Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Menjauh-1


__ADS_3

Leo mengernyitkan keningnya mendengar perkataanku barusan. Ia melangkah cepat menuju meja kerjanya yang terletak tepat samping tempat dudukku.


Tak hanya itu saja, Leo juga menarik kursiku dengan kakinya agar kami bisa berbicara lebih dekat.


"Pasti ada sesuatu deh. Ada apaan? kamu pasti mengalami sesuatu kan? Ada masalah apa?"


Aku hanya menggelengkan kepalaku. Enggan memberitahukan Leo apa yang udah terjadi.


"Cerita dong May ada apa. Kalau ada masalah kan aku bisa bantu."


Baru saja aku hendak menceritakan kejadian semalam ketika pintu ruanganku terbuka dan....


"Hai adik iparku yang cantik!" Richard datang dan langsung menyapaku dengan senyumannya yang lebar.


Aku hanya mengelus dada melihat kelakuan Richard. Aku jadi meragukan apakah benar Ia dulu pernah meraih banyak piala dan sepintar itu? Atau otaknya rada-rada konslet karena kebanyakan konsumsi narkoba?


"Mau ngapain sih Cat pagi-pagi udah ke ruangan orang? Ganggu aja deh!" omel Leo pada kakaknya yang rese itu.


"Kerja tau! Aku mau kasih laporan ini sama adik iparku yang cantik ini." Richard menyerahkan sebuah map biru berisi laporan biaya marketing yang kemarin Pak Johan suruh aku memintanya pada bagian marketing.


"Makasih." aku mengambil map tersebut dan meletakkannya di atas meja. Nanti akan kuserahkan pada Pak Johan kalau Ia datang.


Richard memandang sekitar ruangan audit. "Enak banget ya kalian satu ruangan. Aku mau ditempatin disini tapi enggak boleh sama Papa. Huh!"


"Sama Papa? Maksudnya gimana?" tanyaku bingung. Apa ini alasan Richard dengan mudah masuk ke dalam Kusumadewa Group?


"Ya Papa kan yang punya-" Leo langsung memotong ucapan Richard.


"Papa punya saham disini. Jadi Richard minta kerja disini dan diusahakan sama Papa." Leo yang melanjutkan penjelasan Richard.


Awalnya Richard enggak mengerti maksud ucapan Leo tapi tak lama Ia mulai paham. Ia hanya mengiyakan saja perkataan Leo.


"Ooh... Tapi Cat, ngeliat kamu potong rambut begini kok aku enggak ngenalin ya? Pangling gitu loh. Kemarin waktu kamu gondrong dan ada jenggot serta kumis tipis mirip siapa gitu aku lupa. Yang pasti aku pernah liat orang yang mirip banget sama kamu."


"Yaiyalah kamu kayak liat orang. Aku kan mirip sama Pa-" lagi-lagi Leo memotong ucapan Richard.


"Udah sana balik lagi ke ruangan! Sebentar lagi Kak Anggi dan Kal Fahri datang!" omel Leo.


"Biarin aja! Aku lagi kerja kok. May, nanti gajian pertama traktir aku ya?" Richard mengambil kursi dan duduk di depan meja kerjaku.


"Kenapa harus traktir kamu, Cat? Ada juga traktir aku tau!" sahut Leo tak mau kalah.


"Kenapa aku harus traktir kalian berdua? Yang gajian aku, yang kerja aku, tapi kenapa gajian harus traktir kalian?" tanyaku bingung.


"Traktir orang ganteng enak loh May." jawab Leo penuh percaya diri.


"Ih sok kegantengan! Traktir orang pinter tuh asyik tau May." kali ini Richard ikut-ikutan.


Aku akhirnya bisa tertawa melihat ulah kakak beradik ini. Lucu banget. Enggak ada yang mau mengalah.


"Aku traktir kalian berdua aja, gimana?" penatku hilang kala bersama mereka. Lupa akan penghinaan yang kuterima semalam.


"Nah gitu dong. Gimana kalau kita barbequean aja May?" usul Richard.


"Barbeque? Dimana? Di kontrakkanku enggak mungkin, nanti tetanggaku terganggu." tolakku.


"Gimana kalau di rumah Mama aja Cat?" usul Leo.


