Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Nongkrong di Blok S


__ADS_3

Hi Semuanya!


Aku seneng deh baca komen-komen kalian 😁. Makasih banyak yang udah doain aku sehat-sehat terus... Aamiin... Doa yang sama untuk kalian semua ya semoga kita sehat selalu.


Novel Cinta Setelah Perceraian ini memang novel yang ringan dan enggak berbobot 🤣🤣. Sengaja aku buat yang kayak gini. Ilmunya enggak nyampe bikin novel berat-berat takut salah penafsiran aja. Yang pasti aku siratkan makna dalam setiap karya... tsadissss....


Maaf seribu maaf kalau Upnya lama. Aku beneran super sibuk. Kalau sempat pasti aku nulis deh. Selama masuk 10 besar aku usahain double up, kalau belum nanti aku nulis ya 😉


Pokoknya terima kasih banyak atas semua dukungannya. Tetap dukung aku ya. Luv u all 😘😘😘


****


Kedatanganku dan Leo sambil tertawa-tawa membuat Ana memasang wajah ketidaksukaannya dengan terang-terangan. Maka kami langsung disambut dengan muka masamnya.


"Hi Na... Di!" sapaku.


"Kalian udah lama?" tanya Leo kemudian.


"Belum kok. Aku sih belum lama sampai. Enggak tau deh Ana udah dari jam berapa." jawab Aldi yang masih menyambut kami dengan hangat.


"Kamu dari jam berapa, Na?" Leo berinisiatif bertanya pada Ana sekaligus membuat moodnya membaik.


"Jam setengah 12." jawab Ana. Ih nyebelin banget nih anak, kalau Leo nanya aja dijawab!


"Belum lama ya berarti." Leo lalu melihat ke sekeliling mencari makanan yang menurutnya paling menggugah selera. "Kalian pesen apa?"


"Aku bakso aja. Tuh Bakso Pak Kumis yang ngambil sendiri bihun dan pelengkapnya. Tinggal request aja baksonya mau berapa banyak." Ana menunjuk ke tukang bakso yang lumayan ramai dengan spanduk Teh Botol Sosro bertuliskan Bakso Kumis Lapangan Blok S.


"Kayaknya enak deh." Leo lalu melihat ke arahku dan menawariku memesan menu yang sama. "Kamu mau bakso juga enggak May?"


"Boleh deh." jawabku.


"Yaudah ayo kita kesana." Aku dan Leo hendak bangun dari duduk ketika Ana protes.


"Harus berdua gitu pesennya? Enggak bisa sendiri-sendiri? Kayak lagi nunjukkin kalau kalian punya hubungan spesial aja." kritik Ana.


"Bukan gitu, Na. Kan seleranya Maya beda dengan seleraku. Daripada nanti salah, ya kan?" jawab Leo.


"Iya, lagi juga bawa dua mangkok kan panas." kataku menambahkan perkataan Leo.


"Yaudah sih, Na. Apa salahnya mereka beli bakso bareng?" Aldi yang sejak tadi diam ikut berkomentar.


Aku dan Leo tak menghiraukan larangan Ana. Kami tetap saja bangun dan berjalan ke tempat Bakso Kumis berada. Aku masih bisa mendengar keluhan Ana meskipun Ana berkata pelan.


"Ya sebel aja. Berduaan melulu. Berangkat bareng, eh segala pesen makannya juga bareng." keluh Ana.


"Udah cuekkin aja. Anak bocah!" kata Leo padaku.


"Iya. Tuh bocah naksir banget sama kamu kayaknya. Posesif banget. Belum jadian aja udah posesif kayak gitu apalagi udah jadian? Di rantai kali."


"Masih jealous?"


"Dih siapa? Aku? Enggak lah ya."


"Pak, bakso uratnya 2 ya." pesanku pada Pak Kumis yang kebetulan sedang melayani.


"Siap, Neng."


"Kalau saya bakso uratnya 3 Pak." request Leo.


"Siap."


Aku menaruh bihun, bawang goreng dan daun seledri sendiri ke mangkokku lalu menuangkan saus dan sambal juga. Pak Kumis lalu menuangkan bakso dan kuahnya ke mangkokku juga punya Leo.


"Siap, untuk sepasang kekasih yang cantik dan ganteng." kata Pak Kumis memujiku dan Leo.


