Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mengurai Benang Kusut-3


__ADS_3

-Jakarta....


Kota dengan sejuta realita kehidupan....


Menatap ke atas dapat melihat mewahnya gedung pencakar langit...


Menatap ke bawah jembatan dapat melihat kegetiran hidup....


Tataplah ke depan niscaya ada masa depan yang terbentang dengan penuh harapan....


Tapi yang namanya Jakarta ya mau pagi, siang, sore atau malam sekalipun tetap saja macet. Apalagi kalau melewati pasar. Ada satu pasar yang bisa dibilang pasar terkutuk, bagaimana tidak, mau lewat sana pagi, siang atau malam selalu saja macet. Semakin malam malah semakin macet saja karena pedagangnya sudah membuka lapak sampai memakan setengah bahu jalan.


Bayangan kalau malam-malam naik motor di Jakarta akan lancar justru salah besar. Saat motor Leo melintasi daerah Senopati yang notabene banyak terdapat restaurant justru kemacetan dimulai.


Restaurant yang letaknya berdekatan satu sama lain dengan tidak tersedianya lahan parkir merupakan salah satu sumber kemacetan. Karena itu disediakannya Vallet yang sudah jago memarkirkan mobil dengan waktu yang cepat mengingat banyak yang mengantri jadi bikin macet.


Aku terkadang ingin mencoba memasuki salah satu dari sekian restaurant disana, namun apa daya isi dompetku pun menjerit kala mengetahui harga steak saja bisa sejuta.


Ih norak! Udah biasa kali steak harga segitu! Ada yang lebih mahal lagi.


Iya tau... Yang lebih mahal banyak. Tapi bagi aku yang anak petani tetap saja harga segitu harus mikir. Bapak sih bakalan kasih apa yang aku mau, tapi kok rasanya enggak tega ya?


Sekali-kali cobalah main dan melihat bagaimana petani bekerja. Kerja dari pagi sampai petang lalu yang didapat tidak seberapa. Lalu aku semudah itu menghabiskan uang sejuta hanya untuk daging sepotong saja rasanya rugi!


Uang sejuta jika aku belikan nasi padang bisa dapat 55 bungkus, bisa aku bagikan kepada yang tidak mampu jauh lebih berkah dibanding aku makan sendiri yang enaknya sesaat besoknya juga jadi kotoran.


Aku sedang memandangi restoran yang dekorasinya bagus-bagus. Mungkin ini yang membuat harga makanan di restoran ini jauh lebih mahal dibanding yang lain. Spot foto yang instragamable banget.


Padahal sesungguhnya spot foto yang paling bagus itu adalah pemandangan alam. Contohnya di rumah Bapak. Pemandangan gunung yang terlihat amat dekat padahal sebenarnya masih jauh, lalu sawah yang mulai menguning karena padi sudah siap dipanen. Pemandangannya asli tanpa campur tangan sang arsitek.


"Kamu mau makan di restaurant itu May?" tanya Leo tiba-tiba setelah melirikku yang sejak tadi memperhatikan restoran yang sudah membuat kemacetan karena vallet parkirnya.


Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak mau. Mahal."


"Kalau kamu mau ayo kita makan di sana. Aku yang bayarin."


"Udah deh jangan kebanyakan gaya. Udah malem nih."


"Loh bukannya kebanyakan gaya. Aku ngajak kamu makan di restoran yang kamu liatin dari tadi kok malah dibilang kebanyakan gaya sih? Aku beneran ngajakin kamu loh!"


"Enggak usah. Udah ayo jalan, udah beres tuh parkirnya!" Aku menunjuk salah seorang tukang valet parkir yang sudah berhasil memarkirkan mobil di lahan yang sempit tersebut.


"Ya udah kalau kamu nggak mau. Aku nggak bakalan maksa kok. Apa kamu mau makan di mana dulu gitu?"


"Enggak usah, kan tadi udah makan mie ayam. Aku masih kenyang. Kita langsung pulang aja, aku ngantuk udah malam."


"Bener nih kita langsung pulang?" Leo sudah menjalankan lagi motornya meninggalkan restoran yang sejak tadi aku perhatikan.


"Iya."


"Kita? Maksudnya aku pulang ke rumah kamu gitu?" goda Leo.


