Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Home Sweet Home


__ADS_3

Mobil Kak Rian memasuki pekarangan rumah Bapak. Rumah dengan pemandangan alam paling menyegarkan layaknya tinggal di Villa.


Aku menghirup udara segar sepuas-puasnya. Segar. Langsung mengisi paru-paruku dengan udara yang masih bersih dan menyehatkan tentunya.


Tinggal di Jakarta dengan kepulan asap kendaraan yang pekat belum lagi rokok dan vape yang katanya aman namun tetap saja udaranya tidak sehat.


Baru saja aku turun dari mobil, Ibu sudah menyambut kedatanganku. Ia berjalan cepat ke depan dengan senyum dan tangan terbuka.


"Maya! Rian!" pekiknya riang.


"Diam disana saja Bu. Maya yang datang kesana. Nanti jatuh kalau Ibu jalan cepat-cepat begitu." aku langsung menghampiri Ibu dan memeluknya erat.


Wangi asap di baju Ibu justru malah membuatku memeluknya makin erat. Kangen. Pasti bau asap ini karena Ibu habis memasak untukku dan Kak Rian.


"Maya kangen sama Ibu."


"Ibu juga kangen sama Maya." peluk ibu sambil menepuk-nepuk punggungku.


"Udah-udah. Gantian!" seru Kak Rian yang datang membawakan tasku yang kutinggal di dalam mobil.


Kak Rian memeluk Ibu setelah aku melepaskan pelukannya. "Ibu sehat?" tanya Kak Rian setelah melepaskan pelukan Ibu.


"Sehat. Kalian juga sehat kan?" ujar Ibu dengan matanya yang mulai berkaca-kaca karena melihat anak-anaknya kumpul bersama.


"Sehat Bu. Ibu tenang saja. Jangan mengkhawatirkan kami berdua. Kami bisa menjaga diri kok meskipun merantau di Jakarta sana." ujar Kak Rian menenangkan Ibu.


"Bapak mana Bu?" pertanyaan yang seharusnya tak perlu kutanyakan karena Bapak pasti di kebun mengawasi pekerjanya bersama Kak Anton atau sedang membeli keperluan kebun.


"Bapak lagi beli pupuk sama Kakak kamu. Ayo masuk Ibu sudah masakkan kesukaan kamu, pepes ikan mas. Ada pepes telur ikannya juga loh. Ibu pakaikan daun kemangi yang banyak biar harum." mendengar kata pepes ikan membuat air liurku hampir menetes dan perutku yang memang belum sarapan langsung minta diisi.


"Mau! Maya langsung laper nih!" kataku dengan suara manja yang hanya aku khususkan pada Ibi saja.


"Yaudah ayo cuci tangan. Ibu siapkan dulu makanan buat kalian ya." Ibu menggiring kami ke dalam rumah.


Aku menuju kamar mandi dan mencuci tanganku. Kak Rian pun mengikutiku.


"Jangan bilang sana Ibu sekarang. Lihat sikon. Ibu lagi bahagia banget. Jangan rusak dengan air mata." ujar Kak Rian dengan suara berbisik.


"Iya." Aku menurut saja perkataan Kak Rian. Ia pasti punya pemikiran sendiri.


Aku dan Kak Rian menuju meja makan. Sudah terhidang banyak makanan disana. Masakan khas Ibu.


Wanginya saja sudah menggugah seleraku. Ibu sudah menyendokkan nasi dan lauk ke piringku. Lalu menghidangkannya di mejaku.


Aku langsung makan tanpa disuruh. Terbiasa makanan warteg eh tiba-tiba makan masakan Ibu rasanya amat berbeda. Nikmat tiada tara.


Selesai makan aku dan Ibu duduk-duduk di halaman depan rumah. Menikmati indahnya pemandangan perkebunan hasil kerja keras Bapak.


"Cabe Bapak tumbuh subur. Panen kali ini bakalan melimpah. Doakan saja ya." ujar Ibu.


"Iya Bu. Pasti Maya doakan." Aku mengambil tas yang aku bawa dan mengeluarkan oleh-oleh yang semalam sempat aku beli sepulang kerja. Bukan di mall melainkan di pasar malam dekat rumah kontrakkanku yang lama.


