
Menjadi anggota keluarga Buntungers membuatku harus bisa bersikap kritis. Mereka sukanya melakukan sesuatu yang mendadak tanpa perencanaan sebelumnya, langsung hajar aja.
Masalahnya adalah, koneksinya banyak. Jadi setiap keinginan dadakan yang mereka inginkan, pasti akan mereka wujudkan secepat mungkin.
Contohnya kayak akad nikah untuk rujukan season 2 kayak gini. Baru aja Papa Dibyo ngajak Mama Lena rujuk eh langsung dong di realisasiin.
Sekarang tugasku sebagai menantu satu-satunya yang harus bersikap cepat dan kritis. Titah Papa Dibyo enggak bisa dilanggar. Saat Papa mau rujuk sekarang ya sekarang!
Aku, Leo dan Richard menyatukan ketiga telapak tangan kami. "1..2..3... Demi persatuan rumah tangga Papa dan Mama. Yoooosss." kami melakukan penyatuan semangat dan kekuatan terlebih dahulu.
"Cat, kamu siapin printilan acara. Kayak yang jemput penghulu, suruh supir Papa aja. Lalu yang bacain doa. Di Jakarta, penghulu sama yang baca Al-Quran dan doa biasanya beda. Cari aja ustadz yang biasanya ngisi di masjid deket sini. Comot aja suruh pakai pakaian rapi." Leo menginstruksikan apa yang harus kami lakukan.
"Sayang, kamu kebagian yang agak repot karena kita cowok-cowok enggak ngerti hal kayak gini. Cari make-up dan baju buat Mama akad. Di koleksi baju Mama kamu pilihin aja. Enggak sempat ke butik udah mepet waktunya. Selanjutnya kamu order nasi box aja pake online. Pesan 100 aja cukup. Nanti kita bagikan ke tetangga sebagai syukuran." aku mengangguk mengiyakan instruksi yang Leo berikan. Masih bisa ku handle lah.
"Aku bakalan nyiapin dekor rumah ini. Lalu aku harus mencari dua orang saksi dan mengundang teman akrab Papa. Kita kerja cepat ya. Siap?"
"Siap!" jawabku dan Richard cepat.
Kami pun berpencar. Aku menanyakan pada Mama dimana Ia biasa di make up dan meminta nomor telepon MUA nya agar mau datang sekarang. Untungnya MUA sedang senggang, tadi pagi sudah menyelesaikan tugas merias pengantin jadi saat aku meminta datang ke rumah Mama Lena sudah siap sedia.
Aku meminta izin sama Mama untuk menyiapkan baju pengantin. Kenapa enggak Mama langsung yang nyiapin?
Dari tadi, Mama dan Papa tuh lagi p-a-c-a-r-a-n. Ini yang dinamakan puber kedua kali ya. Setelah menerima pinangan Papa untuk rujuk eh mereka langsung mojok. Di teras depan rumah sih, bukan mojok di kamar, kan belum resmi. Dosa.
Tapi tetap saja mengganggu. Seharusnya semua persiapan acara bisa lebih mudah kalau Mama dan Papa turun tangan.
Sepertinya Mama balas dendam nih sama aku. Kemarin saat aku akad nikah untuk rujuk, Mama semua yang mengaturnya. Sekarang gantian, aku semua yang ngurusin.
Masalahnya adalah aku kurang pengalaman. Aku kan hanya anak kampung yang seleranya kampung banget. Bukan yang kota banget kayak Mama Lena.
Mau pesan makanan saja aku harus googling dulu. Kalau mengikuti seleraku sih tinggal pesan orek tempe dan ayam kecap saja di warteg dan semua beres.
Ini yang akan diundang teman-teman dekat Papa yang notabene pengusaha kelas atas. Seleranya beda sama seleraku yang hobbynya nasi warteg.
Aku memutuskan memesan di Dapur solo untuk nasi box. Aku pesan 100 box nasi langgi. Bisa dipesan dadakan. Lalu aku pesan menu untuk prasmanannya dari katering langganan Mama yang biasanya stok makanan siap santap.
Benar kata orang, kalau ada uang semua akan dimudahkan. Coba kalau orang kampung kayak aku mau ngadain acara dadakan, harus manggil tetangga dulu buat bantuin masak. Kemarin waktu aku nikah untung saja Ibu sudah memasak banyak jadi tak perlu khawatir. Lah kalau dadakan kayak sekarang paling hanya menyediakan gorengan saja yang gampang dibuat?!.
