Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Rencana Kak Rian


__ADS_3

Minggu pagi aku dibangunkan oleh Bu Sri untuk jalan pagi sekaligus ke pasar. Katanya enggak baik masih muda jarang olahraga.


Dengan mata yang masih mengantuk aku lalu mencuci mukaku dan mengganti baju tidurku dengan celana joger dan jaket hoodie dengan warna senada. Bu Sri ijin pulang dulu untuk ganti baju. Rencananya kami akan ketemuan di depan rumah Bu Jojo.


Aku meminum air putih dulu segelas. Kebiasaan selalu minum air putih saat bangun tidur yang katanya bagus untuk kulit juga dibandinga manfaat lainnya.


Aku memasukkan dompet kecil dan Hp di saku jaket hoodieku. Aku mengenakan sepatu runningku yang berlogo huruf v dan menguncir rambutku tinggi-tinggi.


Orang bilang kalau dandanan aku kayak gini seperti anak ABG 17 tahun padahal usiaku kini sudah menginjak 24 tahun. Statusku sudah bukan ABG lagi melainkan Jankem alias Janda Kembang.


Aku mengunci pintu dan berpapasan dengan tetanggaku yang sangat ramah. Saking ramahnya sampai istrinya selalu menatapku dengan tatapan curiga dan siap menerkamku kapan saja.


"Neng Maya mau kemana? Mau olahraga ya?" tanya si tetangga sangat ramah.


"Iya, Pak." jawabku sesingkatnya. Aku mengunci rumah lalu mengangguk pada si tetangga sangat ramah dan pergi secepatnya dari rumah.


Bukan apa-apa, anjing herdernya sudah mulai keluar rumah dan siap menerkamku kalau aku meladeni suaminya yang kecentilan.


Sebenarnya jarak rumah kontrakanku dengan rumah Bu Jojo itu nggak jauh. Cuma cobaan yang harus dilalui itu banyak.


Apalagi di pagi hari biasanya bapak-bapak banyak yang sedang mengeluarkan burung peliharaannya. Mereka bersiul-siul. Siulannya itu ibaratnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Sambil mengajak burung ngobrol Ia juga sambil menggoda aku si janda kembang cantik yang sedang melintas.


"Maya... Suit.... suit..."


"Eh ada Neng geulis."


"Maya mau kemana? Sini Kakang temenin."


"May, jadi bini Abang mau?" ini yang frontal karena tak lama sebuah sandal Swallow warna kuning langung melayang ke kepala si Abang Centil. Disusul dengan teriakan:


"Bini yang di rumah mau dikemanain Bang? Mau aye usir cuma pake kolor doang?!" teriak bininya yang melempar pakai sandal Swallow tadi.


Nah kalau sudah kayak gini lebih baik aku kabur aja. Enggak usah banyak nengok kiri kanan biar aman. Tuh di depan Duo Julid udah nungguin.


Bu Sri pakai celana training abu-abu dengan atasan warna kuning kunyit. Enggak nyambung seperti biasa. Sementara Bu Jojo mengenakan training dan kaos branded KW bertuliskan Giccu deh.


"Lama banget sih May?" protes Bu Sri.


"Lagian Ibu sih bukannya bareng sama saya. Udah tau kalau saya jalan sendirian cobaannya banyak. Ini malah ditinggal pulang duluan." aku balas mengomeli Bu Sri.


"Yaudah ayo kita jalan. Nanti pulangnya mampir ke pasar ya. Saya mau masak semur jengkol kesukaan Mas Bojo." Bu Jojo langsung menggandeng tanganku dan tangan Bu Sri lalu mengajak kami jalan daripada kelamaan ngobrol hanya buang-buang waktu saja.


Ternyata jalan sama Ibu-ibu tuh pilihan yang salah. Mereka mah asyik aja jalan sambil ngegosip sementara aku udah mulai kelelahan menyeimbangi kecepatan mereka.


"Enggak bisa pelanan dikit apa Bu jalannya?" protesku.


"Kenapa May? Udah kecapean ya?" tanya Bu Jojo.


"Iya. Jauh juga nih kita jalannya." Aku berhenti dan memegang kedua lututku sambil membungkuk. Aku sibuk mengatur nafas yang sejak tadi berkejaran dengan degup jantungku.


