Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Belajar dari Papa Dibyo-2


__ADS_3

Cinta bisa dirasakan saat kita mulai merasa kehilangan. Saat cinta selalu ada dalam hari-hari kita rasanya hanya biasa saja. Tetapi kalau cinta yang selama ini ada di setiap hari-hari kita pergi, akan ada ruang kosong yang tertinggal. Mau ditambal dengan hal apapun, tetap saja akan menimbulkan lubang yang besar dan malah akan semakin besar seiring dengan berjalannya waktu.


Contohnya Papa, puluhan tahun Ia berusaha mempertahankan cintanya terhadap Mama. Ya... walaupun cara yang digunakan salah dan lebih banyak kekerasan dibanding menunjukkan ekspresi cintanya. Namun akhirnya Ia kehilangan cintanya.


Sekarang, lihatlah Papa. Kesepian, masa tua yang hanya seorang diri ditemani dengan PS saja. Apa enak hidup seperti itu? Enggak.


Mendengar Papa mengungkapkan isi hatinya membuatku merasa sedikit tersentil. Papa begitu pesimis Mama akan menerima cintanya lagi. Hal itu juga yang aku rasakan. Aku tidak yakin Maya akan menerima cintaku lagi.


Namun saat aku bertanya apakah jika Mama mau kembali lagi jawaban Papa menunjukkan rasa cinta yang sebenarnya. Papa tidak akan melepaskan Mama lagi.


Ya... Papa benar. Aku pun sama. Kalau aku bisa mendapatkan hati Maya kembali, maka aku tak akan pernah melepasnya lagi.


Tapi apakah menghapus bekas luka semudah sang hujan menghilangkan debu di jalanan?


Apakah rasa kecewa yang tertinggal akan mudah hilang begitu saja?


Apakah kepercayaan akan tumbuh semudah itu?


Jawabannya sudah tentu tidak.


Kutatap wajah Papa yang kembali konsentrasi dengan layar TV. Wajah Papa yang biasanya terlihat tegas dan cenderung menakutkan kini sudah tidak lagi sama.


Papa yang biasanya rajin merawat diri agar tampil bugar kini hanya pengangguran yang sehari-harinya hanya bermain games saja. Mukanya yang biasanya treatment dokter kini dibiarkan menua alami.


Namun sorot mata dan perawakan Papa sudah berubah. Tak ada lagi suara bentakkan dan tatapan mata menyeramkan yang biasanya diikuti dengan gerakan tangan menampar atau menendang yang sudah menjadi ciri khasnya.


Semua menghilang bersama keluarga kecilnya yang terpecah belah. Mendapati surat cerai saat dirinya terpuruk benar-benar seperti pukulan hebat bagi Papa.


Aku kasihan melihat Papa. Semua yang terjadi akibat ulahnya juga.


Baru saja aku hendak bangun dan beristirahat di kamar ketika Papa mengajakku berbicara lagi.


"Kamu nanya Papa karena kamu bertemu lagi dengan mantan istri kamu ya?"


Aku langsung terduduk lagi di posisiku dan menatap Papa dengan pandangan yang tidak percaya. Papa tahu?


"Jangan nanya kenapa Papa bisa tahu. Walaupun Papa seharian hanya main games tapi Papa tetap pantau keadaan perusahaan. Papa tahu ada mantan istri kamu kan yang sekarang bekerja di perusahaan Papa?"


Waduh.... Gimana nasib Maya ya? Siapa sih yang bocorin ke Papa? Pasti mata-mata Papa yang lain deh. Arrrgggghhh...


"Kamu tenang saja. Papa tidak akan mencolek mantan istri kamu. Kalau Papa masih seperti Papa yang dulu sudah dipastikan Ia akan langsung Papa enyahkan pada hari pertama,"


Aku menatap kaget dengan pernyataan Papa barusan. Enyahkan? Pecat maksudnya?


"Tapi Papa yang sekarang sudah tidak mau lakukan seperti itu lagi."


"Maksud Papa apa?" tanyaku bingung. Jujur aja aku tidak mengerti dengan apa yang Papa katakan.


"Sebelum Papa kenal dengan perceraian, Papa bisa semudah itu menghancurkan hubungan seseorang. Namun, setelah Papa merasakan rasanya berpisah dengan Mama dan menyadari kalau rasanya berpisah dengan orang yang kita cintai itu sungguh sakit, maka Papa memilih untuk tidak mencampuri urusan kamu lagi."


