Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mama Angga-2


__ADS_3

Pedas....


Kata-kata yang diucapkan oleh Mama Angga adalah kata-kata yang paling pedas yang aku dengar hari ini. Rasanya melebihi pedasnya Boncabe level 20 atau melebihi Richeese Factory level 10.


Perkataan yang pedas dan amat nyelekit tersebut langsung tertanam di dalam dada membuat hatiku amat sakit bagai tertusuk sembilu.


"Ma!" Angga mulai memperingati Mamanya agar tidak berkata yang akan menyakiti hatiku.


Namun Mamanya Angga sepertinya senang melakukannya. Aku sempat melihat seulas senyum kecil tersungging kala melihat wajahku yang memerah menahan amarah.


"Loh memangnya perkataan Mama ada yang salah? Mama kan benar enggak mau ada kejadian seperti itu di keluarga kita. Itu kan salah satu bentuk doa... Angga, bukan Mama berkata dengan maksud lain."


Mama Angga mulai memutar balikan fakta. Menganggap perbuatannya tadi tidak menyakitkan hati dan berperan sebagai korban.


"Tapi Ma-" Mama Angga memotong ucapan Angga sebelum Ia berbicara panjang lebar.


"Udah ah kamu jangan gangguin Mama sama siapa tadi namanya... Ma..ya, iya Maya lagi ngobrol. Kamu diam aja. Laki-laki enggak usah kebanyakan ikut campur!"


Ini yang aku nggak suka dari Angga. Hanya diam saja ketika disuruh oleh Mamanya. Bukan Aku menginginkan Angga menjadi anak yang membangkang terhadap orang tua, tapi setidaknya bantulah aku untuk lepas dari situasi yang tak mengenakkan ini.


"Saat bercerai dulu, kamu ada nuntut harta gono-gini apa nggak?"


Aku menggelengkan kepalaku. Apa yang mau dituntut? Aku kan sama Leo saat itu bener-bener kere. Mana punya harta yang bisa dituntut?


"Enggak ada Tante."


"Kenapa? Karena mantan suami kamu miskin ya? Kalau kamu dapat suami kaya pasti kamu akan nuntut harta gono gini kan?" ucapan Mamanya Angga semakin pedas saja.


Sebenarnya aku mau pergi dari rumah Angga, tapi aku nggak mau terlihat begitu lemah di mata Mamanya. Aku mau menunjukkan kalau aku adalah wanita yang tegar dan kuat.


"Aku sama mantan suami aku saat itu masih sama-sama kuliah Tante. Belum ada harta diantara kami. Dan aku juga nggak mengharapkan untuk pembagian harta gono gini. Aku nggak akan mengambil sesuatu yang bukan hak-ku." Angga mendengar jawabanku dan tersenyum memberi dukungan.


Tapi ternyata aku salah langkah. Aku menggunakan pion yang salah alias jawaban yang tidak tepat. Karena ketidaktepatan itulah Mama Angga melihat celah untuk menyindir aku lebih pedas lagi.


"Masih kuliah udah nikah? Kenapa? Tekdung alias hamil duluan?" Mama Angga seperti mendapat jackpot. Matanya terlihat berbinar dan tak sabar menanti jawabanku.


"Iya." jawabku lemah.


Aku yakin kalau kali ini aku sudah kalah. Kalah langkah jadi salah jawab juga.


"Wah... Pergaulan kamu berarti waktu kuliah dulu bebas ya? Apa karena nggak ada orang tua kamu yang mendampingi jadi kamu bisa seenaknya saja? Sekarang masih enggak kamu bebas kayak dulu? Biasanya susah loh lepas dari pergaulan bebas."


Mendengar perkataan Mama Angga yang semakin menusuk hati lama kelamaan membuat mataku mulai memanas. Aku terus menahan nya agar jangan sampai air mata itu turun dan membuat Mama Angga merasa menang.


"Ini murni kesalahan saya Tante. Bukan karena orang tua saya tidak bisa mengawasi. Dan saya udah enggak pernah lagi seperti itu." biarlah hanya namaku saja yang jelek, asal nama bapak dan ibu tetap harum.


