
Anak alay boga alias bonceng tiga masih menertawakanku dan Leo sampai motor mereka oleng dan akhirnya nyusruk diatas rumput.
"Wakakakakakaka....." gantian aku dan Leo yang mengertawai balik.
"Aku mau turun, Sayang!"
"Mau ngapain?" meski penuh pertanyaan tapi Leo tetap menurunkanku.
"Mau jahilin orang jahil. Ayo ikut!" aku pun berjalan cepat menghampiri anak alay boga yang sedang meringis kesakitan.
🎶 Hai senangnya dalam hati....
Habis nyusruk di rumput....
Makanya jadi orang...
Jangan suka usil!🎶
Aku meledek mereka dengan lagu Madu Tiganya Ahmad Dhani tentunya dengan lirik yang kuganti sendiri.
Leo tertawa sampai tergelak dan memegang perutnya.
"Hi guys! Aku baru diledekkin nih sama anak alay! Eh anak alaynya nyusruk! Tolongin enggak ya?" aku bahkan live di stories dengan mengambil gambar mereka yang meringis kesakitan.
"Yah... Jangan direkam dong Kak!"
"Malu nih!"
Protes dua dari tiga anak alay. Kalau aku perhatikan mungkin usia mereka sekitar anak SMP. Sedang masa puberitas.
"Makanya jangan jahil sama orang tua! Kualat kan!" masih saja aku tak mau kalah. Anak kayak gini tuh kadang harus dikasih pelajaran. Suka songong!
Untung yang mereka ledekkin aku dan Leo. Kalau preman pasar bisa dikejar sama celurit mereka. Sembarangan aja kalau meledek orang.
"Iya Kak kami minta maaf. Tolongin, Kak!" pinta anak alay yang sejak tadi diam.
"Udah aku aja yang nolongin. Kamu jangan kecapean. Inget kamu lagi hamil!" omel Leo yang langsung menolong anak alay tersebut bangun satu persatu.
"Hah? Beneran lagi bunting?" tanya ketiga anak alay tersebut kompak.
"Iya. Wanita cantik itu istri saya. Karena kelelahan makanya saya gemblok. Kasihan lagi hamil muda kalau kecapean."
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat Leo dengan lancarnya membohongi ketiga anak alay tersebut. Hamil darimana? Kayaknya Leo beneran mengharapkanku hamil secepatnya nih.
"Maaf ya Bang." salah seorang dari anak alay ity sepertinya menyesali perbuatannya.
Leo menyunggingkan seulas senyum. Aku tahu senyum seperti itu pasti ada maksud dan tujuan sendiri.
"Boleh. Nanti saya maafin. Saya kasih uang buat kalian main perosotan di Mc D juga lagi. Mau enggak?" Leo mulai mengiming-imingi ketiga anak alay tersebut.
"Beneran Bang? Tapi jangan buat main perosotan Bang. Kita udah gede. Buat top up diamond aja, boleh enggak?"
Leo hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak jaman sekarang. Yang ada dipikirannya cuma games dan games aja. Bukannya belajar.
"Main games melulu! Belajar Tong! Yang sekolah tinggi dan rajin belajar aja belum tentu sukses. Ini lagi yang masih anak bau kencur kerjaannya kebut-kebutan dan main games aja!"
"Yaelah Bang. Malah nyeramahin kita!" gerutu salah satu dari anak alay tersebut.
"Yaudah kalo enggak mau dikasih buat main perosotan di Mc D mah." Leo kembali mengancam.
"Ya jangan marah dong Bang. Mau kita. Mau..." sahut anak-anak alay itu bergantian.
"Oke. Tapi saya pinjem ya motor kalian." nego Leo.
"Jangan!" ketiganya menjawab dengan kompak.
"Enggak mau nih?"
"Ya masa main perosotan dibandingin sama harga motor sih Bang? Itu motor Bapak saya. Kreditannya belum lunas. Bisa dicekik sama Bapak kalau sampai hilang!" anak alay ini sepertinya pemilik motor karena Ia terlihat amat ketakutan kalau sampai motornya hilang.
"Yang bilang mau ngambil motor bapakmu siapa? Eh Tong, Abang cuma mau minjem aja. Bini Abang kasihan jalan kejauhan. Motor Abang diparkir di Tugu Api depan. Abang tunggu kalian disana."
