
Sepanjang perjalanan pulang aku masih terngiang wajah bersemu merah milik Maya yang sejak tadi sangat sulit aku lupakan. Wajah cantik yang dulu selalu hadir menemani hari-hariku.
Kecantikan Maya tak pernah lekang termakan usia. Bahkan sekarang dia makin terlihat awet muda dan makin cantik.
Wajar saja jika Angga dan Aldi menaruh perasaan suka kepada mantan istriku tersebut. Kecantikan Maya... Hmm...gimana ya, cantik tapi nggak ngebosenin. Biasanya banyak tuh orang yang cantik tapi baru beberapa kali dilihat rasanya udah bosen banget, kalo Maya tuh nggak.
Semakin melihat Maya rasanya semakin tak ingin melepaskannya. Ya... Aku memang salah satu laki-laki bodoh yang akhirnya bercerai dengan Maya. Tapi kan dulu aku enggak berpikir panjang, sekarang baru aku sadari kalau aku sangat menyesal telah bercerai dengan Maya.
Setelah mengantar Maya sampai rumah kontrakkannya aku lalu pulang kerumah Papa. Motor Vixionku yang sudah menemani selama lebih dari 4 tahun tersebut berbelok dan masuk ke dalam kompleks yang sekelilingnya berisi rumah-rumah mewah dan megah.
Rumah Papa termasuk salah satu komplek perumahan mewah di daerah Pasar Minggu. Sudah sejak lahir aku tinggal di rumah ini.
Lingkungan pergaulan di daerah ini pun berbeda. Aku lebih banyak berdiam diri di dalam rumah dibanding membaur dengan teman-teman satu komplek.
Aku yang memang berkepribadian tertutup kurang suka membaur dengan gaya hidup anak-anak dalam kompleks ini yang terkesan mewah dan hedon. Mereka kadang merasa dirinya sangat pintar dan bahkan memandang rendah orang lain.
Berbeda denganku, Richard banyak memiliki teman di komplek ini. Karena itu pula, gaya hidup Richard terpengaruh oleh lingkungan tempat tinggalnya juga.
Aku yang merasa diriku sebagai anak terbuang rasanya tidak pantas bergaul dengan anak-anak para pemimpin perusahaan lain yang kebetulan berada satu kompleks denganku. Merasa tak percaya diri dan tidak memiliki kekuatan, aku lebih baik menghindar dari pergaulan yang justru malah menjerumuskanku.
Lihatlah keadaan Richard sekarang, Ia terbiasa dengan gaya hidup mewah dan party party. Saat Papa jatuh dan rekening kami semua diblokir, Ia tidak siap menerimanya. Ia bahkan menjual beberapa barang berharga di rumah Papa hanya untuk bisa pergi ke pesta yang seharusnya malam itu dirinya sebagai BOS yang akan mentraktir semua teman-temannya.
Malangnya, teman-teman Richard akhirnya mengetahui dari berita di salah satu portal berita yang sangat terkenal mengenai Papa yang tertangkap tangan oleh KPK. Teman-teman Richard yang selama ini Ia pikir adalah teman-teman sejati nyatanya malah meninggalkannya di saat terpuruk.
Richard seharusnya ikut denganku dan Mama untuk memberi kesaksian kepada pihak KPK. Namun, Richard merasa apa yang Papa lakukan sangat memalukan dan Ia tidak mau ikut campur di dalamnya.
Sebelum aku berangkat ke kantor KPK, aku melihat Richard membawa beberapa barang berharga di rumah Papa, yang aku tahu pasti itu akan dijual olehnya untuk acara party nanti malam. Aku tidak peduli, toh apapun yang aku lakukan juga tetap saja tidak akan dianggap oleh Richard. Aku kan anak buangan, bukan anak emas seperti dirinya?!
Menurut keterangan dari salah seorang asisten rumah tangga di rumah, Richard malam itu sudah berdandan sangat rapi dan siap ke pesta. Ia tiba-tiba dikagetkan dengan berita kalau teman-temannya membatalkan acara party mereka.