"Wah bagus itu. Memang harus menghindar dari hal-hal seperti itu. Contohnya anak Tante ini. Angga itu pintar, berasal dari keluarga berada, sudah memimpin perusahaan pasti banyak gadis yang suka. Apalagi selama ini Angga hidupnya bener. Enggak pernah tuh terlibat dengan pergaulan bebas seperti itu,"


"Tapi kasihan kan May kalau anak Tante yang baik ini harus terpengaruh dengan kamu yang pernah terlibat dalam pergaulan bebas? Takutnya Angga itu jadi ikut-ikutan. Tante sih enggak bisa melarang, sekarang Angga udah besar. Tapi Tante sebagai seorang ibu hanya bisa melindungi anaknya. Kamu ngerti kan maksud Tante?"


Aku hanya bisa mengangguk dan secepatnya menghapus air mataku yang berhasil lolos dari pelupuk mata. Sepertinya air mataku membawa suatu kebahagiaan bagi Mamanya Angga.


"Oh iya, ngomong-ngomong anak kamu sekarang udah berapa tahun?"


Ternyata penderitaanku belum selesai. Entah terbuat dari apa hati Mamanya Angga? Kenapa Ia bisa sekejam itu terhadapku?


"Aku... Aku keguguran, Tante. Aku kehilangan anakku sejak di kandungan." kali ini aku tidak bisa menahan air mataku yang sejak tadi memaksa untuk keluar.


Setetes.... Lalu setetes lagi... Aku tahan agar aku tidak sampai sesegukan.


"Sudahlah. Kamu seharusnya bersyukur kehilangan anak kamu. Kasihan kalau Ia lahir dari hubungan gelap. Setidaknya kamu sekarang bisa lanjut kuliah lagi dan memulai hidup kamu lagi kan?"


Aku hanya bisa mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Mama Angga lalu ceramah lagi serasa dirinya yang paling benar.

__ADS_1


"Contohlah saya dan suami saya yang sudah berumah tangga puluhan tahun dengan harmonis. Tak ada tuh yang namanya perceraian. Karena apa? Karena perceraian tuh kayak lingkaran setan. Jika ada yang bercerai maka anak atau cucunya biasanya akan mengalami hal yang sama. Menakutkan kan May?"


"Ma..." Angga hanya bisa terus menerus mengatakan Ma.... Ma... Ma... tanpa berani berkata lebih hanya untuk membelaku.


Dan aku hanya mengangguk tanpa membantah perkataan Mamanya Angga. Beberapa menit disana bagaikan beberapa menit di neraka. Aku ingin pulang.


Angga tidak membaca isyarat mataku yag sudah tidak betah berlama-lama di rumahnya. Ia masih sibuk membujuk Mamanya agar memperbaiki sikapnya padaku.


Tak lama terdengar suara mobil dan pintu ruang tamu pun terbuka. Mama Angga menyambut Papa Angga yang baru saja pulang. Wajahnya tersenyum dan memasang sikap manis. Sungguh berbeda dengan perlakuan Ia sebelumnya padaku.


"Itu siapa?" tanya Papa Angga menunjuk ke arahku.


"Oh hanya temannya Angga saja." jawab Mama Angga yang bahkan tak sudi mengenalkanku sebagai wanita yang telah anaknya pilih.


Papa Angga berjalan mendekatiku. Ia tersenyum hangat. Sangat berbeda dengan Mama Angga.


Tak terima melihat suaminya tersenyum ramah padaku, Mama Angga lalu membisikkan sesuatu ke telinga Papa Angga.


Papa Angga terlihat agak kaget sebentar tapi kemudian langsung bisa menguasai keadaan. Ia tetap berjalan menghampiriku yang kini sudah berdiri menyambut pemilik rumah dengan bersikap sopan.


"Papanya Angga." Papa Angga mengulurkan tangannya. Tidak mungkin kan kalau aku tidak menyambut uluran tangannya?


Dalam pikiranku, Papa Angga berbeda dibanding Mama Angga. Mungkinkah Papa Angga akan bersikap lebih baik dan ramah?


