
Sesuai rencana aku dan Leo pulang kerja tepat waktu untuk langsung ketemu sama Kak Rian di tempat yang telah kami tentukan. Dan untuk merealisasikan rencana kami tersebut, aku dan Leo tidak menyia-nyiakan waktu dan menyelesaikan pekerjaan kami secepat mungkin.
Enggak ada yang namanya lembur hari ini. Pulang! eh bukan pulang deh, langsung ngacir tepat waktu. Maka sudah bisa dipastikan reaksi orang-orang di ruangan saat kami berdua langsung tenggo di jam 5.
"Kita berdua duluan ya. Maaf ya Pak kalau kita nggak ikut lembur. Kerjaan kita kan uda selesai." kataku meminta izin kepada Pak Johan."
"Tumben banget kalian hari ini kompak, mau pulang juga harus kompak. Kalian mau kemana sih?" tanya Kak Fahri.
"Aku mau ditraktir Kak sama Leo. Soalnya Leo kalah taruhan. Semalam Juventus lawan MU yang menang MU. Leo nggak nyangka kalau MU bakalan menang ha...ha..ha... Makanya Hari ini aku menang taruhan." aku lancar sekali kalau bohong kayak gini. nggak ada yang bisa menduga kalau Maya si oon ini sekalinya bohong ekspresif. Semua bisa ketipu.
"Wih keren! Rezeki kamu May. Emang kamu mau ditraktir apaan?" tanya Kak Fahri masih penasaran juga ya ternyata. Baiklah, bohong tuh nggak boleh setengah-setengah, harus totalitas biar semuanya bisa dikibulin.
"Ditraktir steak, Kak. Lumayan kan?" makin lancar jaya aku ngebohongnya. Aku lihat leo hanya geleng-geleng kepala, mungkin kaget kali ya melihat mantan istrinya bisa berubah kayak gini.
"Lumayan May. Tau gitu aku ikutan taruhan aja kemarin sama kamu. Bisa dapet steak juga aku, secara aku kan fans berat sama MU." sesal Kak Fahri.
"Ya sudah sana kalian pulang duluan. Saya juga mau pulang." kata Pak Johan.
"Baik, Pak. Makasih. Kita pulang dulu ya." aku langsung menarik tangan Leo yang tadi masih pamit dengan yang lain.
Aku tahan dulu ketawaku sampai kami sudah berada di parkiran motor. Saat sampai di parkiran motor aku langsung tertawa terbahak-bahak.
Leo juga sepertiku. Ternyata Ia sejak tadi juga nahan ketawa dan sekarang Ia langsung menumpahkan ketawanya.
"Ha...ha...ha... Sejak kapan kamu jago banget ngarang cerita kayak gitu May? Kamu yang biasanya jujur dan lempeng aja ini kalau udah bohong semua orang percaya sama kamu? Keren! Pasti kamu belajar dari Bu Sri lagi ya?" tebak Leo.
"Iya he...he...he... Kamu tahu sendiri kan Bu Sri itu multitalent. Kalau Ia dikasih kesempatan kuliah terus kerja wah bisa dipastiin tuh Bu Sri bakal jadi pengusaha sukses. Otaknya pinter, Pa. Kamu nggak tahu aja tuh emak-emak segala hal bisa dilakuin. Termasuk ngajarin aku cara ngebohong- ngebohong halus kayak gini."
"Tapi kalau sama aku awas ya kamu ngebohongin aku! Aku tahu loh kalau kamu bohong!" ancam Leo.
"Iya... Iya... Udah yuk kita berangkat sekarang. Cukup tertawanya. Sekarang pasang muka serius buat ketemu Kak Rian."
"Jangan bilang gitu dong, May! Aku kan jadi grogi nih!"
"Grogi doang kan? Bukan takut?" tanyaku lagi memastikan.
"Iyalah. Takut mah cuma sama Allah! Kalau sama manusia yang masih sama-sama makan nasi sih aku berani. Kalau sama manusia yang makannya besi baru deh aku takut he...he...he..."
"Huh! Udah cepetan."
"Siap, Madam."
Lalu kami pun berangkat ke tempat yang telah kami janjikan. Sebuah restoran steak yang cukup terkenal dan memiliki banyak franchise.
