Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Adam... Ini Papa...


__ADS_3

Angga memesan dua porsi sate padang untukku dan untuk dirinya sendiri tentunya.


"Da, Pesan sate padang nya dua masing-masing satu porsi campur pakai sate usus, sate dagingnya dikit aja." pesan Angga yang langsung dibuatkan oleh karyawan Sate Padang Ajo Ramon.


"Siap, Mas. Mas duduknya di mana? Nanti kita anterin ke sana."


Angga menunjuk ke arahku yang sedang duduk sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang.


"Oh yang ada cewek cantiknya itu ya? Siap Mas mohon ditunggu ya nanti kita anterin." kata karyawan itu dengan ramah.


Baru saja Angga duduk di depanku seorang karyawan menghampiri kami.


"Mau pesan minum apa Mas?" tanya karyawan tersebut.


"Kamu mau pesan apa May?" Angga menanyakan padaku apa yang mau aku minum.


"Es Tee, batu esnya dipisah." Es Tee memang minuman favoritku, manisnya pas dan ukurannya lebih banyak dibanding minuman teh lainnya. Yang pasti, rasa tehnya tidak pahit. Ah promosi sekali, dibayar juga enggak nih sama tuh perusahaan teh.


"Dua Es Tee ya Mas. Pake batu es dipisah." pesan Angga.


"Siap, Mas."


Karyawan itu pergi mengambilkan minuman. Baru saja karyawan itu pergi eh datang karyawan yang membawa sate pesanan kami.


"Wuiiihhhh!! Mantap nih!" nafsu makanku langsung datang melihat sate padang dengan bumbunya yang kental.


"Kayaknya enak." ujar Angga.


Aku mengambil dua buah sendok, mengelapnya dengan tissue lalu memberikannya pada Angga.


"Ini buat kamu, Yo." aku memberikan sendok tersebut tanpa menyadari ada kesalahan yang aku perbuat.


"Yo?" Angga mengerutkan keningnya mendengar aku salah nyebut nama.


"Kok. Maksudnya ini buat kamu kok jadi kamu enggak usah ambil sendok lagi soalnya udah aku elapin pakai tissue." kataku mengarang alasan agar Angga tidak curiga.


"Oh... Oke. Makasih." Angga tidak membahas lagi masalah aku salah sebut kemudian berbohong untuk menutupinya.


Aku yang jadi tidak enak dengan Angga. Ini tuh cuma masalah kebiasaan. Seperti yang tadi Leo lakukan di kantor yakni mengacak-acak rambutku. Aku juga punya kebiasaan mengelap sendok dengan tissue untuk Leo setiap kali kami makan di luar.


"Hmm... Enak May. Recommended nih. Asli enak banget." ujar Angga yang mengalihkan percakapan kami agar suasana tidak tegang kembali.


Ini yang aku suka dari Angga. Kalo ada masalah tidak lama-lama. Mungkin karena Ia lebih tua usianya jadi lebih dewasa. Enggak kayak Leo yang emosian.


Loh kok bawa-bawa Leo lagi? Wah bener-bener deh gara-gara kejadian tadi siang jadi keingetan Leo terus.


"May... May..." Angga menggoyangkan tangannya di depan wajahku. Membuyarkan segala lamunanku.


"Ah... Iya." jawabku gelagapan.


"Dimakan satenya. Nanti keburu dingin." omel Angga.


"Iya." aku mengambil sate usus dan memakannya. Hmm.... yummy..... ajib banget.


"Enak banget ya May. Pantes aja kamu bilang kalau ini sate Padang paling enak yang pernah kamu coba. Aku juga langsung suka." Angga mengambil keripik singkong pedas yang tersaji di meja dan makannya. "Mau?"


Aku menggelengkan kepala. "Aku suka dibawain sama Kak Rian waktu aku masih ngekost dulu. Kebetulan kalau pulang kerja Kak Rian lewat sini dan teringat adiknya yang cantik lalu beliin deh buat aku."


"Iya... iya... Adiknya Kak Rian yang paling cantik, tapi di mata aku ya he...he...he..." puji Angga.


"Ih gombal!"


"Ya laki-laki kalau enggak gombal enggak asyik, May." kilah Angga.


