Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Barbeque Party


__ADS_3

Deg....


Papanya Leo alias Pak Dibyo Kusumadewa, orang yang sama dengan yang dulu menyapaku di kantin.


Masih tidak percaya rasanya kalau Pak Dibyo yang biasanya wara-wiri di televisi adalah Papanya Leo, kakek almarhum Adam anakku.


Pak Dibyo masih sangat gagah. Wajahnya plek ketiplek banget dengan Richard kalau kemarin masih ada kumis tipisnya. Ah bodoh banget aku sampai tidak mengenali kalau Richard adalah kembarannya.


"Lagi ngobrol, Pa." jawab Richard.


Aku semakin deg-degan saat Pak Dibyo sudah makin dekat denganku. Pak Dibyo mengenakan kaos berkerah dengan logo buaya di sisi sebelah kirinya. Huft... di rumah aja kaus santainya branded punya.


Walau agak sulit namun aku berusaha memasang senyum di wajahku.


"Sudah lama datangnya May?" tanya Pak Dibyo dengan ramah. Senyum di wajahnya mengembang.


"Sudah, Pak." jawabku sambil mengulurkan tangan hendak salim.


"Papa. Jangan panggil Bapak. Kita kan bukan lagi di luar kantor. Santai saja."


"Iya Pak eh Pa." aku mulai kikuk dan gugup.


"Duduk lagi May. Saya boleh ikutan ngobrol sama kalian kan?" tanpa menungguku Pak Dibyo eh Papa ikut duduk di gazebo.


Richard mengambilkan air mineral dan memberikannya padaku. "Minum dulu May. Jangan tegang gitu ngeliat Papa. Kayak ngeliat hantu aja!"


"Enak aja kamu nyamain Papa sama hantu!" omel Papa Dibyo sambil menjewer telinga Richard.


"Makanya tuh kumis cukur! Makin kelihatan killer tau kalo pake kumis. Aku aja keliatan kelimis dan ganteng pas kumisnya aku cukur. Muka kita kan mirip, coba Papa kumis cukur deh biar keliatan gantengan di mata Mama."


"Memangnya gitu ya? Yaudah Papa ke kamar dulu mau cukur kumis." Papa Dibyo yang belum lama duduk sudah bangun kembali. "Sebentar ya May. Saya cukur kumis dulu sebelum Mamanya anak-anak datang. Biar keliatan ganteng gitu."


"Iya pak.. eh Pa."


Setelah Papa pergi barulah aku bisa bernafas lega. Aku mengambil minuman yang Richard berikan lalu meminumnya banyak-banyak.


"Biasa aja kali May. Dulu memang Papa galak. Sekarang udah enggak lagi. Mungkin stress karena kerjaan kali. Karena perusahaan sudah Leo yang handle Papa udah lebih rilex. Jangan ketakutan kayak gitu ah." ledek Richard.


"Memangnya keliatan banget ya kalau aku ketakutan?"


"Iya. Kamu kan orangnya ekspresif. Jadi gampang ketahuan."


"Leo mana sih? Kok enggak nongol-nongol? Tadi katanya mau manggil Papanya eh sampai sekarang belum balik lagi." aku celingukan mencari keberadaan Leo namun yang kucari tak kunjung datang.


"Jemput Mama kali May?!"


"Tapi kok enggak bilang dulu sih? Apa kita mulai barbeque sekarang aja?" aku bangun dari dudukku dan melihat di meja barbeque sudah ada beragam daging dan sayuran serta saus tersedia. Seperti berada di restoran all you can eat saja.


"Udah laper memangnya?" tanya Richard yang ikut bangun menemaniku melihat-lihat.


"Belum. Tapi nanti saat Mama kamu datang kan udah mateng. Ini enggak kebanyakan ya? Kayak buat barbeque satu kampung tau gak!"


"Biarin aja. Nanti kita panggang sama-sama. Kamu bukan pelayan resto ya. Kamu tuh tamu. Santai aja. Tuh Papa udah selesai cukur kumis." aku mengikuti arah pandangan Richard.


Papa Dibyo terlihat lebih muda tanpa kumis. Ia bahkan berganti baju dengan warna berbeda namun merknya masih sama. Ternyata merk buaya adalah favoritnya.


"Gimana? Ganteng enggak?" tanya Papa Dibyo sambil bergaya bak model.