Sebuah daster. Hadiah pertama yang kubeli pakai uang hasil kerja kerasku.


"Ini buat Ibu. Maya beli 7. Biar setiap hari Ibu pakai daster dengan warna yang berbeda." aku tersenyum bangga dengan hadiah pemberianku.


"Beli daster kok banyak banget May? Beli emas kek!" sindir Kak Rian.


"Loh salahnya dimana? Dasternya bagus. Kata abangnya yang jual dasternya enggak luntur. Merk Kencana Biru. Nanti ya Bu, Maya akan belikan yang lebih mahal lagi."


"Tidak usah. Ini saja Ibu sudah senang. Kamu inget sama Ibu sudah merupakan hadiah terindah yang Ibu terima." ujar Ibu sambil mencubit ujung hidungku.


"Ah... Ibu. Maya mah selalu inget sama Ibu dong!" kataku sambil menggelayut manja di tangan Ibu.


"Bukannya mikirin Leo terus?" pertanyaan Ibu membuat aku melepaskan pelukanku dan menatap Ibu seperti habis ketahuan mencuri mangga di kebun tetangga.


"Kamu udah cerita sama Ibu, May? Kakak kan bilang nanti saja!" omel Kak Rian.

__ADS_1


"Maya lupa kalau Maya pernah cerita sama Ibu kalau Maya satu kantor sama Leo." jawabku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal tersebut.


"Kamu satu kantor? Loh bukannya Leo harus terus menyamar?" tanya Kak Rian bingung.


"Enggak Kak. Justru Dia lagi menyamar untuk memantau perusahaan langsung." kataku menjelaskan.


"Oooh... Masuk akal sih." kata Kak Rian.


"Kalian membicarakan apa sih? Ibu enggak ngerti. Ibu saja masih menunggu penjelasan kamu May kenapa bisa satu kantor lagi dengan Leo?" tanya Ibu bingung.


"Maya juga enggak tau Bu. Maya kaget ternyata Leo satu kantor dan satu ruangan sama Maya."


"Pasti itu akal-akalan Leo, May. Dia sudah setting semuanya. Dia kan punya kekuasaan melakukannya." kata Kak Rian penuh curiga.


"Kok bisa Leo yang berkuasa?" tanya Ibu yang semakin bingung.


"Leo enggak ngurusin masalah receh kayak gitu Kak. Leo udah cukup sibuk dengan masalah manajemen dan investor. Setiap hari saja istirahatnya kurang karena double job."


"Ah kamu membela Leo saja! Sudah cinta mati kamu sama Leo!" sindir Kak Rian.


"Ini kalian membicarakan apa sih? Ibu kok enggak diajak! Ibu makin pusing nih mendengarkan percakapan kalian!" akhirnya Ibu mengajukan protes.


Aku tersenyum mendengar Ibu yang penyabar ternyata bisa kepo akut juga.


Aku pun mulai menceritakan bagaimana keadaan Leo. Dari sudut pandang Leo tentunya. Bagaimana Leo mengurus Papa, perusahaan, Mama dan Kakaknya sampai tidak tahu kalau anaknya sendiri meninggal.


Sesekali Ibu mengusap air mata yang menetes di pipinya. Ia mengusap-usap lembut rambutku. Menatapku dengan pandangan mengasihani nasibku yang malang.


"Kamu sendiri gimana perasaan kamu terhadap Leo? Kamu masih suka sama Leo?" tanya Ibu setelah aku selesai bercerita.


"Enggak usah ditanya, Bu. Maya selama ini dideketin sama Angga tapi enggak pernah melirik Angga sama sekali. Eh giliran digombalin receh sama Leo langsung klepek-klepek." ledek Kak Rian lagi.


"Ih rese banget!" kataku sambil memukul bahu Kak Rian pelan.


"Sudah... Sudah. Jangan bertengkar terus."


"Kak Rian nih Bu, rese! Makanya jangan kelamaan jomblo! Udah sama Adel aja. Aku jodohin sama Adel nanti. Mau?"


"Ih jahat banget ngomongnya! Adel itu baik tau. Cantik juga. Aku enggak masalah kalau Adel jadi kakak ipar aku."


