Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mengurai Benang Kusut- 1


__ADS_3

Kedatangan Ana di kantin membuat situasi canggung yang menderaku perlahan menghilang.


"Hai May! Kamu lama banget sih turunnya? Aku dari tadi udah nungguin kamu loh sama Aldi!" ujar Ana yang langsung menyapaku dengan riang.


"Banyak kerjaan. Aku aja hampir lupa untuk makan siang. Untungnya ada Leo yang ngingetin aku."


Leo terlihat mengu lum senyumnya. Ih apaan sih, kok baru begitu aja udah ke ge er-an. Aku kan cuma ngomong jujur aja. Lebay banget sih jadi orang.


"Ya udah, mulai besok aku samper ya ke ruangan kamu. Biar kamu nggak lupa. Boleh enggak?" tanya Ana.


"Tentu aja boleh. Apa sih yang enggak buat Ana?"


"Udah cepetan makan. Nanti keburu habis waktu istirahatnya. Belum lagi pake acara ke kamar mandi dulu buat benerin make up. Belum lagi nanti ngambil minuman dingin buat di ruangan. Perempuan kan ribet. Ada aja urusannya." celetuk Leo yang kurang suka dengan ide Ana yang akan mampir ke ruanganku lebih sering lagi.


"Ih sirik aja sih! Terserahlah, namanya juga perempuan maunya terlihat cantik. Kalau nggak suka ya udah nggak usah diliat!" balasku.


Lain di mulut, lain di hati. Di mulut aja aku kelihatan memberontak, enggak mau dengerin kata-katanya Leo tapi ternyata aku takut juga. Aku secepatnya menghabiskan makanan di nampan. Ternyata aku sangat lapar, tadi pagi nggak sempat sarapan.


Aku jadi teringat roti dan hot chocolate yang dibawakan oleh Aldi. Kalau tahu roti itu dari Aldi, udah aku makan deh. Ngapain juga aku kasih ke Leo? Orangnya kan jadi ke-gr-an, dipikirnya aku yang ngasih buat dia. Huuh...


Kenapa juga aku harus keceplosan sih ngomong tentang nasi uduk? Aduh.... aku tuh bodoh nya bener-bener ya. Pantesan aja aku dipanggil Si Oon sama Duo Julid. Ah emak-emak itu, memang ya suka bener.


"May, kita nongkrong yuk sepulang kerja nanti. Kita nongkrong kemana gitu. Kamu nggak bosen apa pulang kerja langsung pulang ke rumah? Sekali-kali kita main kemana gitu." usul Ana yang langsung disambut dengan tatapan yang kurang suka dari Leo.


"Emangnya nggak capek apa pulang kerja langsung main? Besoknya terus kerja lagi, ntar kecapekan malah nggak konsen di kantor nanti malah suka bengong enggak jelas tuh kaya si Maya. Ujung-ujungnya malah diomelin sama Pak Johan. Enggak berfaedah." celetuk Leo tanpa berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya atas usulan Ana.


"Ih Leo mah begitu, kan nggak sering-sering. Kalau nggak kita perginya hari jumat malam aja setelah pulang kerja? Atau hari Sabtu? Kita ketemuan gitu janjian di mana gitu.." Ana masih berusaha membujuk aku yang masih memikirkan idenya tersebut.


"Enggak bisa. Maya tuh kalau hari sabtu sibuk." ujar Leo seenaknya.


"Ih sotoy banget sih kamu? Emangnya begitu May?" tanya Aldi yang tidak percaya dengan perkataan Leo


"Oh nggak Kok. Aku nggak sibuk. Aku kan ngontrak di sini sendirian. Di rumah ya paling kesibukan aku cuma nonton TV sama main dengan teman-teman aku. Ya itu juga jarang karena mereka kan udah pada punya keluarga. Memangnya kita mau nongkrong di mana?"


Leo memandangku dengan tidak suka. Usahanya untuk membuatku gagal pergi nongkrong dengan anak-anak malah ditolak mentah-mentah.


"Maya maunya ke mana? Nanti aku jemput deh." ujar Aldi yang terlihat sekali sepertinya memiliki rasa padaku.


