
⚘⚘⚘ Hi semua! Novel baru aku lagi nih. Please jangan sampai keasyikan baca lalu lupa like dan vote ya. Seperti biasa, nikmatin aja alurnya sebelum sampai ke konflik yang lebih berat lagi. Siapa yang mau nangis bombay lagi setelah baca Namaku Ayu dan Pernikahan Keduaku? Sebelum nangis kita kenal dulu ya karakter pemainnya. Kali ini aku temanya Indonesia Bangets. Lokasi mana yang mau aku pakai sebagai setting tempatnya? Yuks komen juga ya. Stay tune terus ya semuanya 😘😘😘⚘⚘⚘
"Kamu yakin mau jualan? Aku pikir kamu sudah melupakan ide kamu buat bantuin aku nyari uang?" Leo mengerutkan alisnya dan matanya menyelidik apakah aku serius atau tidak dengan ideku tersebut.
"Ya aku seriuslah. Aku kan bosan tidak melakukan kegiatan sama sekali. Aku mau lebih menyibukkan diri sambil mencari uang lebih banyak lagi."
Leo menutup laptopnya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Dari gelagatnya aku tahu kalau Ia akan mengajakku berbicara serius.
"Memangnya uang yang aku kasih kurang ya? Kan selain uang harian kemarin aku udah kasih uang transport dan makan dari kantor. Apa masih belum cukup?" terlihat api kemarahan yang terpancar dari wajah Leo.
"Bukan... Bukan itu tujuan aku. Aku cuma-" Leo tak membiarkan aku melanjutkan perkataanku lagi. Penjelasanku tak berarti di matanya.
"Aku tau May kalau aku belum bisa menghidupi kamu dengan layak. Tapi aku berusaha sekuat aku untuk membahagiakan kamu. Tolong hargai dong usaha aku."
"Siapa yang tidak menghargai usaha kamu? Aku hargain kok." aku mulai tersulut emosi juga.
"Ya itu apa namanya kalau enggak menghargai? Aku udah kasih uang harian dan mingguan masih aja kurang di mata kamu. Enggak akan pernah cukup kayaknya, selalu kurang. Aku tahu kamu biasa di kasih semuanya sama orang tua kamu May tapi tolong ngertiin keadaanku saat ini dong."
"Kan aku udah pernah minta ijin sama kamu waktu itu kalau aku mau jualan untuk mengisi waktu luang dan membantu kamu mencari uang. Apa aku salah?" kataku terus membantah perkataan Leo.
Aku memang begini. Enggak suka kalau keinginanku dilarang padahal aku udah minta ijin baik-baik. Sikap manja dan tak mau kalahku pun keluar.
"Apa salahnya sih kamu berdiam diri aja di rumah? Kamu kan juga harus banyak istirahat ini malah mau nyari uang. Nyengsarain diri sendiri tau gak!" Leo memasukkan laptop miliknya dalam tas laptopnya. "Pokoknya aku enggak kasih kamu ijin!"
"Tapi-" masih saja aku mau ngelawan namun Leo pergi meninggalkanku dengan membawa laptopnya. Tak lama suara motornya menyala dan meninggalkan rumah.
"Huh! Kabur kalau ada masalah! Bukannya dihadepin!" gerutuku.
Aaahhh... Moodku jadi berantakan nih. Aku enggak mau anakku jadi terbawa mood yang buruk. Aku mengambil cardigan tangan panjang warna hitam dan dompet lalu berjalan keluar rumah.
Aku memutuskan untuk menenangkan diri di taman dekat rumah. Taman tersebut dekat dengan danau buatan yang ramai orang berkumpul kalau pagi dan sore hari apalagi kalau weekend.
Taman ini terjaga kebersihan dan fasilitasnya. Ada lapangan basketnya juga di dalam. Banyak anak-anak yang bermain sepatu roda dan sepeda dengan bahagia.
Bukan hanya anak-anak, ada juga ibu-ibu yang senam aerobik di sana. Di sudut lain, ada ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya sarapan pagi.