Tuh kan aku nggak bohong. Kami memang mau makan steak dan Leo yang traktir. Eh Leo apa Kak Rian yang traktir ya? Bodo ah yang penting aku mah gratis.
Setelah memarkirkan motornya di tempat penitipan motor yang terletak di depan restoran, aku dan Leo berjalan beriringan masuk ke dalam dan mendapati Kak Rian sudah memilih tempat duduk di paling ujung, tempat yang paling bisa leluasa buat kami ngobrol.
Kak Rian terlihat sedang asik dengan handphonenya. Biasanya sih kalau kayak gitu Ia lagi ada kerjaan di kantor. Kak Rian tidak menyadari kehadiran kami. Aku saja yang langsung berlari menghambur ke dekatnya dan membuatnya sedikit kaget.
"Kakak!" aku memeluk kakak kesayanganku tersebut.
"Lama banget sih! Bukannya kantor kamu tuh nggak jauh ya dari sini? Ini janjian jam 5 kalian baru datang jam setengah 6!" aku langsung disambut dengan protes Kak Rian.
"Kak, aku kan sama Leo masih anak baru. Kita aja udah berusaha pulang tenggo tapi adegan minta izinnya tadi tuh harus agak sedikit diplomatis jadi ya ngaret-ngaret dikit nggak apa-apa kan? Emangnya kakak yang bebas keluar masuk kantor sesuka Kakak? Aku kan nggak bisa gitu. Ada yang namanya office hour."
Sudah panjang lebar protes eh aku malah dicuekin sama Kak Rian. Kak Rian malah fokus melihat Leo yang langsung berjalan mendekat dan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Apa kabar, Kak?" Leo mengulurkan tangannya hendak salaman dengan Kak Rian.
Wajah Kak Rian yang tadi menyambutku dengan ekspresi kesal eh sekarang ditambah menyambut Leo dengan ekspresi sebal. Tapi Kak Rian masih mau mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Baik." jawab Kak Rian singkat.
Aku dan Leo langsung duduk di depan Kak Rian, dengan posisi Kak Rian berhadapan langsung dengan Leo. Aku harus mencairkan suasana agar ketegangan diantara mereka tidak terus berlangsung.
"Aku pesan dulu ya, kan lama tuh nunggu steaknya datang." tanpa menunggu jawaban Kak Rian, aku langsung memanggil pelayan dan memesan menu untukku dan Leo. Tapi kami minta minum duluan yang dianterin, karena pembicaraan ini sepertinya akan berlangsung agak panas, harus di ademin dengan air dingin.
"Sejak kapan kalian ketemu lagi?" Kak Rian memulai sesi introgasi.
"Maya kan udah bilang Kak. Kita satu kantor. Ya ketemu lagi di kantor lah. Masa Kakak lupa sih?" aku yang malah menjawab pertanyaan Kak Rian.
"Diam kamu! Kakak nggak lagi nanya sama kamu." aku langsung mendapat pelototan mata dari Kak Rian. Hal yang udah lama banget aku nggak dapat.
"Ih kakak galak banget." kataku mulai merajuk. Tapi bukannya dibaik-baikin eh Kak Rian malah makin menatapku dengan lebih menyeramkan lagi. "Iya...iya.... Maya diem sekarang."
Aku lalu membuat gerakan seperti mengunci mulutku dengan tangan dan duduk manis sambil menikmati minuman yang baru saja disajikan oleh pelayan.
"Kami bertemu lagi di kantor Kak setelah perpisahan tentunya." jawab Leo.
"Kata Maya kamu tuh anaknya owner ya? Kenapa kamu bisa enggak tahu kalau Maya masuk ke perusahaan kamu? Apa kamu sengaja membuat Maya diterima di perusahaan kamu agar bisa satu kerjaan lagi dan ketemuan lagi sama kamu?"
Kok Kak Rian mikirnya sampai ke situ ya? Aku aja nggak kepikiran. Eh baru sekarang deh aku kepikiran. Apa mungkin Leo melakukan hal itu?
"Aku nggak tahu Kak kalau Maya diterima untuk bekerja di perusahaan. Aku nggak megang masalah personalia seperti itu. Aku biasanya ngurusin masalah kepemimpinan sama strategi perusahaan kedepannya. Kalau kayak gitu aku nggak bisa pegang karena terlalu banyak pekerjaan yang harus aku urus."
