Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Bimbang-1


__ADS_3

Sebel.... Sebel.... Sebel....


Dasar Leo nyebelin!


Ngeselin!


Iiiiiiihhhhh!


Dengan tubuh bergetar aku cepat-cepat kembali ke ruangan. Jantungku rasanya mau copot karena sejak tadi berdegup amat kencang.


Untunglah ruangan masih sepi. Belum ada yang kembali dari istirahat.


Aku menyambar botol Tupperware milikku yang berisi air putih dan meneguknya cepat-cepat. Berharap air putih dapat menenangkan degupan jantungku yang semakin tak karuan saja.


Ah... Sial!


Moodku makin tak karuan saja!


Memang ya Leo benar-benar bisa menjungkirbalikkan perasaanku.


Sadar dong May! Sadar!


Ini bukan pertama kali Leo mencium kamu, May!


Biasa aja dong reaksinya!


Jangan norak kayak gini!


Dulu kalian bahkan sering berciuman! Setiap hari malah! (Saat masih kuliah tentunya, setelah menikah bahkan hanya cium di kening saja)


Kenapa sih Leo harus menciumku? Ia kan hanya cukup menghapus foto kami dari wallpapernya saja! Kenapa harus kontak fisik lagi sih?


Wait.... Aku ingat!


Foto pernikahan kami masih ada di handphonenya! Ngapain coba masih memajang foto kami disana? Masih cinta gitu sama aku?


Wajahku kembali memanas saat pikiran Leo masih cinta padaku tiba-tiba melintas di benakku. Enggak.... Enggak... Jangan ge er May!


Yang membuat aku heran adalah, kenapa Leo bolak-balik keluar masuk tangga darurat? Ngapain? Kalau mau telepon kan lebih baik di atas atau di ruangan saat sepi, bisa juga di kamar mandi.


Apa yang Leo sembunyikan?


Benar, Leo yang sekarang seperti menyembunyikan sesuatu. Terlalu misterius.


Apa Leo sebenarnya sudah punya pacar? Lalu kenapa Ia terus menggodaku?


Apa Leo mau balas dendam padaku karena perceraian kami?


Ah tapi kan Leo yang salah!


Tenang May... Tenang!


Aku harus menenangkan diri!


Sebentar lagi penghuni ruangan akan datang satu per satu. Jangan sampai mereka mencurigai sesuatu.


Aku mengambil bantex yang tadi aku periksa lalu mulai fokus lagi dengan pekerjaanku di komputer. Lebih baik fokus kerja saja!


Lalu satu per satu penghuni ruang audit mulai berdatangan. Yang terakhir datang malah Leo. Aku pikir Ia akan datang pertama karena jarak tangga darurat dengan ruangan ini kan tidak jauh.


Leo datang agak terbungkuk menahan sakit. Kedatangannya menarik perhatian seisi ruangan termasuk aku yang awalnya mau pura-pura tidak melihat tapi ternyata tak bisa mengalihkan perhatian dari Leo.


"Kenapa kamu Leo?" tanya Kak Anggi yang pertama kali menyadari Leo seperti menahan sakit.


"Sakit perut, Kak." jawab Leo beralasan.


Leo terus berjalan menuju meja kerjanya. Sialnya aku yang belum sempat mengalihkan perhatian ke komputer sudah bertatapan mata dengannya.


Leo menyunggingkan seulas senyum dan menaik-turunkan alisnya. Sengaja banget menggodaku.


"Mau ke dokter aja? Sakit banget memangnya?" tanya Kak Anggi lagi penuh perhatian. Sejak kapan Kak Anggi se-perhatian gitu sama Leo?


Aku jadi memikirkan perkataan Leo waktu itu, tentang Kak Anggi yang lebih tua, lebih pengalaman. Apa mungkin yang ditelepon diam-diam oleh Leo itu Kak Anggi?


Aku makin curiga nih. Kalau Kak Anggi bisa juga sih, makanya Leo enggak pernah teleponan di ruangan.


"Enggak usah, Kak. Nanti juga hilang kok sakitnya." tolak Leo yang kini sedang mengerjakan pekerjaannya lagi.


Tau ah.... Jangan kebanyakan ngurusin Leo. Fokus kerja kalau mau hidup mandiri dan membanggakan Bapak dan Ibu.