"Makanya rajin olahraga jadi kuat! Kerja di kantor kebanykan duduk jadi kurang gerak. Jam istirahat kamu tinggal turun lift dan makan di kantin. Enggak ada olahraga sama sekali." omel Bu Sri.


"Iya. Kamu juga enggak ada olahraga malam kayak kita berdua makanya kamu enggak kuat jalan jauh." ledek Bu Jojo.


"Olahraga malam? Ngapain? Senam?" tanyaku bingung.


"Nah mulai deh dia enggak nyambung. Olahraga malem tuh olahraga bareng suami. Tau kan olahraga apaan?" tanya Bu Sri lagi.


"Oh kalau olahraga kayak gitu mah Maya ngerti." jawabku sambil tersenyum bangga.


"Tuh kan kalau yang kayak gitu dia cepet nyambungnya." Bisik Bu Jojo.


"Ho oh." jawab Bu Sri menimpali.


"Udah ayo cepetan! Di depan udah ada pasar. Tapi sarapan dulu ya? Maya laper nih. Capek nih jalan pagi ada kali 5 km lebih. Betis Maya bisa berkonde nih kalau kayak gini caranya!" gerutuku.


"Iye... Iye... Sebelum jadi penganten baru harus banyak olahraga biar kuat beronde-ronde." ledek Bu Sri.


"Kuat kalo itu saya mah. Udah ayo beli sarapan dulu. Enaknya beli apaan nih?" aku melihat tukang jajanan depan pasar. Kali ini aku nyari yang ramai, bukan yang sepi. Sekali-kali mau ikutin yang lain.


"Tuh tukang soto ayam rame banget. Mau beli disana?" usul Bu Jojo.


"Boleh." jawaku dan Bu Sri kompak.

__ADS_1


"Yaudah ayo cuss!"


Kami pun ke tukang soto. Lumayan rame yang makan sampai tak ada tempat duduk. Namun pergi bersama Bu Sri dan Bu Jojo mah enggak usah khawatir.


Mereka langsung duduk di tempat yang kosong, bergabung denga pembeli lain lalu menarik kursi kosong lain untukku duduk. Jadilah kamu duduk umpel-umpelan. Pembeli yang disebelah kami pasti cepat-cepat makan lalu pergi.


"Pak soto ayam 3. Kuahnya pisah. Minumnya Es Tee pakai batu es dipisah juga." pesan Bu Sri tanpa bertanya dulu.


Aku sih enggak masalah karena memang sejak awal mau pesan kayak gitu, begitupun dengan Bu Jojo.


"Jadi kemarin lancar acara barbequeannya?" tanya Bu Jojo.


"Lancar, Bu. Keluarga Leo menerima saya apa adanya. Mereka baik banget ternyata."


"Ya sekarang baik, dulu gimana?" sindir Bu Jojo.


"Jangan kebanyakan ngungkit masa lalu, Bu. Sudah jalan takdir Maya kayak gitu. Biarkan sajalah. Sekarang yang terpenting kedepannya gimana." kata Bu Sri sok bijak.


Percakapan kami terputus ketika asisten tukang soto mengantarkan pesanan kami. Bu Sri langsung menambahkan perasan jeruk nipis dam dua sendok sambal di mangkuk sotonya.


Aku mengikuti menambahkan jeruk nipis namun sambal hanya sedikit. Cek ombak. Takut sambalnya terlalu pedas.


"Bener juga sih. Yang penting kedepannya gimana. Lalu tanggepan keluarga Leo gimana tentang rencana rujuk kalian?" tanya Bu Jojo sambil meniup kuah soto yang masih panas tersebut.


"Papanya Leo sih mau datang ke rumah buat ngomong langsung sama Bapak." aku mengambil minum dan meminumnya. Gile Bu Sri kuat banget pedes. Ini setengah sendok aja udah pedes apalagi dia sampai pake sambal 2 sendok.


"Bagus itu. Diluar ekspektasi saya ternyata. Kirain kayak di novel-novel yang ceritanya Leo datang lalu diusir di tengah hujan lalu ada petir menyambar dan diiringi lagu.... Kumenangis.... Membayangkan..... Betapa kejamnya dirimu atas diriku..." Bu Jojo menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan.


