Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Kak Rian-2


__ADS_3

"Enggak sia-sia ya nunggu lama tapi rasa steaknya enak." aku memuji kelezatan steak yang sedang kumakan ini.


"Iyalah. QC (Quality Control) nya ketat. Baik dari pemilihan bahan dan chefnya juga udah pasti pilihan semua. Terlepas dari masalah pelayanan yang lama tapi saran kamu akan saya teruskan ke bagian yang terkait."


Kalau ngomong sama Leo masalah pekerjaan mah dia akan jadi orang yang berbeda. Tau banget seluk beluk perusahaan terdalam. Pantas saja Papanya mempercayai perusahaan kepadanya dibanding Richard yang selalu main-main meskipun cerdas.


"Siap Pak Bos!" kataku sambil tersenyum.


"Terus... Terus aja bikin aku kayak obat nyamuk. Nanti enggak bakalan kubantuin ngomong depan Bapak!" ancam Kak Rian.


"Eh iya. Maya lupa kalau masih ada Kak Rian he...he...he... Dibilangin nanti Maya kenalin sama Adel. Cantik loh Adel." masih saja aku promosiin sahabatku Adel.


"Enggak mau May. Aku kurang suka yang Big is beauty. Bukan typeku." tolak Kak Rian.


"Ih Kakak belum liat aja sekarang Adel kayak gimana. Nyesel deh pokoknya kalau udah liat ternyata aslinya gimana."


"Bodo amat May. Kakak sibuk kerja. Enggak ngurusin hal kayak gitu. Lagian ngadepin kamu aja bikin kepala Kakak mau pecah apalagi ngadepin Adel yang lebih parah tingkat ke-oonannya dibanding kamu."


"Kakak mah gitu. Enak banget ngatain orang oon!" protesku.


"Udah balik lagi ke hubungan kalian. Sudah sejauh mana hubungan kalian sekarang?" tanya Kak Rian.


"Sejauh gimana maksudnya Kak?" tanyaku bingung namun Kak Rian bukannya menjawab namun malah menatap Leo meminta jawaban darinya.


"Kak Rian tidak perlu khawatir. Aku selalu menjaga Maya." jawab Leo dengan penuh keyakinan.


"Kok kamu jawab gitu sih?"


"Tadi ngambek dibilang oon, tapi masih aja belum nyadar maksud perkataan Kakak apa. Heran!" gerutu Kak Rian.


"Ya Kakak nanyanya yang jelas dong!" kataku tak mau kalah.


Kak Rian terlihat sedang menghela nafas dan mengatur kesabarannya. "Kakak nanya sudah sejauh mana hubungan kamu dan Leo? Enggak inget ya dulu kalian nikah karena apa? Apa kalian ngelakuin hal kayak gitu lagi sekarang?"


"Ih Kakak mah enggak percayaan banget sama aku!" aku baru ngerti maksud Kakak apa. Pandangan negatif tentangku ternyata masih ada di benak Kak Rian.


"Kakak aja enggak percaya apalagi Bapak? Yang akan kalian hadepin kelak adalah Bapak. Ibaratnya game Super Mario Bros, yang kalian lawan nanti Rajanya yang Naga. Bisa apa enggak?" omel Kak Rian.


Baru saja aku hendak membalas perkataan Kak Rian, tangan Leo langsung menggenggamku. Membuatku rem mendadak.


"Aku dan Maya pernah melakukan kesalahan, Ka. Mungkin kepergian Adam adalah hukuman atas dosa kami. Aku mengajak Maya rujuk tidak mau seperti dulu, seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan keluarga kami. Aku mau mengajak Maya rujuk dengan cara yang benar. Dengan meminta keluarga Maya merestui kami." jawab Leo dengan kesungguhan hati.


"Hanya keluarga Maya saja yang merestui? Bagaimana dengan keluarga kamu? Kapan kamu mau mengenalkan Maya dengan keluarga kamu?" Kak Rian melontarkan banyak pertanyaan pada Leo.


"Rencananya Maya akan aku ajak ke rumah hari sabtu ini, Kak."


Loh? Leo enggak bilang sebelumnya kalau mau mengajakku ke rumahnya. Apa ini rencana dadakan yang dibuat oleh Leo?