"Ya enggaklah Malih! Kamu pulang aja sana ke rumah kamu. Aku mah pulang ke kontrakkanku. Bisa digrebek Pak RT nanti kalau kamu pulang ke kontrakkanku." cerocosku panjang lebar.


Walau aku tidak bisa melihat wajah Leo tapi aku yakin Ia sedang tersenyum. Entah kenapa laki-laki tuh kenapa sih suka banget ngeliat perempuan ngoceh-ngoceh?


Motor Leo terus melaju melewati daerah Blok S, membuat mataku kembali memperhatikan deretan tukang makanan yang membuat lapar mata juga perut.


"Mau mampir dulu enggak? Ada bakso Pak Kumis yang enak loh disana!" Leo sengaja memelankan laju motornya agar aku bisa melihat-lihat dan akhirnya setuju untuk berhenti. Namun tekadku sudah bulat.


"Lain waktu aja. Udah malam nih. Kamu mau sampai rumah jam berapa?"


Mendengar penolakanku Leo kembali menambah laju kecepatan motornya. Kami pun sudah berada di jalan raya lagi.


"Bener ya lain kali! Awas aja kalau ingar janji!"


"Ih siapa yang ngejanjiin? Aku bilang lain kali kan bukan berarti aku lain kali tuh perginya sama kamu. Ge er banget!"


"Tuh kan! Tau gitu tadi aku langsung berhenti aja deh! Aku puter balik aja kali ya?" Leo mengambil jalur kanan agar mudah putar balik.

__ADS_1


Melihat gelagat Leo aku langsung melarangnya sebelum Leo beneran puter balik. "Jangan! Udah malam. Bandel banget sih. Iya... iya... lain kali ke sini! Bawel!" gerutuku sambil memanyunkan bibir.


"Kali ini udah janji ya? Enggak boleh ingkar loh!"


"Iya... iya....," lalu aku mengumpat "Bawel!"


"Heh dosa loh ngatain mantan laki bawel!" Leo menghentikan motornya di lampu merah mampang. Ia menegakkan duduknya agar dapat mendengar perkataanku lebih jelas lagi.


"Kalo udah mantan mah enggak dosa keles." balasku tak mau kalah.


"Bisa aja jawabnya. Eh May, di dekat lampu merah depan ada tukang ketupat sayur yang rame banget loh pembelinya. Mau nyobain enggak?"


Lampu merah disini memang agak lama udah gitu lampu hijaunya sebentar banget lagi. Jadilah aku dan Leo bisa bercakap-cakap dulu.


"Enggak mau. Kenyang Leo. Kamu emangnya masih laper?"


"Enggak laper sih."


"Terus kenapa dari tadi ngajakin berhenti melulu untuk makan? Yaudah sih kalau lapar ngaku aja!"


"Aku cuma mau ngabisin waktu sama kamu lebih lama aja May. Kan jarang-jarang kita bisa pulang bareng!"


Bukan gombalan melainkan hanya curahan isi hati. Hal yang justru membuat wajahku bersemu merah. Kadang hal romantis itu enggak perlu sebuket bunga atau sekotak cokelat, hanya ungkapan kalau saat bersama seseorang terasa lebih berharga saja sudah cukup.


Aku memukul punggung Leo pelan. Tidak bisa membalasnya dengan kata-kata lagi. Rasanya sudah lama sekali kami tidak dalam momen seperti ini.


Waktu awal-awal pacaran memang sih suka jalan-jalan naik motor tapi jarang ada momen romantis. Gaya pacaran kami dulu terlalu mengagungkan nafsu dibanding indahnya rasa cinta.


Belum sempat mengerti arti cinta eh kami dikaruniai Adam, lalu menikah dan bergulat dengan problematika hidup.


Sampai akhirnya bercerai dan rasa cinta yang dulu diagungkan untuk menutupi nafsu akhirnya hilang berganti rasa benci.


Kini aku dipertemukan kembali dengan Leo seperti bertemu pertama kali dengan Leo dulu. Hanya bedanya kali ini kami benar-benar saling mengenal pribadi masing-masing.


Aku baru tau kalau Leo yang biasanya pendiam tenyata bisa juga bersikap romantis. Leo yang dulu terkesan dingin dan tak peduli ternyata aslinya care, suka membantuku mengerjakan tugas di kantor.


