Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Si Kupret


__ADS_3

Ternyata semakin kita takut akan datangnya hari, maka semakin cepat pula hari itu berganti. Baru saja aku menelepon Ibu dan Kak Rian kok ya sudah hari sabtu saja. Itu artinya besok Leo dan keluarganya akan ke rumahku.


Aku sudah berkirim pesan dengan Ibu dan Kak Rian. Ibu bilang sama Bapak untuk tidak pergi kemana-mana hari minggu besok karena ada tamu yang mau datang.


Bapak tentu curiga siapakah yang datang namun Ibu bilang nanti saja saat datang baru tahu. Bapak makin penasaran, apalagi Kak Rian yang biasanya jarang pulang ini hari sabtu sore sudah sampai di kampung.


Ibu selalu menghindar setiap kali bertemu Bapak. Takut ditanya-tanya. Ibu juga meneleponku diam-diam. Terakhir malah menelepon di dalam kamar mandi.


Rencana yang kami susun sudah matang. Ibu sudah masak dan memesan kue, tentunya tanpa sepengetahuan Bapak.


Ibu bilang Bapak terlalu sibuk dengan panen cabenya yang melimpah jadi tidak terlalu mengambil pusing apa yang terjadi.


Dan sekarang tibalah harinya. Hari dimana Leo akan meminta ijin langsung pada Bapak. Hari yang aku takuti namun hidup baruku juga bermula disini.


Pagi-pagi sekali Leo sudah menjemputku. Ia memakai mobil Richard yang paling murah yakni Honda Jazz. Richard punya 3 mobil yakni Lamborghini, Ferrari dan Jazz. Biasanya Jazz dipakai sehari-hari kalau ke kantor agar tidak terlalu mencolok. Kalau Ferrari dan Lamborghini dipakai saat jalan ke mall atau ikut touring.


Walau tak pernah aku tanya namun Leo menjelaskan kenapa ia tidak mau membeli mobil dahulu. Alasannya karena di parkiran mobil rumah Papanya sudah kebanyakan mobil. Lebih baik pakai yang ada saja. Toh Richard tidak keberatan Ia memakai salah satu mobil miliknya.


"Nanti ya aku beli mobil kalau kita sudah nikah. Kasihan kamu dan anak-anak kita nanti kalau hujan bisa kehujanan. Panas kepanasan. Sekarang sabar ya aku masih pakai motor dulu." begitu kata Leo yang berusaha menyabarkanku.


Aku sih enggak masalah. Toh naik motor atau mobil selama dengan Leo tetap saja indah. Kalau hujan tinggal kehujanan bareng sambil pelukan makin erat agar enggak dingin. Kalau panas ya tinggal berhenti terus beli es dulu deh. No problemo eduardo puerto rico hohoho....


Leo hari ini mengenakan celana jeans dengan atasan kemeja batik. Celana jeans Ia pakai agar penampilannya tidak terlalu formal. Perpaduan yang pas.


Sementara aku mengenakan blouse tangan panjang warna lilac dengan celana bahan warna putih. Simple namun semi formal seperti yang Leo kenakan.


"Udah siap?" tanya Leo.


Aku mengangguk. Leo mengulurkan tangannya dan aku sambut dengan mengulurkan tanganku. Tangan Leo dingin, sama seperti tanganku. Kami sangat grogi tentunya.


"Grogi ya?" tanya Leo lagi.


Aku mengangguk lagi. "Iya. Tapi aku lebih ke takut."


"Sama. Aku juga." jawab Leo jujur.


"Kamu takut apa?" tanyaku.


"Kalau kamu?" tanya balik Leo.


"Ih bukannya menjawab malah balik nanya!" aku masuk ke dalam mobil Richard. Mobilnya wangi dan bersih pertanda habis dicuci sebelumnya.


Leo memakaikan seat belt untukku lalu menutup pintu dan berlari ke pintu pengemudi.


"Ya kan aku mau tau jawaban kamu dulu. Kamu takut apa?" Leo mulai mengemudikan mobilnya. Minggu pagi lumayan ramai. Banyak yang berolahraga pagi.


"Aku takut diusir sama Bapak." jawabku jujur.