Kebanyakan anak-anak yang sedang bermain saat ini biasanya belum sekolah. Karena hari ini hari kerja, maka taman ini terasa lebih sepi dibanding kalau weekend.
Aku memandang ke sekitar taman dan pikiranku sekarang lebih tenang setelah melihat pemandangan dan menghirup udara yang lebih segar di sini. Enak rasanya, berbeda jika kontrakan saja tanpa ada hiburan.
Sebenarnya aku bosan, tapi aku tidak tega mengajak Leo jalan-jalan. Aku sadar sekarang kami ini sedang berada di titik paling bawah dalam hidup kami. Untuk jalan-jalan saja aku harus mikir berkali-kali. Aku nggak pernah minta Leo untuk mengajakku sekedar jalan di Mall seperti dulu. Aku kasihan. Dalam benakku sekarang adalah bagaimana caranya aku harus menabung, menabung dan menabung.
Tiba-tiba aku merasa seperti ada angin dingin yang meniup di belakang punggungku dan terasa membuatku merinding. Kok tiba-tiba perasaanku jadi nggak enak begini ya?
"May, Maya! Melamun aja sendirian. Nanti kesambet loh!" teriak seorang emak-emak dengan suara yang melengking tinggi. Ternyata benar perasaanku. Duo Julid ada di sini. Siapa lagi kalau bukan Bu Jojo dan Bu Sri yang menghampiriku dan duduk di kursi sebelahku.
"Eh, ada ibu-ibu. Lagi ngapain Bu? Kita ketemu lagi ya di sini." kataku berbasa-basi sambil memasang seulas senyum di wajahku.
"Ih, Maya mah nggak update. Kita berdua kan anggota aerobik dan setiap hari Rabu kita latihan di sini." jawab Ibu Jojo.
"Makanya May kamu keluar rumah jangan di kamar mulu. Kamu jadi nggak kenal sama tetangga dan apa kesibukan tetangga kamu." kata Ibu Sri menimpali.
"Dih, ngapain juga aku kepo sama kalian? Emangnya aku harus tahu apa yang dilakukan sama tetanggaku?" gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Maya kok sendirian aja? Tadi saya lihat tuh ada suami nya Maya di rumah. Lagi libur kan? Kok nggak bareng sama suaminya sih kesini?" tanya ibu Jojo penuh rasa ingin tahu.
" Iya, tadi juga saya lihat motor suaminya Maya ada depan rumah. Biasanya kan suaminya Maya perginya pagi pulangnya malem." lagi- lagi Ibu Sri menimpali.
Rumah Ibu Sri yang terletak tidak jauh dari kontrakanku membuat Ibu Sri gampang untuk memata-matai segala kegiatan yang aku dan Leo lakukan.
"Maya lagi mau hirup udara segar aja. Maya bosen di rumah jadi Maya mutusin keluar dan baru tahu kalau di sini ada taman yang rame."
"Kalau bosan mah jalan-jalan atuh May ke mall. Mumpung suami kamu lagi libur biasanya kan anak muda tuh kalau bosen jalan-jalannya ke mall. Kamu kenapa tuh senang banget dikontrakkan. Enggak bosen apa?" lagi-lagi Ibu Sri berkata julid padaku.
Wah memang ya mereka berdua cucok. Duo julid. Enggak ada yang bakal nyaingin mereka tuh kayaknya. Feny Rose juga kalah sama kemampuan julid mereka. Ini orang berdua kalau udah stalking, bakalan cari tahu sampai ke dalam-dalamnya. Hebat euy ngalahin hacker.
"Enggak punya duit, Bu. Ibu mau jajanin saya? Saya kan harus nabung Bu, buat biaya persalinan dan persiapan melahirkan nanti. Daripada uangnya buat jalan-jalan, lebih baik saya tabung deh buat nanti." kataku berterus-terang. Aku nggak peduli sekarang mereka mau mikir apa. Biarin aja lah.
"Loh emangnya kamu lagi hamil?" tanya Ibu Jojo tidak percaya.
"Loh emangnya Ibu enggak tau?" tanya aku balik.