"Nah gitu dong! Baru namanya Bapak Dibyo Kusumadewa. Kelihatan awet muda kalau kaya gini. Iya kan May?"


Ish ngapain Richard ngajak-ngajak aku segala. Bikin rasa gugup kembali menguasaiku saja!


"I...Iya. Kelihatan lebih ganteng Pak...eh Pa." ah ini kenapa aku salah manggil melulu sih!


"Beneran? Wah Mama bisa naksir lagi kalau gitu sama Papa, iya kan?" ternyata sikap pede Leo berasal dari Papanya. Iyain aja deh biar Papanya seneng.


"Iya naksir deh. Papa tuh lebih ganteng dari Robert Downey Junior tau." puji Richard sambil mengacungkan dua jempol untuk Papanya.


"Downey bukannya nama pewangi baju ya?" tanya Papa Dibyo bingung.


Aku tak bisa menahan tawaku, masa sih RDJ disamain kayak pewangi baju?

__ADS_1


"Ih Maya udah berani ngetawain Papa! Wah Pa, udah mulai sok akrab dia sama Papa." kata Richard mengompori sambil tertawa ngakak.


"Bukan, Pa. Bukan ngetawain Papa. Ih Kakanda rese banget jadi orang." aku langsung mencubit lengan Richard untuk menghentikannya tertawa.


"Emang nih anak jahil, May. Masa Papanya disamain kayak pewangi baju!" Papa Dibyo ikut mencubit Richard seperti yang kulakukan. Kami pun tertawa bersama.


Aku dan Papa sekarang mengelitiki Richard sebagai wujud pembalasa dendam yang lebih menyakitkan lagi. Richard sampai mengadu minta ampun karena tak kuat menahan geli.


Aku dan Papa Dibyo saling tos karena bisa menang melawan keisengan Richard.


"Akrab banget nih kayaknya. Sampai enggak sadar kalau aku dan Mama sudah datang?" sindir Leo yang baru datang sambil tersenyum. Ia senang melihatku dan Papa langsung akrab.


"Eh kalian udah datang." Papa langsung merapihkan penampilannya dan menyambut kedatangan mantan istrinya dengan malu-malu.


"Cie... Yang lagi puber kedua!" ledek Richard melihat Papa begitu gugup bertemu Mama Leo setelah sekian lama.


"Ish nih anak! Papa jawil nanti kamu!" Papa Dibyo menyuruh Richard yang sejak tadi menertawakannya untuk diam.


"Maya?" Mama Leo bukannya menyapa Papa eh malah menyapaku.


"Iya, Tante." kataku sambil tersenyum.


Leo memberi kode agar aku berjalan mendekat. Leo lalu memengang pinggangku dan memperkenalkan pada Mamanya.


"Ma, ini Maya."


Aku lalu mengulurkan tangan dan salim pada Mama Leo. Sama seperti yang kulakukan pada Papa Leo tadi.


Namun Mama Leo malah menarikku dan memelukku erat. Ia bahkan menangis terisak sambil menepuk-nepuk punggungku.


"Maafin Mama ya May. Kamu pasti berat melalui semuanya sendirian sementara kami dengan egois mengambil Leo dari sisi kamu disaat kamu terpuruk. Maaf May..."


Aku tidak siap dengan Mama yang menangis sesegukan seakan menyesali perbuatannya. Aku menepuk pelan punggungnya, memberitahunya dalam bahasa isyarat kalau aku sudah mengikhlaskan semuanya.


"Aku udah ikhlas, Tante. Semua sudah takdir yang maha kuasa."


Mama Leo melepaskan pelukanku. "Mama, bukan Tante!" ujar Mama Leo masih sesegukan.


"Iya, Ma." kataku sambil tersenyum.


"Ah Mama bisa aja. Aku jadi malu." cie malu, padahal mah hatiku berbunga-bunga.


"Ih kamu tuh beneran cantik May. Pasti Leo enggak akan ngelepasin kamu deh." puji Mama Leo lagi.


Leo tersenyum dan kembali menarikku ke dekatnya seraya memegang pinggangku. "Leo san Maya memang berencana mau rujuk, Ma. Pa...."


Mata Mama Leo langsung membulat mendengar informasi yang baru saja Leo katakan. "Yang bener? Wah! Mama senang banget mendengarnya. Mama setuju. Jadi sudah rujuk belum nih ceritanya?"


