Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Richard


__ADS_3

Baru kali ini aku melihat sosok kakaknya Leo yang terkenal itu. Jadi laki-laki di depanku adalah si pintar Richard yang sudah membuat seluruh perhatian dunia teralih padanya.


Kalau Leo tidak memperkenalkan kami, mungkin aku tidak akan pernah mengenal siapa Richard. Wajahnya amat berbeda dengan Leo. Jauh berbeda. Kalau Leo udah pasti ganteng, tapi kalau Richard wajahnya seperti mengingatkan aku dengan seseorang tapi aku enggak tahu siapa.


Leo dan Richard benar-benar kakak beradik yang tidak mirip satu sama lain. Bukan karena rambutnya Richard yang gondrong dan fakta kalau Ia baru saja keluar dari pusat rehabilitasi tapi dari bentuk wajah semuanya berbeda.


Leo berkulit putih bersih dengan wajah yang sedikit blasteran. Mukanya anak baik-baik namun kelakuan agak mesum. Kalau Leo tersenyum deretan gigi indahnya membuat senyumnya terlihat makin ganteng.


Richard bertolak belakang dengan Leo. Ia terlihat lebih maskulin dengan kulitnya yang berwarna kecokelatan. Rambutnya dibiarkan gondrong dengan wajah yang ditumbuhi oleh bulu halus disekitar jenggot dan kumis. Aku sih menyebutnya lebih ke cowok banget.


Kalau disuruh memilih mana yang lebih tampan antara Leo dan Richard sudah pasti aku akan menjawab Leo. Namun, Richard juga nggak jelek. Mereka berdua sama-sama ganteng. Cuma bedanya Leo lebih terlihat anak baik-baiklah.


Semakin aku melihat Richard semakin aku yakin kalau aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Aku bahkan nggak ingat melihatnya dimana, tapi rasanya kami belum lama bertemu.


"Pacar baru kamu Leo? Tapi kok aku kenal banget ya mukanya. Sebentar... Dia ini yang ada di figura foto di kamar kamu kan? Mantan pacar kamu waktu jangan kuliah dulu?" tanya Richard.


"Iya. Kenapa sih nanya-nanya terus?" tanya Leo sinis.


"Biasa aja kali. Aku kan udah lama enggak ada di rumah. Kalian lagi pacaran di rumah? Hati-hati! Ntar ada setan loh!" ledek Richard.


"Iya. Kamu setannya!"


Richard tertawa mendengar gerutuan Leo. Sepertinya Ia senang menggoda Leo.


"Aku laper nih. Bibi masak enggak ya? Semenjak di rehab aku jadi bawaannya laper melulu nih. Lihat aja badan aku aja udah semakin gendut." Richard menunjukkan perut buncitnya.


Aku heran. Gendut dari mana? Orang badan cungkring kayak gitu. Emang sih perutnya agak buncit. Kalau sekarang gendut dulu sekurus apa?


Sepertinya Richard sadar deh aku sejak tadi memperhatikannya. Pandangannya langsung beralih kepadaku, seperti menangkap basah seekor kucing yang hendak mencuri ikan.


"Hayo! Ketahuan lagi liatin aku ya? Kenapa? Aku lebih keren ya dari Leo?" ujar Richard mengagetkanku.


"Eng... Enggak kok. Cuma heran aja."


"Heran kenapa? Kalau aku lebih ganteng dan hebat dari Leo?" tanya Richard penuh percaya diri.


Aku malah menggelengkan kepala mendengar perkataan Richard. "Gantengan Leo. Kamu biasa aja."


Leo yang mendengar perkataan jujur dariku langsung tertawa terbahak-bahak.


"Ha...ha...ha... Bagus May! Akhirnya aku bisa menang satu kali dibanding kamu!" Leo masih tertawa.


"Tapi aku lebih berkarisma May!" sahut Richard tak mau kalah.


"Leo ber-Aerox. Itu lebih mahal tau dari pada Karisma." jawabku lagi yang membuat Leo makin tidak berhenti tertawa.


"Huaha....ha....ha...ha.... Mamam.... Mantap May!" ujar Leo disela tawanya.