"Loh beneran hamil?" lagi-lagi Ibu Sri menimpali.
Duo julid ini lalu duduk di sampingku. Sepertinya aku membuat rasa kepo dalam diri mereka menggelegak minta disalurkan.
Oke, aku kabulkan permintaan kalian Ki Sanak! Mumpung aku lagi kesepian karena enggak punya teman sama sekali. Gak apa-apa lah ya temenan sama ibu-ibu.
"Iye Bu. Saya lagi hamil. 3 bulan." kataku berterus terang.
"Masa sih? Kan belum lama nikahnya? Kok udah dua bulan aja?" pertanyaan Bu Sri mirip kayak pertanyaan pembaca yang itung-itungannya tuh akurat banget 🤣🤣.
Mereka kompak melakukan gerakan menggetok kepala-******-kepala-****** sambil bilang "Amit-amit jabang bayi!"
Aku tertawa terbahak-bahak melihat ulah mereka. Ternyata mereka takut anak-anaknya mengalami nasib yang sama kayak yang aku alami.
"Nih anak santai banget ya ngadepin masalah. Emangnya kamu enggak tertekan apa May? Terus orang tua kamu mana? Kok enggak pernah nengokin anaknya yang lagi hamil? Kamu diusir ya dari rumah?" celetuk Ibu Jojo.
"Yaiyalah diusir. Kan Maya udah bikin malu orang tua Maya, Bu." jawab aku dengan entengnya.
Mereka melakukan ritual amit-amit jabang bayi lagi dengan kompak. Dan lagi-lagi aku tertawa melihat ulah mereka.
"Terus kamu gimana sehari-harinya? Kemarin-kemarin kan suami kamu enggak kerja? Eh sebentar deh, kamu udah nikah kan? Bukan masih kumpul kebo? Bisa apes kita kalau kamu kumpul kebo, tetangga 40 rumah bisa kena apes bin sial." kali ini Bu Sri yang bertanya panjang lebar.
"Udah nikah lah, Bu. Makanya Maya diusir dari rumah. Kalau Maya nurutin buat gugurin kandungan Maya mah sampai saat ini Maya masih jadi primadona kampus kali."
"Ih kamu belum jawab pertanyaan saya yang lain. Kamu sehari-harinya gimana? Uang dari mana? Pantesan aja ya kamu makan tempe terus tiap hari." Ibu Sri sekarang berbicara dengan iba padaku. Mungkin Ia teringat anaknya yang sudah remaja. Takut mengalami nasib yang sama kayak aku.
"Maya dikasih uang sama Ibu sebelum diusir sama Bapak. Makanya Maya masih bisa nyewa kontrakkan dan makan sehari-hari. Tapi untungnya sekarang suami Maya udah kerja jadi bisa lah makan sehari-hari mah tinggal mikirin persalinan dan bayar kontrakkan aja."
Aku merasa sedikit beban di dadaku mulai kosong. Ternyata aku butuh teman untuk curhat. Berhenti kuliah tiba-tiba dan kehilangan banyak teman karena harus bersembunyi membuatku tidak punya tempat mencurahkan isi hati. Ibu-ibu julid ini yang malah mendengarkan curhatanku.
"Ya ampun May. Malang bener nasib kamu ya. Makanya kamu jangan bandel. Inget pesan orang tua. Kamu hidupnya blangsak begini juga karena ulah kamu." nasehat Ibu Jojo dengan suaranya yang melembut.
"Maafin saya ya May. Udah julitin kamu. Kalau tau kamu enggak punya uang buat beli lauk mah biar saya bagi lauk saya ke kamu. Kan kamu juga enggak perlu sampai nyolong sosis anak bocah segala."
Aku menatap kaget ke Bu Sri. Ternyata ulah aku waktu itu dilihat oleh Bu Sri. "Ibu liat?"
__ADS_1
"Iyalah liat. Saya lagi angkat jemuran terus liat kamu bawa kabur sosis anak orang. Pas tuh anak balik nyariin sosisnya udah gak ada. Nangis deh ye. Akhirnya saya kasih aja sosis yang baru. Bilang atuh May kalau mau mah. Saya bikinin!" kata Ibu Sri tak tega padaku.