Teman-teman yang dianggap sejiwa dan seraga ternyata malah meninggalkannya disaat Ia terpuruk. Berbeda dengan Tony sahabatku, Ia tetap setia disisiku saat aku terpuruk. Tony bahkan tak pernah sekalipun meninggalkanku seperti teman-temannya Richard.
Richard pun merasa tertekan dan frustasi dengan perubahan hidup yang Ia alami saat ini. Ia terbiasa hidup enak, terbiasa tercukupi semua keinginannya namun kini, semua teman-temannya memandang rendah dan Ia tak tahu bagaimana masa depannya kelak.
Di saat Ia sedang tertekan, aku dan Mama sibuk mengurusi kasus Papa dan juga kasus perceraian Mama. Tak ada waktu bagiku untuk mengurusinya, karena menurutku Richard sudah dewasa lah ya. Biar bagaimanapun, Richard itu kan kakakku. Kenapa juga harus aku yang mengurus dia? Seharusnya aku yang dilindungi olehnya!
Richard lari ke jalan yang salah. Frustasi membuatnya butuh obat-obatan terlarang untuk bisa sekedar melupakan penderitaannya. Ia pun tetap dengan dunia gemerlapnya, malah semakin terperosok jauh dengan menggunakan obat-obatan terlarang.
Kenapa aku tidak membantu Richard? Jawabannya adalah aku tidak bisa menghandle semua permasalahan sendiri. Papa yang rewel dan tidak betah dengan kehidupan di dalam sel, Mama yang manja dan ingin secepatnya bercerai dan juga Maya yang sedang menggugat ceraiku.
Aku saja hampir gila memiliki semua permasalahan dalam waktu bersamaan. Maka wajar saja kalau aku sampai melupakanmu nasib Richard.
Baru saja aku kembali mengurus Papa yang minta dibawakan soto betawi sebanyak 20 bungkus dan juga baru saja menghadiri sidang gugatan cerai yang lagi-lagi tidak dihadiri orang Maya, aku mendapat kabar bahwa Richard tertangkap polisi karena mengkonsumsi narkoba.
Bagaimana rasanya? Mantap! Seakan cobaan demi cobaan belum cukup untuk menghajar kondisi fisik dan psikisku, datang lagi masalah baru yakni Richard tertangkap polisi.
Aku tidak bisa banyak membantu Richard. Ia sudah cukup tersorot oleh media dan nama Papa semakin jelek saja rasanya. Hanya tinggal aku seorang yang sama sekali tidak diketahui keberadaannya oleh media.
__ADS_1
Papa berpesan, agar aku tetap berada di balik layar. Aku tidak boleh menunjukkan pada siapapun kalau aku adalah anak dari di Dibyo Kusumadewa. Aku harus menyembunyikan identitasku, karena apa? karena jika aku sampai ketahuan, maka perusahaan papa akan benar-benar hancur.
Loh kok bisa? karena perusahaan masih bisa berjalan dengan baik berkat aku yang selalu melaporkan segala kegiatan di perusahaan kepada papa.
Orang-orang di kantor mengetahui kalau Papa menugaskan orang kepercayaannya untuk menghandle perusahaan. Yang orang lain tidak ketahui adalah aku orang yang ditugaskan oleh papa.
Papa mendidikku dengan keras untuk melanjutkan perusahaannya. Ia merasa dengan ditangkapnya Richard maka harapan untuk memberikan perusahaan kepada anak yang awalnya membanggakan tersebut langsung pupus.
Aku, si anak yang terbuang. Anak yang selama ini keberadaannya tidak pernah diperhatikan. Anak yang sudah pernah diusir karena menghamili anak orang. Anak yang saat ini sedang dalam proses perceraian. Kini aku adalah pemimpin dari Kusumadewa Grup.
Papa yang mengatur semua dari balik jeruji penjara. Ia menghubungi pengacaranya dan mengurus semua permasalahan hidup yang awalnya aku tak kuat untuk menanggungnya.
Masalah perceraian Mama, sudah Papa urus dan ia menyetujui untuk bercerai. Masalah perceraianku dengan Maya, Papa juga yang mengutus salah seorang pengacara dari tim kuasa hukum kepercayaannya untuk mendampingiku selama sidang perceraian berlangsung.
