
"Kamu pulang malam lagi nanti?" tanyaku pada Leo yang sedang merapikan pakaiannya.
"Belum tahu. Kalau restorannya ramai ya mungkin malam, tapi kalau sepi ya aku bisa pulang lebih cepet."
Leo lalu mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya. "Ini buat kamu. Kalau bisa, kamu nabung ya. Supaya kita punya uang untuk kamu melahirkan nanti."
Aku menerima uang Rp50.000 yang Leo berikan kepadaku. Uang pertama dari hasil jerih payah Leo. Agak terharu sih aku menerimanya.
"Semoga kita selalu punya rezeki seperti ini ya Sayang. Dan semoga kita bisa mandiri setelah kita dibuang oleh orang tua kita." kataku sambil berlinang air mata dipipi. Aku sedih. Uang Rp50.000 ini bukanlah jumlah yang besar bagiku dibandingkan dengan apa yang biasa Ibu dan Bapak berikan padaku. Namun entah mengapa, uang yang diberikan dari hasil kerja keras Leo begitu berarti di tengah keadaan kami yang seperti ini.
"Sst.... Jangan nangis. Kamu enggak boleh sedih. Nanti akan berakibat sama anak kita. Kalau mamanya sedih, anaknya juga ikut sedih. Aku mau kamu bahagia dan nanti anakku juga bahagia. Aku akan berusaha semampu aku untuk membahagiakan kalian. Mungkin aku enggak bisa kasih yang besar, tapi aku percaya suatu hari nanti aku bisa memberikan kehidupan yang mapan untuk kalian berdua dengan jerih payah aku." Leo menghapus air mata yang sudah berderai di pipiku. Ia lalu memelukku dan menepuk punggungku untuk menenangkan kesedihan di dalam hatiku saat ini.
"Aku berangkat kerja dulu ya nanti kalau kamu ngantuk tidur aja nggak usah nungguin aku. Aku tuh pulangnya takutnya malam. Aku kan bawa kunci cadangan, jadi kamu tidur dan makan duluan aja. Pokoknya kamu harus banyak istirahat. Aku nggak mau kamu kecapean nanti kamu sakit. Oke?" Leo lalu pamit untuk berangkat kerja. Aku mengantarnya sampai di depan pintu. Leo menaiki motor kesayangannya dan tak lupa sebelum Ia berangkat aku mencium tangannya dan Leo balik mencium keningku.
"Doain aku ya biar pulangnya bawa banyak uang."
Aku mengangguk." Amin. Hati-hati ya dijalan. I love you."
Kupandangi motor yang dikendarai Leo sampai menghilang dibalik tikungan. Dalam hatiku aku terus berdoa, agar Tuhan selalu melindungi suamiku saat bekerja dan semoga keinginannya untuk bisa membiayai aku dan anakku bisa terpenuhi.
Aku masuk kembali ke dalam rumah. Kututup pintu rumah dan masuk ke dalam kamar mengambil buku catatanku. Sebagai seseorang ibu rumah tangga sekaligus menteri keuangan, aku harus pintar mengatur pengeluaran atas uang yang diberikan suamiku. Aku tulis di sebuah buku pendapatan hari ini aku Rp50.000 dan aku harus memperinci pengeluaran apa saja yang aku keluarkan agar ada uang lebih untuk ditabung.
Ilmu yang aku dapat di bangku kuliah aku gunakan dengan baik. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa perempuan yang sudah kuliah pun pada akhirnya menjadi ibu rumah tangga, bukan karena sayang melepas titel kuliahnya, tapi ilmu yang diperoleh selama kuliah bisa Ia gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa digunakan dalam mendidik anak, dalam mengatur rumah tangga dan mungkin bisa dikembangkan untuk membuat suatu usaha kecil-kecilan yang mungkin nanti akan menjadi pendapatannya yang lain?
Dalam hatiku aku bertekad, kalaupun nanti anakku perempuan aku akan mengusahakan agar anakku bisa sekolah tinggi. Ilmu yang aku bekali dalam kehidupannya kelak akan membantu dia meskipun Ia nantinya memilih menjadi ibu rumah tangga biasa.
