
Aku menarik tangan Leo. Menjauh dari Papa, Mama dan Richard.
Berita tentang Mama yang mau check up ke dokter kandungan hari senin besok sontak membuatku kaget. Bukan hanya aku, Leo, Richard dan Papa Dibyo pun tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
Aku menaruh asal asinan yang kubawa di atas meja makan seraya berpesan pada bibi untuk di taruh lemari es dulu. Aku menarik tangan Leo mengajaknya ke gazebo belakang dekat kolam renang.
Leo seperti masih setengah sadar saat mendapati berita dari Mama Lena. Ia menurut saja saat tangannya aku tarik.
"Sayang, menurut kamu Mama Lena beneran hamil?" tanyaku setelah duduk di gazebo. Tak afa siapapun disini jadi kami bisa bebas mengobrol.
"Aku... Huft.... Aku enggak tau May. Aku masih shock mendengarnya." Leo mengusap wajahnya dengan kasar. Pasti banyak yang dipikirkannya saat ini.
"Kalau Papa Dibyo dan Mama Lena seusia Bapak, berarti umur mereka sekarang masih dibawah 50 tahun. Bapak berumur 44 tahun ini. Apa Papa Dibyo juga sama?"
"Iya. Papa Dibyo tahun ini 45 tahun." jawab Leo dengan malas.
"Yang aku tau Bapak dan Ibu menikah muda. Mereka enggak lanjut kuliah dan bertani. Bagaimana dengan Papa Dibyo?"
"Kamu ngapain sih nanya kayak gituan? Ini tentang Mama yang kemungkinan hamil, May!" protes Leo.
"Aku tuh lagi hitung-hitungan, Sayang. Kakanda itu sebaya sama Kak Rian. Paling beda setahun. Lebih tua Kak Rian kayaknya. Kalau Papa Dibyo kuliah lalu menikah pas berarti."
"Ya Papa kuliah lah. Gimana mau memimpin perusahaan kalau enggak kuliah? Papa dan Mama menikah setelah Papa lulus kuliah. Hmm... 3 tahun setelah Bapak dan Ibu menikah, Papa dan Mama menikah. Mama dan Papa usianya sebaya, beda beberapa bulan saja. Tapi apa mungkin umur 44 tahun masih hamil May?" Lo akhirnya ikut hitung-hitungan, sama denganku.
"Hmm... Masih mungkin sih walau sedikit beresiko. Toh yang umur 70 tahun saja masih bisa hamil kalau Allah sudah berkehendak."
Aku pernah membaca sebuah berita. Ada seorang nenek-nenek berumur 70 tahun diberitakan hamil. Tak ada yang tak mungkin jika Allah berkehendak.
Leo kembali mengusap wajahnya. Sepertinya sulit menerima keadaannya saat ini.
"Sudahlah. Ini namanya takdir. Rejeki dari Allah. Terima saja." aku membesarkan hati Leo. Menepuk pelan punggungnya seraya memberikan dukungan.
"Tapi May... Masa sih... Aku akan punya adik di usia 24 tahun?" tanya Leo tak percaya.
"Kalau kamu 24, aku 25 tahun. Lebih tua siapa?" Richard yang baru datang ikut menyahut. Menimpali omongan Leo.
Tanpa permisi Richard duduk di gazebo. Menatap kosong ke arah kolam renang yang airnya terlihat jernih sehabis dibersihkan.
"Masa sih anakku sebaya dengan adikku?" Leo bicara dengan dirinya sendiri.
"Kayak judul sinetron: Anakku sepantaran dengan adik bungsuku dikarenakan saat istriku hamil ibuku juga ikutan hamil. Menyedihkan." celetuk Kakanda seenaknya.
Mendengar celetukan Kakanda aku tak bisa menahan tawaku. Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Breng sek kamu, Cat! Itu adik kamu juga! Kalau kamu punya pacar gimana ngenalinnya? Kenalin ini adik aku. Hah? Kamu punya adik bayi? Itu adik tiri apa adik kandung? Papa kamu nikah lagi?" gantian Leo yang meledek Richard.
"Sial an! Kenapa kita mendukung Papa rujuk sama Mama ya kalau akhirnya cuma bikin kita susah begini...." ratap Richard.
