
POV Richard
Aku bukannya tidak tahu kalau sejak tadi Lidya menahan air matanya agar tidak tumpah. Sejak melihat Leo dan Maya bergandengan tangan di gazebo, maka sejak itu pula Lidya langsung berubah sikap 180⁰.
Tadi aku ditugasi Leo menjemput Lidya di rumahnya. Saat aku sampai Lidya sudah siap dan rapi. Berpakaian blouse putih dengan motif kembang warna hijau yang kutahu merk salah satu brand Z di Mall.
Aku biasa menemani Mama belanja. Aku tahu karena pernah melihatnya di toko Z. Selera Lidya memang barang-barang branded, berbeda sekali dengan Maya.
Baju yang Maya kenakan hari ini beli di toko baju Bulan yang biasanya ada di Mall. Typenya juga sederhana namun terkesan sopan dan malah menampilkan kecantikan alaminya.
Aku sering keluar masuk Mall dengan Mama jadi aku tahu beberapa merk. Apalagi Mama suka nanya apakah baju yang Ia beli pantas atau tidak.
Baik Lidya maupun Maya sama-sama terlihat cantik dan menarik perhatian hari ini. Tapi kalau disuruh jujur pemenangnya adalah Maya.
Orang bilang baju itu tergantung siapa yang pakai. Baju semahal apapun kalau tidak cocok dipakai juga akan terkesan biasa saja. Namun kebalikannya, baju yang biasa saja jika yang pakainya bagus maka akan terlihat amat indah dipandangnya.
Bukannya Lidya tidak bagus tapi wajah Maya hari ini terlihat amat tulus dan tak sabar mau bertemu kedua orang tuanya. Sedangkan wajah Lidya menunjukkan kalau Ia mau bertemu Leo.
Jadi tak heran Lidya menyambutku dengan tatapan kecewa. Ia mengira kalau Leo becanda saat menyuruhku menjemputnya ternyata disinilah aku, menjemputnya dengan Aerox milik Leo.
"Beneran kamu yang jemput?" tanya Lidya dengan raut muka kecewa yang tak bisa Ia sembunyikan lagi.
"Yoi. Ayo!" kataku sok asyik.
"Naik motor?" Lidya mengernyitkan keningnya. Ia melihat ke motor lalu ke baju yang Ia kenakan. "Kalau bau asap gimana dong?"
Ini nih yang aku enggak suka. Maya aja santai dijemput Leo naik motor. Enggak pernah sekalipun Maya mengeluh. Aku tau dari mana? Karena Leo enggak pernah minjem mobilku. Hari ini Ia pinjam karena Maya harus membawa banyak makanan, takut hancur.
See? Mengenal Maya membuatku mulai membuka mata dan sadar kalau hidupku bukan hanya tentang Lidya seorang. Sayangnya Maya sudah dimiliki Leo. Kalau saja aku mengenal Maya lebih dulu pasti aku akan mempertahankannya.
"Iya. Pakai jaket aja. Jadi datang enggak?" tanyaku dengan acuh.
"Yaudah aku ambil jaket dulu."
Kok aku biasa aja tidak kecewa dengan sikap Lidya?
Ya. Kutukan Kusumadewa tidak berlaku padaku. Leo dan Papa berpikir kalau aku juga sama seperti mereka yang tidak bisa move on dari satu orang wanita. Sayangnya aku tidak bisa begitu.
Jujur saja aku tertarik dengan Maya. Aku bahkan mulai membandingkan Lidya dengan Maya dan hasilnya Maya selalu menang.
Tapi aku tak mau jadi orang yang tak tahu terima kasih. Leo sudah mengorbankan rumah tangganya demi mengurusku, Papa dan Mama. Aku tak mungkin mengecewakannya dengan merebut Maya dari sisinya.
Bisa jadi manusia hina aku jika melakukan hal tersebut. Enggaklah. Namun type cewekku berubah sekarang. Tak lagi terlalu berharap pada Lidya. Makin besar kepala saja cewek ini nantinya.
Sekarang aku sudah taubat saja, tak pernah menginjakkan kakiku di dunia malam lagi. Kalau tahu siapa aku di dunia malam pasti Lidya akan menyesal telah menolakku.
Sebelum Papa tertangkap aku bak idol di dunia malam. Cewek sexy dan cantik tinggal aku tunjuk saja. Siapa yang tidak tertarik dengan penerus Kusumadewa Group?
__ADS_1
Kalau hanya secantik Lidya aku gampang dapetinnya. Tapi kalau yang berbeda seperti Maya baru aku menemukannya sekarang.
