Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Apa Itu Cemburu?


__ADS_3

Leo sudah puas menertawaiku. Ia bilang tenggorokannya sampai kering karena kebanyakan tertawa. Ish.... Memang selucu itu apa mengerjaiku?


"Jadi kita mau barbeque kapan? Sabtu ini? Atau sabtu depan?" Leo memulai percakapan baru tidak membahas tentang kejahilannya lagi.


"Memangnya jadi?" tanyaku sambil menikmati bebek goreng dengan sambalnya yang lumayan pedas.


"Jadi dong. Kan gaji pertama. Harus traktir orang." Leo mengambil beberapa lembar tissue dan mengelap keringat di wajahku yang mulai bercucuran.


Banyak yang bilang kalau aku makan pedas terlihat lebih nikmat dan menggugah selera yang melihatnya. Hal itu karena aku yang kepedesan akan keluar keringat di dahi dan diatas bibir. Oh iya di ujung hidungku juga akan keringetan.


"Makan sambel enggak banyak pedesnya sampai keringetan begini May. Kalau enggak kuat pedes jangan dipaksa. Nanti perut kamu sakit tengah malam siapa yang nolong? Kalau dulu ada aku yang siap nganterin kamu ke dokter." Leo ngomel tapi tetap saja mengelap keringatku di dahi.


"Ya aku tetep telepon kamu lah. Atau aku telepon Bu Sri, Bu Jojo dan Angga aja." jawabku tanpa dipikir terlebih dahulu.


Tangan Leo yang masih mengelap keringatku tiba-tiba menggantung di udara dan akhirnya berhenti mengelapiku lagi. Matanya menyorotkan ketidaksukaannya dan bibirnya dimanyunkan karena sebal dengan perkataanku.


"Kenapa?" tanyaku tak sadar apa yang salah dengan perkataanku.


"Kamu masih mau menghubungi Angga setelah semua yang terjadi?" Leo kini bahkan tidak menatapku lagi dan membuang tissue bekas mengelap keringatku diatas piring kotor miliknya yang sejak tadi sudah kandas tak bersisa.


"Oh kamu cemburu? Santai aja kali. Aku sama Angga cuma teman aja." jawabku tanpa dosa.


Leo sepertinya makin kesal dengan jawabanku. "Kamu nyadar nggak sih, Angga tuh salah satu alasan kita bercerai?"


Kekesalan Leo makin bertambah melihat ke-oon-an ku. Ia lalu berjalan ke washtafel dan mencuci tangannya. Aku yang juga sudah selesai makan pun langsung menyusulnya.


"Kita kan bercerai karena aku yang menggugat kamu. Enggak ada hubungannya sama Angga." kataku yang sengaja mencuci tangan di sebelah Leo.


Leo selesai mencuci tangan lalu mengeringkan tangannya. Aku lihat wajahnya yang tadi tertaaa bahagia dan sumringah berubah keruh. Apa aku salah bicara ya?


Aku mendekati Leo dan mengeringkan tanganku di sebelahnya, namun sepertinya Leo makin sebal dan malah meninggalkanku dan kembali ke tempat duduk kami tadi.


"Ih kenapa sih? Kamu marah?" tanyaku begitu duduk di samping Leo yang sedang minum es teh manis miliknya. Tetap ya matanya menyiratkan kemarahan. Aku tahu meskipun Leo tak bilang kalau saat ini Ia amat marah padaku.


"Ya kamu nyadar aja May. Terakhir kali kita bertengkar sampai kita cerai ya awalnya karena Angga. Apa coba maksudnya ngajak istri orang pergi jalan keluar? Enggak pantas May!"


"Jadi alasan kamu akhirnya setuju bercerai sama aku adalah karena Angga?" tanyaku memastikan.


"Iya. Karena aku pikir kamu lebih memilih bersama Angga dan pergi meninggalkan kamu. Kalau aku tahu alasan sebenarnya karena kamu kehilangan aku pasti akan ngemis-ngemis buat memperbaiki hubungan kita."


