
"Mau es krim?" Leo menawariku es krim yang sejak tadi berhasil menarik perhatianku.
Aku langsung mengangguk. "Mau banget." Mataku pasti berbinar-binar saat ini. Kayak anak kecil saja!
Leo mengu lum senyumnya. Sepertinya Ia tahu kalau sejak tadi aku menginginkan es krim. Tadi aku lihat anak kecil membeli es krim terus ada semprongnya, eh itu mah nama kue kampung ya namanya kue semprong. Cone, kalau di toko es krim ini namanya sugar cone.
"Mau pesan apa?" tanya Leo saat kami sudah di depan kasir.
Aku memilih es krim yang banyak jenisnya. Bingung mau pilih yang mana.
"Hmm... Aku bingung. Kayaknya cokelat enak. Terus macha enak. Terus Hersey juga enak. Terus Pistacio juga enak. Semuanya kayaknya enak."
"Mas, pesan semua yang istri saya mau. Bikin tapi enggak usah dicampur semua es krimnya. Es krim campur toping aja." kata Leo pada karyawan es krim tersebut.
Aku agak bingung dengan apa yang Leo pesan, tapi aku nurut aja. "Sayang, pakai semprong eh maksudnya sugar cone juga." aku menunjuk sugar cone yang sejak tadi menarik perhatianku.
"Iya. Tolong dipakaikan sesuai request istri saya ya Mas."
"Baik, Pak."
Leo lalu mengeluarkan kartu miliknya dan membayar pesananku. "Kamu enggak beli?"
"Enggak usah. Kamu aja. Tapi nanti kamu suapin aku ya. Biar romantis gitu satu sendok berdua." goda Leo.
"Iya. Tapi enggak boleh banyak-banyak ya!"
Leo tertawa mendengar ancamanku. "Iya Sayang. Mau beli buat dibawa pulang juga enggak?"
"Mauuuuuu."
Leo mengacak-acak rambutku sambil tersenyum. "Iya. Apa sih yang enggak buat kamu?"
Aku tersenyum senang. "Makasih ya Sayang. Baik banget kamu sama aku."
"Iya dong. Aku kan nyari uang buat bahagiain kamu. Ngapain uang ditumpuk kalau enggak bisa bahagiain kamu?"
"Huh gombal!"
"Emang bener."
Kami yang sedang dimabuk asmara asyik sendiri dengan saling merayu. Sampai suara mas-mas karyawan toko menyadarkan kami.
"Ehem.. Maaf Pak, ini es krimnya udah siap." Mas-mas itu memberikan es krim padaku.
"Iya Mas. Makasih." aku menerima es krim yang diberikan dan langsung mencobanya. Hmm... Yummy... Enak pake banget. Harga beneran enggak nipu ya.
"Mas pesan lagi di mix rasanya 1 liter ya. Saya titip dulu nanti saya ambil lagi." Leo memberikan lagi kartu miliknya untuk membayar pesanan yang terbaru.
"Baik, Pak." setelah membayar Mas-mas pelayan toko mengembalikan lagi kartu milik Leo.
"Ayo kita belanja." Leo merangkul pundakku dan mengajakku ke salah satu toko perhiasan yang dari luar saja sudah terlihat kalau mahal.
"Kita mau kesini?"
"Iya." jawab Leo.
"Mau ngapain?" tanyaku bingung.
"Mau beliin kamu perhiasan lah. Biar perhiasan kamu lebih banyak dari perhiasan punya Mamanya Angga."
Aku menarik tangan Leo saat Ia hendak masuk ke dalam toko. "Aku kan cuma becanda waktu itu. Bohongan. Lagi juga ini tokonya mahal. Beli di pasar aja deh. Emas muda yang 22 karat aja. Murah meriah."
Leo lagi-lagi tersenyum mendengar perkataanku. "Ya masa sih aku beliin kamu emas di pasar? Kan aku udah janji May. Udah ayo kita masuk. Kamu pilih aja yang kamu mau ya."
Leo mendorongku masuk ke dalam toko. Masa sih aku masuk ke dalam toko sambil makan es krim?