"Bukannya dulu keluarga kamu menentang juga pernikahan kalian?" kembali Kak Rian menginterogasi Leo.


"Dulu memang aku akuin mereka tidak mendukung hubungan kami. Menganggap aku ada saja tidak. Namun sejak mereka berada di titik down dan hanya aku yang bisa menolong mereka, perlahan mereka mulai berubah. Papa mulai menganggap keberadaanku dan bahkan merestui aku kembali lagi dengan Maya. Mama pun tak sabar mau bertemu Maya. Dan Kakakku Richard malah sudah satu kubu sama Maya sejak masuk ke kantor. Mereka bahkan sudah saling menyebut adinda dan kakanda saking akrabnya." Leo menyunggingkan seulas senyumnya padaku.


"Tapi kalian tau kan akan menghadapi Bapak?"


"Tau Kak."


"Kamu yakin bisa meyakinkan Bapak kalau kamu bisa membahagiakan Maya setelah kamu sebelumnya menyakiti Maya?"

__ADS_1


"Jujur aku enggak yakin Bapaknya Maya mau menerimaku. Aku sadar kesalahanku sangat besar sama Maya. Akan sulit meminta restu namun aku akan memegang janjiku sama Maya kalau akan rujuk setelah dinikahkan oleh Bapaknya Maya secara langsung." jawab Leo yakin.


"Aaaaaahhhh... So sweeeeettt. Oppppaaa Sarangeee." aku langsung memeluk lengan Leo.


"Heh! Heh! Kamu nih main templok aja! Lepas enggak!" omel Kak Rian sambil memukul lenganku pelan.


"Ih Kakak kelamaan jomblo nih jadi bawaannya sirik ngeliat orang seneng dikit! Makanya pacaran... Pacaran! Habis itu nikah! Masa dikasih Tuhan cuma buat dipake pipis aja sih?" ledekku.


"Ish nih anak! Berani ya ngeledekkin Kakak? Kamu ketularan siapa sih berani banget ngeledek Kakak sampai kayak gitu? Adel ya?"


"Cie... Mulai nyebut-nyebut Adel. Udah enggak sabar ya mau kenalan sama Adel?" makin Kak Rian marah malah aku makin menggodanya.


"Kakak enggak restuin nih!" ancaman paling sakti pun Kak Rian keluarkan.


"Ih Kakak mah gitu! Iya...iya... Maya minta maaf... Kakakku yang paling ganteng sejagad raya.... Maaf ya.... Ting...ting..." kataku sambil mengedip-ngedipkan mataku.


"Awas ya kamu kayak gitu lagi! Lalu kapan kalian akan ke rumah Bapak?" Kak Rian membawa kami kembali ke topik pembicaraan yang serius lagi.


Kali ini aku yang menghela nafas berat. "Kalau Bapak enggak setuju bisa dikurung di rumah nanti Maya, Kak. Maya belum siap. Biar Maya pelan-pelan dulu ya Kak. Yang penting Kakak dan Ibu tau."


"Kamu mau sampai kapan menghindar kayak gitu May? Masalah ada tuh buat diselesaikan bukan buat dihindari!" Kak Rian lalu menatap ke Leo. "Apa kamu akan mengikuti pola pikirnya Maya yang kayak anak bocah ini?"


"Enggak Kak. Justru saya malah mau secepatnya ke rumah Maya dan meminta restu Bapak kembali. Papa saya juga mau ikut sekalian. Sebagai wujud permintaan maaf Papa karena telah turut andil dalam kegagalan rumah tangga kami sebelumnya." jawab Leo dengan sorot mata yang menyiratkan kesungguhannya.


Papa Leo mau datang langsung ke rumahku? Mau bertemu Bapak langsung? Yang bener?


"Bagus itu. Kalau kamu dan Papa kamu memang sesiap itu menghadapi Bapak ya sudah aku tidak akan menghalangi lagi. Kebahagiaan Maya yang utama. Aku enggak mau melihat Maya bersedih dan tersakiti lagi. Secepatnya aku tunggu kamu dan Papa kamu untuk datang ke rumah kami."


Aku terharu dengan perkataan Kak Rian. Tuh kan.... Kak Rian tuh memang paling the best deh.


