
Ayo sebelum baca like dan vote dulu. Katanya kalau Up mau vote. Tak tunggu ya janjinya. Like nya juga mana nih? Turun terus kayaknya. Hmm... Ayo Vote dan Like yo. Dont forget 🥰🥰
Papa dan Mama mengusir kami pulang setelah acara selesai. Alasannya apalagi kalau bukan mau me time eh we time deh sekarang. Maklum aja pengantin baru.
Baik aku, Leo maupun Richard tidak ada yang keberatan. Kami juga udah capek seharian mengurus acara pernikahan Papa dan Mama. Belum lagi acara beres-beres rumahnya. Enggak cukup dipel dua kali karena masih lengket.
Ada sih petugas yang membantu untuk membersihkan, tapi aku tuh kayak nggak puas dengan hasil pekerjaan mereka. Kalau menurut kakiku masih kurang bersih, aku akan mengambil kain pel sendiri dan mengepel rumah Mama yang lumayan luas tersebut. Sampai bersih.
Dan efek dari bekerja seharian ini adalah pinggangku yang terasa pegal. Punggungku dan leherku rasanya kaku. Kayaknya manggil tukang urut uenak deh.
"Kenapa? Pegel? Mau aku pijitin?"
Sebenarnya pertanyaan Leo itu terkesan baik ya. Niatnya kelihatan tulus, tapi karena aku tahu gimana watak suamiku, aku tahu ini tuh bukan sekedar pijit memijit pasti akan menjurus ke hal-hal lain dan ujung-ujungnya malah aku lebih pegal daripada sebelumnya.
"He...he...he...." aku hanya membalas dengan tertawa cengengesan.
"Loh kok malah ketawa sih? Kan aku beneran, Sayang. Aku tuh mau mijitin kamu. Kamu pasti capek dari tadi udah bekerja bantuin nikahan Mama Papa. Belum lagi kamu tadi tuh semangat banget ngepel rumah mama biar keset kan? Aku kasihan makanya aku mau pijitin kamu, ini malah ketawa cengengesan aja."
"Iya kalau cuma pijat doang. Kalau habis pijat terus lanjut ke hal-hal lain? Bukannya aku makin pegal nanti?"
Leo terlihat mengu lum senyumnya. Tapi akhirnya enggak tahan dan akhirnya Ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Oh.... jadi kamu dari tadi tuh mikir ke arah situ? Ih padahal mah aku enggak niat begitu May. Aku tuh beneran niat pengen pijitin kamu. Tapi karena kamu mikirnya kayak gitu kan aku jadi mikir kayak gitu juga. Kamu tuh udah mencemari niat baik aku tahu!" ledek Leo.
"Ah alasan aja kamu. Memang sih sekarang kamu nggak niat tapi nanti pasti akan berubah haluan. Melenceng deh dari tugas utama."
Leo tersenyum dan mengusap rambutku dengan lembut. Sambil membawa mobil dengan kecepatan sedang Ia memutarkan musik kesukaanku. Lagu Diskoria featuring Eva Celia.
🎶Cintaku bertepuk
Harap yang tak ada
Rintihan nada asmara
Kau kehidupanku meski kau tak tahu
Ada aku di hidupmu
Yang kumau kau untukku meskipun kau tak rindu
Engkau aku suka🎶
Leo bernyanyi sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. Rasanya semua cinta dan makna lagu itu tersirat hanya untukku. Lalu bagaimana perasaanku? Enggak usah ditanya dong, pasti aku bahagia banget.
Saat kita merasa kita adalah matahari dan laki-laki itu seperti bumi yang berputar mengelilingi matahari, kita sebagai poros, sebagai orang yang paling memiliki arti di hatinya. Rasanya tuh beneran jadi orang yang sangat istimewa.
Rasanya nggak butuh apapun lagi di dunia ini. Pantas saja orang selalu bilang 'Makan tuh cinta!'. Ternyata memang benar. Makan cinta aja udah kenyang. Tapi bohong. Habis makan cinta terus langsung makan Indomie 2 bungkus, baru deh kenyang.
"Sayang, kayaknya aku perhatiin sejak kita menikah kamu nggak pernah libur deh."
