Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Ingin dekat dengan Duo Julid lagi


__ADS_3

Aku berangkat ke Jakarta menumpang mobil Angga. Kali ini aku yang menyetir. Udah lumayan jago aku sekarang nyetir mobilnya.


"May, pelan-pelan bawa mobilnya. Jangan ngebut." ujar Angga sambil berpegangan erat pada pegangan di pintu mobil.


"Santai aja kenapa sih, Ga. Ini enggak ngebut. Aku juga bawanya hati-hati kok." jawabku.


"Ya kalau hati-hati mah enggak kena lubang melulu!" omel Angga.


"Ih bawel ya. Nanti kalau kamu jadi Bapak rumah tangga bisa kebayang deh stressnya istri kamu tiap hari ngadepin kebawelan kamu!" kataku.


"Ya enggak bakalan stresslah. Kan udah terbiasa." jawab Angga.


"Enggak ada yang terbiasa kalau tau kamu yang keliatannya keren, pengusaha sukses, pengusaha muda tapi bawelnya setengah mati."


"Ya kamu udah terbiasa dan udah tau kan? Jadi kamu enggak akan stress nantinya." jawab Angga sambil nyengir kuda.


"Dih! Temenan sama kamu aja bikin stress apalagi jadi bini kamu, Ga. Gila duluan kali aku. Enggak usah nyengir-nyengir segala! Nyebelin tau!" omelku. Kami memang sudah biasa begini. Berantem, ledek-ledekkan dan kadang melancarkan rayuan gombal.


"Sotoy! Makanya jadi bini aku dulu baru kamu tau deh indahnya berumah-tangga sama aku. Mau apa juga aku kasih." gombal Angga.


"Prett! Kalau mau cerai juga kamu kasih? Ha...ha...ha..." kataku sambil tertawa puas.


"Ya jangan cere lah. Kamu sih gitu May. Belum ngejalanin udah ngomongin cerai melulu. Jalanin dulu, baru kamu tau gimana indahnya berumah tangga." kata Angga sok menasehati.


"Sotoy! Berumah-tangga itu enggak seindah yang kamu bayangin. Keliatannya aja sekarang aku indah dimata kamu. Saat nikah mah segala borok-boroknya juga keliatan. Kamu belum tau kan aku kalau tidur ngiler dan ngorok?" tanyaku.


"Enggak masalah. Aku juga kadang ngorok kok." balas Angga.


"Aku juga suka ngupil." kataku tak mau kalah.


"Aku juga suka ngupil kok." balas Angga lagi.


"Aku kalau Pup suka enggak disiram!"


"Ih itu mah jorok kamu May. Perempuan kok jorok banget! Iyuuuhhhhh."


Aku tertawa ngakak mendengar Angga yang geli dengan perkataanku padahal aku cuma becanda aja. Mana mungkin Pup enggak disiram, memangnya aku kucing?


"Yaudah kalau kamu memang enggak siram nanti aku yang flush deh." kata Angga mengalah pada akhirnya.


"Terus aku juga suka nempelin upil aku di tembok."


kataku tak mau kalah menggodanya.


"Nanti aku cat lagi temboknya. Kalau perlu aku kumpulin upil kamu biar dijadiin patung!" balas Angga lagi.


"Ih jorok!"


"Kamu lebih jorok. Segala ngupil dipeperin di tembok. Kayak enggak ada teknologi namanya tissue aja!" jawab Angga sambil geleng-geleng kepala dengan ulahku.


"Terus nih aku suka kentut."


"Aku juga."


"Tapi kentut aku enggak ada suaranya dan tiba-tiba bau aja."


"Enggak masalah. Aku pasang difuser dan pakai aroma therapy biar ruangan tetap segar dan fresh. Ayo mau apa lagi?" tantang balik Angga.


"Hmm.... Aku masih suka keinget sama Adam. Dan aku takut memulai lagi." kataku.


Kali ini Angga nyerah. Ia tidak bisa menjawab kalau sudah masalah Adam dan trauma kegagalan rumah tanggaku.


"I will wait until you have to open your heart." kata Angga serius.


Aku sadar kalau Angga menyukaiku. Aku sadar selama ini Angga setia menemaniku karena berharap aku akan menyukainya juga.


