
Kelakuan Leo yang terkesan over protected terhadapku dan kehamilan keduaku makin lama makin membuat risih saja.
Pagi hari sebelum berangkat ke kantor, Leo sudah menyuruhku minum susu Dancow terlebih dahulu. Susu hamil akan Ia belikan nanti sepulang kerja.
Sesampainya di kantor yang Leo lakukan adalah masuk ke ruang audit untuk mengantarku sampai ke meja kerja. Tak hanya itu, Ia juga memberi pesan kepada Kak Fahri panjang lebar tentang pembagian kerjaku. Enggak boleh ada pekerjaan yang membuat aku kelelahan.
Kak Fahri hanya menggaruk kepalanya. Bagaimana mungkin ada pekerjaan yang tidak membuat lelah? Sedangkan sekarang sudah memasuki akhir bulan. Banyak cabang yang harus diaudit.
"Sayang, aku tuh harus kerja. Kamu santai saja. Kasihan Kak Fahri. Kayak enggak tau aja kalau akhir bulan kerjaan di bagian audit banyak. Aku bisa jaga diri kok. Kamu tenang saja ya." aku berusaha membujuk Leo yang pagi-pagi sudah banyak perintah.
"Enggak. Pokoknya kamu enggak boleh kecapean. Atau mau aku tambah lagi anak baru disini jadi 4 orang lagi?" pertanyaan Leo membuat Kak Fahri gelagapan.
Empat anak baru lagi? Kemarin saja sudah nambah dua. Ditambah empat lagi? Bagaimana mau ngajarinnya sedangkan ini akhir bulan, enggak akan sempat mengajari orang dalam waktu singkat.
Seakan bisa membaca apa yang dipikirkan Kak Fahri, aku berusaha membelanya lagi.
"Kamu jangan gitu dong. Kasihan Kak Fahri. Posisinya serba salah. Udah cukup tambahan dua karyawan lagi. Nanti aku bagian ngecek di ruangan. Yang lain bisa ke lapangan. Kalau ngecek di ruangan pasti enggak akan terlalu capek deh."
"Atau kamu enggak usah kerja aja? Di rumah aja, gimana?" ide Leo kali ini membuat Kak Fahri menatap ngeri. Dadakan ngurangin satu karyawan dalam waktu singkat. Bisa lembur terus Ia dan Kak Anggi.
"Please... Kamu kan tadi janji jangan lebay. Aku akan usaha sebisa aku dan enggak akan maksain kok kalau aku capek. Kan kamu juga ada disini. Bisa aku kabarin kalau aku kecapean dan mau pulang. Tenang aja ya. Please..."
Leo terlihat mempertimbangkan keputusanku. "Baiklah. Pokoknya kamu enggak boleh kecapean ya. Terus nanti susunya diminum. Enggak boleh nahan lapar. Kalau mau makan bilang sama sekretaris aku nanti dia akan belikan. Oke?"
Aku mengangguk patuh. "Iya. Sudah kamu balik ke ruangan sana. Ada kamu disini cuma bikin suasana makin tegang aja pagi-pagi."
"Ngusir nih?" tanya Leo dengan muka tersinggung yang dibuat-buat.
"Enggaklah. Ayo kamu balik ke ruangan. Mau aku antar?"
Sudah pasti Leo menolak. "Enggak usah. Aku balik ke ruangan sendiri. Inget ya, jangan kecapean!"
"Iya... iya...."
Setelah Leo keluar ruangan kulihat seisi ruangan bisa bernafas lega. Termasuk Kak Anggi yang langsung menghampiriku.
"May, Leo segitu protect nya ya sama kamu? Wah gawat nih kalau Fahri ngomelin kamu, bisa-bisa Fahri yang diomelin balik sama Leo." Kak Anggi sudah membayangkan hal yang belum terjadi saja. Membuat aku tak bisa menahan senyumku.
"Enggak Kak. Leo tuh punya alasannya kenapa kayak begitu." aku membela Leo. Sambil menyalakan komputer Kak Anggi mengajakku mengobrol.
"Hmm... Alasan? Biasanya suami tuh protect kalau istrinya lagi.... Kamu lagi hamil May?" pertanyaan Kak Anggi langsung membuat seluruh perhatian orang di ruangan teralih padaku.