"Ini, Pak." Leo menyerahkan selembar uang seratus ribu untuk membayar bakso miliknya juga punyaku.


"Nanti aku ganti ya."


"Enggak usah. Cuma bakso aja." Leo menerima kembalian dari Pak Kumis. Kami pun kembali ke tempat duduk kami.


Kami menaruh mangkok dan duduk. "Oh iya minumnya belum. Kamu mau minum apa, May?" tanya Leo.


Aku juga lupa memesan minuman. "Hmm... Apa ya yang enak. Yang beda gitu."


"Es Kopyor aja May." sahut Aldi.


"Dimana? Enak tuh kayaknya." kata Leo menimpali.

__ADS_1


"Kamu lurus aja nanti belok kanan. Beberapa kips dari sana ada tulisannya 'Es Teller Pak Min' nah disana tuh yang rekomen es kopyornya. Kuahnya kopi gitu. Mantep deh pokoknya."


Aku dan Leo tergiur oleh promosi yang dilakukan oleh Aldi. Kayak di endorse aja tuh anak.


"Kayaknya enak." kataku.


"Iya. Aku juga jadi pengen." jawab Leo. "Beli disitu yuk."


"Ayo." jawabku spontan.


"Ehem." suara deheman Ana menyadarkanku bahwa ada hati yang terluka disini. Ada hati yang baper melihat kedekatanku dengan Leo. "Berduaan melulu. Kita kayak lagi nemenin orang pacaran aja." sindir Ana.


"Aku aja yang beli. Kamu tunggu disini ya." Leo langsung pergi tanpa menanyakan pendapatku dahulu. Males juga sih ngadepin sikap Ana yang lebay banget menurutku.


Daripada menunggu Leo lebih baik aku makan saja. Enggak enak makan bakso kalau sudah dingin, apalagi kipas angin gantung di langit-langit lumayan dingin dan membuat makanan cepat dingin.


"Kamu enggak nungguin Leo, May? Dia kan udah beliin kamu minuman. Kok malah egois sih makan sendirian?" tanya Ana dengan muka tanpa dosa.


Nih anak kenapa sih? Se-enggak suka itu ya sama aku? Dulu aja waktu pertama kenal baik banget. Sekarang udah ketahuan deh belangnya kayak gimana! Huh!


"Aku enggak suka makanan dingin. Leo juga tau kok. Enggak bakalan marah Dia."


Ini beneran. Dulu waktu kami masih pacaran, kalau makan bakso bareng pasti Leo akan ngeluyur kemana dulu gitu. Nyari tukang gorengan lah, nyari kerupuk lah bahkan kadang nyari toliet dulu numpang pipis.


Leo udah tau kalau aku enggak suka makanan dingin makanya Ia selalu nyuruh aku makan duluan. Bukan masalah besar bagi kami. Toh pada akhirnya aku akan menunggu sampai Leo selesai makan kok.


"Kok kamu tau banget sih May tentang Leo. Kayak kamu udah kenal lama gitu sama Leo." makin nyebelin nih anak. Keponya udah akut!


Kayaknya anak kayak gini sekali-kali perlu dikasih pelajaran deh. Biar enggak terlalu mencampuri urusan orang.


"Iyalah. Aku kan memang kenal sama Leo." jawabku acuh sambil tetap menikmati Bakso Pak Kumis yang ternyata rasanya seenak itu. Juicy banget. Terasa sekali dibuat dari daging fresh. (Pak Kumis harus bayar royalti nih karena udah dipromosiin 😁).


"Kan kalian baru kenal beberapa minggu aja. Kok udah sedekat itu sih? Selama ini bukannya kalian lebih sering berantemnya dibanding akurnya? Atau kamu pura-pura aja berantem padahal dibelakangnya cinta-cintaan?" Ana masih saja mencoba mengulik tentangku.


Rasa kesal di dadaku semakin berkecamuk aja. Hampir saja aku tersedak. Untung saja aku bisa menguasai diri. Dan untungnya penyelamatku datang. Loh....


"Kami dulu satu kampus." ujar Leo sambil duduk di sampingku. "Es kopyornya nanti dianterin. Nih minum air mineral dulu."


Leo meletakkan sebotol air mineral di samping mangkokku. Sudah Ia bukakan seperti biasa. Aku langsung meneguknya karena rasanya agak pedas tenggorokanku yang hampir tersedak tadi.