Aku jadi penasaran dengan sosok Adel yang tadi Maya tawarkan untuk dikenalkan padaku. Apa Ia sebelas dua belas dengan Maya?
Sepanjang perjalan aku dan Lidya tak banyak bicara. Hanya diam saja. Aku asyik sendiri dengan lamunanku sementara Lidya sibuk merapikan rambutnya yang sejak tadi tertiup angin sehingga ada beberapa anak rambutnya yang kusut.
"Masih lama nggak sih?" Lidya sudah mulai tidak sabaran. Udara siang ini begitu panas dan terik. Belum lagi jalanan agak macet karena hari Sabtu banyak yang pada keluar rumah untuk berjalan-jalan.
"Bentar. Dua belokan lagi." jawabku dengan sebal. Enggak sabaran banget sih.
"Kamu beneran adik kakak sama Leo? Aku pikir selama ini kamu bohong loh. Karena jujur aja wajah kalian tuh nggak mirip sama sekali. Tapi tadi pas Leo bilang kamu yang akan jemput baru deh aku sedikit percaya." Lidya perlahan mulai mengajakku berbicara. Namun topiknya hanya basa-basi saja jadi aku malas menanggapi lebih lanjut. Aku cuma pura-pura tertawa saja tanpa mengatakan apapun.
"Tuh kita udah nyampe." aku lalu membelokkan motor Leo ke pekarangan rumah dan memarkirkannya di dalam garasi bersama koleksi mobilku dan Papa.
"Ini beneran rumah kamu? Wow! Besar sekali! Kayaknya beneran rumah kamu deh, soalnya itu ada mobil kamu."
Aku hanya menyunggingkan seulas senyum tanpa menjawab perkataan Lidya. Baru tahu apa kalau aku termasuk salah satu anak orang kaya? Selama ini kenapa nggak pernah percaya kalau aku ngomong? Segitu nggak dihargainnya banget ya?
"Masuk yuk! Keluarga aku udah nunggu di dalam." aku mengajak Lidya yang masih terlihat agak norak untuk masuk ke dalam rumah. Aku langsung menuju kolam renang.
Ternyata mereka semua yang ada di area barbeque malah sedang pacaran. Aku berpura-pura seakan aku jealous melihat semua pemandangan di depanku.
Aku memperkenalkan Lidya dengan kedua orang tuaku. Dengan berlagak sok manis, Lidya bahkan memuji Mama balik. Aku melirik ke arah Maya, ternyata Maya seperti aku, tidak suka dengan topeng kepura-puraan Lidya.
Dan dengan bodohnya Lidya itu nggak ngeliat sejak tadi kalau ada Maya yang sedang bergandengan tangan dengan Leo di Gazebo. Mungkin karena letak Gazebo agak di belakang Jadi Ia tidak melihat langsung.
Lidya kaget melihat kehadiran Maya ditengah-tengah kami semua. Leo lalu memperkenalkan Maya sebagai mantan istrinya yang sedang dalam proses rujuk. Wajah Lidya langsung pucat pasi.
Saat semua bercanda tawa dan bersenda gurau bersama, Lidya hanya duduk diam di gazebo yang telah ditinggalkan oleh Maya dan Leo.
Itu buaya buntung sama si oon cuek aja lagi dari tadi peluk-pelukan di depan yang lain. Eh si buaya buntung nyosor melulu lagi. Gimana dulu enggak tekdung duluan coba? Huft....
Aku jadi kasihan dengan Lidya. Ia bahkan tertunduk sedih. Mungkin Ia sudah membayangkan akan diperkenalkan ke keluarganya Leo sebagai calon Leo tentunya. Lidya nggak pernah menyangka kalau ternyata Leo dan Maya pernah hampir punya anak.
"Leo dan Maya beneran sudah punya anak? Dimana anaknya?" akhirnya Lidya menanyakan uneg-uneg yang sejak tadi ia tahan.
"Justru itu yang menjadi penyebab perceraian Maya dan Leo. Maya keguguran saat Leo sedang menyelesaikan masalah di keluarga kami. Itu yang membuat Leo menyesal telah meninggalkan Maya dulu." aku mengambilkan minuman untuk Lidya dan meletakkan di sebelahnya. Kasihan sejak tadi menahan air mata agar tidak turun. Kalau dikasih air minum setidaknya dia lebih tenang.
"Makasih." kata Lidya dengan tulus.
"Mau yang lain lagi enggak? Yang bakar daging sibuk pacaran. Jadi agak lama matengnya. Kebanyakan saling menggoda. Kecentilan."