Benar saja, pelayan toko melihat kami dan tidak sepenuh hati melayani kedatangan kami. Apa mungkin karena penampilan aku dan Leo yang tidak mencerminkan pembeli yang potensial?
__ADS_1
Ada dua orang pelayan toko yang bertugas hari ini. Cara melayani aku dan Leo berbeda dengan cara melayani orang sebelum kami yang seorang tante-tante berpenampilan high class tapi ujung-ujungnya enggak beli apa-apa. Ramah dan penuh dengan senyuman.
"Malam Bapak dan Ibu, ada yang bisa dibantu?" sapaan yang hanya formalitas saja. Mungkin karena ada CCTV diatas yang membuat mereka mau tidak mau harus melayani pengunjung yang datang.
"Saya mau cari kalung. Bisa tunjukkan yang mana saja modelnya?" Leo mengutarakan apa keinginannya.
Pelayan tersebut menunjukkan kepada kami koleksi perhiasan yang Ia miliki. Aku terkesima melihat perhiasan disini yang terlihat mewah, beda dengan perhiasan yang biasa ibu beli di pasar.
Ibu saja kalau beli perhiasan udah kayak orang paling tajir di kampung, kalau disini kayaknya perhiasan ibu yang segambreng cuma jadi satu atau dua buah saja deh karena perbedaan harganya.
"Kalau yang ini gimana Sayang? Kamu suka enggak?" Leo menunjuk sebuah kalung bergambar setengah bulan sabit.
"Kok cuma setengah saja bulannya?" tanyaku.
Sebelum pelayan menjawab, Leo sudah menjawab duluan. "Kan setengahnya lagi ada di hati aku."
Uwuuuuuwww...
Pelayannya langsung jengah dong mendengar gombalan Leo. Sudah under estimate ditambah jengah melihat kelakuan Leo. Makin enggak dianggap pembeli potensial deh.
"Saya mau yang ini. Dan.... Ini." Leo menunjuk gelang dengan seri yang sama. Ternyata tidak jadi memilih yang motif setengah lingkaran melainkan motif ketupat yang Ia pilih. Ah aku enggak tau apa namanya pokoknya mirip kayak ketupat versi lebih panjang saja.
"Untuk yang kalung harga bandulannya saja 24 juta, Pak." pelayan memberitahukan harga perhiasan yang akan Leo beli. Mungkin menganggap kalau Leo akan mengurungkan niatnya untuk membeli setelah tau harganya.
Aku yang mendengar harga bandulannya saja 24 juta tentu saja kaget. Gila ini sih! Bandulan doang gitu loh! Kalo di pasar, emas 22 karat harganya paling 500ribu per gram. 24 juta bisa dapet 48 gram! Bisa dapet kalung, gelang, cincin, bahkan gelang kaki kali!
"Sayang, enggak usah aja ya." aku menggoyang-goyangkan lengan Leo. Mengajaknya untuk pindah toko saja.
Sekilas aku melihat mbak-mbak pelayan tokonya tersenyum sinis. Mungkin Ia sudah duga kalau kami hanya anak muda kere yang enggak mampu membeli perhiasan di toko tempatnya bekerja.
Leo tak mengacuhkan kekhawatiranku. "Saya mau kalung dan gelangnya juga mbak. Motif yang sama ya." Leo langsung mengeluarkan kartu miliknya dan memberikan pada mbak-mbak penjaga toko.
"Sayang." aku berusaha mencegah niat Leo tapi tampaknya Leo santai saja.
"Mbak?" Leo menegur Mbaknya yang hanya diam mematung bukannya menyiapkan apa yang Leo pesan.
Saat pelayan menyiapkan pesanan, aku kembali membujuk Leo untuk menggagalkan rencananya.
"Sayang, ini mahal banget. Beli di pasar aja ya. Bandulannya aja 24juta apalagi sama kalungnya." aku berbicara sambil berbisik agar mbak-mbaknya tak mendengar percakapan kami.
"Enggak mau! Maunya beliin kamu disini."
"Tapi-"
"Sayang, aku kan udah janji sama kamu. Mau beliin kamu perhiasan yang lebih banyak dari Mamanya Angga. Tapi aku maunya perhiasan yang berkualitas. Karena perhiasan di pasar pasti kalah cantik dibanding kamu."