"Enggak semua laki-laki suka gombal tau!" Leo contohnya. Ia amat jarang menggombaliku. Leo lebih menunjukkan rasa sayangnya lewat tindakan dibanding kata-kata.


Aku pernah bertanya pada Leo, kenapa Ia jarang sekali menggombaliku? Jawaban Leo adalah, kalau kata-kata bisa hilang namun kalau lewat perbuatan masih ada rekam jejaknya.


Loh kenapa aku jadi mikirin Leo lagi?


"May, aku belum nanya nih sama kamu. Gimana rasanya kerja di Kusumadewa Group?" tanya Angga masih asyik menikmati sate Padang dengan keripik singkongnya.


"Hmm... Kusumadewa Group memang bukan perusahaan kaleng-kaleng ya. Mereka juga memperlakukan karyawannya dengan baik. Ada kantin yang menyediakan makan siang gratis dengan menu yang enak pula. Belum lagi pantry yang tersedia cemilan dan minuman. Wah pokoknya memanjakan karyawannya banget deh." kataku membanggakan kehebatan perusaahaan tempatku bekerja.


"Enak juga ya. Eh tapi pemimpinnya masih Dibyo Kusumadewa bukan? Waktu itu kan sempat ditahan karena kasus penyuapan tapi udah keluar sih dari penjara."

__ADS_1


"Masa sih? Aku pernah dengar sih katanya Kusumadewa Group sempat goyang karena pemimpinnya ditahan, tapi kenyataannya perusahaan baik-baik saja malah masih membuka lowongan untuk fresh graduate kayak aku ini."


"Iya tapi kamu tau enggak siapa yang memimpin sekarang?" Angga mengulangi pertanyaan yang belum aku jawab.


"Kayaknya sih masih ya. Kacung kampret kayak aku mana pernah sih ketemu owner level atas kayak beliau?"


"Berarti udah keluar dari penjara ya. Kasihan juga sih. Aku dengar beritanya saat beliau ditahan istrinya menggugat cerai. Lalu anak pertamanya direhabilitasi karena konsumsi narkoba. Rumit banget ya kehidupan orang kaya!"


"Kaya kamu bukan orang kaya aja!" gerutuku.


"Yang kaya mah orang tua aku May. Aku mah cuma pesuruh aja." kata Angga merendah.


"Eh Malih, mana ada pesuruh naik mobil mewah lalu mendirikan banyak anak cabang? Kalau mau sok-sokan merendah jangan di depan aku. Luebay deh!"


"Ha...ha...ha..." Angga tertawa ngakak. Angga bilang Ia paling suka kalau aku ngomel-ngomel kayak gitu. Menurutnya mengandung seni, lah seni apaan coba? Seni lukis bukan, seni menyanyi apalagi, sumbang.


****


Aku baru saja turun dari mobil Angga dan berjalan masuk menuju lift kantor. Aku mendengar suara langkah kaki yang mengejar langkahku di belakang.


"Pagi May!" Papa Leo dengan senyum mengembang di pipinya.


"Pagi. Enggak usah senyum-senyum. Malah bikin aku jadi merinding tau enggak." jawabku dengan ketus.


"Yaelah... Pagi-pagi udah marah-marah aja. Bikin hari jadi buruk tau!"


"Enggak ngaruh. Mau aku pagi-pagi tertawa lebar, tertawa ngakak atau tertawa terguling-guling juga nggak akan bikin hatiku jadi lebih baik. Pada dasarnya mah hari yang udah buruk ya buruk aja." jawabku lagi tak kalah ketus.


"Ya setidaknya enggak usah jutek lah pagi-pagi." nasehat Leo sok bijak.


"Bodo!" aku masuk ke dalam lift dan menekan lantai tempatku bekerja.


Karena masih pagi jadi lift juga masih kosong. Coba kalau sudah jam 8 kurang sedikit pasti langsung penuh dan rebutan karena harus mengejar absen.


"May."


"Hmm."


"Jangan lupa dua hari lagi ya." pesan Leo.


"Iya."


"Hitam." jawabku singkat.


"Masa hitam sih? Anak kecil kan suka sama warna-warni tuh kenapa hitam sih yang kamu pilih?"