Ketiganya saling berpandangan dan bertukar pendapat. "Kasih aja Jon. Kasihan bininya si Abang lagi bunting. Kalo kenapa-kenapa gimana?"
"Iya kasih aja Jon!" saran anak Alay yang satu lagi.
"Lah kalo motornya ilang gimana? Mau tanggung jawab kalian sama Bapak?" kata anak alay pemilik motor.
"Heh! Yang mau nyolong motor kamu tuh siapa? Cakepan juga motornya suami aku dibanding motor Bapakmu. Minjem doang Tong! Minjem!" aku akhirnya angkat bicara. Gemas dengan transaksi nego yang enggak kelar-kelar dari tadi.
"Jaminannya apa Bang?" si anak alay pemilik motor berani mengajukan nego.
Leo terlihat berpikir. "Kali ngasih KTP jaman sekarang bahaya. Nanti didaftarin pinjaman online lagi sama kalian. Kalau kasih ATM masih bisa kalian pakai. Hmm.... Jam tangan aja gimana?"
Aku mendelikkan mataku. Jangan gila dong Oppa.... Masa sih mau kasih jam tangan kamu? Itu kan mahal!
Leo seakan bisa tahu kekhawatiranku. Ia pun memberi kode lewat lirikan matanya kalau semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Gimana?" Leo menanyakan lagi apakah tawarannya akan diterima atau tidak.
"Tapi beneran loh Bang di Tugu depan! Awas aja Abang bawa kabur motor saya!" ancam anak pemilik motor.
"Iya. Udah cepetan. Kasihan istri saya tercinta udah kecapean. Mana kunci motornya?" Leo meminta pemilik motor menyerahkan kunci motor. Dengan agak terpaksa Ia menyerahkannya pada Leo.
"Dijaga loh Bang!" pesannya.
"Iya. Nih pegang!" Leo memberikan jam tangannya sebagai tanda barteran. "Jangan lama-lama jalannya. Udah laper nih!"
"Iya, Bang."
Aku dan Leo lalu pergi meninggalkan ketiga anak alay dengan motor mereka. Antara ikhlas dan tidak, mereka menatap kepergian kami sambil menyusul dengan jalan cepat setengah berlari.
"Besok-besok parkir motornya jangan jauh-jauh. Kalau pegal kan belum tentu ada yang mau nolongin kayak sekarang." gerutuku.
Dasar ya perempuan, kalau sudah menggerutu bisa panjang. Untung Leo tipikal laki-laki yang hanya diam saja saat istri bawelnya menggerutu. Kalau Ia menanggapi bisa dipastikan akan menjadi keributan yang lebih lagi.
Ingat, perempuan selalu benar. Dengerin aja dulu keluh kesahnya. Setelah puas akan nyadar sendiri kok. Seperti sekarang, aku akhirnya diam setelah menggerutu sepanjang jalan menuju Tugu Api.
"Kita tunggu dekat motor aku aja ya." tanpa menunggu jawabanku, Leo memarkirkan motor milik anak alay di samping motornya.
Aku turun dari motor dan duduk di pinggir Tugu Api.
"Masih capek?" tanya Leo seraya duduk di sampingku.
"Udah enggak." aku mengamati keadaan sekitar. Sudah mulai ramai sekarang. Ada ibu-ibu yang sedang senam aerobik. Ah jadi inget Duo Julid.
Pandanganku beralih ke badut yang mulai bekerja menghibur pengunjung. Nah kalau badut yang kayak gini aku suka kasih uang. Kelihatan bekerjanya bukan hanya duduk manis menunggu orang memberi karena kasihan.
Anak-anak kecil terlihat mendekati badut sambil takut-takut. Setelah berani, orang tuanya dengan sigap memfotonya. Tak lupa memberikan tips pada badut tersebut.
"Mau sarapan sekarang atau nanti saja pas ke pasar pagi?" tanya Leo.
"Nanti saja. Masih kenyang." tolakku.
"Kenyang terus. Makan aja belum!" omel Leo.
"Memang masih kenyang. Tadi kan habis minum air setengah botol."
"Mana kenyang sih Sayang minum air doang? Beneran nih aku makin yakin kalau kamu hamil. Nanti beli testpack ya pulangnya."
"Udah ah, nanti aja. Kalau seminggu lagi aku belun menstruasi baru aku beli test pack. Aku takut terlalu berharap. Takut jatuh kalau harapan enggak sesuai."
