
Aku merasa amat jenuh di dalam kontrakan. Bu Jojo dan Bu Sri sudah pulang sejak tadi. Dan aku juga udah selesai mengupas bawang.
Memasak untuk Leo pun sudah aku lakukan. satu-satunya hiburan selain menonton TV ya handphone aku. Tetapi karena aku sudah menjauhi teman dan keluarga maka tak banyak yang menghubungi handphone ku sekarang.
Kupandangi layar handphoneku dan ku buka galeri foto-foto milikku yang tersimpan didalamnya. Aku cari foto ibu dan kupandangi dengan lekat wajah rentanya yang masih saja cantik.
Aku agak kaget ketika handphone-ku tiba-tiba berdering. Ternyata Kak Rian yang menelepon. Aku tersenyum senang, aku kangen dengan kakak laki-lakiku itu.
" Halo, Kak Rian aku kangen..." kataku saat sudah ku pencet tombol hijau untuk mengangkat teleponnya.
"Kakak juga kangen sama kamu May. Kamu apa kabar? Kamu udah makan apa belum? Kamu punya uang nggak?" terdengar nada kekhawatiran dalam setiap pertanyaan Kak Rian.
Tanpa perlu dikomando, air mataku langsung menetes dan mulai membasahi wajahku. "Maya baik-baik aja kok Kak. Maya ada uang dan Maya udah makan. Makasih ya Kak. Kakak perhatian banget sama Maya. Enggak ada yang peduli sama Maya Kecuali kakak. Dan, Maya kangen sama Ibu, Kak."
Kudengar Kak Rian menghela nafas berat. Dia bisa merasakan apa yang aku rasakan. Ia pernah ada di posisiku 4 tahun yang lalu.
Kak Rian juga pergi dari rumah 4 tahun yang lalu demi mengejar cita-citanya. Cita-cita yang enggak pernah mendapat restu dari bapak. Cita-cita yang harus Ia perjuangkan dengan kedua kakinya sendiri.
Kak Rian juga pernah merasa terbuang, seperti yang aku rasakan saat ini. Kala itu, kadang aku masih suka mengiriminya makanan dan uang yang aku sisihkan dari uang jajan yang aku dapat. Tanpa sepengetahuan Bapak, aku membantu diam-diam Kak Rian.
"Maafin Kak Rian ya May. Kak Rian nggak bisa bantu Maya. Tapi kalau cuma traktir Maya makan aja sih Kak Rian masih bisa." kata Kak Rian dengan suaranya yang sedih.
"Tenang aja Kak. Maya masih punya uang kok, uang dari Ibu masih cukup untuk bayar uang kontrakan bulan depan dan Maya juga udah mulai nabung sedikit demi sedikit. Leo juga udah mulai kerja, masih karyawan harian sih tapi uangnya Maya sisihin buat nanti persiapan Maya ngelahirin. Dan, Maya juga kerja kok Kak. Tapi Kakak diam-diam aja ya jangan sampai Leo tahu." pesanku.
"Kamu kerja? Kerja apa? Kenapa Leo nggak boleh tahu? Kakak makin curiga sama kamu. Jangan macam-macam ya May!" pesan Kak Rian.
"Pekerjaan halal kok Kak. Tenang aja. Maya cuma kupasin bawang kok, itu juga kerjanya di teras rumah Maya. Lumayan Kak uangnya buat tambahan beli perlengkapan bayi." curhatku pada Kak Rian.
"Tapi kamu kan lagi hamil May. Apa nggak bahaya buat anak kamu nantinya? Kamu enggak kecapean kan?" lagi lagi terdengar nada khawatir dalam suara Kak Rian.
Ah Kakakku yang satu itu memang terlalu sayang sama aku. Ia begitu menjagaku seperti menjaga sebuah telur agar tidak pecah. Aku jadi merasa bersalah sama Kak Rian karena tidak bisa menjaga diriku sendiri sampai aku mengalami hal seperti ini.
Aku teringat saat aku memberitahu Kak Rian tentang kehamilanku. Kak Rian langsung naik pitam dan hendak menghajar Leo. Untungnya aku membela Leo dan mencegah Kak Rian berbuat khilaf.