"Kok bisa? Bukannya Maya kuliah di Bandung ya?" sekarang Aldi yang penasaran denganku.


"Dulu Maya kuliah di kampusku. Sampai semester 6 tapi Ia cuti dan pindah ke Bandung. Bener kan May." tanya Leo meminta dukunganku.


"Oh... Pantas saja kalian begitu akrab. Udah kenal sebelumnya toh." Aldi percaya saja dengan ceritaku dan Leo, namun tidak demikian dengan Ana.


"Tapi kenapa kalau sudah akrab kalian suka bertengkar?" masih saja Ana menyelidik.


"Biar makin akrab, Na. Namanya juga dua kepala. Dua pemikiran. Kadang yang satu maunya A, yang lain maunya B. Wajar kalau suka beda pendapat. Bukan bertengkar sih, aku lebih suka nyebutnya beda pendapat aja." jawab Leo dengan bijak.


Aku sampai tak bisa berkata-kata mendengar jawaban Leo. Benar juga. Alasan kami sering bertengkar karena berbeda pendapat. Berbeda pemikiran.


Aku baru menyadari kalau kami memang berbeda kepala. Seharusnya saling mengerti dan menghargai tapi jiwa muda kami tak mengenal kata kompromi. Semua keinginan harus terwujud.


Tanpa kusadari aku menatap ke arah Leo. Laki-laki yang pernah menjadi suamiku. Dalam dua tahun ini Leo berubah lebih dewasa, lebih bijak. Apa mungkin karena masalah yang Ia hadapi lebih rumit dari permasalahanku?


Aku menganggap kehilangan Adam bagaikan runtuhnya dunia namun ternyata Leo lebih runtuh lagi. Papa dipenjara, Mama menggugat cerai, Kakak di rehabilitasi, Istri gugat cerai dan anak meninggal. Lebih dari triple masalah yang menderanya.


Dan Leo bukannya terpuruk tapi malah bangkit. Ah aku mau nangis rasanya.


Leo yang sekarang asyik mengobrol dengan Aldi tak memperhatikan kalau sejak tadi mataku sudah memanas. Untungnya baksoku sudah habis kalau tidak pasti tidak akan kumakan karena sudah hilang nafsu makan.


Aku menundukkan pandanganku. Sudah tidak lagi fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Asyik dengan pikiranku sendiri.


Aku butuh sesuatu untuk menguatkan diriku agar tidak menangis didepan semua orang. Hanya ada satu cara dan aku melakukannya tanpa pikir panjang.


Tangan kananku meraih tangan Leo yang berada diatas pahanya. Aku menggenggamnya erat.


Leo tentu saja kaget dengan tindakan spontanku. Leo langsung nengok ke arahku namun melihatku yang menunduk sedih Leo malah menggenggam tanganku dan kembali melanjutkan pembicaraannya dengan yang lain.


Tak ada yang mencurigai kalau sejak tadi kami berpegangan tangan. Aku yang awalnya gudah gulana sekarang sudah lebih tenang.


Aku pun mulai menyimak topik pembicaraan mereka. Ternyata mereka membahas tentang masalah kontrak 3 bulan sebelum pengangkatan.


"Kamu sakit, May? Kok dari tadi diem aja?" tanya Aldi tiba-tiba.


"Kalau kamu sakit kita pulang aja ya May." sahut Leo.


"Apa kamu sakit perut May? Tadi kamu banyak makan sambal soalnya. Yah kita baru nongkrong masa udah mau pulang aja sih May? Ke kamar mandi disini aja, May." kata Ana sok tau.

__ADS_1


"Aku enggak apa-apa kok. Nyimak aja percakapan kalian."


"Baguslah. Kan kita enggak usah bubar cepat-cepat karena kamu sakit. Kita masih mau disini atau pindah nih nongkrongnya?" tanya Ana yang sepertinya memang tidak benar-benar peduli dengan keadaanku.


"Kamu beneran enggak apa-apa?" tanya Aldi dengan nada khawatir.


"Aku enggak apa-apa kok. Beneran deh."


"Kita pulang aja ya." kata Leo dengan serius.


Apa Leo mikir kalau aku juga sakit ya makanya dari tadi memegang tangannya terus?