Tugaku katering dan make up Mama. Aku masuk ke kamar Mama setelah meminta ijin memilihkannya baju yang akan dipakai.
Mama Lena kesehariannya tidak memakai jilbab. Sama sepertiku. Padahal umurnya sudah tua. Kalau aku seusia Mama Lena pasti sudah pakai jilbab eh salah ya, seharusnya pakai jilbab dimulai dari sekarang tapi aku belum siap. Nanti aku akan pakai, entah kapan diniatkan saja dulu.
Aku membuka lemari baju Mama. Lemari pintu 3 yang berisi koleksi pakaian rancangan designer terkenal membuatku seperti berada di butik bukan di dalam kamar Mama.
Baju-bajunya tertata rapi dalam plastik laundry. Iyalah di laundry, kalau nyucinya di mesin cuci lalu di kucek bisa rontok itu payetan bajunya yang terbuat dari swaroski. Jangan tanya harga, ini tuh baju yang kemarin banyak dipajang di Plaza Senayan. Harganya sudah pasti diatas 5 juta.
Mama pasti harus menyeimbangkan penampilan karena harus mendampingi Papa di setiap acara. Papa yang pemilik perusahaan besar harus mengutamakan penampilan. Mama pun harus menyeimbangkannya.
Pakaian bukan lagi kebutuhan sandang. Melainkan gaya hidup. Harga gaya hidup 1 buah pakaian jika dibandingkan dengan rumah tangga orang lain akan timpang. Uang 5 juta bagi orang lain bisa menghidupi keluarga dan bahkan bisa menyekolahkan anaknya sampai kuliah, tapi sama Mama cuma dapat 1 potong baju saja.
Ck...ck....ck.... Itulah bedanya si Kaya dan si Miskin. Jaraknya sangat jauh.
Saking sibuknya memilih baju mana yang cocok dipakai aku tak sadar kalau sejak tadi Hp-ku berbunyi. Aku mengeluarkannya dari dalam tasku dan melihat siapa yang menelepon. Adel.
Kugeser panah hijau dan kuangkat teleponnya. "Hallo Adel Sayang. Ada apa?"
"May, maaf banget aku enggak bisa bantu banyak. Teman-temanku keberatan memberikan print rekening koran nasabah yang dimaksud. Biasa, data nasabah rahasia itu alasan mereka."
Wah gimana dong nih? Trio Buntungers sudah berharap penuh sama Adel. Kasihan mereka. Mikir May! Mikir!
"Del, hmm... Kalau memang tidak bisa memberikan print rekening, bisa bantu ngecekkin enggak?" aku mulai melakukan negosiasi.
__ADS_1
"Apa yang harus aku cek? Nanti aku usahain deh."
Nah ini yang aku suka dari Adel. Tidak langsung menolak permintaanku tapi mau mempertimbangkannya dahulu.
"Jadi gini Del, Pak Johan itu orang yang dicurigai melakukan penyuapan untuk menjebak Papa Mertuaku agar masuk penjara."
"Oh... Mau membantu Papa Mertua toh. Eh... Kok Papa Mertua sih? Bukannya kamu sudah janda ya? Kok punya Papa Mertua? Apa kamu udah nikah lagi? Kok enggak kasih tau aku sih?"
Tuh mulai deh si Adel gagal fokus. Kita lagi ngebahas Pak Johan eh malah jadi bahas pernikahanku. Salahku sih tidak mengabarinya kalau aku sudah rujuk dengan Leo.
"Aku udah rujuk lagi Del sama Leo. Nanti saat resepsi aku undang kamu ya."
Adel yang mendengar aku rujuk dengan Leo langsung mencak-mencak emosi.
"Loh kok kamu mau balikkan sama Leo? Enggak inget apa yang selama ini sudah Ia lakukan sama kamu? Jangan terpedaya sama tipu muslihatnya May!"
"Tenang aja Sayang. Kemarin antara aku dan Lek hanya salah paham saja. Leo sudah direstui sekarang sama Bapak. Aku enggak kawin lari lagi kok kayak dulu."
"Oh syukurlah. Asal kamu bahagia aku pasti dukung."
"Ah.... Adel.... Kamu memang sahabatku tersayang. Del kita balik lagi ke topik pembicaran. Aku mau minta kamu cek ada transaksi mencurigakan enggak selama 2,5 tahun belakangan ini? Kalau memang ada apakah jumlahnya sangat signifikan? Jika memang ada Papa akan langsung mengajukan tuntutan hukum jadi kamu enggak perlu ngirimin rekening korannya. Biar polisi saja nanti yang membukanya."