"Kok malah membahas perjodohan Kakak kamu sih May? Kita balik lagi ke masalah kamu. Angga lalu mau dikemanain? Angga udah setia loh nemenin kamu selama kuliah di Bandung!" omel Ibu.


Percakapan kami pun beralih ke masalah pribadiku lagi. (Cerita Adel dan Kak Rian mau dibuatkan novelnya juga enggak nih? Jawab di komentar ya).


"Maya males membahas Angga, Bu. Bikin mood Maya jadi jelek!" kataku sambil memanyunkan bibirku.


"Loh kamu berantem sama Angga? Kenapa? Biasanya juga kayak upil sama tembok, nempel terus!" ledek Kak Rian lagi.


"Ih Kakak jorok banget perumpamaannya!" omelku. Sementara Ibu hanya geleng-geleng kepala dengan ulah anak-anaknya yang sudah dewasa tapi masih sering ledek-ledekkan kayak anak kecil saja.


"Ya kalian kenapa bertengkar? Kirain kalian malah mau menikah saking dekatnya." Kak Rian mengambil sirup yang Ibu buatkan lalu mulai meminumnya. Membasahi tenggorokannya yang kering kebanyakan meledekku.


"Karena Maya enggak suka sama keluarga Angga!" jawabku jujur.


"Kenapa enggak suka? Mereka katanya keluarga terpandang dan salah satu orang terkaya di daerah kontrakkan kamu. Apa masalahnya?" tanya Kak Angga yang sudah menaruh gelasnya kembali di meja makan.


Aku tidak menjawab. Takut menyakiti hati Ibu. Namun seorang Ibu pasti mengerti anaknya melebihi siapapun.


"Mereka mempermasalahkan status kamu yang seorang janda?" tebak Ibu langsung tepat sasaran.


Aku mengangguk. "Iya."


"Apa mereka menyakiti kamu?" Kak Rian langsung duduk tegak dan menginterogasiku. Naluri seorang kakak yang harus melindungi adiknya pun bangkit.


Aku mengangguk lagi. "Hanya perkataannya saja sih Kak. Dan itu sakit banget."


"Dibilang apa saja kamu?" tanya Ibu yang juga mulai tidak terima putri kesayangannya dihina orang lain.

__ADS_1


"Maya males menceritakannya saking terlalu sakit. Yang Maya ingat adalah perkataan Mamanya Angga yang bilang kalau Maya seharusnya bersyukur kehilangan Adam, jadi Maya bisa melanjutkan kuliah lagi dan punya pekerjaan seperti sekarang." air mataku mulai menggenang lagi. Selalu saja tiap mengingat perkataan itu hatiku sakit dan mataku memanas.


"Kok bisa setega itu sih jadi perempuan? Kehilangan anak loh ini bukan kehilangan kucing peliharaan! Kalo ketemu pengen ibu bejek mulutnya pakai ulekkan!" Ibu yang biasanya sabar pun akan murka melihat anak perempuan kesayangannya disakiti sedemikian rupa.


"Angganya gimana? Ngebelain kamu dong pastinya?!" tanya Kak Rian.


Aku menggelengkan kepalaku. "Angga tidak bisa melawan Mamanya. Maya seorang diri menghadapi Mamanya Angga yang bermulut kejam itu. Belum lagi Papanya yang kecentilan pake kelitikin tangan Maya saat berkenalan. Ih Maya makin kesal kalau mengingat keluarganya Angga."


"Terus kamu langsung mutusin hubungan kamu sama Angga gitu?" tanya Kak Rian memastikan.


"Memang apa yang diputusin Kak? Sejak awal Maya sama Angga cuma temenan aja kok." jawabku sejujurnya.


"Loh kalau cuma temenan aja kenapa kamu mau saat dikenalkan dengan keluarganya Angga?" tanya Kak Rian sambil mengacak-acak rambutnya.


"Ya Maya kasihan aja soalnya Angga ngajakin Maya untuk ke rumahnya dan maksa buat ngenalin ke orang tuanya. Yaudah Maya ikut aja." jawabku tanpa dosa.


Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataanku. Ia malah sampai mengusap usap dadanya seakan menenangkan diri.