Baik Richard dan Leo sama-sama menatap kosong ke arah kolam renang. Kompak sekali. Sama-sama nelangsa. Berita Mama hamil bukanlah berita bahagia buat mereka.
"Sudahlah. Kalian berdua bersyukur. Anggota keluarga kalian bertambah lagi. Nikmatin aja. Syukuri. Toh ini belum pasti. Siapa tau ternyata alasan Mama belum menstruasi karena mau menopause. Mama belum periksa. Kita tunggu hasilnya besok." aku membesarkan hati mereka berdua. Rejeki kok ditolak.
"Eh iya juga sih Le. Bener tuh kata Maya. Bisa aja Mama bukannya hamil melainkan menopause. Betul betul itu." Kakanda kembali bersemangat. Harapannya timbul meski hanya sedikit.
"Tapi kalau beneran hamil gimana?" rupanya Leo sudah hopeless. Tak berefek harapan sedikit itu baginya.
"Ya... Pasrah!"
Richard dan Leo menghel nafas berat. Kompak. Kembali mereka menatap kosong ke kolam renang. Sampai suara Papa memanggilku.
"Maya! May!" suara teriakan Papa memanggilku
"Iya, Pa." aku berjalan menghampiri Papa. "Kenapa, Pa?" tanyaku setelah berada di sebelah Papa.
__ADS_1
"Mama mau asinannya. Boleh Papa minta? Nanti Papa ganti."
Masalah asinan toh. Kirain ada apa.
"Enggak usah diganti, Pa. Maya beli kan buat dimakan semuanya. Sebentar ya Maya siapin dulu. Papa tungguin Mama aja dulu ya." aku pun beranjak ke dapur.
Kuambil mangkuk agak besar lalu kutuang asinan dan kerupuk kuning lalu kusiram bumbu kacang diatasnya. Kelihatan segar sekali. Aku sampai menelan ludah dibuatnya.
Hmm... Kayaknya aku mau ikutan makan asinan ah. Aku lalu menuangkan sebungkus lagi asinan ke dalam mangkuk. Untung saja mangkuk yang kugunakan cukup besar untuk menampung dua porsi asinan buah.
"Bibi bantuin Neng." Bibi menawarkan bantuannya padaku.
"Boleh, Bi. Ada mangkuk kecil dan sendok sekitar 4 buah tidak Bi? Toolong bawakan ya Bi." Ibu selalu mengajarkan untuk menyisipkan kata tolong jika aku meminta bantuan orang lain. Siapapun orangnya, bahkan asisten rumah tangga sekalipun. Ibu bilang sopan santun tak mengenal siapa saja. Itu hal dasar yang harus aku ketahui dan pahami.
"Ada, Neng. Bibi ambilkan dulu ya Neng."
"Nanti langsung bawa ke ruang TV aja ya Bi. Aku bawain asinannya duluan."
"Baik, Neng."
Aku mengangkat mangkuk dan sendok besar lalu membawanya ke ruang TV. Terlihat Papa sedang menggantikan pekerjaan yang tadi Kakanda lakukan yakni memijat kaki Mama.
Sejak tahu kalau Mama akan konsul ke dokter kandungan rupanya Kakanda tidak melanjutkan kegiatannya memijat Mama. Mungkin masih belum terima keadaan. Masih shock.
"Masih pusing Ma?" aku meletakkan asinan yang kubawa di meja dekat Mama.
Mama langsung duduk dan menatap asinan yang kubawa seperti singa yang menatap rusa saat kelaparan. Siap menyergap.
"Tunggu Bibi bawakan piringnya dulu ya Ma." aku meminta Mama sedikit bersabar meski kulihat beberapa kali Mama menahan salivanya.
"Iya, May. Seger banget kayaknya ya."
"Sebaiknya makan dulu, Ma. Sejak tadi Mama muntah melulu. Perutnya belum diisi makanan. Nanti malah sakit maag. Yang dimakan kan sayuran mentah semua. Mengandung banyak gas didalamnya. Bukannya hilang mualnya nanti malah perih gimana?" bak induk yang menjaga anaknya, perlakuan Papa terhadap Mama over protective.
"Mama enggak nafsu makan, Pa. Mual. Daripada Mama paksa makan ujung-ujungnya dimuntahin lagi? Mubazir kan?" bisa saja Mama memberi alasan.
"Mereka? Leo dan Kakanda maksud Mama?" Bibi datang membawakan mangkuk dan sendok pesananku.