Aku harus menghela nafas lega mendengar jawaban Leo. Setidaknya aku masuk perusahaan tidak ada campur tangan Leo dan murni karena kemampuanku yang dianggap pantas untuk bekerja di kusumadewa grup.
"Ih kakak jangan ngomong gitu dong! Jangan ngedoain yang jelek dulu. Rujuk aja belum Kak Rian udah doain yang jelek-jelek." aku melupakan gembok yang aku kunci di mulutku dan langsung nyerocos mendengar perkataan Kak Rian.
"Sst! Udah kamu diem aja. Jangan ikut campur kalo laki-laki lagi ngomong sama sesama laki-laki!" lagi-lagi aku kena omelan dari Kak Rian. Ih galak banget! Nanti aku aduin Mama, liat aja!
"Iya." aku harus diam dan menjadi penonton yang ada di pojokkan tanpa boleh mengemukakan komentar sepatah kata pun.
"Saya yakin Kak untuk ngajak Maya rujuk lagi. Apalagi setelah tahu kalau selama ini kami cuma salah paham saja tanpa pernah tahu apa yang terjadi pada hidup kami masing-masing. Jujur Kak, sampai detik terakhir saya tidak pernah menginginkan perceraian. Saya masih berharap untuk memperbaiki rumah tangga kami." jawab Leo dengan tenang. Ah so cute. Abang bikin hati ini terpotek mendengarnya.
"Kenapa enggak nyari Maya di rumah? Kamu tau kan dimana rumah orang tua kami?"
Aku baru hendak mengeluarkan pendapatku ketika Kak Rian memelototiku lagi. Aku pun urung melakukannya.
"Itu yang saya sesalkan sampai sekarang Kak. Kalau tahu saat itu Maya kehilangan anak kami, maka saya akan memilih untuk meninggalkan keluarga saya dan mengurus Maya. Saya saat itu hanya berpikir kalau Maya hanya ngambek biasa karena saya omelin dan merasa syok karena tiba-tiba terima surat panggilan dari pengadilan agama. Saat itu saya pikir Maya akan....akan... meninggalkan saya dan.... menikah dengan Angga."
"Itu kan pemikiran kamu yang tak ada bedanya dengan anak bocah! Apa kamu kelak akan seperti itu lagi nantinya? Saya kok sangsi ya? Watak manusia tidak bisa diubah!" terdengar keraguan dalam ucapan Kak Rian.
Leo terlihat sedang memilah kata-kata yang akan Ia ucapkan. Tak ada raut cemas dan khawatir dalam diri Leo. Benar-benar tenang seakan yakin dengan perbuatan yang Ia lakukan.
"Saya akui memang pendapat tentang watak manusia tidak bisa diubah benar. Saya dulu memang masih berpikir seperti anak kemarin sore yang berpikir segala sesuatu dengan emosi dan tak memikirkan dampak ke depannya. Namun saat semua musibah datang kepada saya disaat bersamaan akhirnya mampu mengubah pemikiran saya,"
"Apa arti keluarga, apa arti orang yang disayang dan apa arti kehilangan saya mempelajarinya dari pengalaman hidup. Kehilangan Adam adalah kegagalan saya. Perceraian dengan Maya adalah penyesalan saya seumur hidup."
Leo lalu menatapku dan menyunggingkan seulas senyum. Ia mengulurkan tangannya dan aku memberikan tanganku untuk Ia genggam. "Saya enggak mau kehilangan wanita paling spesial seperti Maya lagi."
Aaaaahhhhh... Oppaaaaaa.... Sarangheyo..... Ini tuh pernyataan cinta Oppa paling indah dan paling membuat hatiku meleleelelelleeeeeeh...
"Kamu percaya sama gombalan receh kayak gitu May?" perkataan Kak Rian membuyarkan khayalan indahku.
__ADS_1
"Ih kakak kenapa sih? Ngerusakkin mood aku aja deh!" protesku.