"Nih cewek unik banget. Nemu dimana sih? Udah buat aku aja. Kamu mau kan May sama aku? Dijamin kamu bahagia deh. Kamu bakalan jadi pendamping orang pinter. Mau kan?" tawa di wajah Leo langsung memudar mendengar pertanyaan yang Richard ajukan.


"Orang pinter? Dukun maksudnya?"


"Ya bukan dukun atuh Maya cantik. Aku pemenang lomba sains loh. Udah liat belum piala aku yang banyak itu?"


"Udah." jawabku jujur.


Aku melirik ke arah Leo yang sudah tidak tertawa lagi. Wajahnya seperti sedang bersabar menahan dirinya sendiri.


"Enggak terpesona gitu?" tanya Richard lagi.


"Biasa aja. Di tukang piala juga banyak. Tinggal request aja mau juara lomba apa juga nanti dibuatin."


Aku melirik lagi ke Leo sekarang Ia menahan tawanya. Mataku lalu beralih ke Richard. Sorot matanya seperti berkata : Gila ya nih cewek, piala asli disamain kayak yang ada di tukang piala!


"Ini asli, May. Asli menang lomba." kata Richard menahan sabarnya.


"Sepupu aku yang masih TK juga dapet piala kok. Asli juga kayak kamu. Itu waktu ikut acara di TK, padahal enggak menang tapi semuanya dibagiin rata sama Bu Gurunya."


Leo mulai tertawa ngakak lagi. Entah Ia menertawakan perkataanku atau menertawakan wajah Richard yang seperti skak mat tak berkutik mendengar jawabanku.


"Piala.... aku.... yang susah payah aku dapetin.... disamain sama piala anak TK.... Hiks... Sayang kamu cantik May, kalau penyok dikit udah aku banting deh kayak petasan....Hiks...."


Sekarang aku yang tertawa mendengar perkataan Richard. Tak enak sudah menyinggungnya aku pun meminta maaf.


"Maaf ya. Aku cuma bercanda aja kok. Kamu hebat! Aku udah ngeliat piala kamu tadi Leo ajak aku keliling di rumah ini dan aku ngelihat koleksi piala kamu di kamar. Keren! Jarang loh ada yang bisa mendapatkan semua piala itu."


Pujianku membuat Richard yang awalnya sudah rendah diri kembali mendapatkan kepercayaan dirinya yang hilang. Ia tersenyum senang karena akhirnya aku mau mengakui kehebatannya.


"Jadi mau nih sama aku?" goda Richard. Masih penasaran Dia rupanya sama aku.

__ADS_1


"Enggak." jawabku lagi.


"Kenapa lagi? Kan udah ngakuin kalau aku hebat. Kurang apa lagi?" tanya Richard mulai putus asa.


"Kamu udah kerja belum?"


Richard menggelengkan kepalanya. "Segera. Aku akan segera bekerja di Kusumadewa Group."


"Wah benarkah? Nanti kita satu perusahaan dong. Aku juga bekerja di Kusumadewa Group." tak kusangka Richard juga akan bekerja di perusahaan yang sama denganku. Hebat juga dia, baru keluar rehab tapi udah dapat pekerjaan.


"Beneran? Aku akan mulai bekerja secepatnya. Kamu di bagian apa?" tanya Richard lagi.


"Di Bagian Audit."


"Yaudah nanti aku minta ditempatkan di bagian kamu aja deh May biar bisa deket sama kamu terus."


"Dih! Emangnya perusahaan bapak moyang kamu apa? Seenaknya aja mau kerja di bagian apa." celetukku.


"Ya kan emang-" belum selesai Richard bicara sudah dipotong oleh Leo.


"Papa mau kemana tadi? Enggak kasih kabar?" tanya Leo mengalihkan pembicaraan.


"Enggak tau. Dibilang tadi cuma ngedrop terus pergi. Enggak bilang mau kemana. Ke rumah Mama kali." jawab Richard sebal.


"Kita mau jalan jam berapa nih?" tanyaku setelah melihat jam sudah pukul 11 lewat.


"Kalian mau pergi?" Richard yang bertanya balik padaku.


"Iya." Leo yang jawab.


"Ikut dong!" ujar Richard sok akrab.


"Ogah!" jawabku dan Leo kompak.


"Ih jahat! Ikut ya. Naik mobi aku aja. Kamu tinggal pilih May mau naik mobil yang mana. Jangan sama Leo, panas naik motor."


