Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Jadi Mata-Mata


__ADS_3

Aku sering menonton cerita tentang seorang detektif yang sedang menyelidiki suatu kasus. Contohnya Sherlock Holmes, detektif pintar yang cerdas memecahkan kasus demi kasus dengan teori hipotesanya yang amat cemerlang.


Tapi nggak pernah sama sekali terlintas dalam pikiranku kalau aku akan menjadi detektif hari ini. Kejadian yang enggak disengaja membuat Leo mendapat satu petunjuk baru.


Papa Dibyo memang pernah bilang kalau Ia sangat mencurigai Pak Johan, atasanku. Tapi, selama ini Ia tidak punya cukup bukti untuk menyudutkan Pak Johan agar Pak Johan mengakui kesalahannya.


Siapa juga yang akan menyangka, acara jalan-jalan ke mal aku dan Leo akan berubah menjadi misi mata-mata. Melihat laki-laki berbaju kemeja putih menerima sebuah amplop dan berhasil diabadikan oleh kamera Leo membuat kecurigaan Papa Dio semakin mendekati kebenaran.


Tapi aku nggak pernah menyangka, Pak Johan atasanku akan melakukan hal sekotor itu. Ia telah memanipulasi data dan membuat seakan-akan Papa melakukan tindakan KKN. Padahal, Ia tidak melakukan hal tersebut. Namun entah mengapa laporan yang dibuat seakan-akan Papa itu melakukan tindakan penyuapan.


Leo menyuruhku bersembunyi tapi bukan aku namanya kalau tidak kepo. Aku mengintip sedikit dari balik tembok. Ternyata Pak Johan sedang tersenyum-senyum sambil memasukkan amplop yang Ia terima ke dalam tas warna hitam yang Ia pakai sehari-hari untuk bekerja.


Aku bukan orang bodoh yang tidak tahu kalau dalam amplop itu isinya pasti uang. Dan pasti bukan jumlah yang sedikit melihat dari tebalnya amplop yang diterima.


Tanpa aku sangka-sangka tiba-tiba Pak Johan berbalik badan. Aku cepat-cepat mengumpat lagi di balik tembok. Tapi kayaknya aku terlambat deh karena aku mendengar suara langkah kaki mendekat.


Aduh aku harus gimana ya? Aku harus melakukan apa? Aku tuh ketahuan banget lagi ngintip. Gimana nih? Aduh pasti Leo marah deh sama aku. Aduh gimana ya...


" Maya? Leo? Sedang apa kalian di sini?" Pak Johan ternyata beneran berjalan cepat menuju ke arah kami. Tanpa disadari Ia sudah sampai di dekat kami berdua.


"Eh... ada Pak Johan. Bapak lagi main juga Pak ke mall? Aku berusaha berbasa-basi, sambil memikirkan jawaban apa yang akan aku berikan lagi jika Ia menanyakan hal lain.


Pak Johan menatapku dan Leo dengan pandangan menyelidik dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia menaruh curiga denganku dan Leo. Aku ingin memberikan kode pada Leo mengenai apa yang harus aku lakukan, tapi sepertinya Ia santai saja. Tanpa kusadari Ia sudah memasukkan handphone ke dalam saku celananya.


"Kalian mengikuti saya ya kesini?" Pak Johan langsung menanyakan kecurigaan kepada kami. Tanpa basa-basi. Straight to the point.


"Enggak Pak. Bener deh. Kita nggak sengaja ketemu Bapak di sini." Aku langsung menjawab dengan spontan tanpa dipikirkan dulu. Emang bener kok aku nggak bohong, kan aku emang enggak ngikutin Pak Johan.


"Iya Pak. Kita enggak ngikutin Bapak kok. Saya lagi nemenin Maya belanja, tapi nggak sengaja ketemu Bapak. Saya bilang sama Maya, "Jangan sampai kelihatan sama Pak Johan kamu belanja banyak kayak gitu." Nah ternyata bapak udah keburu ngelihat kami duluan." Leo lagi lagi amat lancar kalau masalah berbohong. Kayaknya Leo ngomong aja orang udah percaya apalagi kalau dia bohong.