"Di rumah Papa aja kali. Ngapain juga harus di rumah Mama?" tolak Richard yang sepertinya keberatan di rumah Mamanya. Entah karena apa aku tidak tahu.


"Hmm... Ini maksudnya di rumah orang tua kalian gitu?" tanyaku bingung.


"Iyalah." jawab Duo Buntung kompak.


"Tapi.... " aku agak ragu mengatakannya. Pengalaman semalam membuatku ragu untuk main ke rumah lawan jenis. Takut dihina lagi.


"Tapi kenapa May? Papa sekarang udah jinak. Kalau Mama walau nyebelin tapi kayaknya seneng-seneng aja kita berantakin rumahnya." jawab Richard.


"Nanti aku pikirin lagi deh. Kamu balik aja ke ruangan kamu. Enggak enak kalau Pak Johan yang ngeliat kamu main kesini. Kamu masih karyawan baru. Takut image kamu jelek nanti." Richard menurut saja aku usir dari ruangan. Mungkin karena kata-kataku sopan dan halus makanya Richard menurut.


"Oke. Kalau Maya yang nyuruh aku nurut aja." Richard pun meninggalkan ruangan kami. Aku menatap Leo yang mencibirkan bibirnya selepas Richard pergi.


"Kalau aku yang nyuruh aja mana mau? Nyari perhatian aja di depan kamu May!"


Aku tersenyum melihat ulah Leo. Aku hendak kembali bekerja namun Leo sepertinya masih mau membahas permasalahan yang tadi sempat terputus.

__ADS_1


"Kamu ada masalah sama Angga? Kamu jadi ke rumah Angga?"


Rupanya Leo sudah menebak apa yang sudah terjadi padaku semalam.


Aku menggangguk tak mampu berkata apa-apa lagi.


"Lalu?"


Aku menghela nafas berat. "Seperti yang kamu bilang waktu itu."


"Jangan bilang kalau keluarganya Angga juga menghina kamu?" lagi-lagi tebakan Leo benar.


Aku tak bisa menjawabnya. Hanya terdiam.


"Kurang ajar! Dibilang apa aja kamu? Aku kan udah bilang sama kamu! Ah jadi kesel aku!" Leo memukul mejanya dengan kesal.


"Aku yang dihina kenapa kamu yang kesal sih?" gerutuku pelan namun Leo ternyata mendengarnya.


"Ya aku enggak terima lah kamu dihina kayak gitu? Siapa sih mereka? Hah?"


"Namanya juga orang kaya. Maklumin aja lah." kataku pada akhirnya.


"Ya enggak bisa gitulah May. Kaya itu enggak ada hubungannya sama atittude. Kaya bukan berarti enggak punya atittude! Aku udah bilang jangan kesana eh kamu masih aja ngeyel." ujar Leo penuh emosi.


"Ya suka-suka aku lah. Mau kesana atau enggak kek. Kenapa jadi kamu yang ngatur-ngatur aku sih?" kekesalanku semalam jadi aku luapkan ke Leo.


Sekarang gantian Leo yang diam. Aku jadi merasa bersalah. Apa aku terlalu kasar padanya?


Leo tetap saja mendiamiku. Di istirahat makan siang dan juga ketika pulang kerja. Ia tidak berbasa-basi padaku dan langsung pulang mengendarai motornya.


****


"May. Kamu kemarin ke rumahnya Angga ya? Gimana orang tuanya? Terima kamu enggak?" tanya Bu Sri yang sedang main ke kontrakkanku setelah aku meneleponnya dan mengatakan kalau aku beli siomay yang enak banget.


Aku sengaja hanya memanggil hanya Bu Sri seorang tidak dengan Bu Jojo. Terkadang Bu Sri lebih logis dan masuk akal pemikirannya.


"Udah. Tapi kok Mamanya Angga kenal sama Ibu ya?" aku mengganti chanel TV ke sinetron kesukaan Bu Sri agar Ia betah berlama-lama di kontrakkanku.


"Yang kayak gitu mah enggak usah ditanyain May. Saya kan terkenal disini. Siapa yang enggak kenal saya dan Bu Jojo?" Bu Sri menyombongkan dirinya.


"Ada nasi enggak May?" tanya Bu Sri.


"Nasi? Buat apaan?" tanyaku bingung.