"Ya suka-suka aku lah. Kan kamu yang nanya aku. Jawaban aku hitam. Kalau kamu mau dapat jawabanmu lain, tanya aja sama orang lain. Kenapa kamu harus ngatur aku mau jawab warna apa?" cerocosku panjang lebar.


Ini kenapa sih sama laki-laki di dunia ini? Semalam Angga dan sekarang Leo. Kenapa mereka berdua demen banget sih bikin aku nyerocos panjang lebar? Nyebelin banget sih!


"Ampun, Nyai. Kalau Nyai udah nyerocos, abdi nyerah." Leo menempelkan kedua tangannya di dada mirip seperti para prajurit pada zaman Majapahit dulu.


"Ih... Apaan sih? Jayus tau nggak!" kataku sambil memukul pelan dengan Leo.


Leo pun tertawa karena berhasil menggodaku. Sementara aku memanyunkan bibir padahal dalam hati aku juga ikut tertawa sih, tapi aku jaga gengsi. Enggak segampang itu ya aku baik lagi sama Leo.


Pintu lift lalu terbuka di lantai yang kami tuju. Aku dan Leo langsung masuk ke dalam ruangan dan ternyata di sana belum ada yang datang selain kami berdua.


"Kepagian nih kita kayaknya. Mau bikin kopi dulu enggak di pantry?" ajak Leo. Rupanya Ia sudah mulai merasa kalau kekesalanku kepadanya sudah hilang jadi bersikap sok akrab padaku.


"Enggak usah. Makasih." tolakku. Pokoknya aku harus jaga jarak dengan Leo. Nanti setelah ia tahu tentang Adam aku yakin dia juga akan semakin menjauh dari aku.


Leo meninggalkanku seorang diri di ruangan. Aku menyalakan komputer lalu memeriksa hasil kerjaan ku kemarin. Satu persatu karyawan di ruanganku mulai berdatangan. Yang terakhir datang adalah Pak Johan. Biasalah, Ia kan atasan, datangnya mepet dan tidak masalah.


"Saya udah memeriksa laporan kamu May. Hasilnya bagus kok. Ada yang kurang sedikit aja tapi enggak masalah. Poin-poin pentingnya sudah kamu jabarkan secara jelas dan menurutku juga kamu teliti. Nanti kamu dan Leo mau saya tugaskan terjun langsung ke lapangan. Tapi kamu belajar dulu di sini baru kamu bisa langsung terjun ke lapangan." ujar Pak Johan yang langsung menghampiriku dengan membawa tasnya.


"Iya, Pak. Leo yang udah bantuin saya kemarin." aku tak mau jadi kacang yang lupa pada kulitnya. Aku harus jujur kalau memang kemarin kalau bukan karena bantuan Leo mana mungkin aku bisa mengerjakan setumpuk map itu?


"Wah kalian memang kompak ya. Bagus itu. Lanjutkan! Nanti kalau kalian terjun langsung ke lapangan juga harus kompak ya." pesan Pak Johan.


"Iya, Pak." jawab aku dan Leo kompak.


*****


"May, H-3 ya." ujar Leo.

__ADS_1


Esoknya,


"May, H-2 ya." ujar Leo dengan senyum yang semakin bahagia.


Keesokan harinya,


"May, H-1 ya." ujar Leo dengan wajah bahagia yang tak bisa disembunyikan lagi.


Dan pada sabtu pagi.....


Aku memakai celana panjang dan blouse warna hitam. Tak lupa aku membawa seikat bunga yang kemarin sempat aku beli saat pulang kantor. Maklum, area pemakaman di perkampungan padat penduduk jarang ada tukang bunga. Tak lupa dalam paper bag aku membawa air mawar dan bunga untuk taburannya.


Aku berjalan pelan menuju rumah kontrakkanku yang lama. Sengaja aku datang on time agar Bu Sri tidak curiga melihatku nongkrong di rumah kontrakkan orang dengan pakaian rapi.


Dari kejauhan aku melihat warung Bu Sri yang tutup, aku baru ingat kalau Ia ada kondangan di rumah saudaranya. Huft.. amanlah kalau gitu. Takut ditanya macem-macem.


Aku berjalan lagi mendekati rumah kontrakkan lamaku, pandanganku langsung tertuju pada seorang cowok tampan yang sedang duduk di atas motor.