"Sst! Diem-diem Kak. Jangan kenceng-kenceng! Aku belum periksa ke dokter sih. Baru testpack aja tadi pagi." bisikku pelan tapi Kak Fahri tetap saja melirik curiga dan memasang telinga mendengar percakapan kami berdua.
"Owh... Pantas saja. Kayak singa. Nyeremin. Ternyata ada yang lagi dijagain toh!"
"Bukan gitu, Kak. Leo enggak nyeremin kok. Leo tuh ketakutan. Dan mungkin trauma...." aku kembali mengingat Adam. Rasa sakit kehilangan Adam masih membekas di hatiku. Apalagi Leo? Penyesalannya pasti masih sangat membekas.
"Trauma? Kok bisa?" tanya Kak Anggi ingin tahu.
"Karena penyebab perceraian kami dulu ya karena kehilangan buah hati kami, Kak."
Kak Anggi membelalakkan matanya dan membuka mulutnya lebar. Kaget dengan fakta yang kuberikan. "Yang bener kamu May?"
Aku mengangguk. "Jadi maklumi aja ya kalau Leo over protected."
Kak Anggi mengangguk beberapa kali. "Iya May. Tenang aja. Pokoknya aku yang bakalan bantu kamu handle kerjaan kamu. Kamu jangan sampai kecapean ya. Aku dukung Leo eh maksudnya Mr. So kali ini!"
Semangat Kak Anggi membuatku tersenyum senang. "Makasih, Kak."
Beberapa kali sekretaris Leo bolak balik ruanganku. Membawakan cemilan, susu dan bahkan membawakan bantal punggung yang baru saja Ia beli online.
Kasihan sebenarnya. Mukanya agak sebal gitu melihatku. Tugas yang Leo berikan menambah daftar pekerjaan yang harus Ia lakukan. Aku juga akan sebal kalau berada di posisinya.
"Mm... Mbak, ini buat Mbak. Maaf ya kalau Leo kebanyakan nyuruh-nyuruh. Nanti aku bilangin lagi deh." aku memberikan sebatang cokelat yang biasanya kusimpan di laci lemari pada sekretaris Leo.
"En... Enggak usah, Bu. Ini tugas saya." tolak sekretaris Leo malu-malu.
"Udah enggak apa-apa. Makasih banget loh Mbaknya udah banyak bantuin saya. Ambil ya." akhirnya sektetaris Leo mau menerima cokelat pemberianku. Wajahnya sudah tidak sesuram tadi. Mungkin karena aku menghargai usahanya.
Aku memakai bantal punggung yang Leo belikan. Ternyata enak juga. Punggungku jadi lebih rilex. Mengerjakan kerjaan juga lebih santai. Sampai aku tak ingat waktu dan Leo sudah nongol di depan pintu saat jam istirahat.
__ADS_1
"Tuh kan keasyikan kerja sampai lupa makan!"
Aku tersenyum dengan kebawelan Leo. Berbeda dengan Kak Fahri yang agak panik. Takut diomelin lagi sama Leo.
"Bukan lupa. Memang menunggu pangeran datang untuk menjemput saja." gombalan penting saat ini. Menurunkan emosi dan menghilangkan ketegangan di ruangan.
"Bisa aja. Ayo kita makan siang. Aku juga lapar nih. Mau makan di luar atau di kantin saja?"
"Di kantin saja." aku menjawab cepat. Kalau di luar kasihan Kak Fahri. Kerjaanku masih banyak. Kalau aku makan diluar dan kembalinya lama maka Ia yang akan turun tangan membantu pekerjaanku.
"Yaudah ayo." aku mengikuti langkah Leo ke kantin.
Lagi-lagi tatapan berbeda kudapatkan saat berpapasan dengan semua karyawan. Mereka mengangguk dan menyapa hormat pada Leo.
Hari ini penampilan Leo berbeda. Sudah bukan Leo yang dulu. Ia memakai setelan jas warna biru doungker dengan dasi berwarna sama. Jam tangan di pergelangannya pun asli, sudah bukan yang KW lagi.
Aku yang berjalan disampingnya merasa amat timpang. Bagaimana tidak, setelan jas Leo yang harganya bisa puluhan juta bersanding dengan kemeja yang kubeli di ITC dengan harga tak sampai seratus ribu rupiah.