"Ah itu hanya alasan aja yang kamu buat-buat Leo. Sudahlah enggak usah dibahas. Toh kita pada akhirnya juga sudah bercerai kenapa harus dipermasalahkan lagi masalah dengan Angga?" aku yang sekarang mulai emosi dengan sikap Leo.


Apa-apaan sih mulai membahas masa lalu lagi? Aku saja udah enggak bahas tentang Adam lagi dan sudah tidak menyalahkan Leo. Ini kenapa harus Ia bahas tentang Angga? Enggak fair dong namanya.


"Aku pikir kamu sekarang udah ngerti rasanya di posisi aku saat ngelihat kamu bersama cowok lain? Ternyata kamu masih belum menyadari ya May? Apa aku segitu enggak berharganya ya di mata kamu? Kalau aja kamu tau apa yang udah aku lakuin buat kamu dulu." Leo tidak bisa lagi menyembunyikan emosinya.


"Loh kok kamu malah membahas yang dulu-dulu sih? Enggak ikhlas gitu? Memang kamu juga tau apa yang aku alamin dulu? Enggak kan? Jangan hanya merasa kamu yang paling menderita atas perceraian kita! Kamu tau enggak rasanya dipandang sebelah mata karena status janda?" aku membalas ucapan Leo yang mulai aku anggap keterlaluan.


Pedihnya sampai membuat air mataku tak kuasa untuk kubendung.


"Aku tidak pernah bilang kalau kamu enggak menderita May. Kamu yang jangan mikirnya kejauhan! Kita lagi bicarain Angga. Jangan membuat lebar topik permasalahan dong."


"Sudahlah aku mau pulang!" aku langsung menyambar tasku dan berjalan keluar dari restoran.

__ADS_1


Leo menyusulku di belakang namun berhenti sejenak di meja kasir mengeluarkan dompetnya lalu memberikannya pada sang kasir.


"Meja nomor 48. Kembaliannya ambil aja. Makasih."


Leo lalu berlari mengejarku yang sedang berjalan menuju jalan raya hendak memberhentikan taksi.


"Mau kemana?" tanya Leo yang kini sudah memegangi lenganku.


"Pulang." jawabku singkat.


"Aku anterin. Aku yang udah anterin kamu dari kantor."


"Enggak usah. Aku naik taksi aja!" sahutku sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya yang ternyata jauh lebih kuat dari tenagaku.


"Jangan kayak anak bocah deh. Kita udah dewasa sekarang. Bukan anak mahasiswa kayak dulu! Ayo aku antar pulang!" suara Leo tegas dan tak menerima bantahan.


Aku akhirnya menurut walau hatiku masih saja kesal dan dongkol dengan sikap Leo. Mungkin kesalnya sudah campur baur dari melihat Leo dengan Lidya mengobrol mesra, lalu ditambah Leo membahas tentang Angga yang masih saja membuatku senewen karena bayangan Mamanya yang nyebelin langsung melintas di kepalaku.


Sepanjang jalan aku bahkan tak mau pegangan pinggang Leo lagi. Rasa kesal di dadaku begitu berkecamuk. Aku tak mengindahkan lagi apapun yang Leo katakan. Sampai akhirnya Leo mengantarku sampai depan kontrakkan.


"Besok enggak usah jemput-jemput lagi!" kataku sambil berbalik badan dan masuk ke dalam rumah.


Leo juga sepertinya marah padaku karena Ia tak mengucapkan sepatah katapun dan langsung menyalakan mesin motornya meninggalkan rumah kontrakanku tersebut.


Setelah menutup pintu aku mengintip dari balik jendela berharap Leo masih menunggu di depan rumah dan tiba-tiba kembali gitu eh ternyata Leo tetap pergi meninggalkan aku bersama kemarahanku dan tak berusaha untuk meredamnya.


Aku melemparkan tasku di atas tempat tidur dengan kesal. Handphone-ku yang berada di saku celana tiba-tiba bergetar. Seulas harap timbul dalam hatiku berharap Leo akan bertanya padaku mau martabak apa, lalu tiba-tiba muncul didepan rumah kontrakanku dengan membawa sebungkus martabak seperti waktu itu.