"Maya enggak biasa dijemput-jemput. Maya biasanya naik Kopaja." celetuk Leo lagi. Bener-bener ya, Leo tuh ngeselin banget. Apa maksudnya juga dia ngomong kayak gitu?


"Yang benar May?" tanya Aldi lagi-lagi tidak yakin dengan perkataan Leo. "Apa pacar kamu enggak kasih izin ya?"


Leo sudah tidak bisa menyembunyikan wajah sebalnya terhadap Aldi lagi. "Tunangannya, bukan pacarnya lagi. Apa mantan suaminya yang nggak setuju ya. Hmm... Apa dua-duanya enggak setuju ya?"


Aku mau mendelikkan mataku pada Leo atas ucapannya yang menurutku kali ini sangat keterlaluan. Apa-apa sih dia memberitahukan kepada yang lain tentang statusku? Aku berusaha menyembunyikan statusku eh malah seenaknya diumbar-umbar.


"Jangan kebanyakan bokis deh Leo. Mantan suami? Jangan kebanyakan ngarang. Dari tadi aku perhatiin kamu kok kayak ngelarang-larang Maya? Kamu kenapa sih? Kayaknya nggak suka banget Maya ikut nongkrong sama kita?" Aldi mulai tersulut emosinya karena sejak tadi ucapan Leo bener-bener memancing keributan sih.


Yang kayak begini nih harus dipisahin sebelum akhirnya jadi jontok-jontokkan.


"Ehem... Gaes... Udah ya," Aku melihat ke arah Aldi. "Di, enggak usah dibawa perasaan. Leo emang ngeselin kayak gini. Agak-agak lebay anaknya. Yang penting kan rencana kita jadi. Cuekkin aja. Mungkin semalem dia kurang sajen kali jadi agak-agak ngaco."


Lagi-lagi Leo melirikku dengan pandangan tidak suka. Ah bodo amat. Kadang kita harus bersikap bodo amat, apalagi menghadapi orang kayak Leo.


"Kalau Maya yang minta aku sih nurut aja." kata-kata yang sebenarnya sarat gombalan dari Aldi namun aku cuekki saja. Lagi-lagi aku bersikap bodo amat.


"Yaudah kita mau kemana nih?" tanya Ana memecah suasana.


"Ke warkop aja. Ngopi doang ngapain jauh-jauh : gerutu Leo.


Aku, Aldi dan Ana saling berpandangan. "Cuekkin aja." kata kami kompak yang langsung disambut dengan tawa puas karena berhasil membuat Leo sebal dan akhirnya diam saja.


"Gimana kalau sepedahan saat weekend?" usul Aldi.


"Sepedahan dimana?" tanya Ana.


"Kita start dari Bunderan Senayan sampai Bunderan HI, gimana?" tanya Aldi lagi.


"Boleh... boleh tuh." sahut Ana setuju.


"Gimana May?" tanya Aldi meminta persetujuanku.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku enggak ikutan ah."


"Kenapa?" sahut Aldi dan Ana kompak.


"Enggak punya sepeda. Perantauan kayak aku yang baru beberapa bulan di Jakarta mah lebih memilih membeli perabot rumah dibanding beli sepeda." jawabku dengan santai. Kutaruh sendok diatas nampan, kenyang rasanya. Makanan habis perut pun kenyang.


"Aku pinjemin. Aku nanti bawa mobil dan jemput kamu ya di rumah. Nanti sepedanya aku bawain sekalian." ujar Aldi bersemangat.

__ADS_1


"Dih bisanya cuma pamer." celetuk Leo tiba-tiba, lagi-lagi tak kami hiraukan.


"Enggak usah Di. Bener deh. Aku enggak mau ikut-ikutan bersepeda di jalanan. Kata Ibu dan Bapak, main sepeda jangan di jalanan, bahaya." tolakku halus.


"Kan ada jalur khusus sepedanya May?" ujar Ana.


"Iya tau. Tapi banyak juga yang melanggar dan keluar jalur. Efeknya banyak kejadian pesepeda terserempet mobil atau motor lalu yang disalahkan si pengemudi mobil dan motor deh. Padahal yang salah jelas-jelas pesepeda yang keluar jalur. Aku enggak mau ah pokoknya."


"Tapi Leo mau ikut kan?" tanya Ana dengan suara manjanya. Sebagai sesama wanita aku hapal kalau Ana sedang merayu Leo.