"Ih gombal!" aku memukul pelan lengan Leo seraya tersipu malu.
"Loh enggak apa-apa kan gombalin istri sendiri? Daripada gombalin cewek lain?"
"Jangan! Awas aja kalau kamu berani kayak gitu!" ancamku.
"Tenang aja, Sayang." Leo memberiku senyumannya yang membuat wanita manapun akan meleleh.
Ganteng, baik, penyayang, pekerja keras itu pasti suamiku tersayang. Satu paket lengkap. Nikmat mana lagi yang ku dustakan?
"Permisi, Pak. Pesanannya sudah selesai. Mau langsung dipakai atau di-" belum selesai berbicara pelayan yang sekarang sudah murah senyum itu terdiam.
"Langsung dipakai saja Mbak." Leo mengambil salah satu kotak perhiasan dan memakaikannya di leher. Kalung yang indah.
Selanjutnya Leo memakaikan gelang di tangan kiriku. Beneran bagus banget ya dipakai di kulitku yang putih ini. Lebih terlihat berkilau.
"Bagus banget." aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku pada perhiasan yang mahal ini. Entah berapa harga keseluruhannya kalau bandulannya saja 24 juta. Mungkin semuanya diatas 70 juta? Who knows?
"Ah masa sih? Ini tuh terlihat bagus karena kamu yang pakai. Kalau bukan kamu pasti biasa saja." puji Leo.
"Mulai deh gombal lagi." sekarang aku menatap wajahku di cermin.
__ADS_1
Sebuah kalung berbentuk belah ketupat terlihat cantik di leher jenjangku. Modelnya sederhana tapi malah justru terkesan mewah.
"Waw.... Harga enggak nipu ya." aku masih menatap wajahku di cermin, terpesona keindahan kalung berlian ini.
"Paper bagnya saya bawa saja Mbak. Kalungnya langsung dipakai." Leo meminta paper bag berisi kotak perhiasan yang sejak tadi di pegang Mbak penjaga toko.
"Baik, Pak." Mbak penjaga toko memberikan paper bag dan kartu Leo yang dipakai untuk membayar tadi beserta struk pembayarannya.
"Ayo Sayang. Kita masih harus ke toko lain lagi." Leo kembali menggandeng tanganku.
Kami menuju toko baju yang tadi aku lihat menjual baju diskon seharga 500 ribu. Sebelum masuk ke toko, Leo sudah aku tarik duluan tangannya.
"Mau ngapain kita disini?"
"Mau beli baju lah. Masa beli sembako?!"
"Ish! Bukan itu maksud aku! Beli baju untuk siala? Disini tuh mahal Sayang. Tadi aja baju diskonan harganya masih 500 ribu. Sayang uangnya."
Leo lagi-lagi menggelengkan kepala melihat ulahku yang melarangnya menghabiskan uang. Pengalaman hidup susah jadi aku lebih menghargai makna uang dan bagaimana susahnya mencari uang.
"Udah ya, masalah uang itu urusanku. Aku kan belum kasih seserahan sama kamu. Udah cepetan nanti keburu tutup tokonya." Leo masuk ke dalam toko tak mengindahkan protes yang kuajukan.
Leo sibuk memilih baju untukku. Sementara aku sibuk melihat tag harga yang selalu membuat bola mataku membulat karena kaget.
Kemeja harganya 700 ribu? Apa kabar kemejaku yang kalau di ITC Harga 150 ribu saja sudah paling bagus?
Celana panjangnya saja seharga 4x lipat harga celana bahan yang aku beli di Matah*ri dengan promo beli 1 gratis 2. Membuatku semakin menggeleng-geleng kepala karena harganya yang tak masuk akal.
Namun suamiku tercinta nampaknya tak peduli. Ia terlihat santai memilihkan baju untukku. Diangkatnya baju yang Ia pilih lalu didekatkan ke tubuhku. "Hmm... Ini cocok." lalu dimasukkan dalam list baju yang akan Ia beli.
Kini Ia ke area parfum. Leo sibuk sendiri memilihkan parfum yang cocok untukku. Lagi-lagi aku sibuk melihat harganya.
