan lirihku mungkin sudah terdengar sampai ke seluruh lorong rumah sakit. Aku menangis meraung-raung meratapi kepergian anak yang sudah 4 bulan lebih ada dalam peruku.
Anak yang setiap malam selalu aku belai dan aku ajak bicara. Anak yang selalu aku dengarkan musik klasik berharap Ia akan tumbuh menjadi anak yang pintar. Namun anak itu tak pernah mendapat kesempatan untuk lahir.
Anak yang baru sekali aku lihat saat di bidan dulu. Bahkan, aku pun belum pernah merasakan tendangan dari dalam perutku. Aku hanya bisa mengusapnya pelan dan mengajak berbicara. Ia belum mampu untuk meresponku, tapi Ia sudah pergi.
Aku bagai sebuah hati tanpa jiwa. Aku kehilangan separuh jiwaku. Pergi bersama seluruh harapan dan cinta yang selama ini aku bangun.
Entah sudah berapa lama aku menangis meraung-raung, berteriak dan menggila. Aku bahkan tidak bisa pingsan. Aku ingin pingsan dan aku ingin tertidur, bahkan aku ingin pergi bersama anakku. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa menangis dan meratapi nasib.
Ibu sudah memelukku erat dan memberi dukungannya padaku. Tapi aku tidak menyadarinya. Seakan air mata belum cukup, seakan kegilaan ku belum cukup, aku dihadapkan pada satu moment yang tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku.
Anakku akan dikuburkan hari ini. Aku paksakan hadir dalam pemakamannya hari ini. Dengan menggunakan kursi roda aku kuatkan diriku untuk melihat pertama dan terakhir kalinya anakku tersayang.
Sebelum dikuburkan, anakku yang ternyata berjenis kelamin laki-laki tersebut diperlihatkan padaku. Aku meminta agar dapat menggendong anakku sekali saja dan permintaanku dikabulkan.
Anak laki-lakiku masih amat kecil. Baru seukuran telapak tanganku. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh pada dirinya. Aku mau mengikhlaskan kepergiannya.
Setelah cukup lama memandangnya, Bapak memintaku menyerahkan padanya untuk dikubur. Aku memberikan kembali anakku sambil menahan agar air mataku tidak tumpah saat melepas kepergiannya.
Pemakaman pun berjalan lancar. Aku yang masih shock dan pemulihan pasca operasi akhirnya jatuh pingsan. Aku dilarikan lagi ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan kembali.
Lagi-lagi aku merasa sudah tidur terlalu lama. Kubuka mataku dan cahaya lampu yang terang langsung menyilaukan mataku.
"May... Kamu sudah sadar Nak?" suara Ibu terdengar amat mengkhawatirkanku.
Aku melihat wajah Ibu yang amat aku sayangi. Wajahnya terlihat lelah dan amat sedih karena memikirkanku.
"Bu.... Ini dimana?" tanyaku dengan suara yang lemah.
"Di Rumah Sakit lagi, May. Kamu pingsan kali ini lumayan lama. Dokter juga memberikan kamu obat penenang karena kamu amat shock." Ibu mengelus lembut rambutku.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Hanya ada Ibu, tidak ada siapapun yang menemaniku di ruangan ini.
"Leo mana, Bu?" tanyaku kemudian.
Ibu menggelengkan kepalanya.
"Ibu enggak tau atau gimana? Tapi Leo ada kan?" tanyaku lagi karena tak juga mendapatkan jawaban dari Ibu.
"Leo tidak pernah datang, May." kata Ibu sambil menangis karena mengasihaniku.
"Maksud Ibu apa? Enggak mungkin Leo enggak datang, Bu. Kalian sudah menelepon Leo belum?" aku langsung memberondong Ibu dengan berbagai pertanyaan.
Bapak yang ternyata sejak tadi ada di dalam kamar mandi dan mendengarkan percakapanku akhirnya menjawab dengan kesal semua pertanyaanku.
__ADS_1
"Leo tidak pernah datang. Ia tidak pernah sekalipun bisa dihubungi. Ia sama sekali tidak peduli pada kamu dan anak kalian!" kata Bapak dengan sangat marah.
Terlihat sekali wajah Bapak yang amat marah bercampur kecewa. Aku amat takut melihatnya.
"Bapak pikir Leo akan bertanggung jawab pada kamu dan anak kalian. Lagaknya aja mau kawin lari eh ternyata Dia beneran kabur saat kamu masuk rumah sakit." kata Bapak dengan nada tingginya.
Aku mulai menangis, kali ini bukan karena takut sama Bapak tapi karena aku mempercayai perkataan Bapak. Apa benar Leo kabur dan meninggalkanku?
"Pak, Bapak beneran udah telepon Leo?" tanyaku lagi memastikan.
"Udah. Kamu pikir Bapak segitu tidak punya hatinya sampai tidak mengijinkan cucu Bapak bertemu dengan bapaknya untuk pertama dan terakhir kalinya? Bapak menelepon sendiri suami kamu. Berkali-kali Bapak telepon namun tidak diangkat. Lalu saat Bapak menelpon dengan nomor lain Ia juga nggak mengangkat tapi Ia mereject panggilannya. Apa itu artinya? artinya dia tidak mau bertanggung jawab sama kamu May."