"Oh kalau itu sih aku bisa bantu. Pasti yang nominalnya besar ya? Aku akan bantu cek dan kasih kamu kisi-kisinya."
"Makasih banyak ya Del. Kamu memang the best banget deh. Nanti kamu datang ya ke hajatan aku. Ada layar tancepnya juga loh!"
"Tentu saja Sayang. Bye May..."
Aku menghembuskan nafas lega. Kisi-kisi aku rasa cukup untuk menanbah bukti. Tinggal nanti laporan ke polisi untuk dibukakan data banknya.
Oh iya! Kan aku lagi nyari baju yang pas untuk dipakai akad nikah nanti. Jadi lupa gara-gara ngobrol sama Adel di telepon.
Aku pindah ke lemari satu lagi. Kali ini koleksi baju muslim. Ada kaftan dan gamis. Hmm... Kayaknya pakai baju gamis dan jilbab cocok deh. Biar terkesan lebih sakral aja.
Mama udah enggak muda lagi. Akad nikah kalau pakai kebaya sudah kurang pantas. Aku memilih gamis warna putih. Motifnya sungguh mewah. Sudah pasti mahal.
Aku mendengar suara pintu dibuka. Aku berbalik badan dan melihat Mama sudah melongok dari balik pintu.
"Ketemu May?" Mama masuk ke dalam kamar dan melihat baju gamis yang kupegang.
"Kalau pakai ini gimana Ma?" aku menanyakan pendapat Mama.
Mama mengernyitkan keningnya. "Pakai gamis? Kayak ibu-ibu pengajian dong?" Mama kayaknya kurang setuju dengan ideku.
"Tadinya Maya pikir pakai kebaya saja. Tapi Maya rasa kalau pakai gamis lebih terlihat sakral. Nanti Mama pakai jilbab. Pasti cantik deh. Kalau pakai kebaya kan sudah pernah waktu akad pertama dulu. Gimana? Kalau Mama enggak setuju aku sih ikut saja. Aku kasih masukan aja sama Mama."
Mama terlihat mempertimbangkan ideku. "Boleh deh May. Mama juga udah tua. Malu saat nanti ada tamu yang menyalami Mama. Kayak masih muda saja. Sekalian Mama pakai jilbab, siapa tau Mama malah lebih nyaman pakai jilbab mulai sekarang."
Aku tersenyum. Saat ide kita diterima dengan baik oleh orang lain rasanya bahagia bisa dan merasa sangat dihargai.
"Iya. Pasti Mama cantik. Mama kan calon nenek anakku nanti." aku mengusap-usap perutku yang masih rata. Belum ada tanda kehamilan tapi kuyakin segera karena aku terus digempur Leo hampir setiap hari. Minimal ada satu yang nyangkut dan akan menjadi bayi nanti.
"Ah Mama jadi enggak sabar. Pengen gendong cucu. Hamil yang banyak ya May. Lahirin cucu yang banyak buat Mama." Mama merangkulku dan mengusap perutku seraya mendoakan.
"Aamiin. Ayo kita siap-siap, Ma. Aku mau ngecek dulu ya MUA nya udah datang atau belum."
Aku meninggalkan Mama yang hendak mandi dan mencuci muka dulu agar terlihat lebih segar dan wangi.
Di bawah sudah terlihat dekor minimalis yang Leo lakukan. Peluh di keringat Leo terlihat membasahi keningnya. Aku mengambil tissue dan menghampiri Leo. Kuhapus keringatnya dengan penuh kasih.
"Kamu udah selesai?" tanya Leo.
__ADS_1
"Udah. Tinggal nunggu MUA-nya datang dan katering. Sisanya beres. Kamu gimana?" Aku mengambil air mineral dan memberikannya pada Leo.
Leo menerima air mineral dariku dan meminumnya. Terlihat haus sekali. "Capek ya?"
Leo mengangguk. "Capek dan udaranya panas banget. Richard mana? Belum balik dia?"
"Belum. Mau aku teleponin?"
"Enggak usah. Pasti dia juga repot. Menurut kamu gimana? Bagus enggak?" Leo meminta saran hasil dekor yang Ia lakukan.
Beberapa bunga segar terpajang di setiap sudut ruangan. Bunganya beda, pasti mahal. Bukan bunga sedap malam yang biasanya Ibu beli tiap malam takbiran agar ruangan wangi. Bunga yang di dekor adalah bunga mawar yang segar. Wanginya semerbak memenuhi ruangan.