"Jangan mau, May. Richard kadal buntung!" celetuk Leo.


"Ih gangguin aja. May aku mau PDKT nih. Boleh kan?" Richard sekarang beneran mendekatiku.


Leo mulai pasang mode was-was. Mengawasi setiap gerak-gerik Richard sebelum nantinya siap menerkam.


"Mau-lah." jawab Richard yakin.


Aku melirik ke arah Leo. Wajahnya sudah mulai sebal dengan kelakuan kakaknya dan juga mulai sebal dengan sikapku yang terus meladeni Richard.


Biar sajalah. Sekali-kali ngerjain Richard. Aku sebal melihat Richard yang terlalu memojokkan Leo. Itung-itung sedikit memberi Dia pelajaran.


Kalau dipikir-pikir penderitaan Leo selama ini juga enggak lepas dari campur tangan Richard. Kalau saja sebagai seorang kakak Richard mau mengalah dan berbagi terhadap adiknya mungkin tidak ada perbedaan perlakuan yang akan mereka terima.


"Yakin?"


"Yakin dong. Untuk Maya yang cantik mah aku yakin." gombalan tingkat dewa. Kalau Leo gombalan receh tapi bisa bikin aku melayang, kalau Richard gombalan tingkat dewa mah enggak mempan padaku.


"Tapi... Aku ini janda loh!"


Richard agak kaget mendengar pengakuanku. Ia menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Seakan menscreaning kebenaran ucapanku.


"Beneran?" tanya Richard mulai ragu.


"Bener. Mau bukti? Ada tuh surat cerai di rumah." kataku menjawab keraguan Richard.


Leo sekarang bisa bernafas lega, Ia tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Mungkin Leo pikir aku mau memberi harapan pada Richard namun aku tidak seperti itu.


Richard menghela nafas berat. Ia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. Agak ragu. Sebentar-sebentar menatapku sebentar-sebentar terlihat berpikir. Sampai akhirnya Ia mantap dengan keputusanku.


"Oke. Enggak masalah sama status janda. Aku akan ngebujuk Papa untuk setuju. Aku akan terima kamu apa adanya." jawab Richard yakin.


Aku melirik lagi ke arah Leo. Wajahnya memerah menahan tawa.


"Tapi..." aku menggantung kalimatku.


"Tapi apa lagi May? Kan aku udah terima keadaan kamu. Jangan tarik ulur begitu dong!" ujar Richard tak sabaran.


Sama seperti Leo, aku pun juga menahan tawa sejak tadi. Benar-benar Richard sifatnya seperti anak kecil yang kalau melihat permen akan merengek minta dibelikan.


Berbeda jauh dengan Leo yang akan menabung terlebih dahulu untuk membeli apa yang Ia mau. Itulah bedanya mendidik anak dengan cara dimanjakan dan didik menjadi mandiri.


"Tapi aku jandanya Leo. Gimana dong?" tanyaku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa?"


Richard langsung duduk lemas di lantai. Leo tak kuasa menahan tawanya dan mulai tertawa terbahak-bahak. Kulihat sesekali Leo mengusap air matanya yang keluar.


"Jadi kamu mantan istrinya Leo?" tanya Richard dengan suara lemas.


"Iya." lagi-lagi aku menjawab dengan senyuman. "Mantan adik ipar kamu, Richard."


"Yaaaahhhhh..... Kalau gitu mah bisa digantung aku sama Papa! Ah elah.... Kenapa sih kamu harus kenal Leo duluan?!" rengek Richard seperti anak kecil.


"Takdir." jawabku singkat.


"Takdir... takdir.... prett ah sama takdir. Nyebelin tau enggak sih kalian berdua!" gerutu Richard lagi sambil menendang-nendang kakinya.


"Makanya jangan kecentilan! Enggak boleh liat yang bening dikit langsung main sikat aja." celetuk Leo.


"Terus kamu ngapain kesini? Kan kalian udah cerai? Jangan bilang kalian mau rujuk lagi!"


"Aku sih mau-mau aja. Mayanya tuh belum siap." jawab Leo.


Aku memukul pelan lengan Leo. "Jangan kasih tau dia! Diem-diem aja!"


