
"Kenapa diam aja? Masih mau dipangku?" ledek Leo lagi sambil menyunggingkan senyumnya di pipi.
Ternyata senyuman Leo tak berlangsung lama karena Kak Anggi datang dan membuatnya langsung terdiam.
"Apaan yang dipangku?" tanya Kak Anggi dengan wajah menyelidiki.
"Oh itu Ka, Maya nanya sama aku. Kalo di busway anak kecil sebaiknya duduk sendiri atau dipangku? Kan Maya mau nyobain naik busway tapi suka penuh dan anak kecil suka duduk sendiri-sendiri gitu." alasan masuk akal yang Leo ucapkan.
"Oooohhh... Kirain kalian main pangku-pangkuan! Di ruangan kita memang enggak ada CCTV nya sih. Tapi kalau sampai Pak Dibyo tau wah.... bisa berat urusannya."
Aku menelan ludah mendengar penjelasan dari Kak Anggi. Nih Si Leo suka nyerempet-nyerempet masalah! Nyebelin banget!
"Enggak kok Kak. Oh iya ada yang mau aku periksain lagi gak Kak?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan tentang pangku-memangku.
"Ada dong May. Kamu jangan nanya kerjaan sama bagian audit, selalu ada dong. Aku kirim ke email kamu aja ya." Kak Anggi lalu duduk di kursinya dan mulai mengirimiku kerjaan.
Tak lama Pak Johan dan Kak Fahri datang. Selamat... Selamat.... Enggak ketahuan... Aku melirik ke arah Leo yang sedang fokus bekerja. Enggak ada pengaruhnya sama sekali ya tuh anak. Deg-degan dikit kek!
****
"May! Maya!" suara cempreng dari dua orang ibu-ibu sahabatku terdengar di depan pintu rumah.
Aku melangkahkan kaki ke ruang tamu dan mrmbukakan pintu untuk kedua sahabatku itu.
"Tumben malam-malam kesini. Kenapa Bu? Eh masuk dulu aja kali ya." ajakku sambil tersenyum.
"Kalau enggak malam kan enggak bisa ketemu kamu, May. Kalau siang kan kamu kerja May. Udah lama loh kita nggak ketemu kamu." ujar Bu Sri.
"Iya nih wanita kantoran kayak kamu susah banget sekarang ditemuinnya. Kita udah nggak pernah main bareng." protes Bu Jojo.
"Maaf ya Bu. Namanya juga Maya masih anak baru, jadi harus mulai menyesuaikan ritme pekerjaan Maya. Maya ambilin minum dulu ya sebentar."
Aku mengambilkan minum untuk kedua sahabatku yang sedang duduk di depan TV. Seperti biasa mereka takkan mau dikasih air putih, mereka maunya minuman yang berwarna.
"Ini, minuman kesukaan kalian." aku menghidangkan 2 buah jus dalam kemasan. Kali ini sengaja aku belikan yang spesial untuk orang yang paling spesial.
"Asyik!" ujar Duo Julid bersamaan.
"Tapi enggak ada cemilannya ya. Aku enggak pernah makan malam soalnya. Paling ngemil buah aja." aku lalu duduk di dekat dua sahabatku itu.
"Kegayaan banget makan malam cuma buah doang. Ntar kalo udah nikah, udah punya anak, udah capek dan bawaannya laper terus juga makan malam buah kagak nampol! Kalo belum makan nasi belum disebut makan." seloroh Bu Sri sambil memasukkan sedotan dalam minumannya.
Aku tersenyum simpul. "Ya itu mah gimana nanti aja."
"Bukannya Angga udah ngelamar kamu ya May?" tanya Bu Jojo.
Aku udah enggak kuat senyum, tawa kencang langsung keluar dari mulutku. "Ha... ha... ha... Kalian punya misi khusus ya malam-malam begini ke rumahku? Ha...ha...ha... Udah ketebak kali. Pasti diutus sama Angga deh."
"Yah kita ketahuan, Bu." ujar Bu Jojo pada Bu Sri.
"Iyalah ketahuan, wong situ tadi yang bilang kalau Angga ngelamar Maya. Jadi ketahuan deh!" omel Bu Sri atas ketidakkompakkan sahabatnya tersebut.