****


Aku sedang menunggu kedatangan Angga di lobby ketika Leo tiba-tiba datang dan menyandarkan lengannya di bahuku. Cepat-cepat aku tepis tapi Leo tak jera, terus saja menyandarkan lengannya di bahuku.


"Ih! Ngapain sih?" protesku pada akhirnya.


"Mau pulang bareng enggak?" tanya Leo kemudian. Aku akhirnya menyerah dan membiarkan Leo menaruh lengannya di bahuku.


"Enggak usah. Angga sebentar lagi jemput!" jawabku sambil melirik ke jam di Hp. Sudah 10 menit dan Angga belum juga sampai, tumben banget. Biasanya Angga kalau mau jemput aku selalu on time.

__ADS_1


Leo menurunkan sendiri lengannya dari bahuku setelah aku menyebut nama Angga. "Masih berhubungan sama Angga?"


"Masih. Kenapa?" tanya balikku. Bertanya sekalian nantangin.


"Kemarin-kemarin kenapa enggak pernah jemput kamu? Ngilang gitu aja kayak ken tut!" celetuk Leo seenaknya.


"Seenaknya aja nyamain orang sama ken tut! Angga tuh orang bisnis, sibuk dengan bisnisnya. Bukan pengangguran gak ada kerjaannya yang bisa tiap hari jemput aku!"


Angga memang jarang di Jakarta. Ia sebenarnya masih mengurusi bisnisnya di Bandung. Ia ikut ke Jakarta karena tak mau jauh dariku, namun ternyata bisnisnya di Bandung masih memerlukan perhatiannya. Jadilah Angga harus sering bolak-balik Jakarta-Bandung.


"Oh... Aku juga bukan pengangguran, tapi aku bisa kok kalau cuma nganterin kamu aja tiap hari." ucapan Leo seperti tersinggung dengan perkataanku barusan.


"Enggak usah, makasih. Aku mau mandiri!"


"Mandiri kok masih dijemput sama Angga?" ujar Leo membalas perkataanku.


"Memaintance fans kan enggak ada salahnya." kataku memancing reaksi Leo.


"Oh... Iya juga sih." kulihat Leo wajahnya mulai mengeras, sepertinya ucapanku barusan membuatnya kesal.


Kulihat dari jauh mobil Angga memasuki area lobby. Aku pun menuruni tangga lobby dan berjalan mendekati Angga. Ternyata Angga memilih turun dari mobil, bukan karena ingin membukakanku pintu mobil melainkan karena Ia melihat Leo.


"Kenapa Dia bisa ada disini?" tanya Angga dengan pandangan tidak suka.


Leo hanya mendecih dan menatap balik Angga dengan pandangan tidak suka.


"Leo... Kebetulan kerja disini juga. Sudah ayo kita pergi, takut malah bikin macet!" aku memegang lengan Angga dan menghalangi jalannya agar tidak menghampiri Leo.


Suara klakson mobil di belakang Angga membuat Angga mengurungkan niatnya menghampiri Leo. Ia pun berjalan kembali menuju kursi pengemudi. Sebelum aku naik mobil Angga aku sempat melihat Leo menyapa Ana.


"Ana, mau bareng? Biar aku anterin kamu pulang!"


Ana tersenyum senang mengetahui Leo akan mengantarnya pulang.


"Mau." Ana dan Leo lalu berjalan menuju parkiran motor sementara aku masuk ke dalam mobil Angga.


Kututup pintu mobil Angga dengan kesal dan langsung memakai seat belt. Tunggu, kenapa aku harus kesal? Sudahlah, bodo amat Leo mau ngapain kek!


Angga mengemudikan mobilnya keluar dari area gedung Kusumadewa Group dan terus saja terdiam. Mungkin Angga juga berharap aku akan mengajaknya bicara namun ternyata tidak.


Aku juga sibuk memaintain rasa kesal yang tiba-tiba melingkupi dadaku. Nyebelin banget sih Leo! Apa maksudnya coba?


Tadi siang menciumku lalu sorenya ngajak anak gadis orang pulang bareng! Apa maksudnya?


"Kenapa kamu enggak bilang kalau kamu dan Leo satu kantor, May?" tanya Angga tiba-tiba. Oh God.... Saking kesalnya dengan ulah Leo aku bahkan sampai melupakan Angga yang sedang menyupiriku. Maya bodoh!