Aku jadi penasaran bagaimana Leo akan bersikap? Apakah akan terhanyut oleh bujuk rayu Ana atau tidak akan tergoyah?


"Enggak ah. Panas. Aku ada acara penting. Enggak bisa diganggu gugat." tolak Leo dengan tegasnya.


"Ada acara apaan sih? Nggak ngajak-ngajak deh." protes Ana masih dengan nada manjanya.


"Mau ke makam. Mau ikut?" tanya balik Leo.


"Makam siapa?"


"Makam anak aku lah."


Aku menatap Leo tajam. Ini apa sih maksudnya. Tadi nyindir mantan suami. Sekarang malah mengungkap jati diri kalau udah punya anak. Heran aku apa tujuan Leo sebenarnya?


"Tau ah. Leo, kalau kamu enggak mau ikut jangan beralasan kayak gitu lah. Nyebelin tau enggak. Yaudah karena Maya dan Leo enggak setuju gimana kalau kita nongkrong aja di cafe? Ada satu cafe yang aku tau keren banget. Gimana?" tanya Ana tak habis akal.


"Boleh." jawabku.


"Enggak," jawab Leo bersamaan denganku, tapi Ia mengorekai jawabannya setelah tau kalau aku ternyata menyetujui usulan Ana. "Boleh deh."


"Nah gitu dong! Kan kompak kalau semuanya ikut. Deal ya? Sabtu siang aja gimana?" tanya Ana memastikan lagi. Janjian sama orang kita mah begitu, kalau enggak dipastiin bisa cuma jadi wacana aja.


"Iya." jawabku dan Leo kompak.


"Maya, aku jemput ya?" tanya Aldi, masih aja usaha agar aku mengiyakan ajakannya.


"Enggak usah. Maya nanti bareng sama aku. Kebetulan aku ada urusan di dekat rumah Maya." jawab Leo sebelum aku menjawab pertanyaan Aldi.


Loh jadi gimana nih? Bareng sama Aldi atau sama Leo? Ini Si Leo juga sih, kenapa pake ngajakkin bareng segala?


"Gimana May? Kamu mau bareng siapa?" tanya Ana dengan raut wajah yang sudah berubah dibanding saat bermanja ria dengan Leo tadi. Benar dugaanku, Ana naksir dengan Leo. Pasti Ia tidak suka melihat Leo hendak menjemputku.


Sekarang bukan hanya Ana yang raut wajahnya berubah, Aldi juga.


"Udah biar adil aku dianterin sama Kang Ojek aja. Kita ketemuan di cafenya aja ya langsung. Jangan lupa share lock ya dimana biar aku nggak nyasar." putusku kemudian.


"Nah gitu dong. Baru adil namanya." kali ini wajah Leo yang memberengut kesal. Bodo....bodo....


*****


"File presentasi kamu masih kurang May. Tolong lebih dirapihin lagi." ujar Kak Anggi mengkoreksi pekerjaanku.


"Mau ditambahin keterangannya pakai model landscape atau portrait Kak?" tanyaku memastikan.


"Terserah. Kamu atur aja baiknya gimana." jawab Kak Anggi yang memang kalau memberi pekerjaan harus aku sendiri yang nyari tahu sendiri. Iya kalau tau, kalau aku enggak ngerti gimana?


"Nanti aku yang bantuin Maya aja, Kak." Leo menawarkan dirinya membantuku.


"Oh yaudah. Kalian kerjain deh secepatnya. Nanti langsung kirim ke email aku ya. Aku mau meeting sama Fahri dan Pak Johan. Kalian jaga kandang ya. Kerjainnya enggak pake lama ya!"


"Iya, Kak." jawabku dan Leo kompak.


Setelah Kak Anggi pergi, Leo mulai membantuku mengerjakan tugas yang Kak Anggi berikan. Leo yang memang jago komputer membuat tugas yang diberikan oleh Kak Anggi menjadi lebih mudah dan cepat selesai.


"Udah beres!" ujar Leo.


"Iya. Makasih." jawabku.


"Udah gitu doang?"


"Ya udahlah."


"Enggak ada upetinya?"


"Enggak ada!"


Leo menyentuh pipi kirinya sebagai kode padaku.