"Siap, Kak. Terima kasih sudah mau memberi aku dan Maya kesempatan untuk kedua kalinya. Aku janji enggak akan mengecewakan kepercayaan yang Kak Rian berikan." kata Leo dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudah jangan cengeng! Jalan kalian masih panjang. Pastikan sabtu besok kamu diajak Leo ke rumahnya! Awas aja kalau Leo bohongin Kakak!" ancam Kak Rian.


"Iya tenang aja Kak. Papanya Leo pernah ikut makan bareng kok sama aku di kantor. Tapi aku enggak tau kalau itu Papanya Leo. Pantas saja beliau ngeliatin aku terus. Kalau Papanya Leo memang membenciku pasti beliau tidak akan mengizinkanku bekerja lebih lama lagi di perusahaannya. Aku yakin Kak, apa yang dikatakan Leo itu benar kalau keluarganya mulai menerima aku. Kakak tenang aja."


Walaupun aku tidak bisa membantu banyak, setidaknya perkataanku barusan bisa membuat Kak Rian bisa lebih mempercayai Leo lagi.


"Baiklah kalau itu memang keputusan kalian Kakak enggak bisa berbuat apa-apa. Toh yang menjalaninya juga kalian. Kalian berdua pasti tahu apa yang terbaik. Ingat, pengalaman yang lama kalian jadikan pelajaran jangan sampai terulang lagi. Mengecewakan banyak orang itu mudah, tapi membahagiakan mereka itu sulit."


"Iya, Kak." jawab aku dan Leo kompak.


"Kakak pulang duluan ya." Kak Rian lalu menatap ke arah Leo. "Kamu yang bayar! Sekalian yang Kakak bungkus buat di kostan juga kamu yanh bayar! Itung-itung biaya kerjasama!"


"Iya, Kak." jawab Leo sambil tersenyum. Sementara aku hanya bisa menunduk malu.


Ya ampun Kakak.... Kenapa kelakuannya sebelas dua belas sama adeknya? Sama-sama suka meretin orang. Ampuuuun dah ah... Bikin malu sazaaaa...


Kak Rian lalu meninggalkan kami berdua dan pulang dengan membawa sebungkus kantor plastik berisi steak yang Ia pesan beserta teman-temannya. Aku nggak tahu isinya apa aja yang pasti itu banyak banget. Benar-benar Aji mumpung ya Kak Rian.


Seakan bisa membaca perasaanku, Leo lalu menarik tanganku lagi dan menggenggamnya erat. Ia tersenyum seakan satu beban berat telah hilang dari pundaknya.


"Udah santai aja. Enggak masalah kok." kata Leo menenangkanku.


"Aku enggak enak sama kamu jadinya."


"Aku punya kartu sakti. Enggak pernah aku pakai karena aku enggak suka jajan. Untung ada Kak Rian yang membantu menghabiskannya kalau tidak kan mubazir. Kalau kamu mau bawa pulang dan bagi dua sahabat kamu juga boleh."

__ADS_1


Aku lalu mengangkat kepalaku mendengar boleh membawa pulang steak seperti yang Kak Rian lakukan. "Beneran boleh? Buat Bu Sri dan Bu Jojo boleh dibungkusin?"


Leo tersenyum dan mengangguk. "Boleh. Sekalian buat kamu juga boleh. Aku pesankan makanan siap saji yang sudah di vacum ya? Tinggal kamu panaskan saja nanti. Gimana?"


"Mauuuu." ah sama memalukannya nih aku sama Kakak. Mungkin gen kami kuat. Gen malu-maluin maksudnya he...he...he...


"Yaudah aku pesenin dulu ya sekalian bayar." Leo lalu meninggalkanku dan memesan menu untuk take away.


Sambil menunggu ternyata Leo membawakanku es krim. "Nih. Buat menenangkan hati yang udah aku lumerin pake gombalan sejak tadi. Maaf ya aku enggak jago ngegombal. Enggak punya banyak pengalaman soalnya."


Aku menerima es krim yang Leo berikan sambil tersenyum. "Makasih. Aku enggak butuh banyak digombalin karena aku tahu meskipun jarang namun gombalan kamu tuh tulus. Kamu hebat deh. Aku yakin kamu juga bisa meyakinkan Bapak. Pilihan aku tuh enggak pernah salah."