"Libur? Memangnya mau libur ke mana? Emang dikasih sama Pak Johan buat libur?"
Leo terlihat menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabankum Loh emangnya ada yang salah ya?
"Bukan libur kerja May. Kita kan emang belum ada tanggal merah jadi nggak ada libur. Kita juga nggak punya cuti masih karyawan baru jadi ya nggak punya hak cuti. Maksud aku tuh libur shalat alias lagi menstruasi. Kenapa kamu belum datang bulan sampai sekarang?"
Aku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali aku menstruasi. Kayaknya belum lama deh. Aku agak lupa sih. Aku memang biasanya teratur untuk menstruasi.
"Kalau aku nggak salah ingat sih sebelum kita menikah aku baru selesai menstruasi. Kayaknya belum telat deh Sayang. Udah deh jangan terlalu berharap dulu. Aku kan jadi deg-degan kalau kita terlalu banyak mengharapkan sesuatu."
Leo kembali tersenyum. Ia menarik tanganku dan menggenggam erat, sambil sesekali tanganku dan tangannya digunakan untuk mengoper gigi mobil.
"Ya pasti mengharapkan dong Sayang. Aku kan mau punya anak dari kamu. Untuk jaga-jaga aja, karena wanita hamil itu nggak bisa sembarangan makan maupun mengkonsumsi obat-obatan. Sebaiknya kita tahu dari awal jadi bisa mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan."
Aku menghela nafas berat. Jujur aku masih teringat dengan Adam. Perasaan kehilangan seorang anak itu membuat sang Ibu amat terluka. Masih ada trauma dan ketakutan yang membekas dalam pikiranku. Takut aku akan gagal lagi menjadi orang tua. Takut aku akan kehilangan lagi anak yang aku sayang. Dan berbagai keraguan lainnya.
Tampaknya Leo tahu apa yang aku pikirkan dan aku khawatirkan. Tangannya yang masih menggenggam tanganku kini membawa tanganku dan menciumnya dengan lembut.
"Ketakutan yang kamu rasakan sama seperti ketakutan yang aku rasakan May. Kekhawatiran yang kamu pikirkan sama seperti kekhawatiran yang aku pikirkan juga. Kita sama-sama pernah kehilangan, tapi bukan berarti kita terus menerus menyesali dan merutuki nasib. Kalau Allah udah ngasih kepercayaan kita untuk memiliki anak lagi, berarti tandanya kita pantas untuk menjadi orang tua kembali May."
Leo memandangku dengan lekat. Kami sudah sampai di depan rumah sekarang tapi Leo bukannya cepat-cepat memasukkan mobil malah berhenti di depan rumah. Mungkin lebih enak berbicara dalam mobil dibanding dalam rumah.
__ADS_1
"Sekarang sudah bukan aku kamu tapi kita. Kesedihan aku dan kesedihan kamu menjadi kesedihan kita berdua. Begitu pun sebaliknya, kebahagiaan kamu dan kebahagiaan aku juga menjadi kebahagiaan kita. Jadi kita pun harus menghadapinya bersama-sama. Ketakutan dan kesedihan akan masa lalu, kita saling membantu untuk menghapusnya. Setuju?"
Aku mengangguk. "Itulah gunanya kata kita."
"Betul itu. Sekarang kita mandi bareng gimana?" tanya Leo sambil memasukkan mobil ke garasi mobil.
"Tuh kan... Ujung-ujungnya itu lagi. Yaudah ayo. Sekalian pijitin ya." tanpa sadar aku mengatakannya diluar mobil. Kakanda yang juga baru sampai dan keluar dari mobil mendengar apa yang aku katakan.
"Huft... Kemarin pangku-pangkuan. Sekarang pijit-pijitan. Nasib.... nasib..... Jadi jomblo ngenes banget ya." Richard mengelus dada seraya berjalan melewati kami dan masuk ke dalam rumah.
Aku dan Leo saling bertukar pandang dan dengan kompak menertawakan kegalauan Richard. Ya ampun itu kakak ipar satu, galaunya nggak kelar-kelar.
****
"Sayang." suara Leo di pagi hari membangunkanku dari tidur lelapku.
"Hmm..." aku menjawabnya dengan malas-malasan.
