
Memang ya keluarganya Leo tuh semuanya out of the box. Coba itu, baru ngomongin tentang bakar-bakaran di kampung eh Mamanya langsung ajakin kesana. Terus Papanya yang agak geblek juga malah ngajakin ke sana besok lagi. Aduh gimana ini?
Kalau aku yang nolak mah nggak enak nantinya. Bisa dianggap sombong enggak mau ngundang-undang orang. Padahal alasan aku tuh bukan itu. Melainkan aku belum siap menghadapi amukan Bapak.
Seakan bisa membaca isi pikiranku, Leo yang menjawab ajakan mama dan Papanya.
"Sabar dulu dong Ma, Pa. Keadaannya nggak semudah yang dipikir. Kalian kan tahu, aku dan Maya waktu nikah dulu nggak direstuin sama Bapaknya Maya. Ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kita langsung datang kayaknya agak kurang sopan gitu ya. Biar aku dulu yang kesana sama Maya ngomong baik-baik, setelah itu baru deh aku ajak kalian deh. Gimana?" usul Leo.
"Enggak. Justru Papa nggak setuju kamu sendirian ke sana tanpa didampingi oleh Papa dan Mama. Kalau kamu hanya ke sana sendirian, apalagi dengan keadaan kalian saat ini yang pasti akan terjadi perang. Lebih baik Mama dan Papa yang datang. Ya kalau kamu keberatan besok, kita undur seminggu atau dua minggu lagi. Biar Maya memberitahukan dulu ke keluarganya,"
"Nanti kita ngomong baik-baik di sana. Enggak cuma kita bertiga aja. Papa akan mengajak salah satu orang yang dianggap cakap untuk mewakili keluarga kita berbicara dan sekaligus sebagai penengah. Enggak bisa kamu sendirian aja ya Leo. Papa enggak mau nanti masalahnya tambah berat dengan adanya pertengkaran kamu dan keluarganya Maya. Kita harus meminta Maya dengan cara baik-baik nggak kayak dulu kalian seenaknya sendiri kayak gitu."
Nah aku baru setuju dengan Papa Dibyo. Ternyata memang benar ya dibalik kelakuan yang aneh bin ajaib sejak pertama aku kenal, ini baru Papa Dibyo yang sebenarnya. Seorang Dibyo Kusumadewa yang terkenal pintar dalam strategi bisnis dan banyak disegani baik kawan maupun lawan bisnisnya.
"Aku setuju sama Papa. Ya ampun Pa, aku tuh sampai nggak bisa tidur mikirin gimana caranya bisa menaklukan Bapak. Kalau pakai cara papa kayak gini aku setuju banget. Semoga aja Bapak akan ngijinin aku dan Leo untuk kembali menikah." kataku penuh semangat.
"Mama juga setuju dengan idenya Papa. idenya brilian. Mama akui itu." kata Mama malu-malu.
"Bukan idenya aja kali Ma yang brilian. Papa juga orangnya ganteng, baik hati, suka menolong, dan kegantengan Papa makin meningkat setelah kumisnya dicukur. Nih lihat! Kelihatan awet muda kan?" ya ampun Papa Dibyo ternyata adalah biangnya buaya dan kadal buntung. Kok gampang banget ya gombalin Mamanya kayak gitu. Keluarga macam apa ini?
"Ih Papa pengen banget dipuji-puji sama Mama?" kata Mama malu-malu.
Leo mencubit lenganku, memberi kode agar aku menjauh dan membiarkan kedua orang tuanya saling menggoda.
"Iya dong. Papa kan cuma mau dipujinya sama Mama. Eh tapi Papa bukan cuma mau pujian Mama aja loh, Papa juga mau rujuk sama Mama. Mau enggak, Ma?"
Aku masih sempat mendengar aksi goda-menggoda Mama dan Papa sebelum duduk di gazebo. Tanpa sepengetahuan semua orang Leo sudah mematikan gas dari grill. Ia yakin kalau emak bapak buntung bakalan lama saling menggoda, bisa gosong nanti daging yang sudah dibeli mahal-mahal oleh Leo nanti.
"Menurut kamu gimana May dengan ide Papa? Kamu beneran setuju?" kata Leo sambil menggenggam tanganku erat.