Setelah aku bilang kalau aku melakukannya karena aku mencintai Leo, Kak Rian tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya tertunduk menyesal karena merasa gagal sudah tidak bisa menjaga adik perempuan satu-satunya tersebut.
"May, kamu nggak apa-apa kan?" suara Kak Rian terdengar khawatir dari ujung sana. Aku tersadar dari lamunanku dan menjawab panggilannya.
"Iya Kak. Maya baik-baik aja kok. Kakak enggak usah khawatir, pekerjaan yang Maya lakukan tu enggak berat-berat banget. Maya nggak mau maksain diri Maya buat ngelakuinnya. Kalo misalnya sampai membahayakan anak Maya juga Maya enggak akan lakuin Kak. Maya cuma sebentar kok kerjanya dan sekarang udah selesai nih udah tinggal santai aja." Aku berusaha membuat Kakak tenang dan tidak khawatir.
Terdengar helaan nafas lega dari ujung telepon sana. "Kalau kamu baik-baik aja kan Kakak tenang May. Maaf ya, Kakak nggak bisa jagain kamu. Kalo aja Kakak selalu ngawasin kamu, pasti kamu nggak akan mengalami hal kayak gini." lagi-lagi Kak Rian masih menyalahi dirinya sendiri.
"Udah dong Kak. Berhenti menyalahkan diri Kak Rian. Ini bukan salah Kak Rian kok. Ini salah Maya . Maya tuh terlalu dibutakan sama cinta Kak makanya Maya sampai melakukan hal ini. Tapi sudahlah, toh itu udah masa lalu. Sekarang yang harus Maya lakukan adalah menjalani hidup Maya dengan sebaik-baiknya."
"Wow.. kamu sekarang udah dewasa ya May. Kamu udah bersikap ikhlas. Kakak salut sama kamu." puji Kak Rian.
"Iyalah dewasa. Maya sekarang gaulnya sama emak-emak. Makanya sekarang Maya tuh udah lebih enjoy menjalani segala permasalahan Maya. Banyak ilmu yang emak-emak itu kasih ke Maya."
Tak kusangka sekarang aku malah membanggakan Duo Julid yang dulu pernah ngejulitin aku.
"Emak-emak siapa? Oh iya, kemarin kakak pulang ke rumah. Ibu titip salam sama kamu May." hatiku menghangat mendengar kata Ibu.
"Emak-emak tetangga Maya, Kak. Ibu gimana keadaannya? Sehat? Maya kangen sama Ibu, Kak." air mataku mulai diam-diam keluar dari sudut mataku.
"Ibu sehat, May. Kamu tenang aja. Ibu juga kangen banget kok sama kamu. Ibu mau ngomong sama kamu tapi selalu ditutup aksesnya sama Bapak."
Sudah kuduga kalau Bapak tidak semudah itu melepaskanku. Kak Rian aja yang enggak nurutin keinginannya untuk kuliah di jurusan yang Ia mau saja ditentang habis-habisan apalagi aku?
Kesalahan aku tuh bukan double lagi tapi triple. Hamil di luar nikah, lanjut nikah tanpa restu Bapak dan terakhir bawa kabur semua prabotan di kostan. Gimana Bapak enggak senewen coba sama aku?
"Maya udah duga sih Kak kalau Bapak akan melakukan hal itu. Maya pengen banget Kak ngomong sama Ibu. Pengen denger suara Ibu. Maya kangen banget." Aku menghapus air mata yang tak kunjung berhenti. Sekarang malah ada ingus yang menemani.
Kuambil tissue dan kusingsingkan ingus agar aku tidak tumpet nantinya.
"Besok Kakak mau ke rumah Ibu. Kakak akan usahain deh kamu ngomong sama Ibu tanpa ketahuan Bapak." janji Kak Rian padakum
"Yang bener Kak? Makasih banyak ya Kak. Kakak memang Dewa penolong buat Maya. Maya sayaaaaang banget sama Kakak." kataku penuh haru.
__ADS_1
"Bisa aja kamu. Kan kamu punya Kakak satu lagi tuh Kak Anton. Memangnya Dia enggak hubungin kamu apa?"