"Buat makan siomay lah." jawab Bu Sri lagi.


"Loh kok? Mana enak makan siomay pake nasi Bu?" aku bingung tapi tetap kuambilkan sepiring nasi putih untuk Bu Sri.


"Kalau cuma siomay aja mah enggak kenyang May. Enggak nampol. Kalau pakai nasi udah pas tuh. Anggap aja makan sate ayam pakai nasi."


"Ah terserah Ibu aja lah."


"Oke, lanjutin lagi cerita tadi. Mamanya Angga gimana? Baik enggak? Mau nerima status kamu enggak?" tanya Bu Sri yang sedang menikmati makan siomay pakai nasi. Melihatnya saja aku udah kenyang apalagi melakukan yang Ibu Sri lakukan?


"Mamanya Angga enggak suka Bu sama Maya." aku memainkan siomay di piringku tanpa kumakan. Suasana hariku memburuk lagi jika mengingat kenangan kemarin malam.


"Kenapa enggak suka?"


"Karena aku seorang janda, Bu." jawabku jujur.


"Loh masalahnya dimana? Kalau kamu istri orang baru Dia boleh enggak setuju. Wong kamu tuh udah single sekarang, enggak masalah dong?" itu juga yang kumasalahkan kemarin. Apa yang salah dengan janda?


"Mungkin pemikiran Mamanya Angga kalau janda itu semacam momok menakutkan yang akan menular ke anak cucunya nanti. Kayak semacam kutukan gitu Bu."


Bu Sri mencomot siomay yang ada di piringku, yang sejak tadi tidak kumakan. Nih emak-emak bener-bener enggak bisa liat yang nganggur ya main embat aja!


Tapi karena aku sayang dengan Bu Sri aku malah memberikan siomay milikku dengan sukarela padanya.


"Orangnya sih memang agak sombong sih May. Bilang apa aja sama kamu?"


"Bilang kalau Maya seharusnya bersyukur kehilangan Adam jadi aku bisa memulai hidup baru tanpa beban." jawabku dengan sedih. "Kenapa Adam dibawa-bawa sih Bu? Adam kan enggak salah."


Mataku kembali memanas. Air mata kembali mengalir di pelupuk mataku. Tak kuasa kubendung dan mengalir bak air bah.


"Setega itu May dia ngomong gitu sama kamu?" tanya Bu Sri yang kini berhenti makan dan memelukku.

__ADS_1


Pelukan yang amat nyaman. Aku seperti memeluk Ibu. Seperti bisa menyandarkan diriku sejenak dari segala permasalahan yang menderaku saat ini.


"Jahat ya Bu? Hati Maya sakit banget dengernya. Hu...a....." aku menangis sesegukan.


"Cup...cup...cup.... Jangan sedih May. Kamu enggak salah kok. Memang hati Mamanya Angga kayak iblis tuh. Kayak hidupnya udah paling bener aja!"


Aku mengangguk-angguk mengamini perkataan Bu Sri.


"Udah kamu nggak usah pikirin omongannya dia May! Kalau kata saya mah udah deh kamu nggak usah terlalu dekat lagi sama Angga. Dari awal juga saya memang lebih mendukung Leo dibanding Angga,"


"Meskipun Leo pernah salah sama kamu tapi Ia membuktikan kalau Ia tuh memperbaiki kesalahannya. Kita kan nggak tahu sifat Angga sebenarnya kayak gimana? Sekarang aja kelihatan manis di depan kamu karena lagi pendekatan, tapi kalau sudah nikah nanti bukan nggak mungkin kan kalau sikapnya itu seperti Mamanya?"


Membayangkan kalau Angga akan seperti Mamanya saja sudah membuatku bergidik ngeri. Bagaimana kalau aku hidup dengan laki-laki yang sikapnya kayak Mamanya Angga? Kayaknya aku bakal lebih menderita lagi dibanding aku hidup dengan Leo.


"Iya Bu. Maya memang rencananya mau menjaga jarak dengan Angga. Maya tahu Angga memang baik sama Maya, tapi Maya masih pikir-pikir Bu. Lagi juga Maya dari kemarin belum memberi jawaban sama Angga, Angganya aja yang maksa Maya buat datang ke rumahnya untuk diperkenalkan dengan kedua orangtuanya."