Aku tiba-tiba teringat sama Bapak. Air mataku mengalir. Pasti alasan Bapak menyekolahkanku sampai bangku kuliah bukan hanya karena aku harus mewarisi usahanya saja. Beliau pasti ingin agar anaknya punya ilmu yang bisa digunakan dalam kehidupannya nanti.
Bapak... Maafin Maya.
Maya udah ngecewain Bapak.
Mungkin saat ini Maya nggak bisa bales bapak. Tapi Maya yakin, suatu hari nanti Maya bisa membalas semua kebaikan bapak.
Aku lanjutkan lagi daftar pengeluaran yang kukeluarkan hari ini. Aku rinci keperluan yang harus aku beli dan setelah aku itung-itung masih ada sisa uang Rp20.000. Uang tersebut aku simpan di dalam dompetku. Aku pun lalu menuju ke tukang sayur membeli apa yang tadi sudah aku rencanakan.
Tukang sayur. Tukang sayur itu terbagi menjadi dua. Yang berjualan di depan rumah atau di kios dan tukang sayur keliling. Persamaannya adalah sama-sama menjadi ajang bergosip ibu-ibu baik di komplek maupun di perkampungan.
Kedatanganku langsung disambut oleh rasa hening yang tiba-tiba. Itu tuh pertanda kalau aku baru aja diomongin. Mungkin mereka ngeliat aku kali dari kejauhan terus mereka bisik-bisik deh ngomongin aku. Aku cuek aja namun aku tetap tersenyum.
"Eh ada Mbak Maya. Mbak Maya cerah banget nih hari ini." sindir Ibu Jojo tetangga yang juga ngontrak tak jauh dari rumahku.
"Iya Bu Jojo. Maya juga mau belanja di sini." kataku sambil tersenyum.
"Mau beli tempe lagi Maya? Maya nggak bosan makan tempe melulu?" sindir Bu Jojo lagi.
Oh aku ngerti nih. Berarti dari tadi mereka ngomongin aku yang suka belanja tempe hampir setiap hari. Kayaknya perlu dikasih pelajaran nih ibu-ibu.
"Iya Bu. Habisnya Maya doyan banget sih sama tempe. Udah biasa setiap hari makan tempe. Kalau nggak ada tempe rasanya ada yang kurang." jawabku merendah.
"Maya baru nikah ya?" tanya Bu Sri ikut nimbrung. Bu Sri ini di rumahnya jualan sosis yang anak-anak suka jajan.
__ADS_1
"Iya, Bu." jawabku pendek.
Aku sedang berpikir mau masak apa. Mbak Sari penjual sayur lalu menawariku dagangannya siapa tau aku berminat. "Ayamnya seger-seger nih May. Yang gede cuma 30 ribu seekor."
30 Ribu? Berarti uang dari Leo nanti sisa 20 Ribu dong? Belum beli beras dan bumbu lainnya. Enggak, aku harus hemat.
Belum sempat aku menjawab eh Bu Jojo udah nyeletuk duluan. "Maya enggak doyan makan ayam kali Mbak Sari. Kan Dia biasanya makan tempe. Apa Maya vegetarian ya?"
Hadeeehh... Nih emak-emak bener-bener ya jiwa keponya udah akut banget. Terus jiwa julidnya juga kayak meronta-ronta minta disalurkan. Ngajak gelut aja deh pagi-pagi.
Aku memasang senyum di wajahku. "Saya mah doyan ayam Bu Jojo. Cuma semalam suami saya habis bawa ayam masih ada. Bu Jojo mau nyobain? Kata suami saya namanya Ayam Dakgangjeong kalau gak salah ya namanya. Enak banget Bu, beda sama ayam goreng Sanaba pinggir jalan."
Kadang emak-emak julid tuh perlu ditangkis pake ilmu sombong. Biar apa? Biar malu sama umur dan dosa.
"Enggak usah, May. Makasih." jawab Bu Jojo malu.