"Papa juga setuju. Kalian rujuk secepatnya. Papa dukung!" Papa Leo lalu berjalan mendekat. Agak mendekat ke Mama Leo. Bisa aja strateginya nih Papanya buaya dan kadal buntung!


Namun wajah Leo yang semula tersenyum langsung berubah datar dan bahkan menunjukkan kesedihannya. "Maya maunya kita nikah resmi lagi."


"Papa juga setuju. Kalian kan sudah diputus cerai pengadilan jadi lebih baik ya nikah resmi lagi dari awal." sahut Papa.


"Tapi Maya maunya Bapaknya yang menjadi wali nikahnya kelak." jawab Leo dengan lemah.


"Lalu masalahnya dimana?" tanya Papa Leo bingung.


Leo menghela nafas berat. "Bapaknya Maya tidak merestui hubungan kami berdua. Dulu saja tidak merestui tapi kami malah nekat kawin lari eh ujung-ujungnya malah bercerai. Sekarang udah pasti makin enggak setuju deh."


"Jangan terlalu dipikirkan. Nanti Papa temani kesana! Papa yang akan meminta Maya secara resmi sebagai menantu Papa. Kamu tenang saja!" Papa Dibyo menepuk pelan bahu Leo. Menguatkan anaknya yang tak percaya diri tersebut.


"Beneran Papa mau temenin Leo ke rumah Maya?" Leo memastikan sekali lagi.


"Iya dong. Papa kan kalau sudah berjanji selalu menepati. Iya kan Ma?" Papa Dibyo melirik centil ke arah Mama Leo.


"Ih apaan pake nanya pendapat Mama segala?" ucapan Mama tak sesuai dengan mimik wajahnya yang terlihat sumringah.


"Bagus ya.... Bagus... Semuanya pada modus! Bilang barbequean eh malah pada CLBK semua! Cuma bikin aku jadi obat nyamuk aja disini!" sindir Richard yang sedang duduk di gazebo sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ih Kakanda jangan begitu. Kakanda bukan obat nyamuk kok. Kakanda tuh artisnya disini." aku berusah membaik-baikki Richard agar tidak ngambek.

__ADS_1


"Kamu ajak saja Lidya kesini!" saran Papa.


"Iya bener, ajak Lidya saja kesini!" Mama ikut menimpali.


"Ogah ah! Nanti Lidya malah tebar pesona depan Leo. Malah bikin aku makin cemburu nanti!" tolak Richard.


"Kakanda mau aku kenalin sama teman aku? Namanya Ad-" Leo langsung membekap mulutku sebelum aku promosiin Adel pada yang lain.


"Enggak usah May. Kan udah dibilang kalau kita Kusumadewa tuh punya kutukan cuma bisa suka sama satu orang saja. Udah ya jangan promosiin Adel lagi." Leo melepas tangannya dari mulutku.


Aku langsung memasang wajah cemberut. Memang kenapa sih sama Adel? Sebal! Belum tau aja Adel sekarang cantik banget!


"Aku telepon Lidya ya. Nanti kamu jemput!" Leo lalu mengambil Hp dan menelepon Lidya tanpa seijin Richard.


"Jangan!" larang Richard.


"Ini udah tersambung." ujar Leo lalu berbicara pada Lidya di ujung telepon sana. "Lid, kamu dimana? Di rumahku lagi ada acara barbeque. Mau ikut?"


Leo terlihat menunggu jawaban dari Lidya. Aku yang awalnya hendak duduk di gazebo tapi Leo menarik pinggangku agar aku tetap berada di sebelahnya.


"Oke. Aku suruh Richard jemput kamu ya."


Leo menunggu Lidya selesai bicara.


"Aku enggak bisa jemput. Richard aja ya. Mau kan?"


Sepertinya Lidya merajuk minta Leo jemput, namun karena Leo tegas sejak awal mengatakan tidak bisa jemput akhirnya Lidya menyerah.


"Iya. Tunggu ya."


Leo lalu menutup teleponnya. "Jemput tuh Lidya di depan rumahnya. Pakai motor aku aja biar cepet. Nanti macet kalau pakai mobil."


"Kalau pakai motor enggak keren." protes Richard.


