Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mamah Sri


__ADS_3

Selesai acara barbeque-an, Leo mengantarku pulang ke rumah kontrakan. Kali ini Ia lebih memilih naik motor saja. Macet katanya, selain itu juga lebih romantis.


Kalau naik mobil kan nggak bisa sambil pelukan cuma paling pegang-pegang tangan aja. Kalau naik motor bisa peluk-pelukan lalu ngobrolnya juga lebih seru dan kadang sesekali Leo menggenggam tanganku saat lampu merah.


Tingkat romantisme dalam naik motor dibandingkan dengan naik mobil itu berbeda sangat jauh. Bukan nilai yang mesum ya. Kalau mau mesum mah bisa di mobil, nggak bisa di motor tentunya. Tapi nilai romantis nya itu loh, lebih berasa banget feel-nya.


Bisa ditanyakan loh sama orang yang sudah menikah. Kalau kita naik motor bareng pasangan itu kayak flashback ke masa-masa pacaran yang indah.


Pacaran walaupun hujan-hujanan naik motor namun tetep aja kelihatan romantis dan mesra. Beda kalau naik mobil, biasanya sih kalau hujan tuh macet, yang ada dalam mobil cuma menggerutui kemacetan. Kalau naik motor juga kayak gitu sih, tapi bedanya dingin-dingin anget gitu, gimana ya? he...he...he....


Tapi kalau orang kaya yang pacaran naik mobil mereka tetap mesra kok?! Oh iya, memang mesra juga, tapi kalau kita memulai sesuatunya dari awal, dari sesuatu yang paling sederhana contohnya naik motor walaupun kita udah bisa membeli sesuatu yang lebih mahal tapi sesuatu yang terindah itu tetap lebih berkesan di hati kita.


Setelah memastikan kalau sang putri sudah sampai di kontrakannya Leo pun langsung pamit pulang. Tak lupa Leo mengecup keningku terlebih dahulu. Leo beralasan kalau Ia mengecup keningku maka Ia akan mimpi indah malam ini.


Alasan yang sangat lucu menurutku. Biarkan sajalah. Tak ada salahnya menerima sifat romantis Leo yang seakan tak ada habisnya hari ini.


Kulambaikan tangan mengiringi kepergian Leo sampai Ia dan motor kesayangannya menghilang di depan gang. Aku baru saja hendak masuk ke dalam namun ternyata sudah ada yang memanggilku.


"Maya!" teriakan cempreng yang sudah sangat kukenal. Siapa lagi kalau bukan artis kampung durian runtuh, Kanjeng Sri.


"Iya, Bu. Kenapa? Udah malam jangan teriak-terkak ah!" omelku sambil masuk ke dalam rumah.


Enggak usah dipersilahkan Bu Sri langsung mengikutiku masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya.


"Saya nginep ya?"


Pertanyaan Bu Sri langsung membuatku berbalik badan. "Nginep? Lah laki sama anak Bu Sri gimana? Bu Sri lagi berantem sama suaminya? Lagi ngambek? Enggak boleh gitu Bu kalau ngambek. Kata Ibu Maya kalau sudah nikah kalau marah enggak boleh main kabur-kaburan. Harud dihadepin!"


Aku ceramah panjang lebar tapi Bu Sri hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Bukannya menurut gitu.


"Eh anak tuyul! Yang berantem siapa?"


"Bu Sri." jawabku.


"Kata siapa?"


"Saya-lah. Kan barusan saya yang ngomong. Ibu lupa ya?"


"Yeh si oon mulai kumat deh. Pasti kamu kebanyakan mikir deh di rumah Leo. Jadi otak kamu ngehang lagi."


"Lah terus kenapa Ibu mau nginep kalau bukan karena berantem sama suaminya?" aku melempar tasku ke atas tempat tidur lalu duduk di lantai bersama Bu Sri. Kunyalakan TV agar tidak terlalu sepi. Dan AC tentunya agar tidak gerah.


"Suami dan anak saya lagi pergi ke rumah mertua."