"Kenapa? Mau kena sepatu pipi kamu?"

__ADS_1


"Masa sih enggak tau artinya apa? Enggak peka kamu May."


"Sok-sokan masalah peka atau enggak. Laki-laki tuh makhluk paling enggak peka di dunia ini tau."


"Ooooh... Berarti kamu tahu dong arti kode aku tadi?" Leo mulai menjebakku.


"Tau kok." jawabku santai.


"Terus kenapa enggak dilakuin?" Leo menopang kepalanya dengan tangan dan menatapku lekat.


Aku yang awalnya hanya menunduk akhirnya mengangkat wajahku dan pandangan kami saling bertemu.


Lalu......


Prrriiiiit!


Itu kisah di sinetron, ini di novel!


Enggak ada kisah kayak gitu. Tidak setelah semua yang sudah terjadi antara aku dan Leo.


Aku balas menatap Leo. Tak mau gentar menghadapi godaannya.


"Memangnya kamu masih suka sama cewek?"


Pertanyaan yang sukses membuat Leo mengkerutkan keningnya bingung. Kalau aku jadi Leo juga akan bingung sih kalau ada yang nanya seperti yang aku tanyakan saat ini.


"Maksudnya? Kamu pikir aku udah enggak sraight gitu? Jeruk makan jeruk gitu?" tanya Leo memastikan.


Aku mengangguk. Sebuah jawaban yang ambigu. Hanya anggukan tanpa mengatakan apa-apa. Membuat Leo makin penasaran kenapa aku sampai bisa punya pikiran seperti itu.


Leo memutar bola matanya. "Kenapa kamu bisa nyimpulin kayak gitu May?"


Aku melihat jam di tanganku. Jam setengah 5, sebentar lagi waktunya pulang dan di ruanganku belum ada yang kembali dari lapangan. Artinya aku harus pulang agak lama untuk menunggu mereka pulang terlebih dahulu.


"Cuma belajar dari pengalaman aja." jawabku santai.


"Pengalaman apa?" Leo kalau belum puas dengan jawaban yang kuberikan maka akan mengajukan pertanyaan lagi sampai Ia puas.


"Pengalaman selama kita berumah tangga dulu." Aku balik menatap Leo. Pandangan menantang, minta ditabok ha.....ha....


Leo mengernyitkan keningnya lagi. Makin bingung sepertinya.


Leo pun berdehem sejenak. "Apa aku pernah mm... melakukan.... ke kamu seperti mm..."


Leo bingung mengatakannya. Aku tau maksud Leo apa.


"Enggak pernah."


Leo makin terlihat bingung. "Ya kalau enggak pernah macem-macem dari mana kamu berpikir kalau aku enggak suka cewek May?"


Agak malas sih aku menjawabnya. "Ya karena sejak kita menikah kamu enggak pernah menyentuh aku seperti saat kita pacaran dulu. Apa coba namanya kalau kamu udah enggak suka sama cewek lagi?"


Leo membuka mulut dan langsung menutup dengan tangannya. Kaget sepertinya mendengar jawabanku.


"Kamu mengira aku enggak suka cewek hanya karena alasan itu?" tanya Leo tak percaya.


Aku mengangguk. "Masuk akal kan?"


"Ya enggaklah May. Kalau aku enggak suka cewek mana mungkin kamu bisa hamil sama aku?!"


"Mana aku tahu? Kamu lagi khilaf kali." lagi-lagi aku menjawab dengan santai.


"Oh My God... Maya... Aku enggak kayak gitu."


"Masa sih?"


"Apa salah satu alasan kamu bercerai karena itu?" tebak Leo.


"Mm... Bisa iya, bisa tidak." jawaban yang membuat Leo makin gemas saja.


"Aku bukan tidak bisa melakukan hal itu May. Sekarang pun aku bisa kalau kamu mau," tantang Leo.


"Ih ogah deh."


Leo menatapku tajam. "Aku enggak mau melakukan itu karena takut menyakiti Adam yang ada di dalam perut kamu. Tapi... Justru ujung-ujungnya malah aku yang membunuh Adam."


Deg....


****

__ADS_1


Hi Semua! Ayo like dan Votenya dikencengin lagi ya. Dan jangan lupa follow IG aku: Mizzly_


__ADS_2