Bu Jojo mengambil jus jambu biji dan meminumnya. Memikirkan mau kasih alasan apa padaku.
"Ya.... Karena udah ketahuan kita langsung to the point aja deh. Kamu udah mikirin jawaban atas lamarannya Angga belum May?" tanya Bu Jojo yang akhirnya menyerah mau kasih alasan apa dan memilih jujur saja.
"Belum tahu." jawabku singkat. Aku mengambil remote TV dan mengganti-ganti channel TV.
"Stop, May! Sinetron yang itu aja. Saya ngikutin soalnya dari awal." aku menuruti keinginan Bu Sri karena memang aku jarang nonton TV kecuali siaran berita.
"Kenapa belum tahu May? Kan Angga punya segalanya yang kamu cari. Kurang apa lagi May?" sepertinya Bu Jojo agen rahasia yang disewa sama Angga kali ini. Bu Sri hanya asistennya. Buktinya Bu Sri asyik sendiri dengan sinetronnya.
"Maya belum mikirin pernikahan lagi, Bu." jawabku jujur.
"Kenapa? Masih trauma?" srot....srot.... suara sedotan Bu Jojo terdengar masih usaha aja padahal jusnya udah abis.
"Mau jus lagi Bu? Maya ambilin dulu ya." baru saja beranjak bangun eh dilarang Bu Jojo.
"Enggak usah May. Saya emang demen minum sampai tetes terakhir. Kayak iklan susu di TV itu loh. Hingga tetes terakhir..."kata Bu Jojo beralasan.
__ADS_1
"Aduh.... Perut saya sakit nih. Enggak terbiasa minum jus, biasanya minum Teh Sisri. Saya numpang ke kamar mandi kamu ya May."
"Iya, Bu."
Bu Jojo pun langsung berlari ke kamar mandi meninggalkanku dan Bu Sri.
"Dasar si Jojo ya, Katarak!"
"Loh kok katarak sih Bu? Katarak kan penyakit mata?" tanyaku bingung.
"Bukan katarak penyakit mata May. Tapi katarak itu.... Kagak kuat nahan ber*k!"
Aku langsung tertawa ngakak mendengar istilah yang baru Bu Sri katakan. Dulu mokondo, eh sekarang katarak. Ampun deh emak-emak ini.
"Eh May, gimana Leo?" bisik Bu Sri pelan agar Bu Jojo tidak mendengar percakapan kami.
Oh aku ngerti nih sekarang, Bu Jojo kubu Angga dan Bu Sri kubu Leo. Oke baiklah.
"Rese, Bu."
"Rese gimana?" tanya Bu Sri penasaran.
"Leo ngedeketin aku melulu."
"Wah bagus dong. Berarti masih suka Dia sama kamu May."
"Iya kalau masih suka. Kalau cuma iseng doang gimana?"
"Tapi kamu suka kan diisengin sama Leo?" pancing Bu Sri.
"Biasa aja."
"Yeh pake bohong lagi sama saya. Kayak kita baru kenal kemarin aja. Saya tuh tau kalau kamu juga seneng kan diisengin sama Leo?"
"Ya enggak gitu juga lah, Bu. Maya sebel soalnya Leo ngisengin Maya sedangkan Leo udah punya pacar."
"Punya pacar gimana? Kamu pernah lihat Leo bawa pacarnya?"
Sekarang Bu Sri yang menggelengkan kepalanya. "Gini nih yang bikin rumah tangga kamu sama Leo tuh kandas. Kebanyakan salah paham. Kamu udah nuduh dia sembarangan tanpa kamu tanya dulu lebih jelas. Belum tentu kan dia udah punya pacar? Siapa tahu dia nelpon seseorang yang emang nggak mau diganggu aja sama orang lain. Udah suudzon aja kamu May!"
Perkataan Bu Sri barusan sedikit banyak menamparku. Memang sih benar kegagalan rumah tangga aku dan Leo bukan hanya karena masalah Adam saja, kesalahpahaman diantara kami terlalu banyak.