Aku menuangkan asinan ke mangkuk yang disediakan Bibi. Memberikan pada Mama terlebih dahulu sebelum menuangkan yang baru untuk Papa. Kasihan Mama sudah sangat ngiler ingin makan asinan.
"Iya. Mereka kemana May?" Mama menerima asinan yang kuberikan dan langsung memakannya. Wajahnya terlihat senang sekali memakan asinan. "Enak banget. Segar."
"Iya tapi jangan terlalu banyak, Ma. Inget kesehatan." ujar Papa seraya menerima mangkuk asinan yang kuberikan.
Aku menuangkan asinan untukku dan ikut mencicipinya. Benar kata Mama. Segar rasanya Perpaduan rasa pedas dan asam dicampur sayuran yang dimakannya kriuk-kriuk menambah nikmat rasa asinan ini. Apalagi ada kerupuk kuning dan kacang tanah, wah ajib deh.
"Leo sama Kakanda lagi ngobrol di gazebo, Ma."
"Ngomongin tentang rencana Mama mau konsul ke dokter kandungan ya May?" Mama pasti sudah menduganya. Tak ada yang bisa kututupi lagi. Jujur lebih baik.
"Iya, Ma."
"Pasti mereka enggak mau ya punya adik di usia mereka saat ini. Menurut kamu gimana May?"
"Gimana apanya Ma?"
Mama menghela nafasnya. "Gimana kalau Mama beneran hamil May?"
"Loh memangnya kenapa Ma? Hamil kan artinya dikasih rejeki sama Allah." Aku menambahkan lagi kuah asinan dan membasahi kerupuk yang kubeli secara terpisah. Enak banget rasanya kerupuk dicelup kuah asinan. Segar....
"Di usia Mama kayak sekarang mah lebih cocok momong cucu May. Bukan momong anak. Mama lebih cocok jadi nenek sekarang, bukan mama tua lawannya mama muda."
Ternyata bukan hanya Leo dan Kakanda yang mengkhawatirkan kalau Mama hamil. Mama juga mengalaminya.
__ADS_1
Kalau dipikir-pikir tekanan yang dialami oleh Mama lebih berat bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Leo dan Richard. Mama harus menghadapi pergolakan anaknya yang sudah dewasa bahkan sudah menikah. Lalu menghadapi teman-temannya yang bisa dipastikan akan mencibirnya di belakang.
Mama juga harus menghadapi keluarga besannya. Kalau keluargaku sih no problemo karena memang mereka berteman akrab. Kalau keluarga calon besan dari Kakanda gimana?
Mama juga harus menghadapiku. Kalau memang Mama benar hamil, maka anaknya akan seusia dengan cucunya. Bisa juga disebut 'cunak' alias cucu anak.
Belum lagi menghadapi masalah besar yakni hamil di usia tak lagi muda. Resiko besar dihadapi. Ada pula anak yang dilahirkan dari ibu yang berusia diatas 40 tahun yang mengalami masalah kesehatan.
Rasanya tak tepat menghakimi Mama seorang diri. Dan aku tadi tanpa sengaja melakukannya. Aku jadi menyesal dibuatnya.
Yang bisa aku lakukan saat ini adalah memberikan Mama dukungan. Sebagai menantu, aku juga adalah anak Mama. Hubungan aku dan Leo saja Mama dukung, kenapa kehamilannya kali ini harus aku tentang?
"Ma, jangan mikirin apa pendapat orang. Ini rejeki, Ma. Inget enggak Maya pernah kehilangan Adam? Rasanya tuh kayak separuh jiwa Maya pergi. Terpotek dan menyisakan ruang kosong di hati. Banyak wanita seperti Maya di luar sana. Ada yang kehilangan buah hati dan banyak yang masih mengharapkan dikasih kehamilan seperti yang Mama alami saat ini,"
"Hamil bukan musibah, Ma. Tapi rejeki. Mama harusnya lebih memikirkan kesehatan Mama dibanding pendapat orang lain. Karena orang bisa berpendapat seenak udelnya sendiri, tetap saja yang menjalaninya Mama. Biar saja. Angkat wajah Mama dan katakan dengan penuh kebanggaan, 'ini anak saya!'." kataku sambil membusungkan dadaku.
