
Berita pagi ini
Pengusaha terkenal Broto Hadikusuma terbukti melakukan pemalsuan barang bukti dan dituntut pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Dibyo Kusumadewa.
Seperti sudah diketahui dua tahun lalu Dibyo Kusumadewa dipenjara atas tuduhan melakukan suap dan sudah menjalani hukumannya. Namun ternyata hasil penyidikan membuktikan kalau Broto Hadikusuma adalah dalang dibalik semuanya.
Saat ini Broto Hadikusuma sedang menjalani pemeriksaan di kepolisian. Tuntutan hukum sudah di depan mata. Hanya tinggal menunggu vonis pengadilan.
Berita di salah satu stasiun televisi cukup mengagetkanku. Papanya Angga ditangkap? Apakah akhirnya Pak Johan mengakui segala kesalahannya dan menyebutkan kalau Papanya Angga adalah dalang dibalik semua yang menimpa Papa Dibyo?
Tanpa sengaja saat mengganti channel berita di TV dan melihat berita gosip aku kembali terpaku. Berita ini seperti dejavu kejadian 2 tahun silam.
*Pemirsa, setelah penangkapan terhadap suaminya Broto Hadikusuma ramai di beritakan. Beberapa wanita muda yang mengaku sebagai istri siri dari Broto Hadikusuma dikabarkan datang ke kediaman istri sahnya. Mereka menuntut harta yang dijanjikan oleh Broto Hadikusumo saat menikahi mereka.
Sementara istri dan anak satu-satunya Broto Hadikusuma yakni Anggara yang saat ini meneruskan perusahaan orang tuanya memilih bungkam dan tak menjawab pertanyaan wartawan.
Berikut hasil wawancara kami dengan Anggara dan Nyonya Hadikusuma.
Wartawan: Bagaimana dengan kasus hukum Bapak Broto? Apakah benar keterlibatannya karena proyek tender yang kalah dan dimenangkan perusahaan Kusumadewa Group*?
Angga tak menjawab pertanyaan wartawan dan malah dengan santainya mengeluarkan mobil dari garasi mobilnya. Mobil yang sama yang dulu Ia pakai untuk mengajariku menyetir.
*Wartawan: Lalu apakah istri siri Bapak Broto akan mendapat hak yang dijanjikan oleh Pak Broto?
Mamanya Angga: Enggak ada ya itu pembagian harta! Semua harta atas nama saya! Ingat itu*!
Mamanya Angga berteriak sambil menunjuk tajam pada para wartawan yang dengan senang hati mengambil gambar dirinya yang sedang marah-marah. Kesempatan emas.
Angga langsung menutup kaca mobilnya dan pergi meninggalkan wartawan.
Aku mematikan siaran berita di TV. Dalam hatiku timbul rasa kasihan melihat keadaan yang menimpa Angga dan keluarganya. Keadaan yang sama yang dialami oleh Leo dan keluarganya dua tahun lalu.
Bagaikan lingkaran karma yang akan menuntut balas atas perbuatan yang dilakukan. Kini karma tersebut kembali ke pemilik awalnya.
"Kamu kenapa Sayang? Kok mukanya kayak mikirin sesuatu sih?" Leo datang dan langsung tiduran di pangkuanku.
Leo mengelus-elus perutku yang sudah buncit ini. Sesekali menciuminya dengan penuh cinta dan kasih.
"Aku baru lihat berita di TV. Tentang... keluarga Angga." aku mengusap lembut rambut Leo. Hitam lebat.
Aku lalu memainkan alis Leo yang tebal. Hal yang sangat kusukai sejak hamil. Mainin alis tebal Leo.
Aku hanya ngidam sekali yakni karedok saat aku mau resepsi, sisanya enggak ada ngidam sama sekali. Aku hanya jadi lebih manja dan punya kebiasaan aneh. Salah satunya adalah memainkan alis Leo yang tebal ini.
"Aku juga sudah liat di portal berita online. Ternyata istri sirinya banyak ya. Entah beneran banyak atau ngaku-ngaku saja istri siri." sahut Leo.