"Biarin May. Biar Richard enggak usilin kamu. Masa sih calon istri adeknya masih mau diembat juga!" jawab Leo.


"Bohong May! Leo duluan tuh yang ngerebut Lidya dari aku!" adu Richard.


"Lidya? Siapa Lidya?" tanyaku. Aku benar-benar enggak tau siapa Lidya.


"Kamu enggak tau siapa Lidya?"


Aku menggelengkan kepalaku. "Enggak."


"Ya elah jangan dibahas sih! Enggak ada hubungannya sama Lidya!" Leo memelototi Richard saat hendak memberitahu tentang Lidya.


"Jadi makin mencurigakan nih. Siapa sih Lidya?" tanyaku penasaran melihat dua adik kakak di depanku, yang satu berusaha menutupi sedang yang lainnya mau membongkar semuanya.


"Lidya itu gebetan aku, May. Udah susah-susah aku deketin eh direbut sama Leo!"


"Lidya? Leo enggak pernah cerita-cerita tentang Lidya. Mantan pacar atau orang yang sering kamu telepon diam-diam di tangga darurat?" kali ini aku langsung menginterogasi Leo. Enak aja bilang masih cinta sama aku kalau ternyata beneran masih berhubungan sama Lidya.


"Enggak penting juga buat diceritain May. Aku cuma temenan sama Lidya." sanggah Leo.


"Bohong May! Leo bahkan dulu sempat kerja bareng sama Lidya." ujar Richard mengompori.


"Kerja bareng? Kapan? Saat kami menikah dulu? Apa jangan-jangan restoran Korea tempat kamu kerja dulu punya Lidya?" tanyaku bertubi-tubi.


Namun pertanyaanku bukan dijawab oleh Leo melainkan dengan Richard yang demen banget nyiram bensin diatas api.


"Iya tuh bener. Leo kerja di restoran Korea punya Lidya. Disayang banget malah sama Lidya!"


"Sst! Diem deh, Cat! Jangan malah ngomporin!" omel Leo.


"Siapa yang ngomporin? Emang bener kan kamu kerja di tempat Lidya?" ujar Richard membela dirinya.


Aku sekarang menatap ke arah Leo. Tatapan setajam silet. Kenapa Leo enggak pernah cerita kalau dulu kerja di restoran gebetannya? Ah jadi kesel kan aku!


Leo sepertinya bingung mau menjawab apa. Richard terus menyudutkannya. Beberapa kali aku lihat Ia mengacak-acak rambutnya.


"Oke. Aku memang bener kerja di restoran milik Lidya. Hanya kerja. Enggak ada maksud apa-apa. Saat itu kita butuh uang May dan hanya Lidya yang bisa bantu aku. Ya terpaksa aku menerima bantuan darinya. Apa aku salah?"


"Ya salah lah. Kan Lidya jadi makin suka sama kamu. Percuma kamu pindah kuliah buat hindarin Dia tapi ujung-ujungnya kamu malah deketin Dia dengan bekerja di restorannya." masih belum puas ternyata Richard mengompori kami berdua.


"Jadi alasan Leo pindah kuliah karena Lidya? Hmm...." fakta baru lagi tentang Leo yang baru aku tahu hari ini.


"May, please.... Aku enggak suka sama Lidya. Lidya aja yang terus ngedeketin aku terus. Kamu jangan percaya ya perkataan Richard. Please.... " Leo memohon padaku agar mempercayainya.


Aku bingung siapa yang harus aku percayai. Banyak hal yang Leo sembunyikan dariku. Alasan Ia pindah kuliah juga baru aku ketahui hari ini.


"May.... " Leo berusaha memegang tanganku lagi. Meyakinkanku kalau aku harus mempercayainya.


"Jangan percaya sama buaya buntung, May!" celetuk Richard seenaknya.


"Udah deh kalian kadal buntung dan buaya buntung bikin aku pusing aja! Ayo kita berangkat sekarang, Leo!"


Aku berjalan meninggalkan kadal dan buaya buntung yang nasibnya kini kugantung!


****


Hi Semua!!!

__ADS_1


Maaf telat Up. Aku lagi banyak banget kerjaan. Nanti saat senggang aku nulis lagi ya. Aku usahain Up lagi hari ini. Tetap vote dan dukung aku ya. Maacih 😘😘😘


__ADS_2