"Aku nanya, kenapa kamu enggak bilang sama aku kalau kamu satu kantor sama Leo?" bukan pertanyaan semata, aku tahu arti pertanyaan Angga apa.


Angga memang hanya nanya kenapa aku enggak bilang kalau satu kantor dengan Leo, namun arti pertanyaannya tuh kayak gini:


Kenapa masih mau ketemu sama Leo?


Kenapa kamu enggak langsung resign aja setelah tau Leo satu kantor sama kamu?


Apa aja yang udah Leo lakuin sama kamu?


Dan segudang pertanyaan lain. Satu pertanyaan berjuta arti.


"Aku juga enggak tau kalau bakalan satu kantor sama Leo." jawaban paling tidak bertanggung jawab namun jujur.


"Kalian satu lantai?"


"Satu tim, bukan 1 lantai lagi. 1 ruangan malah." jawabku jujur.


"Leo gangguin kamu lagi?" nah kan, ini udah aku duga bakalan nanya kayak gini.


"Kadang-kadang."


"Kamu enggak minta pindah bagian aja gitu? Atau resign ke perusahaan lain?" see... beneran kan bakalan nanya kayak gitu!


Aku menghembuskan nafas kesal. Tadi Leo nyebelin eh sekarang Angga. Kenapa semuanya kompak membuat hari-hariku jadi suram sih?


"Mana boleh anak baru request pindah bagian? Dan... Aku enggak gila sampai mau melepas pekerjaanku di Kusumadewa Group hanya karena tidak mau ketemu lagi sama Leo."


"Kamu kan bisa bekerja di perusahaan orang tua aku, May. Kamu bebas mau pilih jabatan sebagai apa. Kenapa harus bertahan disana? Ada Leo loh, mantan suami yang sudah menorehkan luka di hati kamu sangat dalam!"


"Kenapa aku harus menghindari Leo? Sampai kapan aku harus menghindar? Apa dengan menghindar aku bisa menghapus semua masa lalu burukku? Enggak akan, Ga. Masalah ada buat dihadapi bukan buat dihindari."


Kulihat Angga mencengkeram stir mobil menahan rasa kesalnya. Entah Ia marah karena jawabanku barusan atau karena mendapati aku satu kantor lagi dengan Leo.


"Apa kita langsung menikah saja?"


Aku reflek menatap Angga. Wait...


Menikah?


Ini... Ini Angga sedang melamarku?


Beneran?

__ADS_1


Aku menatap Angga dalam diam. Sementara Angga fokus menyetir sambil sesekali melihat ke arahku.


Lalu lintas yang padat sepulang kantor membuatnya harus fokua melihat ke jalan. Tidak konsentrasi sedikit saja bisa-bisa menabrak pengendara sepeda motor yang seenaknya saja menyalip di kemacetan.


Sampai akhirnya mobil Angga harus benar-benar berhenti saat diberhentikan oleh Polisi karena rombongan Presiden akan lewat. Angga lalu menatap lekat padaku yang sejak tadi seakan tak percaya dengan lamarannya.


"Aku serius, May. Kamu tahu selama ini aku suka sama kamu. Meskipun kamu menganggap aku hanya teman tapi aku enggak bisa berbohong kalau aku menganggap kamu lebih dari teman. Aku.... Aku enggak bisa tenang membiarkan kamu bekerja bareng dengan Leo. Satu kantor,"


"Aku takut kamu akan kembali sama Leo lagi. Hanya dengan menikahi kamu berarti kamu milik aku seutuhnya. Leo enggak akan bisa merebut kamu dari sisi aku, May."


Angga meraih tanganku dan menggenggamnya bersama tanganya yang dingin. Entah karena kelamaan mencengkram stir mobil atau menahan amarah.


Polisi lalu membuka jalan mempersilahkan pengendara mobil untuk melajukan lagi kendaraannya. Angga tetap memegang tanganku sambil tangan satunya lagi mengemudikan mobil.


Entahlah bagaimana perasaanku saat ini. Di satu sisi aku senang karena ada laki-laki yang mencintaiku dan menginginkanku untuk menjadi istrinya, terlepas dari masa laluku yang kelam.


Di sisi lain, aku bingung dengan perasaan yang kurasakan saat ini. Tangan Angga terasa hangat namun debaran jantungku tidak sekencang saat Leo berada di sebelahku.