"Setuju banget malah. Menurutku saran Papa sangat bijak. Enggak ada salahnya kita coba."
"Aku juga merasa begitu. Setidaknya dengan membawa Papa ke rumah kamu akan membuat aku terlihat bersungguh-sungguh ingin menikahi kamu lagi. Aku udah enggak sabar mau nikah sama kamu May. Mau nyicipin masakan kamu lagi. Mau bobo sambil meluk kamu kayak dulu."
Leo mengangkat tanganku dan menciumnya. Ah... Perhatian kecil yang membuatku meleleh jadinya.
"Memangnya masakanku enak? Kayaknya biasa aja deh."
"Enak. Enak banget. Kamu tau enggak, walau cuma dibawain bekal nasi sama tempe goreng tapi pas aku makan tuh terasa nikmat banget. Beneran deh. Mungkin karena kamu buatnya pakai cinta kali ya jadi semua terasa nikmat."
"Ih kamu mah sekarang mulai jago ngegombal nih." kataku malu-malu.
"Bukan ngegombal May. Aku tuh mengungkapkan isi hati. Walaupun kita dulu hidup kekurangan tapi aku bahagia bisa jadi sandaran hidup kamu. Pertama kalinya dalam hidup aku dimana hasil bekerjaku dihargai dan bermanfaat."
"Jadi kangen ya pengen main rumah-rumahan lagi kayak dulu?" ledekku.
"Iya. Kangen juga pengen main dokter-dokteran juga kayak dulu he...he...he..."
"Ih mesum!" kataku sambil mencubit pipi Leo.
"Aku kan mesum juga sama kamu doang May!"
"Iya...iya... tau..."
Lalu terdengar suara Richard yang baru datang bersama Lidya.
"Tuh kan nih bapak sama anak lagi pada pacaran! Memang ya kalian tuh mau bikin aku kayak obat nyamuk!"
Mata kami langsung tertuju pada Richard dan Lidya yang berjalan di belakangnya. Lidya berdandan amat rapi hanya demi datang ke acara barbeque.
"Siang Om, Tante!" sapa Lidya sambil tersenyum.
Aku langsung menatapnya dengan tidak suka, namun Leo langsung menegurku. "May! Jangan begitu ah!"
"Iya... Iya...."
"Kenalin Ma, Pa. Ini Lidya." kata Richard.
__ADS_1
Lidya pun menyalami Mama dan Papa Leo satu persatu sambil memperkenalkan dirinya.
"Wah cantik ya." puji Papa.
Ih aku sebel. Semua dibilang cantik sama Papa! Lagi-lagi Leo menatapku dengan tatapan memperingati.
"Terima kasih, Om." kata Lidya malu-malu.
"Tante juga cantik." Lidya lalu memuji Mama yang langsung membuat Mama tersenyum bahagia. Ah aku enggak bisa basa-basi busuk kayak gitu. Tadi Mama saat ketemu aku langsung nangis, mana sempat aku memuji Mama. Aku merasa kalah satu langkah di depan Lidya. Makin kesal saja aku.
Huh... Kenapa sih harus mengundang Lidya datang? Ini kan acara perkenalan diriku di keluarganya Leo. Aku udah nyiapin upeti juga berdandan cantik eh malah ngajak Lidya.
"Bisa aja kamu Lidya. Ayo kita barbequean." ajak Mama.
"Iya Tante. Aku ke Leo dulu ya." Lidya lalu berjalan mendekat ke Leo.
"Hi Leo!" sepertinya Lidya baru menyadari keberadaanku. "Loh ada Maya juga ternyata?"
Mata Lidya lalu terpaku pada tanganku dan Leo yang saling berpegangan. Keningnya berkerut. Mimik wajahnya berubah keruh.
"Kalian pacaran?" tanya Lidya.
Richard lalu berjalan mendekat dan menepuk pelan bahu Lidya. "Kita gabung sama Mama Papa yuk!" ajak Richard.
Ajakan Richard diacuhkan oleh Lidya. Ia masih menunggu jawaban Leo.
"Kami enggak pacaran Lid." jawab Leo.
"Itu kalian pegangan tangan!" Lidya menunjuk tangan kami yang masih saling menggenggam seakan takut berpisah.