"Kenapa harus sembunyi dari saya? Kayak ada yang disembunyiin saja. Semakin mencurigakan saja melihat kalian berdua." Pak Johan bukan anak kecil yang bisa dibohongin dengan mudah. Ia kan kepala audit. Banyak menghadapi orang-orang yang berlaku curang di perusahaan. Wajar kalau Ia tidak semudah itu percaya kepada omongan orang.


"Ya harus sembunyi lah, Pak. Itu lihat aja belanjaan Maya sebanyak itu. Dia baru dapat uang dari orang tuanya. Orang tuanya baru dapat gusuran tanah 1 hektar. Mangkanya nih anak lagi pengen belanja. Kalo ketahuan Bapak malu dia. Iya kan May?"


Aku mengangguk saja. Mau Leo pakai alasan Bapak dapet gusuran tanah aku iyain aja. Padahal kan yang kasih tanah 1 hektar juga Leo. Hadeh... Bisa banget membalikkan fakta.


"Iya, Pak. Saya malu kalo ketahuan Bapak habis belanja. Saya kan anak baru. Nanti dibilang orang kaya baru lagi deh he... he... he..." aku cengengesan agar Pak Johan mempercayai ucapanku.


Pak Johan kembali memperhatikan barang belanjaan yang kutenteng di tangan kanan dan kiriku. Barang-barang branded yang enggak mungkin dibeli sama kacung kampret yang baru 2 bulan kerja di bagiannya.


"Baiklah cepat pulang kamu! Udah malam! Jangan sampai besok kesiangan kayak tadi!" pesan Pak Johan sebelum pergi.


"Baik, Pak." jawabku dan Leo kompak. Pak Johan enggak tau aja yang bikin aku kesiangan tuh si tukang bohong yang jago banget ngarang alesan dadakan. Tuh orang otaknya lancar banget kalo disuruh bohong dalam keadaan darurat.


Leo lalu mengajakku ke motor miliknya yang diparkir tak jauh dari tempat kami berdiri. Pandangan Pak Johan tak hentinya memperhatikan kami. Aku tahu pasti Ia mencurigai kami sekarang.


Aku lalu naik motor Leo dan menganggukkan kepalaku saat kami berpapasan. Kalau Leo membunyikan klakson tanpa permisi.


"Kamu jago banget bohong ya? Lancar banget kalo ngebohong. Kayak enggak mikir dulu gitu. Bablas aja. Apa kamu kebanyakan bohongin cewek-cewek di luar sana?" aku memberondong Leo dengan banyak pertanyaan saat motor sudaj keluar dari area mall dan berbelok ke arah Jalan Hang Tuah Raya lalu berhenti di lampu merah menuju arah Jalan Trunojoyo.


"Boro-boro mikir pacaran, May. Perusahaan Papa hampir jatuh saat Papa ditangkap. Upaya penjebakan yang dilakukan oleh saingan bisnisnya tuh benar-benar parah banget. Untungnya aku langsung cepat mengambil alih. Kalau nggak bisa dipastiin deh Kusumadewa Grup udah hancur. Aku bukan kebanyakannya gombalin orang, apalagi cewek-cewek. Aku tuh kebanyakan ngadepin orang-orang yang hidupnya penuh dengan kepalsuan,"


"Ngadepin mereka nggak bisa pakai cara jujur. Ibaratnya kelicikan dibales sama kelicikan. Aku banyak belajar dari Papa yang ngajarin aku langsung selama dipenjara. Dunia bisnis itu kejam. Mau nggak mau harus bertahan, karena beban tanggung jawab puluhan ribu karyawan yang menggantungkan hidupnya di Kusumadewa Grup ada ditanganku."

__ADS_1


Leo kembali menjalankan motornya setelah lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Ia lalu mengarah ke arah Jalan Gunawarman menuju ke Blok S lalu keluar di Jalan Kapten Tendean.


"Memangnya nggak ada gitu bisnis yang jujur? Kan kalau jujur juga jadi berkah." aku sok menceramahi Leo tentang bisnis yang aku campur adukkan dengan agama.


Aku mendengar suara tawa Leo. Mungkin Ia menertawai pemikiranku kali.