"Kenapa kamu mau May? Kalau tanpa status terus mengenalkan ke orang tua tuh ibaratnya Angga lagi cek ombak. Mau tau apakah kamu disetujui atau tidak dengan orang tuanya. Semacam ngetes gitu. Ih kamu mau aja digituin. Lebih baik Leo yang enggak ngenalin kamu ke orang tuanya karena takut kamu disakitin. Ini dikenalin cuma buat cek ombak aja. Kakak juga jadi kesel dibuatnya!"


"Iya ya? Ah bodo ah. Toh Maya udah enggak mau lagi sama Angga." aku enggak ngerti maksud cek ombak apa.


"Nih Bu. Putri kesayangan Ibu, masih aja oon kayak biasanya." niatnya Kak Rian mendapat dukungan eh malah diomelin Ibu.


"Hush! Kamu tuh ngatain adik kamu seenaknya aja. Maya tuh pintar. Nilai kuliahnya saja bagus dan tinggi. Enak aja ngatain Maya Oon!" omel Ibu sambil menjewer telinga Kak Rian.


"Aw... aw... Ampun Bu." Ibu melepaskan tangannya dari telinga Kak Rian. Kak Rian memegang telinganya yang memerah dan terasa panas tersebut.


"Ibu juga kurang setuju kalau kamu akan mempunyai mertua seperti itu. Makan hati tau enggak May!"


"Kalau sama Leo gimana Bu?" tanyaku.


"Lihat kan Bu? Di otaknya Maya cuma ada Leo...Leo... dan Leo aja!" gerutu Kak Rian.


"Ibu enggak yakin Bapak akan menerima Leo. Dulu saja Bapak sangat keras dengan Leo apalagi sekarang?" kata Ibu.


"Maya juga enggak yakin Bu. Habis gimana dong Bu? Maya cuma nyaman sama Leo. Leo sayang sama Maya." kataku sambil memainkan ujung bajuku.


"Anak bocah kenal sayang-sayangan. Awas ya ntar bunting lagi! Kakak enggak mau nikahin kamu kedua kali sama Leo! Pokoknya kalau mau nikah sama Leo biar Bapak yang nikahin kalian!" ancam Kak Rian.


"Ih Kakak mah begitu! Enggak mau nolongin adiknya!" rengekku.


"Apa yang Kakak kamu bilang benar May. Kalau Leo memang mau rujuk sama kamu lagi, minta sama Leo untuk meminta kamu secara baik-baik sama Bapak. Jangan pakai cara kayak dulu. Seenaknya hamilin anak orang!" Ibu membela Kak Rian.


"Iya... iya... Nanti aku bilangin sama Leo. Tapi Ibu jangan bilang sama Bapak dulu ya. Setelah Maya berhasil boyong Leo kesini baru bantuin Maya sama Leo mendapatkan restu Bapak." aku mulao bergelayut manja lagi di tangan Ibu.


"Iya."


*****


Minggu malam aku sudah sampai di kontrakkanku. Hanya semalam menginap di rumah Ibu sudah menambah stok semangat di dalam dadaku.


Rumah kontrakkanku terlihat gelap. Aku lupa menyalakan lampu depan. Aku langsung masuk dan mengunci pintu.


*****


Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan siap untuk berangkat kerja. Kali ini ada Angga yang menungguku di depan rumah.


Huft... Pagi-pagi sudah ada cobaan saja.


"May. Aku mau bicara sama kamu." ucap Angga seraya memegang pergelangan tangaku.


Aku menepis tangannya. "Mau ngomong apa? Jangan lama-lama nanti aku telat!"


"Mengenai Mama aku. Aku mau minta maaf May. Aku tau perkataan Mama aku salah. Perkataan Mama aku udah nyakitin hati kamu. Aku benar-benar menyesal sebagai anaknya tak bisa berbuat apapun. Kalau kamu mau memberi aku kesempatan sekali saja, aku akan memperbaikinya."


Aku terdiam untuk menyusun kata-kata. Aku tau akan menyakitkan Angga tapi kalau aku terus diam maka aku akan lebih menyakiti Angga nantinya.

__ADS_1


"Maaf Angga. Sejak awal aku enggak pernah memberi kamu kesempatan. Aku menganggap kamu sahabat terbaikku. Tak ada yang bisa kutawarkan selain persahabatan. Apa kamu mau?"


****


__ADS_2