"Aku beneran enggak apa-apa. Sehat kok." aku langsung melepas tangan Leo.


Leo agak tidak rela melepaskan tanganku. Keningnya sampai berkerut. Bingung juga dengan perubahan sikapku.


"Yaudah kita main ke Kemang aja yuk." ajak Ana mengalihkan topik tentangku.


"Ngapain sih ngajakkinnya ke Kemang melulu? Biar dibilang anak Jakarta Selatan ya?" sindir Aldi.


"Bukan gitu. Di sana banyak tempat nongkrong yang enak-enak." kata Ana beralasan. "Kamu mau kan Leo?"


"Kayaknya ke Kemang kurang seru deh. Disini aja udah. Males kemana-mana lagi." tolak Leo.


"Yaudah deh kalau Leo maunya begitu." akhirnya Ana menyerah juga.


Kami lalu ngobrol ngalor ngidul sampai malam. Sudah beberapa kali jajanan yang kami makan. Enggak pulang-pulang sampai yang jualan malas melihat muka kami.


Ana masih usaha mengajak nongkrong di Kemang namun lagi-lagi tak ada yang mendukungnya. Acara nongkrong kami pun bubar jam setengah 7 malam.


"Aku bareng sama Leo ya. Gantian May. Tadi kan kamu berangkatnya bareng sama Leo." kata Ana setengah memaksa.


Beneran ya Ana. Ngebet banget sih ngedeketin Leo? Aku makin enggak rela ngelepasin Leo pada Ana. Huh!


"Ya aku enggak enak Na. Kan tadi berangkatnya bareng sama Maya." tolak Leo halus.


"Maya biar aku aja yang anterin." Aldi menawarkan diri.


Aku dan Leo bingung harus bagaimana. Sepertinya Ana dan Aldi sudah merencanakan semuanya.


"Baiklah. Aku bareng Aldi aja." akhirnya aku mengalah.


Leo menatapku tak setuju.


Maaf Leo, aku terpaksa. Aku males aja mengibarkan bendera perang apalagi mereka teman sekantor kita.


Walau Leo tak akan mendengarnya tapi kuharap tatapan mataku bisa Leo artikan seperti itu.


"Baiklah aku akan antar Ana." Leo pun akhirnya setuju.


"Nah gitu dong. Nanti aku kenalin ya sama keluargaku." Ana tidak bisa menutupi kebahagiaannya.


Dan aku hanya bisa merasakan nyeri di hatiku. Sepanjang perjalanan pulang dengan Aldi aku hanya diam saja. Aku berbicara hanya saat menolak ajakan Aldi untuk mampir dulu ke suatu tempat.


Sampai di rumah kontrakkanku aku beralasan pada Aldi kalau aku ngantuk dan mau langsung tidur saja. Aldi pun langsung pulang.


Di rumah pun pikiranku berkelana kemana-mana. Membayangkan Leo dikenalkan dengan keluarga Ana. Membayangkan keluarga Ana akan dengan senang hati menerima Leo yang tampan dan baik hati.


Argggg... Kesal... kesal...kesal....


Aku mengambil handuk dan mandi. Kuguyur kepalaku dengan air dingin berharap hatiku yang panas akan jadi adem.


Ternyata keramas tidak langsung mengademkan pikiranku. Keluar dari kamar mandi masih saja ada sisa-sisa kesal dan amarah yang tersisa.


Tok...tok....tok....


Suara ketukan di pintu depan. Siapa yang datang? Aldi? Ada yang ketinggalan kah?


Aku membukakan pintu setelah memakai pakaian. Dengan rambut masih terlilit handuk aku membuka pintu depan.


"Kenapa Al... Leo?"


Leo berdiri di depan kamarku sambil menyunggingkan senyumnya.


"Martabak time...." Leo mengangkat kantong plastik berisi martabak yang Ia bawa.


Senyumku langsung mengembang. Aku tak menyangka Leo akan datang. "Masuklah."


"Buatin Milo ya May."

__ADS_1


"Siap."


Leo langsung duduk di ruang tamu, seperti rumahnya sendiri. Dan aku langsung membuatkan Leo Milo, tunggu.... Kan aku bukan istrinya lagi yang biasa stok Milo. Ah kenapa jadi main rumah-rumahan sih. Aku jadi tersipu malu nih.


__ADS_2