Aku dan Bu Sri hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkat absurdnya. Tak peduli pengunjung yang lain melirik geli ngeliatnya.


"Doain saya ya Bu. Semoga rencana saya rujuk bisa terealisasi dengan lancar tanpa ada hambatan."


"Aamiin. Kita selalu doain yang terbaik buat kamu, May." kata Bu Jojo yang langsung diamini oleh Bu Sri.


Selesai sarapan aku dan Duo Julid pun ke pasar becek. Belanja ayam potong, sayuran dan bumbu dapur. Aku ingin masak juga. Terlalu sering beli lauk nasi membuatku kangen masakan rumahan yang lebih sehat dan higienis tentunya.


Aku inget kalau Leo suka tempe buatanku. Aku berencana akan membuatkan tempe orek kesukaan Leo untuk sarapan besok. Juga buat capcay agar lebih sehat tentunya.


Saat di pasar aku melihat nenek-nenek penjual buah. Lapak dagangannya sepi padahal Ia sudah sangat renta untuk berjualan. Kasihan. Masih banyak orang yang berusaha mencari rejeki dengan jalan halal namun kurang mendapat dukungan orang disekitarnya.


Benar saja, wajah nenek tersebut langsung bahagia. Padahal aku hanya melebihkan lima ribu rupiah namun kebahagiaan yang dipancarkan juga membuat hatiku bahagia. Bahkan Ia mendoakanku juga.


Aku aminkan doanya seraya dalam hati juga berdoa agar proses rujukku bisa berlangsung lancar. Kita tidak pernah tau dari mulut siapa doa akan dikabulkan bukan? Bisa saja dari doa nenek tersebut?


Dari pasar aku menawarkan naik taksi. Enggak kuat jalan jauh bawa belanjaan seabrek kayak gini.


Sampai kontrakkan aku langsung mengupasi buah-buahan dan membuat salad buah dengan taburan keju diatasnya. Aku masukkan dalam beberapa cup kecil dan dinginkan di kulkas.


Pagi hari saat Leo menjemput aku sudah bekalkan sarapan nasi pakai orek tempe dan capcay. Aku juga membawa banyak cup salad dan membagikan kepada teman satu ruangan juga teman makan.


"Memang ya Sayang, tempe orek buatan kamu tuh paling enak!" puji Leo saat menikmati sarapan yang kubuatkan di ruangan. Pak Johan belum datang dan sepertinya tak lagi mencurigai Leo.


"Lebay deh! Tempe orek mah standar rasanya dimana-mana."


"Kamu mah enggak percaya sama aku. Masa sih aku bohong? Aku jujur tau. Kamu buatnya pakai cinta sih makanya rasanya lebih enak." Leo beneran menyukai masakanku. Tupperware yang kubawakan sudah bersih, dimakan semua sarapan yang kubuat. "Bahkan aku yang enggak begitu suka sayuran malah doyan capcay buatan kamu."


"Masa sih? Ah aku enggak tau kalau kamu enggak suka sayuran. Soalnya kalau aku masakkin tumis kangkung dan yang lainnya kamu selalu makan." aku baru tau kalau Leo bukan penyuka sayuran.


"Iya. Aku enggak suka makan sayur kalau di rumah. Tapi sejak kamu masakkin dan ternyata enak aku mulai suka. Bibi aja di rumah sampai heran ngeliat aku sekarang doyan sayur. Kamu bawa apa lagi ini?" Leo mengangkat cup salad buah buatanku.


"Salad buah. Isinya hanya 4 macam buah aja sih. Semoga kamu suka ya." Aku tadi sudah menaruh salad buah di kulkas untuk kubagikan saat makan siang nanti.


"Aku belum pernah makan salad buah kayak gini. Kalau salad di Pizzi Hut aku sering. Aku coba juga ah."


"Memangnya enggak kenyang abis sarapan langsung makan salad buah?"


"Habis aku penasaran. Aku harus makan sekarang. Masih ada space kosong di perut aku."


Dan Leo beneran makan salad buah yang aku buatkan sampai habis tak bersisa.


"Enaaaak banget. Bisa gendut aku kalau kamu masakkin aku makanan kayak gini terus."