"Leo enggak ngerti. Papa enggak marah Maya satu kantor dengan Leo lagi? Maya kerja di perusahaan kita Papa enggak masalah gitu?" tanyaku memastikan.


Papa pun mengangguk. "Papa tidak peduli lagi. Kalau memang menurut kamu, mantan istri kamu tidak akan merugikan perusahaan dan tidak akan membuat kamu makin terluka biarkan saja Ia tetap bekerja di sana."


Senyumku langsung mengembang mendengar perkataan Papa. Ini sungguhan Papa Dibyo kan? Si Papa Killer?


"Kalau aku balikan lagi sama Maya gimana?" tanyaku penuh harap.


"Kebiasaan kamu mah. Dikasih hati minta jantung! Diberi ijin bekerja malah mau kawin lagi. Balikan sama mantan lagi! Yakin mantan istri kamu masih mau balikkan sama kamu? Oh iya, kabarnya cucu Papa gimana? Ajaklah kesini. Papa mau lihat keadaannya."


Senyum di wajahku langsung memudar saat Papa menanyakan tentang Adam. Aku langsung menghela nafas berat. Hatiku sakit saat mendengar ada yang menyebut tentang Adam.


"Cucu Papa.... Sudah meninggal."


Papa reflek menjatuhkan stik PS yang Ia pegang. "Meninggal? Kenapa?"


"Adam meninggal sebelum sempat melihat dunia ini, Pa. Adam.... Meninggal saat Papa di penjara." jawabku sambil berusaha keras menguatkan hati agar tidak menangis sedih lagi.

__ADS_1


"Maksudnya? Papa enggak ngerti. Kenapa kamu baru bilang sekarang?"


Karena Papa selama ini enggak pernah peduli dengan hidup Leo! Papa enggak pernah peduli dengan calon cucu Papa! Papa yang membuat Leo meninggalkan Maya dan akhirnya kehilangan Adam!


Inginku meneriakkan segala isi hatiku pada Papa. Tapi aku tak bisa...


Aku terlalu lemah....


Aku terlalu tak tega menyakiti hati Papa....


Aku terlalu takut menjadi anak durhaka untuk kedua kalinya.....


"Di hari Papa ditangkap KPK, Maya dan Leo bertengkar hebat. Leo pergi ninggalin Maya karena Mama menelepon dan memberitahu kalau Leo dan Mama harus datang untuk memberikan kesaksian. Leo enggak tau kalau Maya mengalami keguguran dan mengakibatkan Adam meninggal,"


"Leo baru tahu hari sabtu kemarin setelah berhasil membujuk Maya untuk mempertemukan Leo dan Adam." Aku menghapus air mata yang memang tak pernah bisa kubendung saat menyebut nama Adam.


"Lagi-lagi karena Papa...." ujar Papa sambil tertunduk sedih.


"Bukan, Pa." elakku. "Adam pergi bukan karena Papa. Ini murni karena kesalahan Leo. Leo yang sudah menepis tangan Maya sampai jatuh dan mengalami pendarahan. Leo yang salah, Pa. Bukan Papa!" kataku sambil terisak. Tak kusangka aku akan seperti anak kecil yang menangis didepan orang tuanya.


Papa yang melihatku menangis langsung berdiri dan memelukku erat. Pelukan pertama yang kurasakan dari Papa. Pelukan yang selama ini selalu kuidamkan.


Pelukan Papa amat menenangkanku. Membuatku bagai anak kecil yang merasa aman dipelukan orang tuanya. Membuatku merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dalam hidup ini.


"Enggak apa-apa. Laki-laki boleh menangis! Laki-laki boleh cengeng! Laki-laki boleh merasa kehilangan! Namun laki-laki harus tetap bertanggung jawab!" Papa melepaskan pelukannya dan menepuk-nepuk punggungku dengan penuh kasih.


"Tapi Adam enggak akan pernah bisa kembali lagi Pa. Kesalahan Leo amat besar dan Leo tidak tahu bagaimana harus membayarnya." rengekku seperti anak kecil yang minta dibelikan balon.