"Ayo bangun! Kita olahraga!" Leo mencubit pelan hidungku. Aku mengeliat dengan sebal.
"Aku masih ngantuk! Udah enggak usah olahraga. Semalam sudah olahraga kan? Sampai lemes nih aku!"
Sesuai yang aku pikirin, aksi pijit memijit akan menjadi aksi laga kolosal lain. Dan rasanya aku masih butuh tidur dibanding olahraga. Mager...
"Ish! Ayo olahraga biar sehat! Nanti tidur lagi! Ayo ah!" Leo mendudukkanku dengan paksa.
"Males...." walau sudah dalam posisi duduk aku masih malas membuka mata. Seperti ada lemnya nih mata. Maunya merem terus.
"Pulang olahraga kita wisata kuliner, gimana? Kita olahraganya enggak ke dekat sini. Ke TMII. Pulangnya kita ke pasar pagi di samping Rumah Sakit Haji. Katanya banyak tukang dagangan di sana. Ayo dong!"
Tak tega melihat Leo yang terus menerus membujuk akhirnya aku luluh juga. "Iya. Aku mandi besar dulu."
"Mau olahraga kok mandi? Nanti keringetan lagi!" protes Leo.
"Yeh harus mandi besar dulu lalu solat subuh! Kalau belum mandi besar terus pergi ke luar rumah, kata orang tua dulu suka apes. Kamu udah mandi belum?"
Leo menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Ayo mandi dan solat. Keburu siang nih!"
Setelah selesai mandi dan solat, aku dan Leo pergi ke TMII dengan naik motor miliknya. Masih jam setengah 7 pagi saat kami sampai di sana.
Leo memarkirkan motornya di penitipan motor dekat Tugu Api Pancasila. Ia lalu mengajakku jalan santai mengelilingi TMII.
"Enak ya udaranya. Masih segar." aku menghirup udara pagi yang segar banyak-banyak. Memenuhi setiap paru-paruku dengan udara bersih dari banyaknya pepohonan disini.
"Iyalah. Biasanya aku tuh lari pagi kalau kesini." Leo meregangkan tubuhnya hendak melakukan gerakan pemanasan. Aku pun mengikuti apa yang Ia lakukan.
"Yaudah ayo lari. Aku juga kuat kok kalau lari doang mah." tantangku.
Tapi Leo ternyata menolak ajakanku. "Jangan! Kamu jalan santai saja. Aku temani."
"Ah bilang aja kamu memang lagi males lari. Alesan aja pake bawa-bawa nama aku!" cibirku.
Leo meraih tanganku dan menggenggamnya. "Bukan gitu. Aku takut saat ini di dalam perut kamu ada anak aku. Lebih baik jalan santai saja ya."
Aku membuang pandanganku. Menatap Snowbay yang kini sedang kami lewati. "Kamu pengen cepat-cepat punya anak ya?" Aku tak berani menatap wajah Leo.
"Tentu saja dong. Aku kan udah bilang kemarin. Aku mau punya anak dari kamu. Dan aku yakin sekali, saat ini kamu sedang mengandung anak aku."
Aku tak tahan dan akhirnya menatap mata Leo. Dalam sorot matanya ada banyak harapan dan aku takut menghancurkan harapan dalam dirinya. "Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
Leo terlihat memikirkan jawabannya. "Hmm... Feeling seorang ayah aja."
"Ih ngaco ah." kataku sambil menepuk pelan lengannya.
"Kok ngaco sih? Kamu percaya enggak kalau bukan hanya ibu saja yang punya feeling. Seorang ayah juga punya feeling. Itu kan kalau dari segi feeling. Kalau dari segi pengamatan beda lagi."
"Bedanya gimana?" enak nih jalan pagi sambil ngobrol heart to heart. Jadi tau apa isi pikiran Leo. Mungkin kekurangan kami dulu adalah kurang ngobrol. Sekarang kami perbanyak ngobrol agar kegagalan dulu tidak terulang lagi.
"Bedanya tuh kamu akhir-akhir ini terlihat capek banget-"
__ADS_1
"Gimana enggak capek kalau tiap malam harus melakukan sunnah rasul terus?" aku potong perkataan Leo sebelum Ia selesai bicara.