"Emangnya suaminya Maya kerja dimana? Eh udah kerja kan? Soalnya dari kemarin masih di rumah aja saya lihat." kata Bu Sri ikut-ikutan membantu temannya yang sudah skak matt.
Ini lagi Bu Sri, tadi basa-basi nanya aku baru nikah tapi ternyata udah lama memperhatikan rumah tanggaku sama Leo. Dasar julita cucok meong!
"Iya, Bu. Baru aja mulai kerja. Doain ya supaya betah." jawabku sambil memasang senyum lagi.
Aku tau dalam hati mereka pasti akan bilang kayak gini "Ngapain minta didoain sama kita? Berdoa aja sendiri!"
Aku menahan tawa manakala tebakanku sepertinya benar. Bu Jojo dan Bu Sri saling pandang-pandangan karena sebal dengan perkataanku.
Aku mengambil sebuah labu siam dan kangkung lalu membayarnya. "Jadi berapa Mbak Sari? Sekalian sama cabe dan bawangnya."
Kuberikan selembar uang 50 ribu yang tadi pagi Leo berikan dan menerima kembalian dari Mbak Sari. Duo ibu-ibu julid masih saja memilih-milih sayuran tanpa mengajakku bicara lagi.
"Makasih ya Mbak Sari. Duluan ya ibu-ibu." Aku lalu pergi meninggalkan Duo Julid yang pasti langsung ngomongin aku di belakang saat aku sudah enggak ada. Ah dasar, numpuk dosa aja!
Sebelum pulang ke kontrakkan aku mampir sebentar ke warung untuk membeli beras dan 2 sachet susu milo. Susu kesukaan Leo yang sudah lama tidak kusuguhkan. Kalau beli yang 1 kg pasti mahal, sachetan masih bisa terjangkau.
Aku kembali ke kontrakkan dan menyisihkan uang sisa belanja hari ini dalam toples kaca. Lumayan masih sisa 25 ribu. Yey... aku bisa nabung 50 persen dari uang yang Leo kasih. Kalau begini terus maka aku bisa kontrol ke bidan beberapa hari lagi.
*****
Lagi-lagi aku tak bisa tidur menunggu Leo pulang. Mungkin anak dalam kandunganku juga tidak tenang kalau papanya belum sampai rumah dengan selamat.
Aku tersenyum dan mengusap lembut perutku yang masih rata tersebut. "Jadi anak baik ya Sayang. Mungkin Mama belum bisa membelikan kamu makanan mahal, tolong ngertiin Mama ya."
Kuambil handphone milikku yang kuletakkan diatas nakas lalu memutarkan lagu klasik. Setau aku lagu klasik itu bagus untuk menstimulasi otak bayi sejak dalam kandungan. Aku rajin memutarkan lagu klasik sambil membaca sosial media milikku.
Aku suka sedih melihat teman-temanku yang sedang jalan-jalan di mall sambil memfoto menu makan mereka. Ada sedikit rasa iri dalam dadaku. Kalau saja aku masih menjaga kesucianku dan pacaran di jalan yang benar, mungkin aku ada dalam foto yang temanku upload.
Aku tersenyum getir. "Maafin Mama ya Sayang. Mama bersyukur memiliki kamu dalam diri Mama. Walau Mama harus kehilangan masa muda dan keluarga Mama tapi Mama bersyukur memiliki kamu."
Aku menghapus air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mataku. Aku sudah jadi anak cengeng sekarang yang dengan gampangnya menangis.
Aku teringat dengan Ibu. Kalau aku ada masalah pasti Ibu akan memelukku dan memberikan jalan keluarnya. Sekarang bahkan sulit bagiku untuk bicara dengan Ibu.
__ADS_1
Setiap aku menelepon ke rumah, baru saja bilang 'halo' sudah langsung ditutup. Pasti Bapak yang menyuruh semua orang rumah untuk menutup telepon dariku.
Kenapa Bapak enggak bisa memaafkanku sekali saja? Kenapa aku enggak mendapatkan kesempatan kedua untuk menebus segala kesalahanku?