Aku juga mau membuka hatiku untuk Angga. Sejak aku menerima surat cerai hari itu, hatiku terasa kosong. Aku tidak merasa senang dan juga tidak menangis sedih karenanya. Hanya kosong.


Pernikahan yang hanya seumur jagung. Masa-masa sulit dalam menjalani rumah tangga di usia muda dan yang terberat adalah kehilangan buah hatiku tercinta.


Tidak ada yang bisa menggantikan kekosongan di hatiku. Tidak ada yang bisa mengobati luka hatiku. Bahkan Angga juga belum bisa melakukannya.


Angga sahabat yang baik. Sabar dan loyal pastinya. Tapi hanya itu, tidak lebih.


Aku memang berhutang budi pada Angga. Ia rajin mentraktirku. Aku bukannya tidak punya uang, tapi aku menolak menerima uang saku terlalu banyak.


Bapak membekaliku uang saku seperti sebelum aku menikah. Aku dapat hidup nyaman dengan uang tersebut. Tapi aku malu. Aku malu menerima uang dari Bapak.


Aku hanya menerima uang yang kupikir cukup jika aku hidup dengan cara mengirit. Karena itu uang dari Bapak tidak kupakai semua. Rekeningku gendut karena jarang kuambil.

__ADS_1


Untuk jajan biasanya Angga yang traktir. Ia selalu menolak kalau aku mau traktir balik. Angga mengira kalau aku enggak punya uang.


Kami sudah sampai di lingkungan tempat tinggalku dulu saat menikah. Aku memarkirkan mobil Angga di depan rumah Bu Sri.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Angga bingung.


"Aku mau lihat rumah kontrakkanku yang lama. Kalau masih kosong aku mau ngontrak disana lagi." jawabku sambil mematikan mesin mobil dan melepas seat belt.


"Untuk apa May? Bukannya cuma membuka luka lama?" tanya Angga yang juga mengikuti apa yang kulakukan.


Aku keluar dari mobil dan menghampiri rumah kontrakkan lamaku. Tidak kujawab pertanyaan yang Angga tanyakan.


Ternyata rumah kontrakkanku sudah ada yang menempati. Seorang anak kecil berusia 10 tahun terlihat keluar dari rumah tersebut.


Ada sedikit rasa kecewa karena aku tak bisa lagi tinggal disana. Aku harus mencari tempat kontrakkan kosong lagi nanti.


"Syukurlah udah ada yang nempatin." jawab Angga yang sudah berdiri di belakangku.


"Sayang ya. Padahal aku suka ngontrak disini. Deket sama Duo Julid." kataku dengan sedih.


"Cari tempat lain aja. Tuh Duo Julid pasti lagi aerobik di taman. Sekarang kan hari rabu, jadwal mereka aerobik."


Aku tersenyum kecil. "Hapal bener jadwalnya tuh emak-emak. Ngefans bener."


Aku berbalik badan dan masuk lagi ke dalam mobil. Angga juga mengikutiku seperti Boots mengikuti Dora.


"Enggak usah cemburu gitu kali May. Sama emak-emak aja jealous." jawab Angga sambil menutup pintu mobil.


"Siapa yang cemburu? Udah ayo kita ke taman. Kangen nih sama emak-emak rempong dan julid itu." aku menyalakan lagi mesin mobil menuju taman.


Benar dugaan Angga, mereka sedang senam aerobik dengan penuh semangat seperti biasanya. Aku memarkirkan mobil di parkiran taman.


Emak-emak yang sedang aerobik berhenti sejenak melihat kedatangan kami. Angga yang turun lebih dahulu barulah aku.


"Eh ada Si Ganteng!" Bu Sri yang langsung menyambut kedatangan Angga.


Bu Sri dan Bu Jojo meninggalkan rombongan aerobiknya dan menghampiri Angga.


"Si Ganteng makin ganteng aja nih. Udara Bandung yang sejuk bikin kamu keliatan lebih fresh gitu." puji Bu Jojo.


"Ah bisa aja. Saya masih sama kok kayak yang dulu." kata Angga malu-malu.


"Oh gitu! Jadi kerjaan kalian bukan cuma ngegosip tapi juga ngegombal ya?"