"Loh kenapa enggak ngikut? Enggak akur ya sama mertuanya? Mertuanya galak?"


"Nih anak beneran konslet nih otaknya. Main nyimpulin sesuatu seenaknya aja."


"Ya siapa tau gitu."

__ADS_1


"Enggaklah. Amit-amit deh. Mertua saya mah baik. Saya tuh menantu kesayangannya. Awas aja enggak sayang nanti anaknya enggak saya urusin!"


"Yeh ngancem!" ledekku.


"Beneran. Masa saya bohong. Suami dan anak saya nginep di sana. Rumah mertua saya kan deket cuma di daerah Kunciran. Mereka perginya naik motor, saya males ah mending di rumah aja. Eh ternyata rumah langsung sepi enggak ada yang ngeselin, mending saya nginep di rumah kamu aja deh."


"Kunciran? Emangnya rambutnya gondrong gitu?" ledekku lagi. Hidup jangan kebanyakan serius nanti cepet tua!


"Ih norak! Ada Kunciran ada juga deket sama daerah namanya Gondrong."


"Beneran?" tanyaku tak percaya.


"Bener. Cari aja di daerah Tanggerang. Udah ah jadi ngomongin Kunciran si Gondrong. Gimana keluarga Leo? Baik enggak sama kamu?" tanya Bu Sri.


"Baik, Bu. Maya mandi dulu ya. Lengket banget nih badan Maya." Aku bangun dan langsung menyambar handuk yang tadi aku taruh di gantungan.


"Yeh nih anak orang lagi nanya malah ditinggal mandi. Jawab dulu atuh!"


Aku tersenyum mendengar gerutuan Bu Sri. Aku suka deh mengerjai Bu Sri. Orangnya enggak baperan jadi asyik diajak becanda. Orang yang hidupnya baperan itu kurang piknik, nggak asik. Mesti sekali-kali dilemesin pakai oli biar santai kayak dipantai.


"Kan kita mau ngobrol semalaman. Maya mau mandi dulu. Tuh buka aja di paper bag yang Maya bawa, ada kue-kue enak dari Mamanya Leo. Ibu Cobain deh. Kue mahallllll"


Tak perlu menyuruh sampai dua kali, kalau yang namanya kue apalagi enak pasti langsung memancing aura-aura untuk ngemil yang ada dalam diri Bu Sri. Aku langsung masuk ke kamar mandi meninggalkannya yang asyik menonton TV sambil ngemil kue yang yang rasanya seperti di restoran hotel bintang 5.


Rasanya tubuhku amat segar terkena air dingin malam-malam. Aku yang awalnya tidak mau keramas akhirnya membasahi juga rambutku karena rasanya tuh lengket banget dan berminyak setelah barbequean.


Aku tiba-tiba teringat kalau rencananya minggu depan orangtua Lio akan datang ke rumah. Paling pas nih ngobrol sama Bu Sri.


Aku menuntaskan mandiku lalu buru-buru berpakaian. Takutnya tuh ibu-ibu kekenyangan lalu langsung tidur dan nggak sempet membayar cemilannya dengan dengerin ceritaku.


Ternyata Bu Sri masih asyik nonton TV dan ngemil. "Udah mandinya May?"


"Udah. Udah seger banget nih." tadi aja aku enggak seger Leo mepet terus apalagi kalau aku udah seger dan wangi kayak gini. Pasti makin mepet deh.


"Hush! Malah bengong!" Bu sri menepuk lenganku membuat khayalan indahku tentang Leo langsung buyar.


"Ih ganggu aja deh." gerutuku sambil memakai deodoran lalu aku duduk di sampingnya. "Ini masih mau dimakan enggak? Maya mau taruh kulkas nih! Takut banyak semut soalnya manis semua kuenya."


"Taruh aja. Saya minta minum ya." tanpa diiyakan Bu Sri sudah masuk ke dapur dan mengambil segelas air. Ia membawanya dan menaruhnya diatas nakas.