Lampu merah pun berganti dengan lampu hijau, Leo melajukan kembali motornya menembus jalan Mampang Prapatan Raya yang tidak terpengaruh waktu tetap saja macet meski jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Baru saja lampu hijau berganti dengan lampu merah yang artinya menunggu lagi.


"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanyaku memecah kesunyian diantara kami.


"Pasar Minggu." jawab Leo.


"Loh dekat dong dengan rumah kontrakkanku? Pantas saja Ana bilang kalau kita searah. Ngontrak juga?" aku mulai ingin tahu bagaimana kehidupan Leo selepas kami bercerai. Atau mungkin Leo sudah menikah lagi?


"Enggak deket-deket banget sih. Kamu kan daerah Lenteng Agung ke dalam. Masih setengah jam kalau enggak macet."


"Ngontrak? Atau.... Kamu sudah menikah lagi?" aku mengulangi pertanyaanku yang belum Leo jawab.


Lampu merah pun berganti menjadi lampu hijau. Leo menjalankan lagi motornya tiba-tiba, membuatku yang sedang duduk tanpa berpegangan langsung memegang pinggang Leo dengan erat. Bukan memeluknya ya, memegang saja.


"Penasaran ya sama hidup aku?" pertanyaanku dijawab dengan pertanyaan lagi oleh Leo.


"Enggak juga sih. Enggak dijawab juga enggak masalah buatku." jawabku tak mau kalah. Gengsi dong kalau sampai Leo tau aku penasaran dengan hidupnya saat ini.


"He...he.... Begitu aja udah pundungan Neng. Aku tinggal di rumah Papa sekarang. Enggak ada siapa-siapa jadi aku disuruh tempatin rumah Papa lagi."


"Sama istri baru kamu?"


Dari kaca spion bisa kulihat Leo sedang mengu lum senyumnya.


"Istri lama lagi cemburu nih ceritanya?"


"Kebiasaan banget sih, pertanyaan dibalas dengan pertanyaan!"


"Memangnya mau dijawab apa sih? Mau aku jawab kalau aku masih menunggu istri lama kembali lagi gitu?" jawaban yang membuatku bersemu makin merah.


"Kalau enggak mau jawab yaudah." kalau aku meladeni perkataan Leo terus bisa bahaya untuk keselamatanku nih. Jantungku sejak tadi berdegup amat kencang.

__ADS_1


Untung saja aku hanya pegangan pinggang Leo biasa saja bukan memeluknya seperti dulu. Kalau aku memeluk Leo bisa dipastikan Ia akan mendengar detak jantungku yang berdetak tak karuan sejak tadi.


Motor Leo memasuki jalan menuju kontrakkanku. Suasana perkampungan yang sekarang sudah mulai sunyi membuatnya menggas motor lebih pelan agar tidak menimbulkan suara berisik knalpot. Salah satu wujud tenggang rasa antar tetangga.


Sampailah kami di depan rumah kontrakkanku. Aku turun dan membuka jaket milik Leo dan mengembalikannya. Kasihan Ia kalau pulang tidak pakai jaket, takut masuk angin.


"Nih. Makasih ya." aku memberikan jaket yang kupakai pada pemiliknya.


Leo mengambil jaket dari tanganku dan menahan tanganku sebelum aku masuk ke dalam rumah.


"Aku belum menikah lagi. Belum move on dari kamu, May. Aku hanya tinggal berdua Papa. Menemani beliau yang kesepian di hari tuanya."


Leo lalu melepaskan tanganku dan memakai jaketnya. "Jadi wangi parfum kamu deh. Enggak usah aku cuci aja kali ya biar wanginya enggak hilang-hilang?" ujar Leo sambil menyunggingkan seulas senyum.


Aku malah mencibirkan bibirku mendengar ucapannya barusan. "Dih jorok!"


Leo malah tertawa melihat ekspresiku. Ia malah mengusap lembut kepalaku dan mengacak-acak rambutku. "Aku pulang ya. Jangan lupa kunci pintu yang rapat. Jandanya cantik nanti banyak yang naksir soalnya!"