Harga parfum bisa 500 ribu. Kalau aku pakai parfum yang refillan bisa mandi parfum kayaknya. Parfum refill harganya 50 ribu udah dapet botol gede. Ini 500 ribu mana botolnya kecil lagi. Kena tipu kayaknya nih.
Leo membawa semua barang yang Ia pilih lalu membayarnya di kasir. Tanpa menanyakan pendapatku Ia membeli apapun yang Ia pikir cocok denganku.
"Semuanya jadi Rp 4.299.000, Pak." kata Mbak kasir.
Leo kembali memberikan kartu miliknya. Aku hanya geleng-geleng kepala. Enggak bisa sering-sering ke mall ini nih. Bisa miskin aku. Harganya enggak kira-kira.
Leo memberikan paper bag berisi aneka belanjaannya padaku. "Nih, buat kamu. Maaf ya aku enggak minta pendapat kamu dulu. Udah kemalaman. Belum kamu protes masalah harga jadi lebih cepat kalau aku pilihkan saja."
"Mahal tau harganya!" aku masih protes. 4 juta kalau beli baju di ITC bisa beli baju buat sebulan kali.
"Udah jangan protes lagi. Kita pilih sepatu ya. Tapi kayaknya kita ambil es krim dulu aja deh. Takut keburu tutup tokonya."
Aku mengikuti saja langkah Leo yang sangat hapal dengan Mall ini. Mengambil es krim lalu pergi ke Sogo, langsung menuju area sepatu dan memilihkan sepatu untukku tanpa meminta persetujuanku lagi. Tau saja kalau aku akan protes.
Aku kalau dibeliin mah setuju aja. "Ini semua seserahan untuk pernikahan kita. Nanti yang belum aku beli tuh rumah dan mobil."
"Itu nanti saja. Kamu nabung saja dulu. Beli rumah dan mobil kan enggak murah. Kalau nyicil di bank saja bisa 10 sampai 15 tahun untuk rumah. Mobil bisa 5 tahun. Kita sambil jalan saja. Apalagi kamu sudah keluar banyak uang hari ini. Jangan terlalu boros!"
Leo menyunggingkan seulas senyum. Ditatapnya aku dengan penuh cinta. "Aku udah nabung, Sayang. Dua tahun lebih aku nabung dan enggak beli apapun. Papa udah kasih aku uang, untuk gaji sebagai Mr. So dan juga untuk mengurus segala hal selama keluarga kami diterpa musibah,"
" Tadinya uang itu mau aku buatkan deposito untuk sekolah Adam. Aku berniat mencari kamu jika keadaan sudah mulai senggang. Jika pelaku yang melaporkan Papa sudah ketemu. Aku pikir... Kamu dan Angga sudah menikah. Sebagai Papa Adam aku bertanggung jawab untuk pendidikannya. Namun takdir berkata lain. Jadi nanti uang tabungan aku untuk kita beli rumah dan mobil ya."
Aku menelan salivaku dengan susah payah. Seberapa besar gajinya? 2 tahun nabung sudah bisa membeli rumah dan mobil? Gile itu mah, pantas saja tadi membeli perhiasan kayak beli cabe di pasar.
Kami sedang berjalan menuju parkiran motor ketika tiba-tiba Leo berhenti mendadak. "Sst! Kamu ngumpet, May!"
Aku dengan sigap bersembunyi di belakang tembok. "Ada apa sih?"
Leo menyerahkan paper bag belanjaan yang sejak tadi Ia pegang padaku. "Kamu pegang dulu."
Aku menurut saja perintah Leo. Aku memperhatikan Leo sedang mengeluarkan Hp dari kantong celananya dan memfoto seseorang.
Aku mengikuti arah pandangan Leo. Di sana, di parkiran mobil. Ada laki-laki yang sedang mengobrol sambil tertawa riang. Sebuah amplop diberikan dari laki-laki berkemeja putih.
__ADS_1
Tunggu, kok aku kayak kenal ya dengan laki-laki berkemeja putih itu? Saat laki-laki itu berbalik badan dan Leo semakin menunduk agar tidak ketahuan barulah aku tahu kalau laki-laki itu adalah... Pak Johan, atasanku.