"Ih sekarang gantian kamu yang ngegombalin aku." ledek Leo.


"Oh iya, memangnya sabtu ini kita mau ke rumah kamu?" aku menanyakan lagi yang tadi Leo katakan ke Kak Rian.


"Iya. Kan kita mau barbequean. Di rumah Papa aja ya. Nanti aku bilang Mama agar Mama ikut bergabung. Siapa tahu rujuknya kita bisa membuat Mama dan Papa juga rujuk."


Aku seakan bisa merasakan apa yang Leo rasakan. Ia pasti sebagai seorang anak tidak menginginkan orangtuanya berpisah. Keluarga yang utuh dan berbahagia adalah dambaan setiap orang.


"Oke. Nanti aku akan belikan daging slice yang banyak. Kan aku udah janji mau traktir kamu dan Richard dari gaji pertamaku?"


"Enggak usah. Papa tuh tengil. Seleranya beda. Nanti saja aku yang belikan dagingnya. Papa sukanya daging import yang kualitasnya bagus. Bisa habis dalam semalam gaji kamu nanti. Kalau mau beli cemilan aja. Jajanan pasar sudah cukup."


"Beneran nih jajanan pasar saja sudah cukup?" kataku sambil menghabiskan es krim milikku dan sesekali menyuapi Leo agar es krimnya cepat habis.


"Bener. Papa sama Mama sukanya jajanan kampung. Tapi yang homemade ya jangan yang dijual di pasar. Manisnya beda, kayak pakai pemanis buatan Papa kurang suka."


Aku berpikir sebentar. "Susah juga ya selera Papa kamu. Aku jadi tambah takut Papa kamu enggak suka."


"Nanya aja sama Bu Sri dan Bu Jojo. Biasanya kalau tinggal di kampung ada tuh yang jual kue buatan rumahan. Papa suka banget tuh. Enggak usah mahal-mahal yang penting buatan rumahan. Simple kan?"


"Iya deh. Nanti aku tanyakan saat kasih steaknya. Tuh pesanan kita udah datang. Pulang yuk."


Aku dan Leo memutuskan pulang ketika pesanan untuk take away sudah dibawakan oleh pelayan. Sama seperti yang diberikan kepada Kak Rian, yang dibungkus untukku juga tak kalah banyak.


Aku bahkan sampai bertanya buat apa banyak-banyak, namun Leo bilang bisa dibagikan aja sama Bu Sri dan Bu Jojo. Sisanya bisa aku simpan di kulkas karena tadi Leo pesannya ada yang frozen jadi bisa buat stok makanan aku beberapa hari. Lumayan... hemat.


Tidak enak semuanya dari tadi dibayarin oleh Leo, aku merogoh dompetku dan mengambil uang recehan Rp20.000. Tempat penitipan motornya tadi ada karcis parkinya. Aku patungan bayar parkir saja deh.


Setelah antri beberapa saat di tempat pembayaran tiket keluar parkir, akhirnya tibalah giliran kami untuk membayar. Leo memberikan karcis parkir motor miliknya sambil menunggu petugas parkir menyebutkan berapa biaya yang harus dikeluarkan.


"Sepuluh ribu, Pak." ujar petugas parkir.


"Aku aja yang bayar." kataku langsung memberikan selembar uang Rp 20.000,- kepada petugas parkir. "Kembaliannya buat Masnya aja."


"Wah makasih Mbak." ujar petugas parkir tersebut sambil tersenyum.


Leo lalu menjalankan motornya. "Banyak banget bayar parkirnya?"


"Seperti yang aku bilang tadi pagi, dimulai dari hal kecil. Sepuluh ribu mungkin jumlah yang kecil buat kita namun saat kita kasih tips ke tukang parkir maka kita bisa merasakan kebahagiaan yang tukang parkir rasakan. Membahagiakan orang lain itu juga bisa membuat kita bahagia loh."


"Ya ampun kamu so sweet banget. Cepet rujuk yuk. Enggak sabar nih punya istri baik bak malaikat."


"Ih gombal!" kataku seraya memukul pelan bahu Leo.


******

__ADS_1


Maaf belum bisa double up ya. Masih banyak kerjaan nih. Jangan lupa vote yang banyak ya! Follow my Ig: Mizzly_


__ADS_2