"Maya ini mantan istriku, Lid. Kami bahkan berencana akan rujuk lagi." kata Leo.
Lidya tersenyum mendengarnya. Bukan senyum bahagia tapi senyum sinis. "Enggak lucu ah becandanya. Pasti mau prank aku kan? Pasti ini idenya Richard, iya kan?"
Lidya melihat ke arah Richard yang hanya menggelengkan kepalanya memberitahu kalau ini bukan prank seperti yang Lidya pikir.
Senyum di wajah Lidya menghilang berganti dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"Beneran?" hanya kata itu yang keluar dari mulut Lidya. Ia masih belum bisa mempercayainya.
"Mereka memang sepasang suami istri yang harus dipisahkan karena takdir yang kejam, Lid. Hari ini kita barbequean memang untuk menyambut kedatangan Maya di rumah ini untuk berkenalan dengan Papa dan Mama. Mereka sudah bercerai namun akan segera rujuk kembali." Richard menjelaskan panjang lebar sambil menepuk kembali bahu Lidya. Memberinya sedikit dukungan.
"Ooh." jawab Lidya singkat.
Percakapan kami yang awkward dan suasana yang mulai canggung ini seakan dipahami oleh Mama dan Papa Leo.
"Hei! Kalian jangan ngobrol aja dong! Bantuin Mama dan Papa!" protes Papa.
"Iya. Memangnya Mama sama Papa tukang bakar-bakaran nih?" kata Mama menambahkan.
"Iya Ma!" Leo lalu berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya. "Ayo May. Nanti kita enggak dibantuin sama mereka loh."
"Iya." aku ikut berdiri, karena tak enak hati melihat muka Lidya yang penuh kekecewaan aku pun mengajak Lidya ikut serta. "Ayo, Lid! Ikut gabung sama kita."
Lidya tersenyum kecil. "Iya, May."
Aku lalu memberi kode pada Richard. Kakandaku yang satu ini sepertinya paham kalau ini waktu yang tepat untuk PDKT dengan Lidya. "Ayo Lid!" Richard langsung merangkul Lidya yang hanya bisa pasrah saja.
"Ini kok enggak mateng-mateng ya?" tanya Papa.
"Yaiyalah enggak mateng-mateng. Kan Leo matiin gasnya. Kalian berdua tadi lagi saling tebar pesona. Takut gosong dagingnya. Tau sendiri kan Papa maunya beli daging yang mahal. Sayang kalau gosong." kata Leo sambil tersenyum.
Aku senang sekali melihat wajah Leo yang terlihat bahagia itu. Aku pun melepaskan genggaman tanganku dan memeluk pinggang Leo.
Leo menatapku dan tersenyum.
"Hei jangan dulu. Tahan. Sabar. Nanti kalau sudah rujuk lagi boleh deh bikin adeknya Adam lagi ya." omel Mama.
__ADS_1
"Adeknya Adam? Leo udah punya anak?" terdengar Lidya bertanya dan Richard langsung membisikkan jawabannya. Tak lama Lidya yang kaget langsung menutup mulutnya. "Oh ya ampun."
"Iya nih jadi udah enggak sabar Leo. Papa kapan mau ke rumah Maya? Jangan besok pastinya. Minggu depan aja gimana Pa?" tanya Leo lagi.
"Papa sih setuju aja. Kerjaan di kantor juga lagi enggak banyak. Mama gimana?" Papa Dibyo meminta saran Mama.
"Mama sih ikut aja." jawab Mama.
"Lalu Mama kapan nih mau rujuk lagi sama Papa?" ini Bapaknya kadal dan buaya buntung langsung aja ke poin pentingnya. Enggak mau kalah start dari anaknya yang mau rujuk eh dia ikutan juga.
"Ih Papa apaan sih! Sempet-sempetnya nanya gitu depan anak-anak." kata Mama malu-malu.
"Ya kan Papa kesepian enggak ada Mama. Mau ya Ma rujuk lagi sama Papa. Kalau depan anak-anak bilangnya siapa tau Mama mau rujuk lagi sama Papa. Ya Ma?"
"Nanti Mama pikirin lagi! Udah ayo kita kapan bebakarannya?" Mama mengalihkan pembicaraannya.