"Maaf Sayang aku nggak bermaksud menertawai kamu. Aku tuh cuma salut aja sama hati kamu yang baik banget. Tapi sayangnya di dunia bisnis itu enggak bisa kayak gitu. Dunia bisnis itu ibarat pion catur. Kita kalah, kita akan dimakan oleh lebih kuat. Kita harus punya strategi supaya kita bisa menang dan membuat lawan skakmat. Ya kita berusaha jujur tapi ada saat-saat dimana kita harus bisa memegang kendali ya salah satu caranya dengan kemampuan dalam mengubah keputusan orang lain."


"Tau ah. Pokoknya awas saja kalau kamu sampai sering ngegombalin cewek lain!"


"Iya Sayang. Iya."


Karena sudah agak malam jadi jalanan udah mulai sepi. Lalu enaknya tinggal di komplek perumahan Papa Dibyo adalah enggak terlalu macet. Lebih cepat sampai dibanding rumah kontrakanku.


Ternyata Papa Dibyo belum tidur. Seperti yang diceritakan oleh Leo, Papa sedang bermain PS. Kasihan sih melihatnya. Di masa tua bukannya berkumpul dengan istri tapi malah sibuk dengan game yang menurutku lebih cocok dimainkan oleh anak dan cucunya.


Setelah berpamitan dengan Papa aku langsung ke atas, sementara Leo sibuk merundingkan sesuatu dengan Papanya. Aku tahu, pasti membahas tentang Pak Johan yang tadi Ia temui sedang menerima amplop.


Sampai di kamar aku langsung mengambil handuk dan melakukan kegiatan yang sekarang menjadi favoritku, yakni berendam di bath up dengan air hangat dan busa sabun yang banyak.


Emang dasar ya aku orang desa, baru kenal sama bath up dan langsung norak gitu. Pokoknya tuh enak banget berendam di bath up. Rasa lelahku tuh seakan hilang kalau udah berendam pakai air hangat. Belum lagi sabunnya Leo yang aku tahu nih pasti mahal karena wanginya tu nggak ilang-ilang.


Selesai berendam aku pun membilas tubuhku dibawah shower biar lebih bersih. Aku lalu memakai handuk mandiku. Baru saja hendak keluar dan membuka pintu kamar mandi eh aku berpapasan dengan Leo.


"Mau kemana?" tanya Leo. Kenapa juga mesti nanya. Habis mandi kan mau pakai baju. Aneh deh.


"Ya mau pakai baju di dalam."


"Enggak usah. Temenin aku mandi dulu."


"Bukan aku yang minta ditemenin. Tapi Leo junior."


Kalau udah urusan dengan Leo junior aku bisa apa? Udah diajak shopping banyak dan mahal masa enggak mau nemenin Leo junior sih?


Dan aku akhirnya berendam di bath up dua kali dan juga mandi di bawah shower dua kali. Bener-bener ya Leo. Makin dewasa makin kuat saja staminanya.


Apa karena dulu waktu masih jadi mahasiswa kami takut diarak warga jadinya melakukan hubungan intim tidak sebebas sekarang?


Yang pasti aku super duper lelah. Aku langsung tertidur setelah memakai pakaian. Belanjaanku saja belum aku beresin dulu saking lelahnya.


Berbeda denganku, Leo langsung kembali bekerja. Entah mengerjakan apa. Aku hanya terbangun sekali dan mendapatinya sedang menatap layar laptopnya dengan serius.


Kasihan. Pasti Ia juga lelah. Namun tanggung jawabnya begitu besar. Aku kembali tertidur ketika Leo mengusap-usap rambutku sampai aku terlelap kembali.


Pagi harinya aku bangun dan membuatkan sarapan untuk Leo. Baru jam 5 pagi jadi masih ada bibi saja yang sudah bangun.


"Biar aku saja Bi yang buatkan sarapan." aku mencegah Bibi membuat sarapan roti bakar yang simple. Aku mau membuat nasi goreng saja.


"Beneran Neng?" Bibi agak ragu menyerahkan tugasnya padaku, takut Papa Dibyo marah mungkin.


"Iya, Bi. Tenang saja. Bibi lanjutin kerjaan yang lain aja ya. Urusan buat sarapan itu urusanku."