"Justru aku takut kamu malah enggak boleh keluar rumah lagi dan enggak boleh ketemu sama aku. Kalau kamu diusir setidaknya kita masih bisa bertemu lagi. Mungkin menikah dengan diwakilkan oleh Kak Rian lagi, gimana?"


"Ih enggak mau! Kan aku udah bilang syarat rujuk yang aku ajukan ya harus dinikahkan sama Bapak, yang artinya Bapak harus merestui dulu pastinya."


Leo tersenyum. "Karena itu aku takut. Semalam saja aku sampai enggak bisa tidur memikirkan nasib kita hari ini."


"Yah kamu ngantuk dong? Aku aja yang nyetir deh. Aku bisa kok bawa mobil." kataku menawarkan diri.


"Kamu bisa bawa mobil? Sejak kapan?" Leo mengernyitkan keningnya.


"Sejak kuliah di Bandung. Angga mengijinkanku belajar pakai mobil mahalnya. Akhirnya mobilnya banyak kena gores gara-gara aku he...he...he..." aku tertawa saja tanpa memikirkan perasaan Leo.


Baru aku sadari kalau Leo sudah bermuka masam. "Oh... Diajarin Angga toh!"


"Eh... Maaf. Aku enggak bermaksud mengungkit tentang Angga. Aku hanya cerita aja kalau aku diajarin sama Angga. Itu aja kok enggak ada maksud apa-apa."

__ADS_1


Rupanya Leo masih kesal hingga Ia hanya diam saja. Setelah men-tap kartu Flazz di gerbang toll Ia masih diam.


"Sayang.... Maaf... Please.... "


Leo akhirnya mau buka suara. "Aku sebal aja. Kenapa dulu bukan aku yang ngajarin kamu bawa mobil. Malah Si Kupret itu yang ngajarin."


"Kamu jangan gitu dong. Biar bagaimanapun yang kamu sebut Si Kupret itu udah banyak berbuat baik sama aku."


"Tuh mulai belain deh!" Leo makin kesal kayaknya.


"Bukan belain. Aku cuma enggak mau kayak kacang yang lupa sama kulitnya. Aku netral. Saat seseorang baik sama aku ya aku juga harus menghargai kebaikannya."


"Ya dia kan baik sama kamu karena ada tujuannya. Maksud terselubung di dalamnya. Kamunya aja yang mudah terharu."


"Kok kamu jadi menuduh kayak gitu sih?" aku mulai tidak suka dengan topik pembicaraan ini.


"May, coba kamu pikir deh. Saat kamu keguguran, kenapa bukan aku yang Ia hubungi tapi malah Bapak kamu? Dia tau loh kalau kita enggak direstui kok malah sengaja menyiram minyak diatas api? Coba kamu pikirin deh. Dia enggak sebaik yang kamu pikir May."


"Aku paling males nih ngebahas kayak gini sama kamu!" ini paling merusak mood hari ini. Aku memalingkan pandanganku menatap pemandangan di luar jendela.


"Aku bahas karena ini salah satu masalah utama kita, May. Apa sih yang bikin kita bercerai? Pertama, karena sikapku yang selalu menghindari kamu. Aku sudah berusaha perbaiki. Aku sudah sering konsultasi ke psikolog mengenai ketakutanku selama ini. Aku takut menyakiti kamu dan bayi dalam kandungan kamu. Dan kamu lihat sekarang, I'm fine. Kedua, aku perbaiki keluargaku yang dulu tidak merestui kamu dan kamu sekarang tanpa ragu sedikit pun yakin kan kalau keluargaku mendukung hubungan kita?"


Perkataan Leo benar. Amat benar. Jadi aku hanya bisa mengangguk pasrah mengiyakan setiap perkataannya.


"Ketiga, restu orang tua kamu. Kita mau menghadapinya sekarang. Keempat, Si Kupret yang bak bunglon menyamar bagai malaikat padahal punya andil besar dalam perceraian kita. Aku tidak memaksa kamu membenci dia, wajar saja Ia sudah baik sama kamu pasti kamu sungkan. Tapi aku hanya mau kamu membuka mata kamu sedikit saja. Melihat sesuatu jangan pakai perasaan, namun sekali-kali pakai logika."


Aku kembali memanyunkan bibirku. Walau menyebalkan tapi aku tetap menuruti perkataan Leo.