"Maya." jawabku sambil membalas uluran tangan Papa Angga.


Namun yang terjadi berikutnya membuatku kaget. Papa Angga menggelitik tanganku dengan jari telunjuknya. Hal yang biasanya dilakukan oleh Om-Om kecentilan.


Aku reflek melepaskan pegangan tanganku. Papa Angga tetap tersenyum padaku padahal istrinya di belakang memasang muka masam padaku.


"Sering-sering ya main ke sini. Angga belum pernah cerita loh kalau selama ini berteman dengan Maya." ujar Papa Angga dengan ramah.


Aku mengangguk tanpa sanggup berkata-kata lagi. Aku pun secepatnya menyadarkan diriku. Ini saat yang tepat untuk pergi dari rumah ini.


"Loh kok buru-buru sih?" tanya Papa Angga ramah. Aku tahu ramahnya Papa Angga pasti ada maksudnya.


"Udah sejak tadi Om disini. Aku pamit dulu soalnya besok harus masuk kerja. Permisi."


Aku pamit tanpa bersalaman lagi. Takut kalau Papa Angga akan menggelitiki tanganku lagi seperti tadi.


"Angga antar Maya dulu ya Ma, Pa." ujar Angga yang berjalan mengikutiku.


"Jalan kaki aja Ga. Jangan pakai mobil. Deket doang. Buang-buang bensin aja." teriak Mama Angga.


"Loh memangnya rumahnya deket Ma?" tanya Papa Angga yang masih bisa kudengar sebelum keluar dari rumah Angga.


Angga berlari kecil mengejar langkahku yang berjalan cepat. "May! Tunggu May!"


Tanpa memperlambat langkahku aku terus berjalan menyusuri jalan. Rumah kontrakkanku memang tidak terlalu jauh paling hanya 10 menit berjalan kaki santai dan 5 menit jika berlari.


"May! Tunggu May!" Angga yang sudah didekatku lalu menarik tangaku agar aku mau menghentikan langkahku.


"Kamu enggak usah antar aku, Ga. Aku berani kok pulang sendiri." Aku menepis pegangan tangan Angga dan mulai berjalan lagi.


"May, maafin Mama aku ya... Please.... Mama tuh terlalu protect karena aku hanya anak laki-laki satu-satunya. Jangan diambil hati ya perkatannya. Anggep aja Mama lagi ngetest kamu. Ya.... Jangan marah ya May...."


Mendengar perkataan Angga barusan malah membuat aku ingin meneriakkan sesuatu pada Angga. Aku ingin memaki-maki Mamanya yang sudah berbuat sedemikian kejam padaku. Aku bahkan mau memotong lidah Mama Angga yang sudah berkata tanpa dipikirkan terlebih dahulu.


Tapi aku tidak bisa melakukannya terhadap Angga. Ia sudah sangat baik padaku selama ini. Ia sudah terlalu banyak menolongku dan membelaku dalam keadaanku paling terpuruk. Angga nggak salah. Dia laki-laki baik.


Keluarga Angga berbeda jauh dengan keluarga Leo. keluarga Leo memang berantakan, tapi hubungan antara Leo dengan keluarganya begitu hangat dan akrab, menyiratkan adanya rasa kasih sayang di antara mereka.


Berbeda dengan keluarga Angga yang terlihat harmonis dari luar namun menyimpan banyak hal yang disembunyikan. Contohnya Papanya Angga yang sudah berlaku centil terhadapku. Sungguh Angga yang malang.

__ADS_1


"Kamu nggak usah nganterin aku Ga. Udah malam. Aku udah mau sampai rumah kok. Kamu pulang aja. Oh iya aku lupa, besok pagi kamu nggak usah jemput aku. Aku mau belajar naik Kopaja lagi."


"Loh memangnya kenapa? Aku kan terbiasa antar jemput kamu May. Kenapa kamu mau naik Kopaja lagi? Berarti kamu marah kan sama aku atas ucapan Mama barusan? Udah lah May, jangan diambil hati ucapan Mama aku. Namanya juga orang tua, iya-in aja."