Aku menangis mendengar cerita Bapak. Apa Leo segitu marahnya sama aku bahkan sampai tidak peduli dengan aku dan anak kami? Atau memang dari awal Ia memang tidak menginginkan bayi ini dan Ia mungkin sekarang sedang tertawa bahagia karena bayi ini sudah tidak ada lagi.
"Coba kamu menurut sama bapak May. Coba kamu mengikuti apa yang Bapak bilang sama kamu. Coba sejak awal kamu nggak usah menikah sama dia. Kalau kamu menurut sama bapak, kamu nggak akan mengalami nasib sesial ini May." sesal Bapak. Suara Bapak bergetar. Aku tahu Ia amat bersedih, dan Bapak pun menangis tanpa merasa malu.
Aku merasakan kepedihan Bapak. Ia sakit hati melihat putri semata wayangnya diperlakukan seperti itu. Orang tua mana yang akan terima jika putrinya habis kehilangan anaknya juga dicampakkan oleh suaminya.
Aku pun menyesali semua perbuatanku. Aku sadar, Bapak benar. Bapak benar-benar menyayangi aku. Sejak awal Ia melarang hubunganku dengan Leo pasti karena hati nurani dia sebagai seorang ayah yang tidak yakin kalau Leo akan bertanggung jawab pada aku.
"Maafin Maya Pak. Maafin Maya.... Maya udah banyak menyakiti hati Bapak. Maya udah berdosa Pak. Maya nyesel. Sekarang Maya udah kehilangan semuanya Pak. Bapak mau terima Maya lagi gak jadi anak Bapak? Maya enggak punya siapa-siapa lagi Pak." tangisku makin menjadi. Tangis penyesalan dan pengakuan atas semua dosaku.
"Kamu jangan bilang begitu May. Sampai kapanpun, Bapak tetaplah Bapak kamu. Sampai kapanpun, Bapak yang akan melindungi kamu dan menjaga kamu. Selama Bapak masih ada di dunia ini tidak akan Bapak biarkan orang lain menyakiti kamu May." Bapak lalu mendekat ke arahku dan memelukku. Pelukan hangat yang sejak dulu nggak pernah berubah. Pelukan yang selalu melindungiku dan membuatku merasa aman.
"Maafin Maya, Pak. Mulai sekarang Maya akan menuruti kemauan dan keinginan Bapak. Maya mau bercerai Pak dari Leo. Maya mau meneruskan kuliah Maya dan mewujudkan cita-cita Bapak. Maya mau memulai kembali hidup Maya yang baru, Pak. Bapak mau kan mewujudkan semua keinginan Maya?"
"Tentu, Sayang. Semua permintaan kamu akan Bapak wujudkan. Bapak akan menyewa pengacara untuk mengurus gugatan cerai kamu. Kamu tenang saja, Bapak yang urus. Kamu pulihkan diri kamu dulu. Kamu harus bangkit lagi dan memulai hidup kamu yang baru. Jangan lagi menengok ke belakang. Biarkan semua jadi masa lalu yang pahit yang akan menjadi pelajaran buat kamu." nasehat Bapak.
Aku mengangguk dan akan mengikuti semua keinginan Bapak. Aku mulai dengan memulihkan kondisi tubuhku dahulu.
****
Hari ini aku sudah keluar dari rumah sakit. Aku akan pulang ke rumah Bapak. Sebelum pulang aku meminta Bapak untuk mampir sebentar ke kuburan anakku.
Aku membeli sebuah buket bunga mawar. Kutaruh diatas batu nisan. Aku memberinya nama Adam, manusia pertama yang lahir di dunia dan anak pertama yang pernah hidup di rahimku.
"Adam, Mama pulang ke rumah Kakek dulu ya. Mama mau memulai hidup Mama yang baru. Mama janji Mama akan sering menjenguk kamu. Kamu yang tenang ya Nak disana. Mama sayang sama kamu. Doa Mama selalu untuk kamu, Sayang."
Dengan berat hati kutinggalkan makam anakku yang masih basah tersebut. Aku berjanji akan datang lagi nanti.
"Pak, ada barang yang mau Maya bawa dari rumah kontrakkan Maya." kataku meminta ijin.
"Tidak usah! Nanti Bapak belikan lagi yang baru! Jangan pernah kamu menginjakkan kaki kamu di rumah itu lagi! Bapak tidak mau kamu bertemu Leo si laki-laki tidak bertanggung-jawab itu!" Bapak tidak memberiku ijin untuk pulang ke kontrakkan walau hanya sebentar saja.
Aku tidak bisa membantah Bapak. Aku sudah berjanji akan menuruti semua perkataan Bapak.
Aku bukan mau bertemu Leo. Aku hanya mau mengambil foto hasil USG-ku. Foto pertama Adam. Namun aku akhirnya menuruti Bapak.