Kupandangi foto Ibu dan diriku saat sedang hangout berdua saja di mall. Ibu tersenyum amat cantik dalam balutan blouse warna peach. Aku yang mengenakan warna senada juga tampak bak copy pastenya Ibu. Betapa miripnya wajah kami berdua.
Suara motor yang berhenti di depan rumah menyadarkanku dari lamunan. Leo sudah pulang. Kuhapus air mata dan memasang senyum terbaik. Jangan sampai Leo melihatku menangis, nanti Ia akan merasa amat bersalah padaku.
Aku berjalan menuju pintu dan membukakan pintu untuknya. Leo terlihat heran melihatku masih belum tidur dan menunggunya pulang.
"Loh, kamu belum tidur juga? Kan aku bilang jangan nungguin aku pulang."
Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku hendak mencium tangannya. "Aku nggak bisa tidur, kebanyakan tidur siang." kataku beralasan.
Leo lalu masuk ke dalam rumah setelah mengunci motor miliknya. Tugaskulah yang mengunci rumah.
Leo duduk di lantai dan bersandar di tembok. Terlihat sekali wajahnya yang lelah karena seharian bekerja.
Aku langsung menuju dapur dan membuatkan susu milo kesukaannya. "Minum dulu susunya." aku menaruh cangkir di samping Leo. Sengaja aku buatkan susu yang tidak terlalu panas agar Leo bisa langsung meminumnya.
"Kamu beli susu milo buat aku? Memang uangnya cukup?" tanya Leo.
"Aku beli yang sachetan kok, masih cukup tenang aja. Malah aku bisa nabung 25 ribu. Hebatkan?" kataku dengan bangganya.
"Wow! Hebat banget! Memangnya kamu enggak masak?"
"Masak kok. Kamu mau makan sekarang?"
"Nanti aja. Minum susu dulu. Kirain aku kamu enggak masak karena mau nabung. Hebat euy. Memang enggak salah ya punya istri pintar." Leo mengacungkan kedua jempolnya memuji kehebatanku.
"Yaudah jangan memuji terus ah. Minum susunya nanti dingin."
Leo melakukan apa yang aku suruh. Ia terlihat amat menikmati susu milo kesukaannya tersebut. Ya Tuhan... lagi-lagi aku merasakan kenikmatan yang dulu kusia-siakan.
"Kok ngeliatin aku aja. Kamu mau juga? Oh iya kamu juga harus banyak minum susu loh." Leo menyodorkan susu yang baru Ia minum setengahnya padaku.
Aku menolak pemberian Leo. "Enggak usah. Buat kamu aja. Besok aku beli susu untuk aku sendiri."
"Beneran?" aku mengangguk yakin. Leo lalu menghabiskan susu miliknya dan tak lama kemudian pergi mandi.
Hidup kami memang sederhana namun aku dan Leo menikmati proses pendewasaan yang kami alami ini. Makan dengan menu seadanya yang penting bisa makan. Kami kuat karena kami bersama.
Dua minggu sudah Leo bekerja di restoran Korea. Uang yang kusisihkan dari uang belanja pun sudah lumayan. Aku sudah mempertimbangkan kalau uang tersebut mau aku pakai untuk berjualan lalu sisanya untuk periksa kandungan di bidan dekat rumah.
Aku memberanikan diri meminta Leo mengantarku belanja keperluan untuk berjualan saat Leo sedang libur kerja.
"Leo, mau anterin aku enggak?"
"Kemana?" tanya Leo yang sedang asyik berkutat dengan laptopnya. Ia masih saja membuat proyek yang sejak dulu gak pernah berhasil. Aku pernah melihat isi proyeknya, ternyata tentang analisis biaya pembuatan sebuah cafe. Lumayan berbobot sih menurutku tapi sayang Leo tidak bisa mempromosikan kemampuannya tersebut.
"Aku mau belanja untuk barang dagangan. Aku kan pernah bilang sama kamu kalau aku mau jualan. Nah sekarang uang aku udah cukup buat modal usaha." aku menunggu dan berharap harap cemas apakah Leo akan menyetujui dan memberi izin padaku atau tidak.----
__ADS_1