Ia melambaikan tangannya ke arahku. Senyumnya amat lebar dan Ia terlihat sedang mencari-cari seseorang yang amat ingin Ia temui.


Sebuah tas jinjing berukuran besar ditaruhnya di cantelan motor Aerox. Motor baru miliknya yang khusus Ia pakai hari ini. Bukan motor Vixion yang Ia pakai sehari-hari ke kantor.


"Adam mana May?" Ia langsung menanyaiku sambil matanya masih celingukan mencari keberadaan Adam. Ia berpikir mungkin Adam sedang ngumpet dan ingin mengagetkannya.


"Nih kita mau kesana." jawabku.


Leo mengernyitkan keningnya. Bingung dengan jawabanku.


"Oh... Kamu enggak bawa toh. Dimana? Di rumah Angga?" tebaknya lagi.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Di Rumah Bu Jojo? Bu Sri lagi kondangan kata yang punya warung." tebak Leo lagi.


Aku menggelengkan lagi kepalaku.


"Titip saja motor kamu di warung. Nanti Pak Husin yang jagain." aku menunjuk warung kelontong milik Pak Husin langgananku. "Kita jalan kaki aja. Enggak jauh kok."


Leo mengangguk. "Baiklah. Aku titip dulu ya."


Leo menitipkan motor baru miliknya pada Pak Husin yang ternyata masih mengenal Leo karena pernah tinggal di kontrakkan beberapa bulan.


Leo berjalan dengan riang sambil menenteng paper bag besar.


"Kamu bawa apa?" tanyaku menyelidik.


"Maaf aku enggak enak kalau enggak bawa apa-apa. Jadi aku beliin aja mainan yang mungkin Adam akan suka. Lalu ada baju dengan berbagai ukuran. Nanti dipilih saja yang muat yang mana."


Aku berjalan pelan yang langsung diikuti oleh Leo. "Kan aku bilang kemarin kalau enggak usah bawa apa-apa." kataku dengan nada datar. Tidak mengomel karena aku tahu pasti Leo ingin membelikan anaknya sesuatu.


"Please..... Sekali aja ya May." pinta Leo lagi.


Aku menghela nafas berat. "Nanti di sumbangin aja ya. Adam enggak butuh semua itu kok."


Leo hendak protes namun aku tetap saja berjalan menuju area pemakaman yang letaknya hanya 5 menit dari kontrakkan lamaku. Aku yang meminta Bapak memakamkan Adam disini agar aku bisa sering menjenguknya.


"Kita mau kemana May?" tanya Leo bingung. "Rumah kontrakkan kamu yang baru ngelewatin pemakaman ya? Kenapa enggak cari tempat lain aja sih? Atau ini untuk memotong jalan biar cepat sampai ya?" Leo masih positif thinking tapi tidak kujawab.


Aku lalu berbelok ke area tengah pemakaman, aku tahu Leo masih mau bertanya namun urung dilakukan karena aku tidak menjawab pertanyaannya.


Sampailah aku di sebuah makam kecil bertuliskan nama Adam. Aku berjongkok dan mengusap batu nisan tersebut, membayangkan mengusap kepala Adam yang tak pernah bisa kulakukan.


"Adam Sayang.... Ini Mama datang.... Mama datang sama Papa kamu, Nak." kataku pada makam Adam.


"May.... Maksud kamu apa?" Leo baru menyadari saat Ia berjalan mendekat dan membaca nama yang tertera di batu nisan.


Ia langsung menjatuhkan paper bag yang Ia bawa. Ia bahkan sampai jatuh lemas.


"May.... Ini... Ini Adam kita?" tanya Leo masih tidak percaya.


Aku mengangguk. "Iya. Ini Adam anak kita."


"Enggak... Kamu pasti bohong kan May?" kata Leo dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.


"Adam tak pernah melihat dunia ini. Adam pergi tepat disaat kamu pergi meninggalkanku."

__ADS_1


Setetes demi setetes air mata mulai membasahi wajahku. Bersamaan dengan Leo yang menangis histeris.


"Enggak... Adam.....Adam....." tangisan lirih Leo terdengar amat menyayat hati.


__ADS_2