Mama dan Papa tersenyum melihat ulahku. Ternyata ada dua tawa lagi di belakang punggungku. Leo dan Richard sudah selesai berdiskusi dan kembali bergabung ke ruang TV bersama Mama dan Papa.
Leo duduk di samping Mama dan memijat bahu Mama. Membuat Mama tersenyum senang dibuatnya.
"Benar yang Maya bilang, Ma. Biar bagaimanapun kalau Mama hamil, itu adalah adikku dan Richard. Jangan terlalu memikirkan apa perkataan orang. Yang penting Mama sehat." kata Leo dengan bijak. Rupanya mereka memutuskan menerima jika ternyata mereka akan memiliki adik di usia sekarang.
"Nanti Richard temenin dan omelin kalau ada teman Mama yang ngomongin Mama di belakang." ah Kakanda so sweet banget sih. Bukan sekedar kata-kata semata namun janji untuk melindungi Mama tersayang.
****
Hari ini baik aku, Leo maupun Richard tak bisa fokus sepenuhnya dalam bekerja. Semua memikirkan Mama.
Sebenarnya kami semua ingin menemani Mama check up ke dokter kandungan, namun Mama melarang. Mama beralasan kalau Ia merasa malu jika kami beramai-ramai menunggui Mama check up. Malah akan menyita perhatian pasien lain.
Kami pun menyerah dan kembali bekerja seperti biasa. Namun ada satu yang sejak tadi kami tunggu. Kepastian apakah Mama hamil atau memang mendekati masa menopause.
Leo bahkan beberapa kali bolak balik ruanganku hanya sekedar menanyakan apakah aku sudah mendapat kabar atau belum. Kehadirannya membuat bagianku tegang. Mr. So yang terkenal tegas seperti sedang memantau langsung, padahal sedang menanti kabar Mama saja.
"Masih belum ada kabar Sayang?" lagi-lagi Leo tiba-tiba menampakkan batang hidungnya di depan ruanganku. Membuat yang lain menahan nafas saja.
"Belum. Kamu telepon saja enggak usah bolak-balik. Memangnya enggak capek apa?" tanyaku mewakili kecemasan rekan seruanganku yang tak nyaman melihat Leo bolak-balik terus.
"Enggak. Sekalian ngeliatin kamu. Aku enggak pernah bosen kan melihat kamu. Yaudah nanti kabarin ya kalau udah ada kabar. Sarangeyo." dan ini yang membuat rekan kerjaku yang lain makin enggak nyaman. Mr.So yang lebayyyyy.... Enggak pantes kayaknya.
Rupanya baik Mama maupun Papa merahasiakan hasil check up hari ini. Tak ada diantara aku, Leo dan Richard yang diberitahu apa hasilnya. Sepertinya mereka menunggu kami semua pulang baru memberitahukan secara langsung.
Jam 5 teng kami bertiga pulang. Secepat mungkin untuk sampai ke rumah. Tak peduli macet pokoknya harus cepat sampai rumah.
Dan benar saja saat kami pulang ke rumah Mama dan Papa sudah menunggu kedatangan kami.
"Gimana Ma hasilnya?" tanya Leo yang pertama kali.
"Mama beneran hamil?" Richard pun ikut bertanya.
Karena semua pertanyaan yang ingin kuajukan sudah ditanyakan maka aku diam saja menunggu jawaban Mama.
Mama tersenyum lalu mengeluarkan selembar kertas. Aku tahu kertas apa itu karena baru dua hari lalu aku print saat konsul bersama Duo Julid. Kertas print hasil USG.
"Mama hamil! Selamat kalian akan segera punya adik!"
Deg... Berita yang sudah kuantisipasi tapi tetas saja mengagetkan.
Kakanda malah sampai terduduk di lantai saking tak kuat menahan kakinya yang lemas. "Huft... Selamat Ma. Aku punya adik lagi...."
"Iya, aku juga batal jadi anak bungsu." jawab Leo lemas.
"Yey!!! Aku ada teman hamil. Yey!!!" hanya aku yang kegirangan merasa ada teman senasib sepenanggungan. Aku memeluk Mama penuh cinta. "Selamat ya Ma...."
__ADS_1
****
Ayo senin terakhir sebelum novel ini mau ending Aku minta vote, like dan komen yang banyak ya. Makasih semuanya... 😍😍😘😘😘