Iya-in apa maksud kamu Ga? Iya-in saat dia bilang janda itu udah kayak kutukan? Iya-in kalau dia bilang aku harus bersyukur karena keguguran dan kehilangan Adam? Iya-in saat dia bilang aku anak yang tidak dididik baik dengan orang tua sehingga terjerumus dalam pergaulan bebas? Aku benar-benar marah dengan Angga hari ini. Kenapa sih Angga enggak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah?


"Aku mau belajar mandiri, Ga. Enggak mau tergantung terus sama kamu. Lagi juga kamu nanti bisa kena fitnah kalau terlalu dekat dengan janda kayak aku."


"May, kok kamu begitu sih? Kamu jangan under estimate kayak gitu. Selama ini kita dekat dan gak pernah ada masalah dengan status kamu May."


Aku kembali menghembuskan nafas untuk menenangkan emosi yang saat ini menguasai dadaku. Aku harus tenang dan berpikir jernih.


"Aku juga selama ini enggak mempermasalahkan status aku, Ga. Tapi perkataan Mama kamu yang membuat aku harus sadar dengan statusku. Jangan sampai membuatku lupa diri. Kamu benar Ga, perkataan Mama kamu adalah perkataan orang tua yang harus aku iya-in."


"May, please...."


Plas.... plis... plas.... plis.... prett ah. Tadi diem aja!


"Aku capek Ga. Mau istirahat, besok masuk kerja."


Aku meninggalkan Angga yang tak lagi menghentikan langkahku pulang. Aku terus berjalan menuju rumah kontrakkanku yang mungil.


Home sweet home. Rumah kecil yang bisa membuat aku bernafas lega. Bukan rumah mewah namun rasanya siap memangsaku hidup-hidup.


Aku melempar tasku di atas karpet. Kutaruh Hp diatas nakas lalu melemparkan tubuhku diatas kasur.


Maya.... Maya.... Sadar May! Anak petani kok bermimpi punya suami yang anak orang kaya!


Ternyata perkataan Leo tempo hari benar adanya. Belum tentu keluarga Angga bisa menerimaku. Tapi apakah keluarga Leo bisa menerimaku juga?


Bagaimana aku bisa melupakan traumaku akan pernikahan jika belum melangkah saja aku sudah dijegal dengan kenyataan kalau statusku ibarat aib?


Tanpa kusadari air mataku kembali mengalir. Rasanya amat sakit dihina seperti ini. Aku wanita baik-baik loh bukan seorang pela cur yang menjajakan tubuhnya hanya demi beberapa lembar uang.


Apa salah kalau aku seorang janda? Kenapa orang semudah itu menjudge status seseorang tanpa pernah memikirkan perasaan orang tersebut. Aku juga tidak pernah menginginkan berpisah dengan Leo.


Keadaan yang membuat aku dan Leo berpisah. Semua yang terjadi saat ini adalah buah dari kebodohanku dulu. Menyesal pun tak ada guna.


Ibu...


Pasti Ibu akan sakit hati melihat anaknya dihina seperti ini....


*****


Aku sampai kantor jam 8 kurang beberapa menit. Biasanya jam setengah 8 ini karena naik kopaja aku datangnya agak siang.


Aku berpapasan dengan Leo yang baru saja keluar dari tangga darurat. Aku sudah tidak menanyakan lagi apa yang Ia lakukan disana.


"Loh kok tumben datangnya jam segini? Kesiangan?" tanya Leo yang kini berjalan di sampingku menuju ruangan kami.


"Naik Kopaja. Macet."


"Kok enggak dianter sama Angga? Berantem?"


Leo kok gampang banget ya nanya mantan istrinya diantar laki-laki lain dan enggak terlihat cemburu sama sekali.


"Mau belajar naik Kopaja mulai sekarang."


"Kenapa? Udah enggak sama Angga lagi atau Angganya lagi keluar kota?"


Aku duduk di tempatku. Pandanganku menatap pintu yang baru saja Leo tutup.


"Kamu benar, janda sepertiku tak layak untuk siapapun."

__ADS_1


*****


__ADS_2