"Baiklah Neng. Bibi ke belakang dulu ya."

__ADS_1


"Oke, Bi." aku lalu memeriksa bahan makanan yang bisa aku pakai untuk membuat nasi goreng penuh cinta. Ada udang kupas dan cumi frozen. Bikin nasi goreng seafood kayaknya enak nih.


Aku lalu menyibukkan diri membuat nasi goreng seafood. Harum nasi goreng yang baru matang membuat rumah Papa Dibyo semerbak wanginya.


"Hmm... Wangi apa nih? Kayaknya ada yang habis masak?" tanya Papa Dibyo yang baru keluar dari kamarnya.


"Wangi masakkan istri aku dong, Pa." Leo memamerkan kemampuanku.


"Sombong banget mentang-mentang udah punya istri." celetuk Richard yang kebetulan belum berangkat kerja.


"Ayo semuanya sarapan. Maya hari ini buat nasi goreng seafood buat sarapan. Ayo cepetan keburu dingin!"


"Jadi kayak ada Mama ya Pa di rumah. Ada wangi masakan. Kalau Bibi biasanya nyediain sarapan roti bakar. Enak nih kalau Maya sering-sering buatin kita sarapan." celetuk Richard.


"Enak aja! Memangnya istriku tukang masak apa?" omel Leo.


"Enggak apa-apa, Sayang. Aku suka kok buatin sarapan buat kalian. Ayo cepat makan, nanti kesiangan lagi!"


Kami lalu sarapan bareng dan tak lama kemudian berangkat kerja.


Sampai di ruangan masih sepi. Aku sibuk dengan Hp-ku sedangkan Leo sibuk dengan pekerjaannya sebagai Mr. So.


Tak lama Pak Johan datang. Ia masih memandangku dan Leo dengan pandangan curiga seperti semalam.


"Pagi!" sapa Pak Johan.


"Pagi, Pak." jawab semuanya.


Ternyata Pak Johan tidak semudah itu melepaskanku dan Leo. Ia memintaku dan Leo mengerjakan banyak laporan dan harus selesai hari ini juga.


"Maya, kamu mintakan data penjualan bulan lalu ke cabang Kemang. Minta juga laporan petty cash sama mereka. Kalau tidak ada atau mencurigakan kamu langsung sidak ke lapangan. Minta supir untuk mengantar kamu ke sana."


Ke Kemang? Sendirian? Udah gitu ngelakuin sidak lagi?


"Baik, Pak." aku hanya bisa mengiyakan perintah atasan tanpa banyak komentar.


"Leo, kamu ke cabang Bekasi. Periksa barang yang sudah expired dan laporan pengembalian barang. Sekalian kamu juga ke cabang Cikarang, periksa keadaan di sana. Penjualan di sana banyak tapi laporannya tidak ada penambahan. Kamu naik motor saja. Dekat kan?"


"Iya, Pak." jawab Leo.


Gila! Gila! Gila! Di suruh ke Bekasi saja lumayan jauh eh di suruh ke Cikarang segala lagi. Itu apa namanya kalau bukan nyiksa. Kasihan banget suamiku.


Aku mengirim pesan ke Hp Leo.


Sabar ya Sayang. Kamu pasti bisa! Cayoo!


Kulihat Leo tersenyum saat membacanya.


Aku naik mobil Richard kok. Tenang aja. Leo mau diakalin! Nanti malam pakai baju yang seksi ya. Aku kalau kecapean suka melepas ke hal-hal yanh membuatku bahagia gitu. See you. I love u darling.... Muach.... di tahi lalat kamu yang seksi.


Mataku langsung membulat membaca pesan yang Leo kirimkan. Sempat-sempatnya Ia mengirim pesan seperti itu di keadaan saat ini. Tapi setidaknya aku tenang kalau Ia akan pergi dengan mobil Richard.


Aku pun berpisah jalan dengan Leo. Aku ke Kemang, dan Leo ke Bekasi. Tapi satu yang pasti, aku dan kamu hati kita selalu bersama....

__ADS_1


****


Cuma mau bilang, Jangan lupa vote, like, komen dan say I Luv you....


__ADS_2