"Aku jadi merasa kasihan sama Angga." aku tertunduk sedih. Ini lagi keanehanku. Suka tiba-tiba melow.
"Ya memang jalan hidupnya kayak gitu mau gimana lagi Sayang? Ibarat hidup tuh ada tabur tuai. Dulu keluarganya menabur kejahatan di keluargaku dan sekarang mereka menuai hasilnya,"
"Keluargaku juga dulu hancur seperti apa yang mereka alami sekarang. Perjuangan untuk menyatukan dan membangkitkan lagi perusahaan serta mengubah hal buruk di keluargaku itu tak mudah. Dulu aku suka nangis sendiri. Merasa tidak yakin akan kemampuanku. Namun tekadku kalau aku harus berhasil baru bisa menjemput kamu pulanglah yang membuat semangatku bangkit. Ya walau menjemput kamu pulangnya harus melalui proses perceraian dulu sih. Setidaknya aku sudah berhasil membawa kamu pulang ke sisi aku."
Aku tersenyum, hilang sudah kesedihan karena Angga. Leo benar. Apa yang Angga alami sekarang tidak ada apa-apanya dibanding apa yang keluarga Leo alami. Ibaratnya hanya seujung kuku lah.
Angga kan tak mengalami perceraian seperti yang dialami Leo. Angga juga tidak mengalami kehilangan anak, kakak dipenjara, mama selingkuh dan akhirnya gugat cerai.
Tak sebanding. Namun mungkin Mama dan Papa Angga harus beneran bercerai tanpa bisa bersatu lagi. Sifat Mamanya yang sombong dan angkuh tak akan bisa menerima Papanya Angga yang sudah kalah dan gagal.
"Mama sama Papa mana Sayang?" aku tiba-tiba jadi teringat dengan kedua mertuaku yang akan menjadi orangtua sama sepertiku dan Leo.
"Lagi berjemur di taman. Sekalian ngajak Mama olahraga jalan santai. Kamu enggak olahraga juga Sayang?" tanya balik Leo.
__ADS_1
"Aku berenang aja deh olahraganya. Males kena matahari. Bikin pusing." dan keanehan lain yakni tak suka melihat matahari. Maunya di dalam rumah terus.
Akhirnya aku memutuskan berhenti kerja dan menjadi ibu rumah tangga. Bukan karena bakti sebagai istri melainkan karena tak suka melihat matahari.
Sejak bulan kedua kehamilan aku mulai tidak shka keluar rumah. Saat ada matahari kepalaku agak pusing dan jadi enggak mood. Sudah coba pakai sunglass tetap saja tak berefek.
Aku yang memutuskan berhenti kerja. Lebih suka di dalam rumah saja. Leo sih tak keberatan. Hanya Kak Anggi dan Kak Fahri yang terlihat tertekan dengan kerjaan yang semakin menumpuk.
Olahragaku hanya berenang dan jalan santai diatas treadmill. Sudah cukup setelah konsultasi dengan dokter kandungan.
Karena tak ada mual, makanku pun seenaknya. Tanpa kusadari kalau aku sudah naik 15 kg dari berat awalku sebelum menikah. Beberapa stretch mark pun mulai memenuhi tubuhku yang awalnya mulus tanpa noda.
Aku mulai merasa tak percaya diri dengan penampilanku. Jadi ingat penampilan Adel dulu sebelum kurus seperti sekarang. Semok dan montoxs.
Yang menguatkan kepercayaan diriku siapa lagi kalau bukan suamiku tersayang, Leo. Stretch mark di tubuhku menurut Leo adalah bukti cintaku padanya.
Aku rela tubuhku jelek hanya demi mengandung dan melahirkan anak darinya. Itu yang membuat Leo makin mencintaiku.
"Kalau aku jelek dan enggak mulus lagi, kamu bakalan melirik ke cewek lain yang lebih muda, mulus dan seksi dibanding aku dong?" tanyaku suatu hari.
"Enggak dong. Justru setiap melihat strech mark kamu aku semakin bersyukur. Ada wanita yang rela tubuhnya tak semulus dan seseksi dulu hanya demi mengandung dan melahirkan anakku. Betapa wanita ini amat mencintaiku. Sungguh kurang ajar sekali kalau aku sampai menyakiti dan mengkhianati hati wanita yang sangat mencintaiku hanya demi wanita lain?" ini gombal tingkat dewa. Membuatku langsung melting dibuatnya. Membuatku terbang ke langit ke tujuh.