Aku teringat saat aku keguguran dulu, memang benar yang Angga telepon adalah Bapak. Padahal Angga bisa saja menanyakan pada Bu Sri dan Bu Jojo nomor telepon Leo yang saat itu masih suamiku. Apa tujuannya?


"Benar tidak kata-kataku? Awalnya aku hanya sebal karena Ia mengajak kamu keluar makan, tapi aku kok jadi curiga. Semuanya sudah Ia rencanakan."


"Maksud kamu?" tanyaku tak mengerti.


Aku memikirkan perkataan Leo. Iya juga sih. Kan banyak gerai pizza tapi kenapa harus yang di depan tempat Leo bekerja.


"Lalu setiap pemberiannya sama kamu. Berapa banyak sih kemampuan kamu makan cokelat dalam sehari? Paling 2 biji sudah mual. Kenapa Ia memberi banyak? Agar setelah kamu bagikan masih ada sisa yang kamu sembunyikan dariku. Itu strateginya untuk membuat aku marah."


"Kemudian es krim. Kan bisa saja Ia membelikan es krim yang kemasan stik hanya beberap pc saja. Kenapa Ia juga memberikan es krim kemasan box yang bisa kamu simpan? Dia tahu saat kamu menikah denganku kita hidup pas-pasan. Ia memancing emosiku dan emosi kamu. Kita masih muda saat itu, tidak tahu kalau kita masuk perangkapnya. Aku baru menyadari saat kupikir kamu pergi kawin lari sama Si Kupret itu dan ternyata kamu keguguran. Semua sudah Ia rencanakan."


"Tapi apa mungkin Angga sejahat itu?" aku mengakui perkataan Leo benar namun masih tidak mau mengakuinya.


"May, aku orang bisnis. Sama kayak Si Kupret. Pola pikir Ia baru aku pahami setelah aku memegang perusahaan. Dia biasa megang perusahaan May. Otak liciknya dipakai saat mencoba merebut kamu dari aku."


Aku hanya diam. Menyadari aku yang mencoba mencerna perkataannya Leo pun melanjutkan lagi teorinya.


"Kita masih terlalu muda saat itu, May. Mudah di adu domba. Sementara Si Kupret sudah berusia jauh diatas kita dengan pengalaman kerja yang sudah lama. Mudah saja Ia mempengaruhi kita. Caranya halus May. Aku saja sampai terkecoh. Namun saat Papa menugaskanku untuk menyelidiki siapa yang menjebaknya semua menjurus ke satu perusahaan. Kamu tau siapa?"


Aku menggeleng. "Siapa?"


"Perusahaan Hadikusuma."


"Itu siapa ya? Aku enggak kenal." jawabku jujur.


Leo terlihat menghela nafas. Mungkin Ia sedang menyiapkan stok sabarnya menghadapiku.


"Kalau Anggara Hadikusuma kenal?" tanya Leo lagi.


"Anggara... Anggaragara... Oh iya! Itu nama lengkap Angga. Tapi aku enggak tau kalau nama belakangnya Hadikusuma. Jadi... Angga anaknya...?"


"Iya. Angga anaknya Hadikusuma. Om-om ganjen yang videonya kamu rekam dan aku suruh viralkan. Hadikusuma adalah salah satu pesaing Kusumadewa Group. Lumayan bernyali juga dia bahkan sampai berani menantang Papa Dibyo yang terkenal Macan di bidang F&B."


Papa Dibyo macan? Bukannya bapaknya buaya dan kadal buntung? he..he...

__ADS_1


"Jujur saja, aku masih belum bisa percaya sama ucapan kamu. Masa sih Angga berbuat sekejam itu?"


Leo mengangkat bahunya. "Cinta mati kali sama kamu. Sama kayak aku. Aku juga cinta mati sama kamu."


"Ih sempet-sempetnya ngegombal ya. Nanti kita pikirin setelah masalah Bapak ya. Sekarang fokus di Bapak dulu. Ngomong-ngomong Papa kamu mana? Kok belum ngabarin?"


Aku baru menyadari kalau sejak tadi kami hanya berkendara berdua saja. Ah Maya bodoh! Dari tadi kemana saja? Kenapa baru nyadar sekarang?