"He...he...he... Habis aku nyesal sih. Dulu waktu kamu masih jadi istri aku tidak aku maksimalin. Aku sibuk kerja. Ternyata secapek-capeknya kerja kalau dilampiasin sama kamu jadinya enggak capek-capek banget. Malah lebih segar dan fresh."
Aku mencibir mendengar jawaban Leo. "Itu sih enak di kamu."
"Memangnya kamu enggak enak juga?" ledek Leo.
"Iya sih. Udah ah... terus alasan apa lagi yang membuat kamu yakin kalau aku lagi hamil?" kami sekarang sudah sampai di danau yang berbentuk kepulauan di Indonesia. Ada bebek-bebekan yang disewakan untuk mengelilingi danau. Sayang masih pagi jadi belum buka.
"Kamu capek enggak? Kita jalan udah jauh loh!" Leo menghapus peluh di keningku dengan handuk kecil yang Ia bawa.
"Enggak kok. Jalannya santai sambil ngobrol jadi enggak capek. Ayo dong jawab! Apa lagi yang membuat kamu yakin kalau aku lagi hamil?"
Leo mengu lum senyum melihatku tak sabaran. "Minum dulu ya. Tunggu disini." bukannya menjawab Leo malah membeli minum di warung dekat danau.
"Aku pilih air putih yang enggak dingin buat kamu. Takut kamu malah pilek nanti." Aku menerima air mineral yang Leo berikan lalu meminumnya. Ternyata aku lumayan haus. Setengah botol air mineral sudah kuhabiskan.
"Ayo jalan lagi." Leo kembali menggandeng tangaku sementara tangannya yang lain menenteng botol air mineral yang sudah habis lalu membuangnya di tempat sampah yang kami lalui.
"Aku merasa selain mudah lelah kamu juga kurang nafsu makan. Kemarin saat Mama masak banyak saja kamu cuma makan sedikit."
"Ya karena aku kenyang, Sayang. Itu mah enggak bisa dijadikan patokan kehamilan." protesku.
"Ada lagi sih." Leo mengeluarkan kata-kata misterius yang membuatku penasaran.
"Apa?"
"Mau tau?"
"Iyalah."
"Kepoooo!"
"Ih rese!" aku langsung mencubit lengan Leo yang tertawa puas menertawaiku.
"Ampun.... Ampun.... Madam kalau nyubit kayak emak-emak lagi empos anaknya! ha....ha...ha..."
"Kasih tau enggak? Kalau enggak mau kasih tau aku cubit lagi nih!" ancamku.
"Ih ngancem! Tuh kan sensitif, kayak ibu hamil nih suka sensitif!" ledek Leo.
"Makanya kasih tau!" kataku dengan nada manja.
"Nih buktinya. Suka manja-manja. Kamu tuh biasanya cuek bebek, May. Tapi sekarang manja banget. Mandi, maunya dimandiin. Tidur, maunya ditidurin eh..."
"Ih rese!" aku pun main kejar-kejaran dengan Leo.
Leo tertawa dengan lepas. Bahagia banget sudah puas meledekku.
"Udah ah capek!" aku pun duduk di atas trotoar sambil meluruskan kakiku.
"Kasihan. Oppa gemblok aja ya." Leo menepuk pundaknya. Kesempatan nih buat bermanja-manja ria.
Aku pun naik ke punggungnya. Leo menggemblokku dan tak merasa berat sedikitpun.
"Berat enggak?" tanyaku berbasa-basi.
"Enggak. Lebih berat kehilangan kamu dulu."
"Cie.... gombal..."
"Ha...ha....ha..." Leo tertawa akan gombalannya sendiri.
Tapi kemudian lewatlah anak alay boga alias bonceng tiga yang meneriaki kami.
"Gendong...gendongan... euy.... gendong....gendongan.... Gemblok....gemblokkan... euy... gemblok....gemblokkan....."
"Awas mbak nanti bunting loh!" teriak mereka sambil ngebut.
"Dasar anak kurang ajaaaaarrr!" teriakku sambil menunjuk-nunjuk anak alay yang tertawa terbahak-bahak tersebut.
__ADS_1