"Kamu mau makan buah enggak Sayang?" ini lagi yang kusuka. Leo bahkan mengambilkan makanan dan cemilan untukku.
"Enggak mau. Maunya jus buah aja." dan ini kurang ajarnya aku. Di kasih hati malah minta jantung ha...ha...ha...
"Oke. Siap Bos. Mau buah apa?"
"Hmm... Mix aja. Pakai juicer. Aku mau apel, pear dan pokcay."
"Oke. Aku siapin dulu ya."
"Ini Sayang." Leo memberikan jus berwarna hijau yang langsung kuminum sampai habis.
"Makasih Sayang. Seger banget." aku menaruh gelas di atas meja.
"Leo! Leo! Ambil uang buat bayar tukang di depan!" teriak Papa yang baru kembali dari olahraga pagi.
Aku dan Leo melihat ke arah Mama yang berjalan lambat sambil memegangi perutnya yang membuncit. Papa berjalan dibelakang Mama sambil menenteng balon.
"Tukang apa Pa?" tanya Leo sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Nih!" Papa menunjuk 20 buah balon udara beraneka bentuk. Ada gambar sapi, hello kitty, doraemon, frozen dan sebagainya. "Mama ngidam minta beliin balon."
"Hah? Untuk apa Ma balon sebanyak itu?" lagi-lagi Mama Lena ngidam yang lain dari yang lain.
"Mau Mama taruh di kamar May. Bagus kalau di taruh dekat jendela. Terlihat cerah dan indah dipandang mata rasanya." Mama terlihat berbinar-binar bahagia hanya karena balon saja.
Aneh. Apakah semakin tua maka ngidam akan semakin aneh-aneh saja?
"Sudahlah, May. Biarkan saja. Kayak kamu enggak tau saja Mama kamu kalau ngidam kayak gimana. Yang penting Mama bahagia. Selama Papa masih bisa nurutin sih biarin aja." sahut Papa sambil membawa balon ke dalam kamarnya sesuai request Mama.
Tak lama Leo masuk dan sudah membayar semua balonnya. "Udah Leo bayar ya Ma. Mama mau jus juga?"
"Enggak ah. Mama maunya es teh manis yang banyak batu esnya. Kayaknya enak nyeletuk es batu." Mama lalu memanggil Bibi dan meminta dibuatkan es teh manis dengan banyak es batu didalamnya.
Krauk...krauk...krauk.... Mama mengunyah es batu dengan penuh kenikmatan.
"Memangnya Mama enggak ngilu ya giginya makan es batu sebanyak itu?" tanyaku heran. Es batunya hampir setengah gelas sendiri. Banyakan es nya dibanding teh manisnya.
"Enggak. Enak banget May. Ada sensasinya krauk krauk gitu. Kamu mau coba?"
__ADS_1
Aku menyunggingkan seulas senyum. "Enggak Ma. Makasih. Maya udah minum jus tadi. Mama jadwal kontrol dokter kapan? Mau barengan sama Maya enggak?"
"Minggu depan kayaknya. Mama udah mulai sebulan dua kali nih." Mama mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. Calon adik suamiku ada di dalamnya. Yang artinya adik ipar kecilku ada disana.
"Maya siang nanti Ma. Udah booking via telepon. Dokternya jam 1. Maya sudah mulai dua minggu sekali. Kayaknya hpl kita deketan ya Ma."
"Yah kalau deketan Mama enggak bisa bantu ngurusin kamu pasca melahirkan dong May? Padahal Mama juga mau ngurusin cucu pertama Mama." ujar Mama seraya mengusap lembut perutku.
Aku tersenyum dan berusaha membesarkan hati Mama. Wanita hamil tuh suka sensitif. Hal kecil saja bisa buat Ia menangis.
"Nanti Maya mau nyuruh Ibu nginep disini Ma untuk sementara. Boleh enggak? Ibu bisa bantuin Maya selama habis melahirkan. Mama enggak perlu naik turun ke atas. Mama kan juga lagi hamil tua."