Bu Sri dan Bu Jojo berbalik badan dan melihatku. Mereka berteriak kegirangan.


"Waaaa.. Maya!" mereka menghampiriku dan memelukku dengan erat.


Aku balas memeluk mereka walau badan mereka basah keringat sehabis aerobik aku tidak peduli. Aku beneran kangen sama mereka.


"Kami kangen sama kamu, May." kata Bu Sri.


"Iya. Kangen banget." sahut Bu Jojo menambahkan.


"Sama, Maya juga kangen sama kalian."


Angga yang akhirnya menarik pelukan Duo Julid agar tidak memelukku terus. "Udah kenapa. Kayak teletubies aja berpelukan terus. Kasian Maya tuh kena keringet ibu-ibu yang bau acem."


Sambil menggerutu Bu Sri dan Bu Jojo melepaskan pelukannya dariku.


"Ih Si Angga protektif banget. Maya enggak boleh kita peluk." gerutu Bu Sri.


"Posesif, Bu. Bukan protektif." ralat Angga.


"Ah bodo yang penting sif nya bener." bela Bu Jojo kompak dengan Bu Sri.


Aku tersenyum melihat ulah mereka. Masih sama ya mereka kayak dulu. Persahabatan mereka juga masih kompak.


"Maya nginep enggak? Nginep di rumah saya aja." kata Bu Sri menawarkan diri.


"Mau tidur dimana nanti Maya? Rumah kontrakkan kamu kan kecil. Masa tidur sama Mas Bojomu itu!" omel Bu Jojo. "Nginep di rumah saya aja May. Masih ada kamar kosong kok."


"Jangan, May. Kamar kosongnya bau bawang. Kan bekas nyimpen bawang." sahut Bu Sri.


"Ya enggaklah, Bu. Kan nanti saya bersihin dulu. Saya semprot pake pengharum ruangan. Bersih dan wangi pokoknya." jawab Bu Jojo tak mau kalah.


"Udah... udah. Maya enggak akan nginep kok di rumah kalian biar adil Maya nginep di kamar saya!" kata Angga yang langsung mendapat jitakkan di kepalanya dan jeweran di kupingnya.


"Kagak boleh. Anak perjaka enak aja ngajak perempuan nginep sembarangan! Entar kita tetangga kamu yang sial!" omel Bu Sri.

__ADS_1


Aku tertawa makin ngakak melihat kelakuan mereka. Lucu rasanya dan pasti ngangenin momen kayak gini.


"Udah ibu-ibu ayo dilepasin anak orang. Emaknya tau ngamuk loh. Kan rumahnya deket dari sini." Angga lalu kabur ke belakangku setelah dilepaskan Duo Julid. Ia meminta perlindungan dariku.


"Jangan mau loh May diajak nginep sama Angga." omel Bu Jojo.


"Iya jangan mau May. Dimana-mana kucing tuh sama kalau liat ikan bawaannya mau nerkam melulu." sahut Bu Sri menambahkan.


"Iya tenang aja Bu. Maya justru mau minta ibu-ibu buat nyariin kontrakkan kosong buat Maya." kataku meredakan omelan Ibu-ibu tersebut.


"Kamu mau tinggal disini lagi May?" tanya Bu Jojo.


Aku mengangguk. "Iya. Maya mau nyari kerjaan di Jakarta biar bisa deket lagi sama ibu-ibu."


Bu Sri dan Bu Jojo tersenyum bahagia mendengar keputusanku. "Asyik. Kita bisa makan bakso dan ngeliwet bareng lagi dong?" tanya Bu Sri.


"Bisa kalau Maya libur. Jadi gimana nih, ada enggak rumah kontrakkan kosong?" tanyaku.


"Dibilangin jadi istriku aja jadi enggak usah ngontrak." sahut Angga yang langsung dapat omelan lagi dari ibu-ibu.


"Ih gangguin aja. Udah diem dulu!" omel Bu Sri. Angga pun diam.


"Ada May. Di kontrakkan saya ada yang bayarnya nunggak nanti saya usir deh biar kamu bisa ngontrak disana." kata Bu Jojo dengan santainya.


"Ya jangan dong, Bu. Kasihan. Yang lain aja." tolakku.