Leo lalu pergi meninggalkan sepenggal ruang yang tiba-tiba terasa kosong di dalam hatiku. Aku masuk ke dalam rumah lalu menenangkan detak jantungku yang terus berdetak tak karuan.


Sadar Maya.... Sadar... Kenapa jadi kayak anak ABG labil sih? Leo tuh bukan baru pertama kali kamu temui!


Leo bahkan sudah sering meniduri kamu, sudah sering mencium kamu, selalu memelukmu saat tidur! Leo bukan orang yang baru kamu kenal!


Sadar May.... Sadar....


Jangan jatuh dalam pesona Leo lagi. Satu kali khilaf, kalau sampai kamu jatuh lagi untuk kedua kali itu namanya kamu bodoh!


Aku mengunci pintu dengan rapat sesuai permintaan Leo. Ah Leo lagi kan? Tau ah....


*****


POV Leo


Setelah bermurung diri dan menghabiskan waktu meratapi kesedihan kini aku harus bangkit. Menyesali kesalahan yang dahulu tidak akan membuat yang sudah pergi akan kembali lagi.


Kalau memang taubat bukan hanya meminta maaf saja, tapi juga memperbaiki. Dimulai dari memperbaiki diri lalu memperbaiki kesalahan di masa lalu.


Melihat Maya yang sekarang amat jelas terlihat kalau ada kesedihan yang masih tersirat dalam setiap sorot matanya. Masih ada kepedihan yang tertinggal disana.


Walaupun statusku sudah menjadi mantan suaminya, namun aku memiliki tanggung jawab atas kesedihan yang Maya alami saat ini. Karena itu aku akan berubah lebih baik lagi.


Aku mulai memperbaiki caraku memperlakukan Maya. Aku yang dulu arogan dan mau semua kehendakku dituruti karena di rumah tak ada yang menganggap keberadaanku ada perlahan mulai merubah.


Orang bilang sifat dan watak manusia tidak bisa diubah, salah besar menurutku. Kalau kita niat, pasti akan bisa berubah. Masalahnya cuma di niat, ada atau tidak keinginan untuk berubah?


Aku ingin mendekati hati Maya lagi. Perlahan demi perlahan menyembuhkan sakit dan kepedihan di hati Maya. Sulit memang, tak semudah saat membuat goresan luka. Tapi setidaknya aku sudah berusaha. Jangan sampai aku menyesal tanpa usaha sama sekali.


Saat kami harus lembur hari ini misalnya, aku berusaha membantu Maya dalam pekerjaan. Sesekali mengajaknya mengobrol agar aku tahu bagaimana pola pikirnya.


Aku sadar dulu kami bahkan jarang berkomunikasi. Tidak pernah mengobrol heart to heart. Hanya tau menyuruh Maya menuruti permintaanku tanpa memberitahu apa alasannya.


Aku mau tahu apakah Maya matre seperti dugaan awalku. Ternyata aku salah kan? Dan apa yang Maya bilang, Ia menikah dengan Papa?


Aku tidak kuat menahan tawaku. Mana mungkin Maya akan menikah dengan mantan mertua sendiri? Enggak akan aku biarkan lah ha..ha..ha...


Eh tapi Maya cantik, jangan sampai Papa tergoda juga sih!


Saat Maya mengungkapkan kesalahanku yang terlalu mudah menarik kesimpulan tanpa bertanya secara langsung disitu aku sadar, aku terlalu egois. Aku terlalu mau menang sendiri. Aku tak pernah menanyakan apa pendapat Maya.


Tapi saat aku melihat Maya bersemu merah karena perkataan recehku, disitu aku yakin.... Masih ada namaku di dalam hati Maya....


****


Ayo yang belum vote, hari ini jam 10 terakhir ya. Vote yang banyak karena akan aku umumkan siapa pemenangnya ya. Vote dan like juga ya semuanya!!! Maacih!!!


Oh iya.... hampir lupa...


Yang request crazy up siapa?

__ADS_1


Keep vote kalian hari senin ya. Kalau kalian vote aku di hari senin dan novel ini masuk 10 besar aku akan crazy up, gimana???? Deal???? Oke vote aku di hari senin ya. Kita bikin novel ini masuk 10 besar. Cayooo!!


__ADS_2