"Mikirinnya sampai berapa lama? Papa kan udah kesepian bobo sendiri. Nanti kalau Leo nikah enggak tinggal disini lagi Papa sama siapa?" masih usaha aja nih si Bapake Buntung.
"Ih malu ah, Pa. Di depan anak-anak kayak begitu." Mama melirik ke arah kami semua.
Aku ikut tersenyum melihat Papa yang lagi PDKT. Leo yang agak acuh namun terlihat menyunggingkan sedikit senyumnya.
Pandanganku ke arah Lidya. Walau matanya sedih dan patah hati namun Ia berusaha tersenyum. Lalu si Kadal Buntung.
Si Kadal Buntung sempat-sempatnya lagi merangkulkan lengannya di bahu Lidya. Karena Lidya sedang sedih jadi dibiarkannya saja Kadal Buntung itu dengan ulahnya.
Wajah Si Kadal Buntung enggak usah ditanya lagi. Sumringah. Senyumnya lebar banget. Antara bahagia karena Papanya mau rujuk dan juga karena Lidya mau dirangkul.
Beneran ini sih satu keluarga The Buntungers kerjaannya cuma ngambil kesempatan dalam kesempitan. Ini Bapake Buntungers udah aki-aki malah ngegombalin Mamake Buntungers supaya mau rujuk.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Ini calon keluargaku kelak loh. Bapake buntung suka modus. Mamake buntung malu-malu mau. Kadal buntung galau tapi usaha terus. Dan Buaya buntung dari tadi tangannya enggak pernah lepas dari pinggangku. Sesekali malah sambil memeluk dari belakang.
Bukan aku enggak senang, ini jantung dari tadi rasanya mau loncat. Deg-degan terus. Tangan terasa dingin.
Lalu yang bikin enggak enak tuh tiap kali Lidya ngelirik matanya langsung kayak mau nangis. Udah penuh tuh air mata tinggal netes doang.
Nih si Buaya Buntung bukannya peka malah makin lengket aja. Sekarang ngeliat Mama Papanya yang lagi saling gombal malah memeluk aku dan menaruh kepalanya di pundakku.
"Lucu ya May. Kita harus secepatnya rujuk. Aku enggak mau rujuknya kalau udah setua mereka." bisik Leo di telingaku.
"Ih amit-amit ah. Kalau nunggu kamunya kelamaan mending aku nikah dulu sama yang lain he..he..he.. " Niatku hanya bergurau tapi Leo malah ngambek.
"Awas aja kalau kamu berani kayak gitu. Nanti suami kamu aku santetin satu persatu!" ancam Leo sambil memanyunkan bibirnya.
Aku membolak-balik daging yang kupanggang agar tidak gosong. "Memangnya kamu berani gitu? Dosa tau main santet-santet aja!"
"Ya habisnya kamu kayak gitu sih."
"Kan aku cuma becanda Sayang. Kamu tuh pertama, suami pertama dan akan jadi suami terakhir aku aamiin. Sampai sekarang aku enggak bisa membayangkan kalau aku hidup sama cowok lain selain kamu." sekali-kali boleh lah ya aku yang ngegombal.
"Beneran ya?"
"Iya."
Leo mencium pipiku. "Ih malu tau!"
"Enggak ada yang liat." bisik Leo.
"Kata siapa? Kita berempat dari tadi jadi kambing congek nih ngeliat kalian bakar-bakaran sambil peluk-pelukan kayak gitu. Eh malah sekarang cium-ciuman. Bener-bener enggak jaga perasaan ya."
Aku dan Leo berbalik badan. Tampak Richard mencak-mencak. Papa dan Mama hanya geleng-geleng kepala saja. Sementara Lidya semakin memerah matanya menahan tangis.
"Harus cepet-cepet kita nikahin nih mereka. Bahaya kalau kelamaan. Takut kejadian kayak dulu lagi." kata Papa yang diamini oleh Mama.
***
Sesuai janji. Double Up. Makasih semua doa dan ucapannya. Doa yang sama untuk kalian sekeluarga juga ya. Yup tebakan kalian ada yang benar, this is my birthday. Makasih banyak buat kalian pembaca setiaku. Kalian tuh kado terindah buatku. Peluk hangat dariku 🥰🥰😘😘😘
__ADS_1