Kak Anton yang mengemudikan mobil. Ia hanya menatapku dengan pandangan kasihan. Mungkin menurutnya aku tidak seberuntung Kak Rian. Sudah membangkang, kawin lari, keguguran dan berakhir dengan ditinggalkan seorang diri.
Dalam hal ini Kak Anton yang menang. Ia mendapatkan kepercayaan penuh Bapak dan menjadi yang paling dibanggakan. Sedangkan aku menjadi aib, karena akan menjadi janda diusia muda.
Aku duduk di bangku belakang bersama Ibu. Kak Rian tidak ikut pulang ke kampung karena ada ujian skripsi. Ia menatapku dengan pandangan penuh penyesalan. Menyesal karena tidak bisa menjagaku dengan baik.
__ADS_1
Sepanjang jalan aku hanya diam saja. Tidak ada keinginan dalam diriku untuk berbicara. Aku hanya asyik melamun tanpa memikirkan apapun. Membiarkan pikiranku kosong.
"May! Maya!" panggil Ibu.
"Iya Bu." aku langsung tersadar dari lamunanku.
"Kita istirahat sebentar. Bapak ngajak kita makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang." Ibu mengajakku turun tapi aku merasa malas dan ingin di mobil saja.
"Aku di mobil saja. Ibu makan saja tinggalin aku sendiri." tolakku.
"Jangan begitu dong May. Ayo kamu juga makan dulu. Kamu belum makan loh. Kamu kan juga harus minum obat. Bekas jahitan kamu belum kering loh May. Ayo cepat turun." ajak Ibu.
"Tidak usah, Bu. Maya malas. Maya di mobil aja ya. Mau tidur." aku lalu berpura-pura mau rebahan. Ibu akhirnya menyerah dan meninggalkanku di mobil. Ibu pun pergi makan bersama Bapak dan Kak Anton.
Aku duduk tegak kembali. Mataku tidak mengantuk. Tiba-tiba aku teringat kalau aku belum mengucapkan terima kasih pada Angga dan Duo Julid yang membawaku ke Rumah Sakit.
Aku mengambil Hp dan menelepon Angga. Agak lama teleponku berdering baru Ia angkat.
"Hallo. Ini siapa ya?" tanya Angga tanpa basa-basi.
"Angga. Ini aku." aku belum menyebutkan siapa namaku Angga sudah mengenali suaraku.
"Maya? Ini beneran Maya kan?" suaranya terdengar kaget mendapat telepon dariku tapi juga senang.
"Iya." jawabku singkat.
"Gimana keadaan kamu, May. Maaf aku belum sempat menengok kamu lagi. Aku ada tugas dadakan ke luar kota. Sepulang dari luar kota aku pasti nengokin kamu. Kamu udah pulang belum dari rumah sakit?" begitu semangatnya Angga bahkan merocos tak ada hentinya.
"Aku udah pulang dari rumah sakit, Ga. Dan aku.... sekarang mau pulang ke rumah Bapak." jawabku.
"Loh kamu enggak pulang ke rumah kamu? Memangnya kenapa? Apa Leo enggak pernah datang ke rumah sakit untuk jenguk kamu?" tebak Angga yang anehnya memang benar.
"Aku.... Aku akan mengajukan gugatan cerai pada Leo, Ga. Karena itu aku balik tinggal sama Bapak dan Ibu. Oh iya aku menelepon kamu mau bilang terima kasih. Kamu dan Bu Sri dan Bu Jojo udah nganterin aku ke rumah sakit saat aku pingsan. Maaf aku belum bisa membalas kebaikan kamu. Tapi aku janji suati hari nanti aku akan traktir kalian ." janjiku.
"Jangan bilang seperti itu May. Kamu kan teman aku. Sudah sepatutnya aku bantuin kamu. Oh iya nanti kirimin alamat kamu di kampung ya. Aku mau main. Boleh kan?" tanya Angga.
"Iya. Nanti aku kirimin alamatnya. Angga, aku mau minta tolong sama kamu."
"Minta tolong apa? Kalau aku bisa bantu pasti akan aku bantu." janji Angga.
"Tolong rahasiakan nomor aku ya. Kecuali kamu, Bu Sri dan Bu Jojo aku tidak memberitahukan nomor teleponku. Bilang juga sama ibu-ibu itu, jangan memberikan nomorku pada yang lain ya."
Angga pasti tau siapa orang lain itu. Siapa lagi kalau bukan Leo?
"Baik May. Aku akan keep nomor kamu. Tunggu aku ya. Nanti aku mau main ke rumah kamu." pinta Angga
"Siap."
Aku menutup telepon dan membuka portal berita di Hpku. Sebuah berita sedang menjadi trending topik. Berita itu berjudul: Pengusaha DK tertangkap tangan sedang melakukan suap untuk proyek jalan layang.
Aku membaca berita yang ramai diperbincangkan tersebut. Wajah DK terpampang jelas seakan jadi sanksi sosialnya di masyarakat.
Berita terbaru: Anak dan istri tersangka turut diperiksa polisi dan sudah dilepaskan hari ini.
__ADS_1
Aku mengganti ke akun gosip. Malas ngeliat berita tentang politik.