Lalu masalah dengan Richard, Papa juga yang mengurusnya. Ia menyewa tim pengacara dan akhirnya berhasil membuat Richard direhabilitasi. Setidaknya Richard tidak perlu merasakan dinginnya jeruji besi seperti yang Papa rasakan saat ini.
Sekarang fokus Papa hanyalah padaku. Ia berpesan, selama di dalam penjara aku yang harus menghandle semua masalah perusahaan. Dan hebatnya Papa, saat Papa menunjukku sebagai wakilnya tak ada satupun yang menolak.
Akan tetapi di kantor nggak ada yang tahu siapa aku. Mereka hanya tahu aku dengan sebutan Mr. So (diambil dari nama belakangku Leo Prako-so).
Semua keputusan penting harus melalui Mr. So, aku sibuk sekali dengan jabatan baruku. Papa mengajariku bagaimana mengambil keputusan di setiap situasi.
Papa juga menyuruhku melanjutkan kembali kuliahku di kampus yang lama. Aku pikir disana aku akan bertemu lagi dengan Maya, tapi ternyata Maya sudah berhenti kuliah. Hal tersebut aku ketahui saat aku bertanya dengan salah satu pekerja di bagian administrasi.
Jadwalku pun padat, setelah kuliah aku harus mengantarkan makanan ke tempat Papa tentunya sambil belajar tentang perusahaan. Lalu mulai menandatangani berkas-berkas yang harus aku tanda-tangani sebagai pemimpin perusahaan yang menggantikan Papa.
Lambat laun, aku mulai pandai mengambil keputusan penting. Papa pun akhirnya melepas perusahaannya di tanganku. Menurut papa, aku bisa menempatkan diri sebagai atasan dan juga pemimpin perusahaan. Ia lega memberikan perusahaannya di tanganku dibanding di tangan Richard yang hanya tahunya bersenang-senang saja.
Aku pun masuk sebagai anak baru di perusahaan yang aku pimpin sendiri. Tanpa disangka, ternyata takdir mempertemukanku kembali dengan Maya. Takdir yang belum selesai....
Aku memasukkan motorku ke dalam garasi yang isinya beberapa mobil mewah milik papa dan Richard. Motor Vixionku yang sudah agak jadul rasanya begitu mencolok diantara kendaraan mewah lainnya.
Papa hendak membelikanku mobil seperti Richard, tapi aku menolak. Aku mau membelinya dari uang hasil jerih payahku sendiri.
Papa memaklumi keputusanku, lagi juga buat apa? Kalau aku ke kantor naik mobil mewah semua orang bisa langsung curiga mengenai jati diriku, dan semua yang aku dan Papa rencanakan pasti akan berantakan tentunya kalau sampai jati diriku terbongkar.
Aku masuk ke dalam rumah dari pintu samping. Mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokanku yang rasanya sangat haus.
Aku mendengar suara cukup kencang dari ruang televisi. Sudah bisa diduga itu adalah suara Papa yang sedang asyik bermain PS dengan layar TV yang segede gaban.
Semenjak keluar dari penjara kegiatan Papa hanya bersenang-senang saja. Papa bilang, selama ini Ia terlalu sibuk mengejar harta duniawi. Ia terlalu sibuk mengejar sesuatu dan akhirnya malah kehilangan harta yang paling berharga yakni istri dan masa depan anak-anaknya yang suram.
"Belum tidur Pa?" sapaku sambil mendudukkan diri diatas sofa dan memperhatikan Papa yang sedang bermain games The Sims. Papa suka game petualangan. Berkhayal jika Ia hidup sebagai The Sims dan bisa semudah itu menjadi kaya.
"Belum. Masih tanggung nih. Tumben kamu baru pulang? Disuruh lembur sama Johan?"
"Iya. Sengaja banget lagi ospek anak baru. Kasih kerjaan udah mau jam pulang kerja. Mau nggak mau harus dikerjain lah. Yang bikin sebel eh dia-nya enak langsung pulang dan tinggal terima aja laporan dari anak buah. Sok senioritas banget!" aku mengeluh kepada Papa semua keluhan yang tadi Maya gerutukan padaku.