See? Enggak sia-sia kan aku curhat sama Duo Julid ini? Mereka tuh baik sebenernya. Makanya jangan judge sesuatu hanya dari covernya aja. (Kayak novel-novel karangan Mizzly lainnya #ehem).
"Maya waktu itu ngiler banget Bu liat tuh anak minum es sambil makan sosis. Mau beli tapi uang Maya pas-pasan. Yaudah Maya embat aja mumpung tuh anak lagi meleng."
"Dasar ya. Kawin aja kamu doyan! Umur sama pemikiran kamu mah masih bocah. Udah ayo kita makan bakso. Saya yang traktir!" ajak Bu Jojo.
"Asyik!" sahut Bu Sri.
"Ih siapa yang mau bayarin kamu? Saya mah traktir Maya aja! Kamu bayar sendiri!" cibir Bu Jojo.
"Pelit banget dah sama sohib. Yaudah kalau gitu saya traktir Maya es campurnya. Gimana?" kata Bu Sri tak mau kalah.
"Nah gitu dong. Maya kan seneng tuh dapet gratisan." kataku sambil tersenyum jahil.
"Nanti gantian ya Maya yang traktir kita berdua?" ledek Bu Jojo.
"Iya, Bu. Nanti Maya traktir kalau Maya udah punya uang. Tenang aja."
"Yaudah ayo kita capcus. Habis aerobic tuh paling ajib kalo makan bakso, betul gak Bu Sri?"
"Betul itu!" kami bertiga pun tertawa bareng.
Ternyata tukang baksonya tidak jauh dari taman. Karena tidak pernah jajan aku tidak pernah nyobain makan bakso disini.
Bu Sri yang masuk duluan kedalam kios dan memesan bakso untuk kami bertiga. "Bakso pakai mie kuning 3 yak, Mang. Yang satu jangan pake mecin. Jangan lupa banyakkin tetelannya, Oke?"
"Tetelan itu apaan Bu?" tanyaku pada Bu Jojo yang langsung memilih tempat duduk.
"Gaji." jawab Bu Jojo singkat.
"Gaji? Duit gajian maksudnya?" tanya aku bingung.
"Ya bukan May. Masa kita makan duit, mana enak? Gaji itu opo yo bahasa Indonesianya. Hmm... Lemak. Iya, lemak sapi. Tapi bukan yang sandung lamur ya. Ini tetelannya." penjelasan Bu Jojo malah buat aku makin bingung.
"Sandung lamur apalagi itu Bu?" tanyaku sambil garuk-garuk kepala padahal tidak gatal sama sekali.
"Ah elah May. Udah gak usah saya jelasin. Pokoknya tetelan itu lemaknya sapi. Nanti aja kamu nyobain sendiri." Bu Jojo juga capek jelasin ke aku. "Dasar anak jaman now."
Aku tersenyum mendengar celetukan Bu Jojo. Kenapa aku dulu sebal banget ya sama Duo Julid? Mungkin karena aku belum mengenal mereka lebih dekat? (kayak pembaca yang belum tau kalau novel aku beda dari yang lain aja #upskeceplosan ).
Bu Sri yang datang membawa es campur langsung meletakkan di depanku. "Nih, kamu cobain. Udah saya bilang jangan pake tape. Dan bakso kamu yang enggak pake mecin ya."
"Memangnya kenapa gak boleh makan tape ya Bu?" tanyaku bingung.
"Supaya enggak panas." jawab Bu Sri singkat.
"Apanya yang panas, Bu?" tanyaku lagi.
"Perut kamu lah." Bu Jojo tertawa terbahak-bahak mendengar Bu Sri ditanya-tanya seperti aku menanyainya tadi.
"Udah enggak usah kamu jawab Sri. Maya mah oon-nya kebangetan!" kali ini aku ikut tertawa mendengar celetukan Bu Jojo.
__ADS_1