"Jadi emak-emak kejam bener ngalahin ibu tir. Main usir-usir orang aja seenaknya. Dasar Bu Kontrakkan kejam!" gerutu Angga.


"Ih berisik! Nih perjaka suruh pulang aja May. Gangguin orang melulu. Lagian ngapain sih Dia ngintilin kamu melulu?" omel Bu Jojo.


"Biasa Bu, kalau cewek kece mah yang ngintilin banyak. Tapi jangan diusir dulu, Bu. Baju saya masih di mobilnya Angga. Biarin aja. Jadi ada enggak nih tapi jangan sampai ngusir orang ya!"


"Ada. Tapi enggak deket-deket banget sama rumah kita berdua. Mau?" tanya Bu Sri.


"Mau. Yang penting nyaman. Kan kalian bisa main juga. Enggak terlalu jauh yang penting."


"Yaudah ayo kita kesana sekarang! Kita anterin!" kata Bu Jojo.


"Oke. Naik mobil aja biar enggak capek ya." aku dan Duo Julid lalu masuk ke dalam mobil Angga.


"Kayaknya itu mobil saya deh Bu. Kok saya enggak diajak sih?" gerutu Angga.


"Udah jangan bawel. Cepetan naik!" omel Bu Sri.


Aku tertawa melihat Angga diomelin terus sama Duo Julid. Padahal Angga biasa traktir mereka loh tapi tetap saja tidak ada harga dirinya sama sekali dihadapan mereka. Kasihan.


****


Rumah kontrakkan baruku sudah rapi. Duo julid dan Angga membantu proses pindahanku. Sekarang mereka sudah pulang dan tinggallah aku seorang diri di kamar.


Rumah kontrakkan ini sama besarnya dengan yang dulu. Bedanya disini lingkungannya tidak sekepo Duo Julid. Bahkan ada yang jarang keluar rumah.


Sejak di Bandung aku rajin apply lamaran pekerjaan. Supaya aku tidak terlalu lama menganggur di Jakarta. Besok aku ada panggilan di salah satu perusahaan besar.


Aku sudah berpakaian rapi dan siap untuk melakukan interview di Kusumadewa Group. Perusahaan besar yang dulu sempat goyang karena pemimpinnya diisukan korupsi.


Sekarang perusahaan ini bangkit lagi karena memang pada dasarnya memiliki pondasi yang kuat. Aku melamar untuk menjadi bagian dalam team audit.


Sudah banyak yang hadir dan mengantri untuk diwawancarai. Timbul rasa tidak percaya diri dalam diriku. Apakah aku akan diterima dan berhasil bersaing melawan puluhan pelamar yang lolos seleksi awal?


Sebelum interview kami mengikuti psikotest. Sambil menunggu hasil kami menunggu di ruangan aula sekitar setengah jam.


Hasil psikotest pun diumumkan. Hanya yang lolos saja yang dipersilahkan tetap di ruangan sisanya harus meninggalkan ruangan. Aku termasuk yang lolos.


Kini hanya tinggal 10 orang yang tersisa. Aku menunggu giliran interview dengan bagian personalia.


Aku gugup dan tanganku terasa dingin. Sainganku rasanya berat-berat nih. Memang sih IPK-ku 3.7, nilai yang lumayan tinggi bahkan mendekati cumlaude tapi aku tidak percaya diri.


Kini tibalah namaku yang dipanggil. Beberapa pertanyaan pun diajukan. Aku menjawabnya dengan jujur dan tenang.


Aku diminta menunggu lagi di aula. Sepertinya mereka butuh cepat jadi hasilnya akan diumumkan hari ini juga.


"Terima kasih untuk semua yang sudah mengikuti seleksi karyawan Kusumadewa Group. Dan kami akan mengumumkan siapa yang kami terima hari ini." ujar bagian personalia.


Aku masih tidak percaya saat aku diterima bekerja. Namaku lolos dan aku akan mulai bekerja besok. Hanya ada 3 orang yang diterima dari puluhan pelamar, dan aku salah satu yang beruntung.


*****


Hi semuanya. Jangan lupa like dan vote ya. Yuks like yang banyak dalam periode tgl 8 - 21 maret. Yang kirim hadiah terbanyak, 3 orang ada giveawaynya loh. Yuks like dan vote sebanyak mungkin. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2