Bagai pangeran dan upik abu. Hiks...
Namun sikap rendah diriku berbeda dengan Leo. Ia terlihat santai saja berjalan di sampingku. Bahkan ia seperti bangga memamerkan istrinya kepada khalayak umum.
"Siang, Pak."
"Siang, Pak."
Beberapa kali sapaan para karyawan menyapa dirinya yang Ia jawab dengan senyuman dan anggukan.
"Ih jawab juga kek. Siang, gitu. Jangan senyum aja!" omelku sambil mengambil dua buah nampan untukku dan Leo lalu memberikan padanya.
"Pegel tau dari tadi jawab satu persatu. Karyawan disini tuh ratusan. Setiap berpapasan selalu nyapa. Kering tenggorokanku kalau aku jawab satu persatu. Lebih baik senyumin aja." Leo membawa nampan berisi makanannya dan mencari tempat duduk yang kosong.
"Disana aja yuk." Leo menungguku membawa nampan dan kami pun duduk di kursi berisi empat tempat duduk yang kosong.
Aku tak lagi mengomelinya masalah menjawab sapaan. Benar yang Ia katakan. Cukup tersenyum saja. Itu juga bentuk sopan santun. Banyak kok atasan yang bahkan tersenyum saja tidak mau pada bawahan.
"Makannya masih kurang enggak? Mau aku ambilkan lagi?"
"Enggak... Enggak. Udah cukup!" tolakku.
"Udah."
"Nanti pulang kerja jadi fitting baju?"
Aku mengangguk. "Jadi. Tinggal fitting aja. Mama yang harus jahit dari awal. Karena Mama harus seragaman sama Ibu."
"Mau aku jemput pulangnya?"
"Enggak usah. Kamu nanti capek. Kita ketemuan di rumah aja ya."
"Oke. Tapi kamu jangan kecapean ya."
"Iya... Iya... Bawel bener sih."
Leo menatap tajam padaku. "Bukan bawel. Tapi hati-hati! Kita kapan ke dokter kandungan?"
"Hmm... Lusa aja. Kebetulan hari sabtu. Gimana?"
"Tapi aku ada kerjaan di Bandung. Besok aja gimana?"
Yahhh... Besok justru akhir bulan. Kapan perginya? Kak Fahri pasti enggak setuju kalau aku pergi saat jam kerja.
"Aku pergi sendiri saja."
"Enggak boleh. Minta temenin Mama aja gimana?"
Aku ingat Mama akan bertemu WO hari sabtu besok. "Mama enggak bisa deh kayaknya. Hmm... Kalau ditemani duo julid gimana? Sekalian nyuruh mereka datang ke rumah Papa buat main." ide dadakan terlintas di benakku.
"Boleh. Sekalian ajak mereka makan. Traktir main prosotan sepuasnya. Kalau uang yang aku kasih habis nanti aku transfer lagi."
Habis? Uang 500 juta di rekening langsung habis gitu sama aku? Memangnya aku tukang shopping? Paling baru terpakai sejuta doang.
__ADS_1
"Masih ada. Tenang saja. "
***
Setelah Leo pergi pagi-pagi ke Bandung aku memesankan taksi online untuk kedua sahabatku ke rumah sakit. Kami janjian ketemuan di rumah sakit.
Aku meminjam mobil Kakanda karena mobil yang dibelikan Leo belum datang. Aku mengganti mobil yang kupesan menjadi Honda CRV karena Jazz sudah tidak diproduksi lagi di Indonesia. Hiks.. sedih. Mobil impian tak jadi kenyatan.
Kakanda yang kasihan akhirnya memberikan mobil miliknya padaku. Pakai kapanpun aku mau. Baik sekali kan?
Aku sudah mendaftar untuk konsultasi dengan dokter kandungan. Setelah daftar ulang aku mencari keberadaan dua sahabatku itu.
Bu Sri dan Bu Jojo sedang mencoba timbangan yang ada di dekat ruang suster.
"Ah rusak nih timbangannya! Masa saya lebih berat 5 kg!" omel Bu Sri saat turun dari timbangan.
"Ah masa sih? Coba saya nimbang." gantian Bu Jojo yang naik ke timbangan. "Bener ah. Emang situ aja yang makin gendut. Pake nyalahin timbangan segala!" omel Bu Jojo seraya turun dari timbangan.