"Maya aja enggak pernah protes dijemput naik motor. Tetap aja aku kelihatan keren di mata Maya. Iya kan Sayang?" Leo tiba-tiba meminta dukunganku.


"Iya." jawabku malu-malu.


"Yaudah deh aku jemput sekarang. Daripada jadi nyamuk disini!" Richard pun pergi meninggalkan rumah.


"Kita mulai aja yuk barbequenya." ajak Mama.


"Ayo. Aku bantuin ya, Ma." aku melepaskan tangan Leo yang berada di pinggangku lalu mulai membantu Mama memanggang daging.


Mula-mula daging di bumbui lalu di panggang diatas panggangan khusus barbeque. Hebat banget sampai peralatan barbequenya aja lengkap.


"Alat grillnya keren banget, Ma. Kalau di kampung enggak ada tuh pakai kayak gini." aku memulai percakapan agar suasana tidak terlalu kaku.


"Iya. Mama suka mengoleksi peralatan kayak gini. Dulu, kita sering adain bakar-bakaran. Beli daging, jagung, sosis macam-macam deh pokoknya ikan juga kadang-kadang. Terus kita bakar-bakarannya di sini, di dekat kolam renang. Papanya Leo suka makan-makanan bakar-bakaran kayak gini karena lebih sehat dibanding yang digoreng. Emang kalau Maya di kampung bakar-bakarannya kayak gimana?"


Tuh kan baru dipancing sedikit Mamanya Leo langsung bercerita banyak. Aku jadi ingat pesan Bu Sri. Orang tua itu terkadang nggak butuh harta, nggak perlu diberikan hadiah tapi cukup diajak ngobrol aja.


Bagi mereka, di hari tua mereka yang dibutuhkan cuma teman untuk berbicara. Apalagi yang aku tahu Mamanya hanya tinggal seorang diri semenjak mereka bercerai, pasti kesepian dong hari-harinya tanpa anak dan suami?


"Wah pasti seru ya, Ma. Aku kalau di kampung biasanya bakar-bakaran kalau mau tahun baru, Ma. Biasanya Bapak tinggal ngambil ikan di kolamnya sama petik jagung di kebun terus kita bakar-bakaran di depan rumah. Enggak ada grill keren kayak gini, Ma. Pakai batu bata yang dijadiin penyangga lalu dialasin genteng atasnya baru deh pakai jaring-jaring. Dan manggangnya enggak pakai kompor kayak gini, Ma. Pakai arang."


"Justru Mama kangen bakar-bakaran pakai arang, May. Lebih seru. Kayak di rumah Mama dulu. Mama juga suka tuh bakar-bakaran pakai arang. Tapi sama pembantu Mama, itu juga kalau orang tua Mama lagi pergi baru deh kita berani bakar-bakaran kayak gitu. Ah Mama jadi kangen deh suasana kayak gitu." mata Mama terlihat berbinar-binar saat sedang cerita.


Memang ya orang kaya mah beda. Apa enaknya coba bakar-bakaran pakai arang? Buat bikin bara aja susah harus dipancing dulu. Belum lagi asepnya yang bikin rambut dan baju jadi bau.


"Tapi memang sih Ma hasil bakar-bakaran dengan arang dan dikipas pakai kipas anyaman itu lebih enak katanya."


"Nanti kalau ke rumah kamu kita bakar-bakaran kayak gitu ya. Ajak Mama juga ya." Mama sangat antusias dengan ide yang dibuatnya sendiri.


"Er... Ke rumah aku?"


"Iyalah. Kan kalian mau rujuk. Mama mau ikut untuk minta restu keluarga kamu. Boleh kan?" aku menatap ke arah Leo yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan aku dengan Mama.


"Besok saja kita kesana, gimana?" bukan Leo yang menjawab tapi Papa Dibyo yang tiba-tiba langsung mengusulkan ide gilanya.


Iya. Ide gila. Beneran besok ke kampung nih?

__ADS_1


****


Selamat menjalankan puasa semuanya. Masih semangat kan? Karena hari ini spesial maka aku usahain Up lagi ya (kalau enggak sibuk tentunya 😁) Ada yang tau enggak hari spesial apa? Vote dulu ya nanti aku kasih tau pas Up lagi. Tapi yang banyak ya votenya 😁🙄


__ADS_2