Baik aku maupun Leo terlalu gengsi untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut. Jadilah kesalahpahaman itu seperti bom waktu yang dipendam terus menerus dan suatu waktu akan meledak pada waktunya.
"Belajarlah May lebih dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan. Kamu nggak bisa melihat sesuatu tuh kayak gini: Si dia begitu tuh udah pasti begitu, padahal kita enggak tahu kenyataannya kayak gimana. Sama kaya kasusnya Leo, kamu kan ngelihatnya dia lagi nelpon pacarnya, siapa tahu kalau Leo lagi nelpon debt kolektor? Kan dia malu kalau misalnya teleponan sama debt kolektor dan ketahuan sama orang lain, ya kan?"
Bener juga sih perkataan yang Ibu Sri bilang. Aku terlalu mudah menyimpulkan sesuatu tanpa aku tahu benar keadaannya seperti apa.
"Kegagalan pernikahan kamu waktu itu bukan hanya kamu jadikan alat untuk balas dendam aja May. Kamu juga harus menjadikannya sebagai pelajaran, bikin kamu lebih dewasa. Bikin kamu jangan terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Bikin kamu bisa membuat keputusan dengan lebih bijaksana lagi kedepannya. Yang berlalu biarlah berlalu. Kamu jadiin pelajaran,"
"Kalau memang kamu enggak mau sama Leo lagi nggak apa-apa, kamu bisa sama Angga. Dengan siapapun yang penting kamu bahagia. Tapi ingat, kamu udah punya bekal dari perceraian kamu sebelumnya. Gunakan sebagai pengalaman dalam mengarungi rumah tangga nanti kedepannya."
Nasehat yang amat bijak dari seorang sahabat. Orang yang dulu sempat aku pandang sebelah mata ternyata kalau sudah memberi nasehat sungguh sangat luar biasa. Pantas aja suaminya Bu Sri amat mencintai Ibu Sri. Ternyata dibalik sikapnya yang bocor, hatinya lembut dan juga pemikirannya dewasa.
Aku memeluk Bu Sri dengan erat. Teman, sahabat, sekaligus kakak bagiku. "Iya, Bu."
"Kalian ngapain nih main peluk-pelukkan saat saya lagi di kamar mandi?" celetuk Bu Jojo.
"Habis sesi curhat. Dasar katarak, dimanapun berada selalu katarak!"
Bu Jojo hanya cengengesan mendengar gerutuan Bu Sri. "Mules Bu. Enggak percaya kalau saya mules beneran? Saya enggak siram nih!" ancam Bu Jojo.
"Dih jorok!" kataku dan Bu Sri kompak.
****
Hari jumat. Hari terpendek dan paling disukai semua karyawan. Kenapa? karena besok weekend yey....
Aku hari ini mengenakan celana jeans dan kemeja model korean style. Kemeja tangan panjang dengan pita di bawah leher. Membuat penampilanku terlihat manis.
__ADS_1
Hari Jumat di Kusumadewa Group memang memperbolehkan memakai celana jeans dan kaos. Bebas deh pokoknya asal sopan.
Jam setengah 8 pagi aku sudah sampai ruangan. Seperti biasa Leo sudah tiba duluan. Ia sedang sibuk mengerjakan sesuatu tanpa sepengetahuanku.
"Kamu lagi ngerjain apaan sih?" aku mulai melakukan saran yang Bu Sri berikan kemarin. Lebih baik bertanya daripada menduga-duga sesuatu.
Leo masih fokus dengan layar komputernya. Seperti sedang menghadapi suatu masalah.
"Leo?!" panggilku saat Leo tidak menjawab pertanyaan yang kuajukan.
"Iya. Sorry aku lagi sibuk banget. Nanti dulu ya." dan Leo pun kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Aku memutuskan untuk membuat minuman di pantry. Meninggalkan Leo seorang diri di ruangan.
Ada banyak susu sachet di pantry. Aku memilih susu Dancow Full Cream dan satu sachet gula pasir. Dancow Full Cream the best deh buatku.
Aku membuat susu di gelas kertas yang disediakan. Sebelum kembali ke ruangan mataku sempat menatap susu milo sachet yang juga tersedia diantara deretan minuman sachetan lain.