Aku melepaskan pelukanku dari Bu Sri, menyusut hidungku yang berair dan mengelap mataku yang meneteskan air mata terus sejak tadi dengan tissue.


"Saya setuju. Kamu pikir-pikir dulu deh mana yang terbaik buat kamu. Jangan sampai kamu mengecewakan orang tua kamu lagi untuk yang kedua kalinya. Saya kasihan sama Ibu kamu, sangat menyayangi kamu dan begitu khawatir tentang nasib kamu."


"Iya, Bu."


"Nah gitu dong. Ayo makan lagi. Saya lapar nih. Apa kita pesen sate ayam juga sekalian?"


Aku menggelengkan kepalaku. Heran dengan porsi makan Bu Sri yang amat banyak tersebut.


"Siomay plus nasi masih kurang? Yaudah kalau mau sate. Pesen Bu....Pesen.... Apa sih yang enggak buat Ibu?"


"Belum jadi orang kaya aja Maya udah royal begini apalagi kalau jadi menantu orang kaya?" ledek Bu Sri.


"Prettt orang kaya. Idiiwww..."


Aku dan Bu Sri tertawa bersama-sama. Ah salah besar tuh Mamanya Angga. Orang seasyik Bu Sri kok dimusuhin sih?


****


Jam 6 pagi aku sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kantor. Aku hari ini mengenakan kemeja garis-garis berwarna putih biru dengan celana panjang berwarna biru muda. Di kantorku nggak ada larangan untuk memakai celana warna apa saja, terserah. Selama sopan dan formal tentunya.


Baru saja aku membuka pintu rumah aku sudah dikagetkan oleh sesuatu. Bagaimana aku tidak kaget kalau sudah ada Leo yang sedang duduk diatas motornya tepat di depan rumah kontrakanku tentunya.


"Leo? Kamu ngapain disini?" tanyaku.


"Jemput kamu. Udah cepetan naik! Atau kamu mau dianterin sama Angga? Mobil Angga udah nungguin kamu tuh di depan gang!" Leo menunjuk ke arah depan gang tempat biasa Angga menungguku untuk berangkat kerja bareng.


Aku sempat ragu untuk menerima helm yang Leo berikan. Bukan apa-apa, aku ragu antara berangkat kerja bareng dengan Leo atau aku harus berhadapan lagi dengan Angga.


Baru saja semalam aku berjanji dengan Bu Sri kalau aku akan menjaga jarak dulu dengan Angga eh Leo datang. Entah sebagai malaikat penolong atau memang dia sedang mencari kesempatan dalam kesempitan?


"Ayo cepetan! Pekerjaan aku masih banyak nih!" ujar Leo memintaku cepat mengambil keputusan.


Aku akhirnya mengambil helm yang sejak tadi Leo berikan, aku pakai helm dan lalu naik ke atas motornya. Tak lupa aku menutup pintu rumah terlebih dahulu dan menguncinya.


"Aku anterin kamu ke kantor tapi bayarannya beliin aku nasi uduk yang kemarin kamu beliin buat Angga ya!" pinta Leo sebelum menyalakan mesin motornya.


"Jadi nggak ikhlas nih?" sindirku.


"Kalau nggak mau beli nasi uduk ya udah berarti sepanjang jalan kamu harus peluk aku. Kamu pilih mana? Beli nasi uduk aku peluk aku?"


Ini sih bukan pilihan namanya, tapi pemaksaan. Mau tidak mau aku harus memilih dan aku lebih memilih membelikan nasi uduk daripada memeluk Leo lewat sepanjang jalan.


"Nasi uduk aja lah kalau kayak gitu. Mau pakai apaan aja nanti aku beliin?"


"Nah gitu dong. Pake telor balado sama tempe orek aja. Di deket warung Pak Husin kan?"


"Iya."


"Oke! Berangkat!"


****


🙂 Selamat pagi semuanya!


Aku UP pagi-pagi untuk menemani kalian sarapan ya. Mau ditemenin pas makan siang juga? Hmm... Vote dan Likenya turun jadi males nulis lagi 🤣🤣🤣.


Selamat sarapan semuanya. Jangan lupa senyum, karena senyum itu ibadah 😁

__ADS_1


__ADS_2