"Ibu kamu mau datang memangnya May? Kalau iya tentu Mama ijinin dong. Esih kan teman Mama juga sejak dulu. Mama senang aja. Eh tapi bukannya Leo bilang kalian akan pindah rumah ya?"
Leo memang sudah membeli rumah tak jauh dari rumah Papa. Masih komplek yang sama. Hanya saja rumah Papa masih di depan dekat pintu keluar komplek, sedangkan rumahku dan Leo agak di dalam komplek. Maklum, nyari yang harganya lebih murah.
Leo berhasil memenangkan tender yang bernilai besar untuk perusahaan Papa. Lalu rencana kerjasama dengan restoran Korea milik Lidya juga berkembang pesat. Karena itu Papa memberikan bonus ke Leo berupa rumah yang siap ditempati.
Uang tabungan Leo untuk membeli rumah aman. Leo menabungnya di deposito untuk biaya pendidikan anak kami kelak.
"Sudah hampir selesai, Ma. Tinggal finishing aja dikit lagi. Minggu besok rencananya mau pindahan." Leo datang membawakan tas dan cardigan untukku.
Aku melirik jam dan masih jam 10. Jadwal kontrol jam 1. Ini sih alamat Leo ngajak jalan dulu.
"Yah Mama kesepian dong." mulai lagi Mama melow.
"Ada Papa kan Ma. Nanti Papa kurangin jadwal ke kantornya. Jadi bakalan sering menemani Mama di rumah." Papa yang sudah menaruh balon di kamar ikut bergabung dengan percakapanku dan Mama.
"Tetap saja beda, Pa. Biasanya kan ada Maya yang nemenin Mama nyoba resep baru. Sekaranh Maya pindah."
Mulai deh kelebayan keluarga ini di mulai. Pindah enggak sampai satu kilo udah kayak pindah beda planet aja.
"Nanti Maya main Ma tenang aja. Kita masih satu komplek. Mama enggak usah sedih ya."
"Berarti Esih nginepnya di rumah kamu dong?"
"Er... Iya, Ma. Maya juga baru tau kalau seminggu lagi udah bisa pindahan."
"Yah... Enggak nginep di rumah Mama dong?" mellow lagi. Ampun deh. Kenapa Papa sabar banget ya ngadepin Mama selama hamil? Aku aja mulai gemes sedikit-sedikit mellow terus.
"Ma, kita pergi dulu ya. Mau jalan-jalan sekalian beli perlengkapan bayi yang masih kurang. Nanti keburu dateng dokternya. Ayo May!" Leo menyelamatkanku dari ngidam mellownya Mama.
"Iya, Ma. Maya pergi dulu ya."
Setelah salim aku dan Leo pergi dari hadapan Mama. Akhirnya bisa bernafas lega setelah keluar dari rumah.
"Lain kali kalau Mama lagi kumat mellownya kamu pura-pura mau pipis kek. Mau berenang kek. Pokoknya kabur aja ya. Susah soalnya kalau ngadepin Mama lagi mellow. Salah ngomong dikit langsung nangis, sampai kejer malah. Ada ya nangis kayak gitu. Jadi bertanya-tanya nanti adek aku bakalan kayak gimana pas lahir? Lebih ajaib dari Richard atau lebih kece aku ya?"
"Hmm... Kayaknya adik kamu si penguasa The Buntungers deh. Papa Buntungers, Kadal Buntungers, Buaya Buntungers dan.... Dino Buntungers ha...ha....ha...."
******
Hi Semua....
Mau kasih tau nih, novel Delima udah tayang loh. Yang penasaran dengan kisah Adel yuk mampir. Jangan lupa tambahin ke list favorit kalian ya.
Oh iya, kalau aku nulisnya masih belibet mohon maaf ya. Nulis dua novel dalam satu waktu memang agak susah fokus. Dimaklumi aja ya. Aku udah dua kali revisi biar lebih bagus lagi.
Jadi, jangan lupa like, komen dan vote ya... Makasih... 😘😘😘
__ADS_1