__ADS_1
"Ha....ha....ha... Kalau Johan sampai tahu siapa kamu, bakalan sujud kali dia di kaki kamu. Tapi nggak apa-apa kok kamu turutin aja apa kemauannya dia. Johan juga mencurigakan tuh. Bisa aja kan, Johan yang melaporkan Papa ke KPK?"
"Leo belum tahu. Leo susah kemana-mana sekarang. Kerjaan yang dikasih makin lama makin banyak. Sementara laporan yang minta persetujuan sama Leo makin banyak aja. Kapan Leo bisa membagi waktu?"
"Bagi waktu buat apa? Pacaran? Emang udah punya pacar? Bukannya udah 2 tahun jadi duda sama kaya Papa?" ucap Papa tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar TV.
"Bukan pacar sih, cuma mantan."
"Mantan pacar? Masih mau sama mantan? Kemarin Papa baca di majalah, katanya mantan itu ke laut aje. Kenapa juga kamu masih mau sama mantan? Ah enggak cerdas kamu Leo."
Aku menyunggingkan seulas senyum. Boleh juga sekali-kali bertanya apa isi otak Papa. Biasanya tuh orang yang keras kayak Papa justru hatinya lembut. Let's see.
"Pa."
"Hm."
"Kalau suatu hari nanti Mama ngajak rujuk sama Papa, Papa mau apa enggak?"
Papa tergelak mendengar pertanyaanku. Akhirnya Ia pause gamenya dan tertawa terbahak-bahak.
"Enggak bakalan mungkin lah Leo Mama mau balikan sama Papa. Udah susah payah dia gugat cerai, gugatnya pas Papa lagi di penjara lagi saking takutnya Mama sama Papa. Mana mungkin Mama mau balikan lagi sama Papa? Mama kamu udah gila kali kalau masih mau balikan sama orang kaya Papa?!"
Terdengar nada pesimis dalam perkataan Papa. Papa seakan semua menutupi kepahitan yang ada dalam hatinya dengan tawanya.
"Ya siapa tahu aja Mama masih cinta sama Papa? Who knows?"
Papa tersenyum. "Mama kamu sudah kembali dengan laki-laki yang Ia cintai sejak dulu. Tidak akan pernah mungkin Mama mau kembali lagi dengan Papa."
"Papa tau enggak, mungkin Mama memang pacaran dengan Om Hans sebelum kalian menikah. Berapa lama sih mereka pacaran? Paling setahun atau dua tahun. Namun berapa lama Mama hidup berumah-tangga dengan Papa? Lebih dari 20 tahun Pa. Berarti, Mama lebih banyak menghabiskan waktu sama Papa. Bukan tidak mungkin kalau Mama memang sebenarnya mencintai Papa, bahkan lebih mencintai Papa dibanding Om Hans,"
"Mungkin yang Papa baca di majalah kalau mantan ke laut aje nggak sepenuhnya benar. Waktu terkadang menumbuhkan benih-benih cinta loh Pa. Pertanyaan Leo, kalau seandainya ternyata Mama memang mencintai Papa dan ingin kembali sama Papa, apakah Papa akan menerima Mama kembali?"
Pertanyaan yang membuat Papa terdiam. Seorang Dibyo Kusumadewa pun jika dihadapkan pada pertanyaan seperti ini Ia bahkan tidak bisa menjawabnya. Karena, saat Ia menjawab yang salah maka Ia telah membohongi hati nuraninya sendiri. Setelah berdiam diri beberapa saat, Papa pun akhirnya menjawabnya.
"Kalau Mama memang mau kembali sama Papa, maka Papa tidak akan pernah melepasnya lagi." jawab Papa dengan yakin.
******
Hi semua! Sesuai janji aku mau umumin juara 1, 2 dan 3 vote 2 mingguan.
Juara 1 : Mila Bundanya Nuursyah
Juara 2 : Chika
Juara 3 : Yurnita Nasoetion
Yang namanya disebut langsung chat aku nomor Hpnya ya langsung aku kirimin pulsa loh.
__ADS_1
Yang belum kebagian sabar ya. Kencengin vote dulu. Kalau hari ini tembus 10 besar aku Up lagi. Oke?
Makasih semua atas partisipasinya 😘😘😘😘