"Mahal ya?" aku menunjuk rangkaian bunga yang terletak di sudut ruangan.
"Iyalah. Kayak enggak tau aja selera Mama gimana."
Aku hanya geleng-geleng kepala saja. Orang kaya mah bebas.
"Fotografer udah belum?" hal yang hampir saja terlupakan. Jaman sekarang apapun harus diabadikan dengan foto.
"Udah. Tenang saja." Leo menoleh ke arah depan. "Tuh Richard udah datang."
Richard datang dengan membawa seorang ustadz. Ternyata bukan dari orang sekitar. Melainkan salah seorang ustadz yang pernah kulihat di TV. Darimana Ia bisa kenal ya?
"Ini?" Leo menunjuk ke ustadz.
"Iya. Ini ustadz waktu aku di rehab suka ngasih tausiyah dan nasehat. Kebetulan tadi pas aku mintain tolong eh beliau menyanggupi. Papa dan Mama enggak mempan kalau dikasih ustadz yang biasa. Harus yang luar biasa. Udah pada tua, udah makin bebal kalo dibilangin." Richard berkata dengan cengengesan.
"Hush! Kamu ini! Sama orang tua jangan kayak gitu ah! Enggak sopan." aku menahan senyum saat ustadz mengomeli Richard.
"Emang tuh Tad, Richard suka songong. Bilangin Tad suruh cepet nikah. Kebanyakan nyari pasangan akhirnya kagak dapet-dapet deh!" Leo malah mengompori.
"Ih pake ngadu lagi. Maklum Tad, orang ganteng mah bebas. Masih mencari yang memenuhi kriteria." lagi-lagi Richard punya jawaban mengelak.
"Sudah-sudah. Ayo kita siap-siap. Sebentar lagi penghulu dan tamu undangannya datang." aku membubarkan obrolan mereka. Kalau kebanyakan ngobrol nanti enggak siap.
Katering dan pesanan nasi box sudah datang. MUA juga selesai mendandani Mama yang cantik mengenakan jilbab sampai Papa terpesona dan hampir meneteskan air liurnya.
Lalu tamu undangan pun berdatangan. Tidak tanggung-tanggung, Papa meminta Pak Mentri sebagai saksi nikahnya. Gokil memang punya mertua hebat mah gitu.
Akad nikah berlangsung khidmat. Papa dengan penuh keyakinan mengucapkan akad nikah dengan orang yang sama untuk kedua kalinya.
"Sah!" jawab semua saksi dan undangan yang hadir. Pak Ustadz lalu membacakan doa dan memberikan wejangan agar rumah tangga Papa dan Mama langgeng sampai akhir hayat.
Leo yang disebelahku merangkul pinggangku. "Jadi inget kita ya Sayang. Kalau sudah jodoh tak ada yang bisa memisahkan."
"Iya. Jodoh pasti akan bertemu lagi, walaupun ombak menerjang dan hampir menenggelamkan kita, namun jika takdir jodoh kita belum terputus maka akan dipersatukan lagi. Semoga saja kamu bisa jadi kakak ya Sayang." aku menahan senyumku.
"Hush! Enak aja! Udah tua nih masa mau punya adek bayi sih?" Leo tanpa sadar mengeraskan volume suaranya.
"Sst!" satu ruangan pun menyuruh Leo diam. Tapi hanya Mama dan Papa yang tersipu malu. Wah beneran mau kasih Leo adik nih kayaknya. Hmmm....
*****
Test... test...
Pertama-tama aku mau minta maaf kemarin main share aja tentang membuka data nasabah. Karena kemarin belum aku jelasin kan baru percakapan sebentar aja Maya dengan Adel. Hari ini aku jelasin kalau Adel menolak rencana Maya namun hanya bisa memberi kisi-kisi. Tapi tidak disebutkan tanggal dan nominal transaksi. Hanya kisi-kisi saja. Kayak contekkan gitu.
Sebenarnya ini untuk next novel yakni pekerjaan yang Adel miliki sebagai side job. Kenapa Adel menyanggupi ya karena itu adalah kemampuan rahasia yang dimiliki Adel dan hanya Maya yang tau. Tapi kembali lagi ke masalah hukum, tetap saja tidak boleh menyebarkan data nasabah ya.
Mau tau sebenarnya siapa Adel? Kok bisa buka data bank? Siapa sih dia? Sabar.... Masih tahap konsep belum tercurahkan dalam bentuk kata-kata. Jangan lupa votenya besok yang banyak ya. Kalau vote udah sampai 700 baru aku Up oke? 😁😁😁
__ADS_1