Apa aku masih mencintai Leo? Mau sampai kapan? Jelas-jelas Leo sedang dekat dengan seseorang, beberapa kali aku memergoki Leo menelepon diam-diam di tangga darurat.


Apa yang harus aku lakukan? Menerima lamaran Angga atau menolaknya?


"May, kamu mau kan jadi istri aku?" Angga menunggu jawaban yang tak kunjung kuucapkan.


Aku melepaskan tanganku dari genggaman tangan Angga. Mendengar kata istri membuatku teringat akan rumah tanggaku dengan Leo dulu.


Angga melirik ke arahku, heran dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba.


"Kalau kamu belum siap menikah sekarang aku enggak akan maksa. Kita tunangan dulu, gimana?" Angga masih saja berusaha meyakinkanku.


Entahlah... Semakin Angga meyakinkan, aku malah semakin ragu.


"Akan aku pikirkan nanti." jawaban menggantung yang akhirnya aku katakan.


*****


Aku menaruh tas di atas laci yang terletak dibawah meja kerjaku. Seperti biasa, ruangan masih sepi hanya aku dan Leo yang sibuk entah mengerjakan apa.


Aku menghembuskan nafas dalam. Ternyata suara hembusan nafasku menarik perhatian Leo yang hari ini mengenakan kemeja navy, terlihat makin tampan saja.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan yang sedang Ia baca di komputernya.


"Iya." jawabku singkat.


"Masalah apa?" tanya Leo lagi masih fokus dengan layar komputernya.


"Ada deh. Pengen tau banget!" jawabku ketus.


"Yeh... Diperhatiin kayak gitu! Nanti kalau dicuekkin bilangnya laki-laki enggak peka! Maunya apa sih? Cium lagi nih!"


Aku langsung memelototi Leo dengan tatapan setajam silet. "Tampol nih!" ancamku.


Leo melirikku dan menyunggingkan seulas senyum. "Ih... Takut! Mau nendang lagi kayak kemarin? Sakit tau!"


"Makanya jangan suka seenaknya jadi orang!"


Leo akhirnya melepaskan pandangannya dari layar komputer dan menyandarkan duduknya lebih santai. Senyumnya makin melebar.


"Tapi aku enggak rugi sih May. Yang penting dapet cium kamu! Sakit sedikit enggak masa-"


Pletak!


Kena tepat kening Leo. Streples besi berwarna kuning milikku yang kulemparkan jatuh diatas pangkuan Leo.


"Awww!" pekik Leo.


"Eh... Beneran kena ya? Berdarah gak? Benjol gak?" aku reflek berdiri dan menghampiri Leo yang sedang mengaduh kesakitan.


"Awwww!" Leo masih mengeluh kesakitan.


Panik dan takut Leo terjadi sesuatu aku mendekat dan melihat kening Leo. Kulihat keningnya memerah. Aku sedang memeriksa apakah ada yang berdarah ketika Leo mendudukkanku di pangkuannya.


"Aa.. Kamu ngapain?" kali ini aku tak bisa melepaskan pelukan Leo yang membuat tubuhku tak bisa bergerak melawannya.


"Aku kangen sama kamu, May. Enggak apa-apa deh kamu lempar aku pake streples, sampai keningku berdarah juga enggak apa-apa asal bisa sebentar saja memeluk kamu." Leo bahkan menenggelamkam kepalanya semakin erat.


"Lepasin enggak?!" gila ya Leo, ini tuh di kantor. Nekat bener berbuat kayak gini!


"Jawab dulu, kamu ada masalah apa?"


"Kalau enggak dilepasin aku gak bakalan jawab! aku ancam balik. Aku melihat ke arah pintu takut-takut ada yang datang kan bahaya.


"Oke." Leo melepaskan pelukannya.


Loh semudah itu? Aku langsung menguasai diriku dan kembali ke meja kerjaku. Degup jantungku terus berdegup kencang. Gila.... gila... ada apa dengan semua ini.


Aku melirik ke arah Leo yang tersenyum melihatku kebingungan dan sedang menenangkan diri.


"Nanti aku pangku lagi lebih lama kalau kita kerja lembur ya." senyum mengejeknya tersungging di wajahnya. Membuat jantungku makin berdegup kencang.

__ADS_1


__ADS_2