Leo merapihkan anak rambutku yang berantakan tertiup angin. "Test aja dulu ya. Kalau gagal kita buat lagi. Justru kalau berhasil aku enggak boleh sering-sering berhubungan intim sama kamu. Hanya buat pencegahan saja. Ya..."
"Iya... Iya... Nanti kita test." akhirnya aku mengalah dan Leo pun tersenyum, senang dengan keputusan yang kubuat.
Suara teriakan anak alay di kejauhan membuatku dan Leo menengok. "Bang!"
Ketiga anak itu melambaikan tangannya. Huft... akhirnya datang juga tuh anak alay yang sejak tadi kami tunggu.
Mereka datang dengan keringat di keningnya. Nafasnya ngos-ngosan. "Kirain.... Abang.... kabur!"
Leo tertawa selain karena mendengar perkataan si pemilik motor juga karena melihat mereka kecapean. Sepertinya mereka berlari untuk sampai ke sini.
"Enggak bakalan kabur. Tenang aja." Leo mengeluarkan dompetnya dan mengambil tiga lembar uang seratus ribuan.
"Nih! Buat main prosotan di Mc D. Awas ya kalau dipake buat mabok atau main games online!" Leo memberikan uang tersebut setengah mengancam.
"Iya, Om!" jawab ketiga anak itu kompak.
"Huh! Giliran dikasih duit aja manggilnya Om. Tadi aja manggilnya Bang, kayak Abang bakso saja!" gerutu Leo.
Aku hanya tersenyum melihat interaksi Leo dengan anak-anak alay tersebut. Pantas saja Leo bisa memimpin perusahaan dengan baik, Ia pintar berkomunikasi dengan siapa saja. Mudah akrab namun tidak bersikap arogan dan sok pemimpin.
"Nih kunci motornya!" Leo menyerahkan kunci motor dengan gantungan kunci bergambar tengkorak pada pemilik motor.
"Makasih, Om. Kita pamit dulu. Maaf ya Om udah ngeledekkin tadi." ternyata si alay pemilik motor bisa bersikap santun juga.
"Iya! Jangan jahil lagi ya! Jangan kebut-kebutan! Belajar yang bener!" nasehat Leo.
Ketiga anak alay itu lalu salim padaku dan Leo sebelum pergi. Tapi Leo teriak sesuatu yang membuat mereka balik lagi.
"Mau dikasih bonus lagi enggak?"
Tak sampai satu menit, mereka berlari saling susul menyusul dan sudah sampai di depan Leo lagi. Aku tertawa ngakak melihat ulah jahil Leo.
"Mau Bang eh Om."
"Bang apa Om nih?" ledek Leo.
"Om!" jawab ketiganya kompak.
"Bisa aja nih tuyul." Leo mengeluarkan lagi tiga lembar uang lima puluh ribu rupiah dan memberikannya masing-masing selembar pada mereka. "Buat beli ayam goreng. Bagi sama keluarga di rumah."
"Asyik! Dapet seratus lima puluh ribu. Rejeki!" kata salah satu anak alay.
__ADS_1
"Alhamdulillah!" kataku mengingatkan.
"Iya Kak. Alhamdulillah." jawab ketiganya kompak.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak jaman sekarang. Cepet banget kalo masalah duit.
"Ayo kita wisata kuliner!" Leo berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
"Ayo." kataku seraya menerima uluran tangannya.
Kami lalu keluar dari area TMII. Setelah putar balik kami pun berbelok ke Jalan Raya Pondok Gede dan berhenti di samping Rumah Sakit Haji Jakarta.
Benar saja perkataan Leo. Ada pasar pagi disini. Ruame banget. Leo memarkirkan motornya di tempat parkir yang disediakan. Tak lupa mengamankan helm miliknya dan milikku terlebih dahulu.
Sambil menggandeng erat tanganku kami memasuki area pasar pagi. Lumayan padat juga dan barang yang di jual unik-unik.
Mataku teralih pada penjual jenglot. OMG! Jenglot segala di jual? Ck...ck...ck....
Leo mengajakku mengitari tukang dagangan lain. Standar sih yang di jual. Ada daster, baju anak-anak, boneka dan mainan anak.