"Boro-boro Kak. Kayak Kak Rian enggak tau aja kalau Kak Anton tuh tangan kanannya Bapak. Sifatnya tuh plek ketiplek banget sama Bapak. Mana mau Dia bantuin Maya. Ih Maya sebel sama Dia. Liat aja nanti Maya kerjain deh kalau Maya udah dapet restu Bapak!" kataku penuh dendam membara.
"Yaelah, enggak usah segitunya juga kali May sama saudara. Biar jelek begitu Dia tuh Kakak kita. Emang sih orangnya ngeselin. Udah gitu iri melulu lagi sama kamu ha..ha..ha.. Untungnya Dia enggak ngiri sama Kakak." terdengar Kak Rian tertawa dengan senang dari ujung sana.
"Makanya aku tuh sebel banget sama Kak Anton. Istrinya juga sama nyebelinnya sama Dia. Takut banget harta Bapak diambil sama aku. Ih siapa yang tertarik? Aku mah enggak tertarik, tapi tertarik banget... ha....ha....ha...." Kak Rian tertawa makin tergelak mendengar gurauanku.
Kami bagai dua anak terbuang yang saling menghibur. Itu sebabnya kami menjadi makin dekat lagi.
Aku menutup panggilan telepon setelah hampir satu jam lamanya aku mengobrol dengan Kak Rian. Hp-ku bahkan sampai panas dan lowbath. Aku mengambil chargeran dan mengisi daya baterai Hp-ku.
Kulirik jam di dinding, sudah jam setengah 5 sore. Aku memutuskan untuk mandi lalu mencari udara segar di taman.
****
Kurentangkan tanganku dengan lebar sambil menghirup udara segar di taman. Legaanya... Beda sama udara dalam kontrakanku yang mungil itu.
"Lagi syuting Titanic, Neng?" celetuk seorang cowok yang baru saja duduk setelah memarkirkan sepeda lipatnya.
Kuturunkan tanganku karena malu. "Bukan. Lagi siap-siap mau ngentut!" celetukku seenaknya.
Cowok itu tertawa terbahak-bahak. Aku yang awalnya sebal karena perbuatanku seenaknya saja dikomentari pun ikutan tertawa.
Ternyata cowok itu punya kelebihan yakni tertawanya nular sama orang lain.
"Ih Dia seneng banget." komentar cowok itu lagi.
"Biarin ngapa, daripada aku sedih melulu. Mendingan seneng lah." jawab aku lagi tak mau kalah.
"Orang baru ya?" tebak cowok itu lagi.
"Sotoy."
"Bukannya sotoy. Emang enggak pernah liat." jawab cowok itu tak mau kalah.
"Ya aku tuh suka main sepeda dan istirahat disini tiap weekend. Enggak pernah tuh ngeliat kamu selama aku disini." cowok itu melepaskan kacamata yang Ia pakai dan juga helm sepedanya. Ia merapikan rambutnya yang jadi kuncup karena pakai helm.
"Salah sendiri main kesininya tiap weekend. Aku tuh kesininya kalau weekday tau." kataku berbohong padahal aku baru kedua kalinya kesini. Ah biarlah toh Ia tidak tau juga.
"Enggak bisa Neng. Aku kerja. Kalau bisa pasti aku kesini deh pas weekday."
"Mau ngapain kesini kalau weekday? Nyabutin rumput?" ledekku.
"Ya bukanlah. Mau ketemu kamu. Habis kamu lucu sih."
"Ih sok akrab." celetukku.
"Ih biarin." jawabku.
Kami lalu beradu pandang dan tertawa bareng.
"Kenalin, Aku Anggara. Panggil aja Angga. Kami siapa?" Ia mengulurkan tangannya dan kusambut dengan jabat tangan secepat kilat lalu melepasnya lagi.
Kulihat sudut di bibirnya pertanda Ia tersenyum akan ulahku.
"Aku?"
"Iya. Nama kamu siapa?" tanya cowok itu penasaran.
"Namaku Ayu. Kayak novel karangan Mizzly yamg terkenal real itu ha....ha...ha..."
"Yang bener kenapa sih. Nama kamu siapa?" tanya cowok itu masih menahan sabarnya.
"Aku adalah makhluk Tuhan paling kece." jawabku penuh percaya diri.