"Ya lagian kamu gampang banget percaya sama hal receh kayak gitu! Kakak kasih tau ya May, laki-laki tuh kalau ngegombal gampang dan lancar kayak jalan toll. Begitu aja kamu udah percaya. Jangan mau ketipu May! Manis saat lagi PDKT aja. Giliran udah nikah malah disia-siain." kata Kak Rian dengan pedas.
"Leo tuh bukan kayak laki-laki di luar sana kali yang suka ngegombal. Aku tuh kenal sama Leo. Dia enggak bisa ngegombal. Anaknya mah kalem wae. Makanya aku langsung melting mendengar gombalannya kali ini. Dan satu lagi ya Kak, terlepas dari kesalahpahaman kami hingga akhirnya kami bercerai, Leo enggak pernah tuh sia-siain aku. Ia selalu berusaha memberikan nafkah dengan kerja kerasnya."
Kan...kan... Aku yang emosi ngadepin Kak Rian. Sekarang malah Leo yang menenangkanku dengan menepuk-nepuk tanganku pelan.
"Sabar, May. Ayo minum dulu." kata Leo dengan lembut.
"Udah habis." aku mengangkat gelas yang sekarang sudah kosong. Daritadi disuruh diem di pojokkan tanpa diajak ngobrol ya kerjaanku cuma minum aja. Tanpa kusadari minumanku sudah habis dan steaknya masih belum datang.
Ini kenapa sih lama banget? Apa dagingnya masih motong sapi dulu di belakang?
"Yaudah aku pesenin minum buat kamu ya." Leo lalu memanggil pelayan dan memesan minuman lagi untukku. Kesempatan ini aku gunakan untuk menanyakan pesanan steak kami yang tak kunjung datang.
Setelah ditegur eh tak lama kemudian steak dan minuman tambahan pesananku pun datang. Heran! Pelayanan harus diperbaiki nih.
Seakan tahu kekesalanku, Leo pun berbisik di telingaku. "Nanti aku kasih teguran pimpinannya."
"Kok bisa?" tanyaku bingung.
"Soalnya restoran ini punya Kusumadewa Group juga."
Wah kayak sultan aja aku. Baru komplain eh pimpinannya yang turun tangan.
"Kalian masih mau bisik-bisik sendiri nih? Kakak pulang aja kalau gitu. Daripada kayak obat nyamuk!" protes Kak Rian.
Astaga! Aku lupa keberadaan Kak Rian. Huh bisa berkurang nih poin Leo di depan Kak Rian cuma gara-gara masalah steak aja!
"Dibilangin nanti aku kenalin sama Adel. Kakak enggak bakalan jomblo lagi deh." kataku seraya mengungkit tentang perjodohan Kak Rian dengan Adel yang pernah kuusulkan dulu.
"Ogah! Udah back to the topic." omel Kak Rian.
"Sebentar Kak. Makan dulu. Enggak enak kalau steaknya dingin. Tuh kayak steak Kakak, udah dingin. Aku enggak suka. Kita bahas sambil makan ya. Tapi jangan ngancem-ngancem Leo. Nanti nafsu makan aku hilang." kataku tanpa memperdulikan apakah Kak Rian setuju atau tidak aku tetap saja memakan steak milikku.
"Suka-suka Kakak lah." jawab Kak Rian tapi tangannya mengambil garpu dan pisau hendak makan steak miliknya. "Bagi punya kamu May yang masih panas."
"Huh! Makanya jangan kebanyakan marah-marah. Nikmatin dulu makanan Kakak." sambil ngomel aku memotong steak milikku dan memberikannya pada Kak Rian.
*****
Morningggggg....
Hari senin nih....
Jangan lupa vote ya. Vote yang banyak.
Mau duet mau Oppa dan Madam berlanjut ndaaakkk? Makanya vote yang banyak. Kalau ada yang enggak tau caranya sini aku kasih tau.
Kalian ke halaman depan novel ini lalu ikutin step yang aku lingkarin ya.
Yang udah tau ayp buruan vote jangan pura-pura enggak tau ya 😜. Oh iya satu lagi, yang nanyain visualisasinya kayak gimana aku kayaknya enggak ngasih visualisasi deh takut enggak sesuai dengan khayalan kalian. Sok atuh bebaskeun kalian mau ngehalu siapa ya yang penting Vote...Vote...Vote... Merdeka!-
__ADS_1