"Maaf, Ibu mau periksa?" tanya suster karena melihat kerempongan dua ibu-ibu di dekat ruangannya tersebut.
"Enggak, Sus. Kita mau nemenin adek kita periksa." jawab Bu Jojo.
"Iya, Sus. Mereka mau nemenin saya periksa. Ini nomor pendaftaran saya." aku datang dan memberikan nomor pendaftaranku pada suster.
"Akhirnya kamu datang May. Kita duduk dulu yuk sebelum kamu dipanggil dokter. " ajak Bu Sri.
"Maya timbang dan tensi darah dulu ya Bu. Nanti Maya nyusul." aku pun diperiksa tekanan darahnya dan diukur beratnya. Aku juga diberikan buku berwarna pink yang berisi catatan kehamilan dan saat melahirkan nanti.
Sambil menunggu dokter aku duduk disamping Duo Julid. "Kamu langsung hamil May? Hebat bener dah si Leo. Enggak pernah gagal deh gagahin kamu!"
Ucapan Bu Sri yang selalu tanpa filter membuat orang yang mendengarnya ikut tertawa. Tinggal aku yang malu dibuatnya.
"Sst! Pelan-pelan kenapa ngomongnya! Maya kan malu!" omelku sambil memukul pelan lengan Bu Sri.
"Yaelah ngapain malu, orang pas bikinnya aja doyan dan semangat. Kenapa pas udah jadi malah malu?" seenaknya saja Bu Sri nyeletuk.
"Bu, nanti main ke rumah Leo ya. Enggak ada orang disana." ajakku.
"Beneran? Keluarganya Leo kemana?" tanya Bu Jojo.
"Leo, kakaknya dan Papa lagi ngurusin bisnisnya di Bandung. Mama lagi ketemu WO buat acara hajatan aku nanti."
"Boleh May. Saya pengen banget ke rumah Leo. Pasti rumahnya gede ya? Ada kolam renangnya juga gak?" Bu Sri terlihat amat antusias dengan ajakanku.
"Ada. Ibu mau berenang?" tanyaku.
"Yah... Saya enggak bawa baju renang. Kamu sih enggak bilang dulu!"
"Gini aja, pulang dari rumah sakit kita mampir sebentar ke mall. Beliin Bu Sri dan Bu Jojo baju renang Gimana?" usulku.
"Beneran May?" tanya Bu Jojo.
"He eh. Beneran."
"Asyik! Saya mah mau aja May. Kamu kan tau kalau saya orangnya enggak bisa nolak rejeki." kata Bu Sri tanpa malu-malu.
Setelah diperiksa dokter dan memang benar kalau aku sedang hamil, kami pun ke mall membeli baju renang buat Bu Sri dan Bu Jojo. Sebelumnya aku mengirimkan hasil USG terlebih dahulu pada Leo yang sejak tadi bawel mengirimiku pesan dan meminta video call saat aku diperiksa dokter.
Mobil yang kukendarai memasuki pelataran parkir rumah Leo. Tak henti-hentinya Bu Jojo dan Bu Sri mengucap kagum pada kemegahan rumah Leo.
"Woooowww.... Gila mobilnya berjejer banyak banget." ujar Bu Jojo yang langsung turun dari mobil dan melihat-lihat koleksi mobil milik Papa dan Richard.
"Ini yang kayak di film-film ya mobilnya. Ini mobilnya bisa berubah jadi robot juga enggak May?" tanya Bu Sri sambil mengelus mobil Ferrari Richard dengan takut-takut. Takut lecet maksudnya.
Robot? Oh ya ampun. Film Transformers maksudnya.
"Enggaklah Bu. Itu kan cuma film. Ayo kita masuk."
Dan kenorakan mereka semakin menjadi. "Ini gucinya gede banget. Kamu muat Jo kalau dimasukkin kesini."
"Ogah! Kamu aja Sri yang masuk ke dalam guci! Awal hati-hati! Mahal tuh! Enggak bisa dibayar pake Pop Ice jualan kamu!" omel Bu Jojo.
__ADS_1
"Ya enggak bisa lah. May, ini rumah apa istana gede banget?" tanya Bu Sri sambil matanya celingukan kesana kesini.
"Rumah Bu. Ayo kita makan dulu. Maya lapar!"