"Papa tahu. Papa pun sama dengan kamu. Papa juga memiliki kesalahan yang amat besar pada Mama kamu. Papa juga menyakiti hati Mama amat dalam. Papa yang membuat Mama selingkuh. Papa melepaskan Mama demi membahagiakan Mama. Tapi kamu berbeda,"


"Kamu masih bisa merebut hati Maya kembali. Papa bisa lihat kamu masih mencintainya. Kamu masih muda, masih banyak waktu untuk menebus kesalahan kamu. Berbeda dengan Papa, seumur hidup Papa lebih banyak menyakiti hati Mama kamu dibanding membahagiakannya.Waktu yang tersisa dalam hidup Papa tak akan pernah cukup untuk bisa menebus kesalahan Papa pada Mama kamu,"


"Mulailah membenahi hidup kamu yang berantakan dimulai dari hal yang terkecil. Merubah diri kamu menjadi lebih baik lagi. Buktikan kepada Maya bahwa kamu memang layak untuk dijadikan tempat berlabuhnya kembali. Jangan seperti Papa. Kamu harus lebih baik lagi dari Papa,"


"Papa selama ini belum bisa menjadi contoh yang baik untuk kalian. Papa sadar itu, dan Papa tidak mau kamu meniru Papa. Kejarlah lagi Maya, kejar cita-cita kamu ,kejar masa depan kamu. Mulai sekarang, Papa akan mendukung kamu sepenuhnya. Ini adalah cara Papa menebus semua dosa Papa selama ini sama kamu. Papa sudah kehilangan Mama dan hampir kehilangan Richard. Papa bisa gila kalau sampai kehilangan kamu juga."


Aku mengangguk. Hari ini benar-benar hari yang luar biasa bagiku. Mendengar Papa mengungkapkan isi hatinya yang terdalam.


Ternyata kalau tidak diungkapkan, mana kita bisa tahu bagaimana isi hati kita? Papa mengajarkanku untuk membuka diri dan berani mengatakan apa yang aku rasakan. Dan tentunya Papa mengajarkanku untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku dengan gentle.


*****


Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di kantor. Bukan karena aku rajin, melainkan aku harus menandatangani berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangan Mr. So.


Sehabis memeriksa dan menandatanganinya aku memberikan kepada OB kepercayaan Papa yang langsung menyampaikan berkas tersebut kepada bagian yang terkait. Tak ada yang mencurigai kegiatan yang kami lakukan. Mana ada sih yang mencurigai OB?


Aku menaruh berkas yang sudah aku periksa di tangga darurat. Aku sudah menghubungi OB kepercayaan Papa jadi Ia langsung mengambilnya. Begitupun jika ada berkas yang harus aku periksa, OB tersebut akan menghubungiku diam-diam dan meletakkan berkas di tempat yang kami sepakati.


Tempat penyerahan berkas selalu berbeda beda. Semua dengan tujuan menghindari kecurigaan dari karyawan yang lain.


Baru saja aku keluar dari tangga darurat ketika aku mendapati Maya sedang memergokiku keluar dari tangga darurat.


"Kamu ngapain?" tanya Maya penuh kecurigaan.


"Habis nelepon." bohongku sambil berjalan meninggalkan tangga darurat. Menggiring Maya agar tidak membuka tangga darurat dan menemukan berkas yang kuletakkan disana.


"Telepon siapa sampai harus sembunyi-sembunyi di tangga darurat?" selidik Maya.


"Ada deh. Kenapa? Cemburu?" aku memelankan langkahku dan mensejajari langkah Maya. Harum parfum Maya bisa tercium, membuatku tiba-tiba teringat saat aku menyentuhnya dulu.


Aku menggelengkan kepalaku. Enggak. Jangan sampai pikiran jorok menguasaiku. Susah nanti melampiaskannya.


"Enggak kok. Mencurigakan aja. Telepon harus di tangga darurat segala. Kayak enggak ada ruangan lain aja?" gerutu Maya sambil memanyunkan bibirnya.


Ini nih yang bikin aku gemas. Bibir merah Maya yang ranum benar-benar membuat aku ingin merasakan lagi manisnya yang sampai sekarang belum bisa kulupakan.


"May."

__ADS_1


"Hmm."


Aku mendekatkan diriku dan membisikkan sesuatu di telinga Maya. "Aku boleh cium kamu enggak?"