Aku pergi ke ruang tamu lalu mengunci pintu. Di luar sudah malam. Walau lingkungan disini aman tetap saja harus jaga diri. Apalagi statusku yang seorang janda kembang takut ada yang berniat jahat saja.


Aku lalu mematikan lampu di ruang tamu dan masuk ke dalam kamar. Terlihat Bu Sri sudah masuk ke dalam selimut tebalku.


"Dingin May. Enak. Kaya tidur di hotel. Nanti kipas angin reyot saya yang bunyinya kretek-kretek mau saya ganti pakai AC ah kalau dapet arisan."


Aku tersenyum. Mimpi Bu Sri tuh sederhana. Mau punya AC. Itu saja sudah bisa membuatnya bahagia. Lagi-lagi hal yang menurutku receh merupakan hal yang amat membahagiakan orang lain.


"Nanti kuat bayar listriknya? Mahal loh! Mending uangnya ditabung buat modal usaha. Kalau usaja Ibu makin besar pemasukan Ibu juga makin besar nanti baru deh beli AC. Jangan biasain memperbesar pengeluaran. Biasain memperbesar pendapatan. Saat pendapatan sudah besar nanti Ibu bisa beli yang Ibu mau tentunya tidak akan memberatkan Ibu nantinya."

__ADS_1


"Berat amat omongan kamu May. Kayak lagi ngajar anak sekolah. Tapi saya paham kok maksud kamu. Saya setuju saja sama ide kamu. Niatnya saya mau jualan frozen food sekalian. Jadi warung saya bisa berkembang." tuh kan kadang emak-emak punya pemikiran jauh ke depan hanya terhalang modal saja.


"Maya setuju, Bu. Itu namanya tekad untuk maju." aku memberikan dukungan walau hanya berupa kata-kata saja.


"Terus gimana tadi di rumah Leo? Baik enggak orang tuanya? Terus Bapaknya Leo sama di TV gantengan mana? Di TV aja ganteng apalagi aslinya ya?"


Aku lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan Bu Sri. Ia memang sudah kuceritakan tentang keluarga Leo. Sempat terkejut namun endingnya malah kagum.


"Baik, Bu. Baik banget malah. Tuh kue dibawain Mamanya Leo banyak banget. Besok bawain Bu Jojo sekalian ya. Mubazir kebanyakan lebih baik bagi-bagi yang lain."


"Gampang itu mah. Saya senang kalau keluarganya baik. Mau nerima kamu. Jalan kamu untuk rujuk semakin terbuka lebar dong. Berarti bener kata saya waktu itu, jodoh kamu masih belum kelar May sama Leo."


"Justru itu Bu. Maya sekarang lagi kepikiran. Keluarganya Leo mau datang ke rumah Maya minggu depan."


"Lah bagus dong. Memang seharusnya sejak awal kamu mau nikah mereka datang kan. Kalau saja sejak awal kalian menikah dapat dukungan dari keluarga Leo mungkin rumah tangga kamu dan Leo bisa bertahan sampai sekarang."


"Tapi Maya khawatir, Bu. Takut Bapak marah besar. Takut Bapak mengusir keluarga Leo." aku akhirnya berani mengungkapkan kegalauanku sejak tadi.


"Enggak bakalan lah May. Memangnya ini di sinetron? Kalau tau yang datang melamar kamu tuh keluarganya Dibyo Kusumadewa mah disambut dengan tangan terbuka, May. Saya saja pengen anak saya nasibnya bagus kayak kamu. Jadi enggak usah tinggal di rumah kontrakkan kayak gini lagi. Bisa pakai pakaian bagus dan makan enak tentunya."


"Ya kan itu pemikiran ibu sebagai orang tua. Belum tentu Bapak akan seperti itu." kataku pesimis.


"Justru pemikiran orang tua kamu enggak akan jauh berbeda dari pemikiran saya. Orang tua tuh cuma mau yang terbaik untuk anaknya. Keluarga Leo kurang baik apa lagi coba? Ibaratnya tuh type besan idaman. Bapak kamu pasti akan memberi restu kalau kalian melakukannya dengan cara baik-baik, enggak dengan hamilin kamu dulu baru minta restu, itu salah."