"Papa nyusul. Tadi jemput Mama dulu. Kita paling selisih sebentar aja. Biar aku yang datang duluan dan meminta kamu secara resmi sama Bapak. Aku mau menunjukkan keseriusanku sama kamu." kata Leo sungguh-sungguh.


"Kamu yakin? Kalau Bapak malah tambah marah gimana?" aku yang cemas sekarang.


"Ya itu udah resiko aku. Tenang aja, aku enggak akan kabur kali ini. Aku bertekad untuk mendapatkan restu dari Bapak kamu. Bagaimanapun cara."


Dari sudut pandangku Leo terlihat sebagai laki-laki yang sangat keren saat ini. Sambil menyetir mobil, pandangan lurus ke depan namun perkataan yang Ia ucapkan penuh dengan keyakinan.


Kami pun akhirnya keluar dari jalan tol dan berbelok ke arah daerah tempat tinggalku. Suasana pun berubah, udara sejuk mulai tercium di hidungku. Pepohonan dan sawah mulai terlihat di kiri kanannya.


Udara yang bersih ini selalu aku rindukan di antara polusi udara Jakarta yang semakin terasa sesak saja. Pemandangan sawah dan gunung yang terlihat menghijau membuat mata menjadi lebih segar.


"Udaranya segar banget ya? Pokoknya kalau udah keluar dari tol terus berbelok ke arah sini tuh udah mulai tercium hawa-hawa pedesaannya. Meskipun rumahku masih jauh lagi dari sini." kataku berpromosi.


"Iya. Aku juga suka dengan udara pegunungan seperti ini. Bersih. Jadi aku juga bisa berpikir lebih jernih." Leo mulai menyetir jalur menanjak dan kadang meliuk-liuk, dengan samping kiri dan kanan dijumpai beberapa jurang.


"Hati-hati!"


"Iya."


"Papa kamu bisa bawa mobil ke daerah sini?"


"Jangan menyepelekan Dibyo Kusumadewa. Doi suka offroad juga. Kayak gini mah kecil. Ini tuh masih bagus jalanannya May. Memang agak meliuk-liuk karena kan melewati jalur pegunungan tapi jalanan aspalnya bagus tidak rusak. Papa rencananya naik Jeep kok. Kamu enggak usah khawatir."


Setelah melewati pegunungan kami lalu melewati jalanan yang di kiri kanannya terhampar sawah yang mulai menguning. Dari kejauhan sebuah rumah yang lumayan besar terlihat. Ya, itu adalah rumahku.


"Kita sampai juga. Makin deg-degan aku."


"Apalagi aku he...he...he..." Leo berusaha tertawa agar tidak terlalu tegang.


Aku lalu menyuruh Leo memarkirkan kendaraannya di dekat garasi mobil Bapak. Namun ada kendaraan lain yang aku tak kenal. Plat nomornya B yang artinya orang Jakarta.


"Itu mobil Papa kamu?" tanyaku sambil menunjuk mobil yang terparkir di depan rumah.


Leo menggelengkan kepalanya. "Bukan. Aku kan bilang tadi kalau Papa mau naik Jeep."


"Lalu siapa ya?" tanyaku heran.


Baru saja aku mencopot seat belt kulihat Ibu berjalan tergesa menghampiriku. Aku buru-buru keluar dari mobil.


"Kenapa Bu?" tanyaku melihat raut wajah Ibu penuh dengan kekhawatiran.


"Gawat May!"


"Gawat kenapa Bu?" tanyaku bingung.


"Kamu kalah cepat. Sudah ada yang datang duluan membawa Bapaknya. Hendak melamar kamu juga May!"


"Siapa, Bu?"


"Angga!"


****


Loh kok Angga?

__ADS_1


Ayo hari senin nih vote dulu yang kenceng ya. Harus, kudu, wajib! Masih banyak misteri di novel ini yang harus dikulik. Makanya vote dikencengin ya. Harus masuk 3 besar pokoknya 😁😁😁. Bodo amat dibilang maksa, netijennya juga maksa nyuruh up terus 🤣🤣🤣. Aku ndak baper santai saja Permintaan Up kalian berarti kalian suka sama karyaku. Sarangheyo semuanya 😘😘😘 Apalagi kalau ngevote yang banyak #Upss


__ADS_2