Tapi harapanku hanya tinggal harapan, karena yang menghubungiku ternyata bukan Leo melainkan Angga. Karena masih kesal dengan ulah Mamanya, aku me-reject panggilan dari Angga.


Tapi aku tidak mematikan handphoneku. Aku masih melirik jika ada notifikasi yang masuk. Berharap kalau itu dari Leo, meski hanya sekedar memberitahukan kalau Ia sudah sampai atau basa basi apa gitu.


Sambil menunggu ada notifikasi yang kuharap dari Leo, aku memutuskan untuk mandi dan menjernihkan pikiranku yang kusut. Dinginnya air sumur di kontrakan langsung membuat kepalaku terasa adem. Aku bahkan sampai berlama-lama mandi hanya untuk menikmati segarnya tubuhku saat terkena air dingin.


Selesai mandi sambil tubuhku terbalut handuk putih, aku mengecek handphone-ku apakah ada notifikasi yang masuk. Aku pun membuka aplikasi WhatsApp dan membacanya.


Lagi-lagi aku harus kecewa karena tak ada nama Leo di dalamnya. Tentunya ada beberapa notif dari Angga namun tak aku baca juga.


Kecewa sungguh aku rasakan. Aku masih berpikir aku salahnya di mana? Apakah salah kalau aku tadi menyebut nama Angga?


Kalau Leo memang nggak suka, kenapa nggak bilang? Aku kan bisa menahan diriku agar tidak menyebut nama Angga depan Leo kalau Ia memang tak menginginkan hal tersebut.


Aku teringat perkataan Leo tadi. Apakah mungkin Angga adalah penyebab Leo akhirnya mau bercerai denganku? Benarkah Leo berpikir kalau aku dan Angga memang memiliki suatu hubungan?


****


Aku bangun kesiangan, semalam aku nggak bisa tidur memikirkan pertengkaranku dengan Leo. Wajahku pasti bengkak deh selain kemarin bekas menangis, kurang tidur juga pasti membuat wajahku enggak kelihatan fresh.


Aku mengintip dari jendela berharap Leo akan tetap menjemputku di depan rumah. Namun harapan hanya tinggal harapan karena ternyata Leo patuh dengan apa yang aku katakan kemarin. Ia tidak menjemputku pagi ini.


Kenapa sih laki-laki masih aja enggak peka? Kalau perempuan bilang nggak usah dijemput itu tandanya Ia mau dijemput. Ini strategi tarik ulur, masih nggak ngerti juga apa? Perempuan tuh gengsi untuk bilang kalau Ia minta dijemput. Aku kesal dengan kebodohan Leo.


Karena tak ada pangeran berkuda yang menjemputku, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat pagi takut macet dan menyebabkan aku telat.

__ADS_1


Sudah bisa diduga, Angga yang menungguku di depan gang. Dia yang melihat aku keluar dari gang langsung turun dari mobil dan mengejarku.


"May, kamu masih marah sama aku? Aku minta maaf May sama kamu kalau aku punya salah sama kamu. Aku antar kamu ke kantor ya May?"


Aku tidak terpengaruh dengan bujuk rayu Angga. Murah banget sih cuma gara-gara mau diantar ke kantor aja aku sampai lemah dan melupakan kesalahan Mamanya Angga. Angga memang nggak salah, tapi sikap Ia yang hanya bisa diam dan membiarkan mamanya terus-menerus menghinaku itu adalah salah satu bentuk kesalahan.


Aku berhasil menolak Angga dan akhirnya berangkat kerja dengan Kopaja. Cukup menyiksa diri sih, aku merelakan segala kenyamanan dan fasilitas hanya untuk berjubelan di dalam Kopaja.


Aku langsung menuju ke ruangan. Aku udah duga pasti Leo udah datang. Aku mau tau aja bagaimana reaksi Leo saat melihatku datang. Apakah Ia akan meminta maaf ataukah dia akan melanjutkan marahnya padaku?


Sebelum sampai ke depan ruangan, aku mendengar suara tertawa yang amat kencang. Suara tawa itu milik Leo. Apakah Leo sedang mengobrol dengan orang lain? Seseru itukah ngobrolnya sampai membuat Ia tertawa terbahak-bahak seperti itu?