"Maya paham Bu. Tapi kami kan pernah bercerai. Bapak malah yang mengurusnya sampai habis uang banyak untuk bayar pengacara. Ini Maya mau nikah lagi sama orang yang sama. Gimana Bapak enggak makin senewen?"


Bu Sri menggelengkan kepalanya. "Kamu salah May. Pernah dengar kan pepatah yang mengatakan kalau kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah? Semarah apapun orang tua pasti dia akan mengutamakan kebahagiaan untuk anaknya. Bukan mengutamakan ego diri sendiri. Karena mereka tuh pengen melihat anaknya bahagia. Beda sama anak-anak, kadang udah kaya dikit lupa sama orang tuanya. Kamu nggak boleh gitu ya May!"


Aku tersenyum. Bu Sri itu kalau ngomong selalu diselipkan dengan kata-kata nasehat. Jadi menasehati orang lain nggak terkesan terlalu menggurui. Diselipkan diantara perkataannya namun lebih mengena di hati.


"Tentu aja Bu. Maya enggak akan ngelupain orang tua Maya. Maya bisa ada di titik sekarang juga karena jasa kedua orang tua Maya. Apalagi Maya tahu bagaimana Bapak memulai usahanya dari awal sampai bisa sukses kayak sekarang. Enggak bakalan Maya jadi anak yang lupa sama orang tuanya."


"Bagus itu. Enggak sia-sia berarti saya mendidik pelajaran hidup sama kamu. Kalau ilmunya bisa kamu manfaatkan dengan sebaik-baiknya saya juga nanti dapat pahala karena mengajarkan kebaikan buat kamu."


"Iya Mamah Sri. Curhat dong!"


"Iya dong!"


Kami pun tertawa bersama. Ah padahal aku sudah lelah banget pengen tidur tapi ngobrol sama Bu Sri malah bikin mata aku jadi seger. Ini sih alamat bisa begadang semalaman cuma buat sesi curhat aja.


"Bu, gimana ya caranya supaya Bapak menyetujui hubungan Maya dengan Leo? Maya takut Bapak bakalan mengusir keluarganya Leo pulang Bu."


"Coba dengerin nih nasehat dari Mamah Sri. Kamu kan nggak tahu bagaimana dan apa yang akan terjadi kedepannya, yang tahu siapa? Allah kan. Kamu usaha udah, doa juga pasti sering dong? Yang kurang apa? Sedekah! Mulai lah bersedekah sedikit demi sedikit setiap hari Ibu percaya keutamaan sedekah itu banyak. Salah satunya mungkin bisa membantu kamu menghadapi masalah ini. Semoga hati orang tua kamu dilembutkan,"


"Percaya atau tidak, keutamaan bersedekah itu banyak. kamu maunya apa nanti pasti akan dikabulkan kalau itu memang untuk kebaikan kamu. Dengan bersedekah kamu berdoa semoga hati Bapak kamu dilembutkan sama Allah jadi bisa menerima kekurangan dan kelebihan Leo. Semoga hubungan kalian makin lancar lagi. Sedekahnya nggak perlu banyak, sedikit-sedikit tapi sering yang penting dilakuin. Percaya deh, akan ada kebaikan untuk kamu lagi nantinya."


"Jujur aja Maya belum pernah coba seperti yang Ibu sarankan. Tapi pasti akan Maya lakukan, karena benar kata Ibu, Maya udah usaha mungkin yang Maya butuhkan adalah Allah yang merestui hubungan kami. Makasih banyak ya Bu untuk semua masukan nya. Maya nggak tahu gimana hidup Maya tinggal sendirian di kota besar tanpa ada bantuan dan nasehat dari Ibu dan Ibu Jojo. Mungkin Maya akan hidup dalam kesesatan atau mungkin malah terjerumus di pergaulan yang kurang baik."


"Iya sama-sama, May. Itu kan gunanya berteman."

__ADS_1


Aku dan Bu Sri lalu berpelukan. Sahabat lintas generasi.


__ADS_2