Perhatianku kembali teralih pada penjual cairan isi ban. Cara penjual mempromosikannya sangat jago. Mungkin jebolan S3 marketing Shopee. Banyak yang melihat aksinya menusukkan paku ke ban dan tidak bocor. Hebat. Lumayan untuk mengatasi jalan protokol Jakarta yang banyak ranjau pakunya.
Kami pun tiba di area penjual makanan. Ada soto ayam, soto mie, pecel, ketoprak, bakso dan mie ayam. Pilihanku pun jatuh pada bakso.
"Mau apa?" tanya Leo setelah kami dapat tempat duduk kosong.
"Bakso pakai mie kuning. Bakso urat ya. Yang gede!" pesanku.
"Siap, Madam." Leo lalu memesankan pesananku dan tak lama kembali dengan dua mangkuk bakso.
"Enak nih kayaknya." kutuangkan banyak saus jorok, sambal dan cuka. Aku pengen makanan yang asem pedas biar segar.
"Jangan banyak-banyak sambalnya. Nanti kamu kepedesan Sayang." Leo mengambil mangkok sambal, mencegahku menuangkan lebih banyak lagi sambal ke mangkokku.
"Iya." aku menurut lalu mencoba kuah baksonya. Hmm...seger. "Pak mau Es Tee pakai batu es ya dua." aku memesan minum tanpa bertanya dulu pada Leo.
"Enak?" tanya Leo. Aku mengangguk. Terlihat amat menikmati bakso tentunya.
Leo mencoba kuah baksoku yang berwarna merah dan kental karena banyak saus. "Mm... Asem banget! Pedes juga! Hati-hati ah nanti kamu sakit perut. Jangan dihabisin kuahnya. Dikit aja."
Mulai deh Leo over protective padaku. "Iya."
Aku pura-pura menurut tapi ujung-ujungnya kuhabiskan juga satu mangkok bersih tanpa sisa. Leo hanya menggelengkan kepala melihat ulahku.
"Kita jalan-jalan lagi yuk." ajakku dengan penuh semangat.
Setelah membayar bakso kami pun mengitari tukang dagangan. Ternyata hanya lapar mata saja. Bingung mau beli apa. Akhirnya malah enggak beli sama sekali.
Pegal kelamaan berjalan kaki, Leo mengajakku pulang. Sebelum pulang Ia berhenti di salah satu apotek dan membeli testpack. Aku hanya memperhatikan Leo memilih berbagai testpack. 4 buah testpack akhirnya Ia beli.
"Ayo langsung coba." pinta Leo setelah sampai di rumah.
"Besok pagi aja. Yang paling bagus kan test saat pipis pertama di pagi hari."
"Aku punya 4. Nanti kalau kurang aku beli lagi. Coba sekarang sama besok pagi ya." Leo kalau sudah punya kemauan pasti akan terus merengek sampai keinginannya terpenuhi.
"Enggak boleh besok?" negoku.
"Enggak. Besok lagi boleh kalau mau test." Leo mendorongku ke arah kamar mandi.
Huft...
Aku lalu masuk kamar mandi dan menampung air seni di dalam cup yang sudah disediakan. Kucelupkan testpack ke dalam cup dan menunggu sampai hasilnya keluar.
Tak sampai satu menit hasilnya sudah keluar. Satu garis terlihat jelas. Aku lalu membawa hasilnya dan memberikan pada Leo yang sudah menunggu di luar kamar.
Leo bolak-balik tak jelas. Dan langsung menghampiriku saat aku keluar dari kamar mandi.
"Gimana?" tanya Leo.
"Cuma satu garis yang jelas." Aku memberikan test pack pada Leo.
Agak kecewa mendengar perkataanku, Leo memeriksanya sendiri.
"May!"
"Hmm." jawabku yang sedang duduk di tempat tidur.
"Ini bukannya garisnya sama ya?" Leo membawa testpack tadi dan menunjukkannya padaku.
Aku memperhatikan. Agak kurang jelas sih. Taoi beneran ada garis samar. "Iya sih." kataku mengakui.
"Besok pagi kamu harus cek lagi pokoknya. Aku yakin banget nih kalau kamu hamil. Yess!" aku hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan Leo. Semoga memang benar aku hamil.
****
Ayo dong likenya kencengin lagi! Votenya juga yang belum vote mana? Hayo pada mabok rendang ya????
__ADS_1