Susu Milo. Susu kesukaan Leo. Aku jadi ingat dulu aku biasa membuatkan susu Milo saat Leo pulang kerja. Walau ssbentar berumah tangga dengan Leo rasanya aku sudah terbiasa melakukan hal-hal kecil yang membuat Leo senang.
Tanpa kusadari aku mengambil susu Milo dan membuatkannya untuk Leo. Aku lalu keluar dari pantry dengan membawa dua gelas susu di tanganku.
Benar dugaanku, aku mendapati lagi Leo keluar dari tangga darurat sambil celingukan kesana-kemari. Wajar dong kalau aku curiga?
Belajarlah May lebih dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan.
Kata-kata Bu Sri kembali terngiang di telingaku. Aku enggak boleh sembarangan nuduh. Leo pasti punya alasan sendiri melakukan hal seperti itu.
"Leo!" panggilku yang membuat Leo kaget.
"Nih." aku menyerahkan gelas berisi susu milo dan langsung berjalan menuju ruangan.
Aku yakin saat ini Leo pasti sedang heran dengan perubahan sikapku. Leo mengikutiku dari belakang dan ikut masuk ke ruangan.
"Hmm... Susu Milo. Kamu masih hapal aja sama kesukaanku. Makasih ya." ucap Leo tulus.
"Ya masih hapal lah. Dulu kan aku setiap hari buatin." jawabku sambil menyalakan komputer.
Leo mengu lum senyum. "Udah lama aku enggak minum susu ini lagi. Susu buatan kamu selalu sama rasanya. Paling enak menurutku."
Aku mengambil susu milikku dan meminumnya. "Bohong banget. Masa sih enggak pernah minum susu Milo lagi?"
Leo kali ini melihat ke arahku. "Beneran. Masa sih aku bohong? Waktu pulang ke rumah Papa dan Bibi buatin susu Milo rasanya enggak enak. Sejak itu aku enggak pernah minta dibuatin lagi sama Bibi. Sampai susunya expired kali karena enggak ada yang minum."
"Bilangin sama Bibi kamu, kalau buat susu Milo dicampur sama susu kental manis. Jadi lebih kental dan enak." kataku sambil menikmati susu Dancow kesukaanku.
"Oh gitu. Iya nanti aku bilangin Bibi deh. Tadi kamu nanya apa? Sorry aku lagi serius jadi enggak fokus sama pertanyaan kamu."
"Kamu tiap hari datang pagi dan sibuk ngerjain sesuatu. Lagi ngerjain apaan sih? Bukan hal yang merugikan perusahaan kan?" aku sekarang yang menatap ke arah Leo.
Leo mengenakan kaus berkerah garis-garis dengan celana jeans warna biru gelap. Jam tangan warna hitam di tangannya terlihat pas sebagai aksesoris pakaiannya hari ini. Ganteng. Aku baru memperhatikan ternyata Leo lebih suka warna gelap dibanding terang.
Ah kemana saja aku selama ini. Enggak pernah menyadari apa warna kesukaan Leo.
"Kenapa liatin aja? Aku ganteng ya?"
"Dih! Males banget ditanya apa jawabnya apa."
"Iya... iya... Maaf. Aku ada kerjaan sampingan. Baru bisa aku kerjain pagi dan kukirim siang. Aku ngirimnya di tangga darurat soalnya enggak enak kalau ada yang tahu aku punya double job. Tenang aja, aku enggak merugikan perusahaan kok."
"Oh... Bilang dong. Kan aku jadi enggak mikir jelek jadinya!" ternyata Bu Sri bener lagi. Aku memang belum dewasa ternyata.
"Memangnya kamu mikir apa? Aku telepon pacar aku gitu?"
Aku mengangguk. Leo lalu tersenyum, tampan sekali.
"Aku belum bisa move on dari kamu, May. Kamu wanita pertama yang aku cintai. Wanita pertama yang aku nikahi. Ternyata sang waktu belum bisa menghapus kamu dari hati aku."
Deg.... deg.... deg....
__ADS_1
Benarkah?
Kok aku senang ya mendengarnya?----