Maya yang mukanya langsung memerah dengan sigap memukul bahuku dengan tas jinjing yang dibawanya.


"Rese! Ih... Rese banget! Rese!"


"Ha...ha...ha..." aku tertawa melihat Maya yang kesal dengan ulahku tersebut.


Banyak pasang mata yang memperhatikan perbuatan kami. Karyawan senior yang memandang junior seperti kami yang menganggap kantor sebagai arena bermain.


"Ya ampun, kalian ngapain sih? Berantem beneran apa becanda?" tanya Ana yang baru saja keluar dari ruangannya hendak membuat kopi di pantry.


Maya menurunkan tasnya dan tidak memukuliku lagi. Tapi wajahnya masih cemberut sebal dengan ulah jahilku barusan. Enak juga ternyata menjahili Maya. Aku tersenyum senang.


"Biasa, Maya kangen sama samsak tinju, jadinya aku deh yang dipukul-pukulin sama dia." kataku sambil tersenyum meledek pada Maya yang mendelik kesal dengan jawabanku.


"Jangan gitu atuh May. Kasihan Leo," Ana berjalan mendekatiku dan memeriksa apakah ada tubuhku yang terluka akibat ulah Maya. "Kamu enggak apa-apa kan Leo? Ada yang sakit enggak?"


Maya mengerutkan keningnya melihat perhatian Ana yang berlebihan padaku. Ia lalu mendengus sebal dan meninggalkanku dan Ana. Ia langsung masuk ke dalam ruangan tanpa menengok lagi ke belakang.


"Aku enggak apa-apa kok, Na." jawabku sambil menepis tangan Ana yang sejak tadi memegang lenganku.


"Beneran?" raut wajah Ana terlihat amat mengkhawatirkanku.


"Iya. Aku ke ruangan dulu ya, Na." aku tinggalkan Ana dan bergegas menghampiri Maya di ruangan.


Aku bukannya enggak peka melihat perhatian yang Ana berikan selama ini padaku. Aku tahu sejak awal kenal Ana sudah menaruh perhatian padaku.


Aku tak pernah memberinya harapan. Aku juga tidak pernah terlalu tegas sih, aku kasihan dengan Ana. Bagaimanapun Ia masih amat muda.


Aku masuk ke dalam ruanganku dan mendapati Maya sedang menatapku dengan kesal.


"Lebay banget sih, baru dipukul pelan pake tas aja udah kesakitan kayak diapain tau. Nyari perhatian ya sama Ana?" sindir Maya.


Aku tersenyum mendengar perkataan Maya. Untunglah belum ada yang datang di ruangan kami. Para senior biasa datang mepet jam 8. Junior kayak aku dan Maya mana berani?


"Kamu enggak suka ya aku diperhatiin sama Ana?" tanpa dijawab pun aku tahu Maya akan berkata apa.


"Enggak tuh. Biasa aja." jawab Maya masih dengan wajah cemberut.


"Terus kenapa mukanya cemberut gitu?"


"Emang dari sananya begini. Enggak suka? Jangan diliat kalau enggak suka mah!" ketus Maya.


Aku kembali tersenyum mendengar jawaban yang Maya ucapkan.


"Huft... Jadi makin kepengen buat nyium kamu May. Udah lama kita enggak ciu-"


Pletak


Sebuah pulpen melayan tepat mengenai kepalaku.


"Aww! Sakit May!" omelku.


"Sukurin!"


"Liat aja ya. Nanti aku bales pake ciuman yang hot dan bikin kamu enggak bakalan bisa nafas!" ancamanku langsung mendapat sambutan dari pensil yang dilemparkan langsung ke mukaku.


Dengan sigap kutangkap pensil tersebut lalu meledek Maya. "Yey! Enggak kena!"


Kesal dengan ulahku Maya melemparkan lagi mukaku dengan hand body miliknya. Lolos lagi sampai akhirnya suara di pintu mengagetkan kami berdua.


"Kalian lagi ngapain?"


****

__ADS_1


Hi semua...


Ayo yang request mau crazy up mana nih? aku udah siapin naskahnya tapi vote kurang. Ayo dong votenya kencengin biar masuk 10 besar. cayooo!!!! 🥰🥰🥰


__ADS_2