"Yaelah. Nanya nama aja lama banget sih jawabnya! Yaudah kalau nggak mau kasih tau mah." Angga mulai ngambek dan berharap aku akan baik-baikin Dia.
__ADS_1
"Yaudah." jawabku pendek. Aku lalu merentangkan tanganku lagi dan menghirup udara segar lagi.
"Ih beneran ya nih cewek. Ajain banget. Hai Makhluk Tuhan yang paling kece, siapakah nama kamu? Bolehkah aku tau?" kulihat wajah Angga mulai gemas dengan ulahku.
"Baiklah Ki Sanak. Nama aku Maya. Maya estianti yang semakin tua semakin bahagia. He..he...he.." aku pun tertawa dengan perkataanku sendiri.
Ini nih kebanyakan disekap di kamar tanpa ada udara dan pemandangan segar. Jadi agak sengklek otakku.
"Ya Tuhan... Hampuni hamba.... Ketemu cewek kayak gini. Untung cantik, kalau enggak udah aku selepet nih orang." Angga menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut. Mungkin pusing dengan ulahku. Who knows?
"Biasa aja kali Garagara." celetuk aku lagi. Aku meregangkan tubuhku dan melakukan pemanasan ringan.
"Garagara siapa tuh?" tanya cowok itu lagi dengan bingung.
"Ya nama kamulah. Anggaragaragaragara. Ya kan?" jawab aku dengan santainya.
"Au ah. Tapi kalau kamu mau panggil aku Gara juga boleh. Aku anggep itu panggilan kesayangan kamu buat aku." Angga tersenyum lagi.
Sebenarnya Angga tuh ganteng. Ya sebelas dua belas gantengnya sama Leo. Tapi karena agak nyebelin dan suka sok akrab jadi kegantengannya seakan sirna di mataku.
"Dih... Siapa yang sayang sama kamu? Kenal juga enggak. Puede bener." kataku sambil mencibirkan bibirku.
"Ya makanya kenalan dong."
"Ogah." jawabku seenaknya.
"Sombong bener."
"Biarin."
"Kalau saya beliin es krim boleh kenalan?" bujuk Angga.
"Males."
"Cokelat?" bujuk Angga lagi.
"Mureh."
"Pizza?" bujukan ketiga.
"Mureh juga." tolakku.
"Yaudah es krim, cokelat dan pizza, gimana?" Angga mulai menyerah.
"Mau...."
"Ha...ha...ha.... Sumpah lucu banget kamu May. Baru kali ini ketemu cewek ajaib kayak kamu." kata Angga sambil tergelak tak henti- henti.
"Tuh ngibul kan?" kataku menagih iming-iming yang Angga tawarkan.
"Iya... iya... Mana pernah aku ngibul? Aku kasihnya nyicil ya. Sekarang aku beliin Es krim dulu, kalau kita ketemu lagi aku beliin cokelat dan terakhir aku beliin pizza, gimana?" nego Angga.
Enggak ada ruginya sih Angga kasihnya nyicil. Kalau aku bawa pulang semua yang Ia kasih bisa curiga Leo nanti. Leo kan tau nya aku tuh pelit untuk jajan dan ingetnya cuma nabung, nabung dan nabung.
"Yaudah oke. Tapi jangan lupa ya besok beliin yang lain?" tagihku.
"Iya. Aku beliin di minimarket depan taman ya. Kamu mau rasa apa?" tanya Angga. Ia mengeluarkan dompetnya dari tas selempang yang Ia pakai.
"Apa aja yang penting mahal." jawabku seenaknya.
Angga tersenyum. Enggak kaget dengan jawabanku yang agak nyeleneh. "Yaudah aku beliin dulu, titip sepeda aku ya."
"Iya. Udah cepetan sana. Sekalian beli cemilannya juga ya."
"Iya, Tuan Putri." Angga pun berjalan menuju minimarket depan taman dan tak lama kembali membawa es krim dan cemilan.
"Nih, buat kamu. Kita temenan kan sekarang?"
__ADS_1
Aku mengangguk setuju. Teman. Ya, itu yang aku butuhkan agar aku tetap waras menghadapi cobaan ini.