"Beneran enak? Kamu beneran suka?"

__ADS_1


Leo mengangguk. "Suka banget. Nanti buatkan aku lagi ya."


"Siap, Pak Bos!" rasanya bahagia sekali saat apa yang kita buat disukai orang lain.


"Kamu udah bilang sama Ibu belum kalau minggu besok aku dan keluarga akan datang?" tanya Leo mengingatkan.


Aku menggelengkan kepalaku. "Belum. Bingung bilangnya kayak gimana."


"Bilang dong, May. Biar Ibu kamu enggak terlalu kaget saat melihat aku dan keluarga tiba-tiba datang."


Benar juga sih apa yang Leo katakan. Setidaknya Bapak dan Ibu tidak akan terlalu kaget nantinya.


"Nanti siang aku telepon."


*****


Aku : Bu, Ibu apa kabar?


Ibu : Baik. Ada apa kamu siang-siang menelepon May? Kamu baik-baik saja kan?


Aku: Aku baik, Bu. Ada yang mau aku beritahu sama Ibu.


Ibu : Beritahu apa?


Aku : Minggu besok rencananya keluarga Leo akan datang ke rumah, Bu.


Ibu : Mau datang kesini? Untuk apa?


Aku : Untuk melamarku, Bu.


Ibu : Kamu serius, May?


Aku : Iya serius Bu. Masa Maya bohong?


Ibu : Aduh Ibu gimana ngomongnya sama Bapak ya May?


Aku bisa bayangkan gimana posisi Ibu saat ini. Pasti Ia bingung gimana cara ngomong sama Bapak. Kalau bilang jujur pasti aku akan disuruh pulang. Kalau bohong lalu tiba-tiba yang datang Leo sekeluarga juga bikin heboh nantinya.


Aku : Aku juga bingung, Bu.


Ibu : Yah kita berdua bingung gini jadinya. Kamu sudah telepon Rian belum?


Aku : Habis telepon Ibu rencananya aku mau telepon Kak Rian.


Ibu : Yaudah kamu coba telepon Rian dulu. Nanti kita rundingkan bertiga.


Aku : Bapak ada di rumah enggak, Bu?


Ibu : Enggak. Lagi panen cabe. Kenapa?


Aku : Kita video call aja bertiga ya.


Aku lalu merubah mode jadi video call. Ternyata Kak Rian sedang di kantor. Untungnya aku menelepon di tangga darurat jadi bebas ngobrol sesukaku. Terlihat Ibu sedang mengenakan daster yang kuberikan. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran.


Aku : Ibu tenang aja. Doakan saja semua lancar. Kan niatnya baik dan pakai cara baik pula.


Kak Rian : Niat apa sih? Ini tumben banget siang-siang Video call. Untung kantor Kakak sepi. Enggak bawa headset nih!


Ibu : Yan, Maya telepon Ibu. Katanya keluarganya Leo mau datang ke rumah.


Kak Rian : Keluarganya? Bukan Leo sendirian?


Aku : Sama keluarganya Kak. Kemarin aku sudah diajak ke keluarganya dan mereka baik banget sama aku. Papanya mau ikut katanya ke rumah untuk ngomong sama Bapak.


Kak Rian : Lah bagus itu. Justru Kakak enggak kepikiran kayak gitu. Dibyo Kusumadewa mah memang jagonya strategi bisnis! Lalu masalahnya dimana?


Ibu : Ibu bilang apa sama Bapak?


Kak Rian : Enggak usah bilang, Bu. Ibu masak aja di rumah lalu pas hari H jangan suruh Bapak kemana-mana. Bilang Maya mau pulang.


Ibu : Loh apa enggak masalah kalau enggak bilang?


Kak Rian : Justru kalau bilang si Maya bisa disuruh pulang terus langsung dikirim ke negeri antar berantah sama Bapak. Diem-diem aja. Enggak mungkin tamu datang masa diusir. Nanti Rian pulang juga. Biar Rian yang bantuin ngomong sama Bapak.

__ADS_1


Huft.... Akhirnya aku bisa bernafas lega. Ada Ibu dan Kak Rian. Setidaknya ada banyak orang di belakangku. Semoga semuanya dipermudah aamiin 🤲


__ADS_2