Aku membuka pintu dan menyapa dengan nada malas begitu aku tahu siapa yang ada di dalam ruangan. "Pagi."


"Hi! Pagi May!" sapa Lidya yang sedang duduk di kursi depan meja Leo.


Aku hanya menyunggingkan seulas senyum sambil terus berjalan menuju mejaku. Aku masih sibuk menyalakan komputer dan menaruh tasku ketika Leo kembali mengobrol dengan Lydia.


Aku menajamkan kupingku, menguping pembicaraan apa yang dibicarakan oleh Leo dan Lidya.


"Kamu sih resign! Kalau waktu itu kamu enggak jadi resign, Aku tuh mau ngangkat kamu jadi manajer restoran." kata Lidya.


"Aku nggak bisa Lidya. Aku tuh nggak jago ngerjain kayak gitu! Aku lebih baik kerja di belakang layar deh kayak gini daripada aku harus ngadepin pelanggan kamu yang seleranya aneh-aneh." kata Leo.


"Bukannya unik pelangganku, kamunya aja sih yang gak sabaran. Maunya cepet-cepet pulang terus. Aku heran kamu dulu kenapa sih pengen buru-buru pulang? Padahal kan kamu lagi kabur dari rumah! Pengennya pulang melulu kayak udah ada istri aja yang bakalan nungguin kamu di rumah?!"


"Terus jadinya siapa yang yang memimpin jadi Manager toko kamu?" tanya Leo sengaja mengalihkan pertanyaan.


Kenapa Leo nggak bilang aja kalau emang saat itu dia udah punya istri? Apa Ia emang mau menutupi statusnya? Kenapa sih harus malu dengan status laki-laki yang sudah beristri?


Hasil yang aku simpulkan dari percakapan antara Lidya dengan Leo adalah Leo tidak mau membahas tentang pernikahan kami di depan Lidya. Pertanyaannya adalah kenapa? Apakah Leo menyembunyikan statusnya untuk mendekati Lidya?


Kalau lagi suntuk kayak gini aku tuh jadi kangen sama Richard. Menurut informasi yang aku dengar, sejak kemarin tuh Richard sibuk ke luar kota.


Jadilah aku seperti obat nyamuk yang sejak tadi hanya menyimak obrolan antara Leo dan Lidya tanpa benar-benar diajak dalam pembicaraan mereka. Obat nyamuk bukan istilahnya?


Setelah Leo pergi aku pikir dia akan mengajakku ngobrol seperti biasa. Tapi Ia malah ikut pergi, yang aku tahu pasti ke tangga darurat untuk menyerahkan berkas.


Sekembalinya dari tangga darurat, Leo mulai berkutat lagi dengan pekerjaannya. Ia tidak mengajakku berbicara. Kami seperti dua orang asing yang tak saling bertegur sapa.


Saat di kantin juga Leo tidak mengatakan apapun. Ia asyik makan dan tahu-tahu pamit untuk pergi duluan seperti biasa.


Begitupun saat pulang kerja Leo tidak berbasa-basi menawarkan ku untuk pulang bareng. Tanpa banyak bicara Ia langsung turun dan menuju parkiran sementara aku harus menunggu Kopaja baru bisa pulang ke rumah.


Kenapa aku tidak naik layanan ojek online? karena aku bukan orang yang berani untuk naik motor selain dengan orang yang aku kenal. Bapak juga melarangnya.


Aku sedang membuka mobile banking dan melihat ada sejumlah saldo yang sudah ditransfer masuk ke rekeningku. Gaji bulan ini, jumlah yang lumayan banyak untuk fresh graduate kayak aku.


Seharusnya aku mentraktir Leo dan Richard dengan gaji pertama aku bekerja Ini. Tapi ketegangan antara Aku dan Leo membuat kami ragu untuk melanjutkan kan rencana barbekyu.


****


Hi semua jangan lupa follow IG aku ya Mizzly_

__ADS_1


Senin kita Up lagi, kalau mau double date eh salah maksudnya double up langsung vote yang banyak ya!


__ADS_2