"Kamu nggak ngiri melihat mereka semua seperti itu? Tadi katanya kamu juga terkena kutukan sama seperti Leo dan Papanya? Beneran? Kamu beneran terkena kutukan dan cuma suka sama aku?"
Aku hampir tak bisa menahan tawa melihat Lidya bersikap sok kecakepan dan berpikiran kayak gitu. Hellowww.... Memangnya aku sebodoh Leo dan Papa apa? Kutukan itu dibuat untuk dipatahkan bukan untuk diturutin. Dan lihatlah aku sekarang, santai kayak dipantai.
Tiba-tiba terlintas di otakku sebuah ide gila. Ide jahil. Enggak ada salahnya kan dicoba mumpung momennya lagi pas.
__ADS_1
"Mm... Lidya, kalau misalnya aku terkena kutukan itu dan terus-menerus memuja kamu, apa kamu hatinya akan luluh dan mau menerima aku apa adanya?"
Tuh kan Lidia Kelihatan banget ke-gr-an nya. "Ya.... Aku nggak tahu. Kita lihat aja nanti. Aku juga kan enggak tahu takdir seseorang ke depan itu kayak gimana."
"Enggak risih gitu? Tuh liat Maya yang dari dulu sampai sekarang terus aja diuber-uber sama Leo. Aku aja ngelihatnya agak risih. Terus Mama, walaupun udah bercerai dengan Papa masih aja Papa deketin. Tuh dua orang memang enggak bisa move on ya. Hidupnya tuh kayak udah mentok dengan satu orang aja, nggak bisa sama orang lain lagi."
"Perempuan tuh sebenarnya paling suka dicintai oleh orang lain. Jadi Maya dan mama kamu itu sebenarnya beruntung. Ada seorang laki-laki yang sangat memuja dia bahkan sampai gak bisa pindah ke lain hati. Itu tuh keistimewaan. Aku bahkan iri dan ingin merasakan hal kayak gitu." Lidya mulai memakan pancinganku.
"Terkadang kita memang iri dengan sesuatu yang kita lihat dalam diri orang lain padahal sebenarnya kita juga memiliki hal tersebut. Kamu selama ini berpikir kalau dua wanita di depan adalah wanita yang paling beruntung padahal sebenarnya kamu juga termasuk salah satu bagian dari mereka. Tapi sayangnya aku agak berbeda dibanding mereka." Aku sengaja menggantung perkataanku agar membuat Lidya agak sedikit penasaran dengan perkataanku barusan.
"Maksudnya gimana?" kini matanya Lidya sudah tidak tergenang air mata lagi. Berganti dengan sorotan kebingungan. Ayo kita mainkan.
"Aku.... Aku nggak terkena kutukan seperti mereka berdua. Ya jujur kamu pasti udah tahu kan kalau aku tuh suka sama kamu. Tapi aku nggak memaksa seperti mereka. Aku masih bisa menyukai orang lain. Kalau memang kamu risih aku enggak akan memaksakan perasaanku seperti yang mereka lakukan." tidak terlalu memaksa padahal mah lagi mancing-mancing.
Lidya langsung terdiam. Ia sadar kalau Ia nggak selamanya di atas angin. Mungkin juga dia tahu kalau dulu aku dan Leo sempat bertengkar gara-gara dirinya. Tapi Leo nggak pernah sama sekali menginginkan Lidya. Mungkin kesombongan Lidya itu harus disadarkan. Enggak semua orang memuja dirinya.
"Emangnya sudah ada yang kamu sukai sekarang? Terus kamu udah move on dari aku?" tanya Lidya setelah beberapa kali melihat ke arah kemesraan Papa dan Leo dengan pasangannya masing-masing.
"Aku sempat tertarik dengan seorang wanita di salah satu daerah yang kemarin aku kunjungi saat aku keluar kota. Wanita itu mengingatkanku dengan Maya. Sebentar, kalau nggak salah namanya Delima. Aku jujur, baru kali ini merasa senang karena aku ternyata enggak sama dan nggak kena kutukan seperti papa dan Leo. Kutukan itu seperti sebuah penyakit yang nggak bisa disembuhin. Setelah sadar kalau aku nggak kena penyakit itu rasanya tuh aku senang banget."
Perkataanku barusan makin membuat Lidya merasa kehilangan. Bukan kehilangan pacar atau kekasih melainkan kehilangan salah satu fans. Perempuan itu biasa memaintance fansnya. Karena terbiasa dipuja membuat perempuan itu suka besar kepala. Kayak di depanku ini. Dipikirnya aku akan selamanya gitu memuja dirinya?
"Jujur saja aku selama ini hanya melihat ke arah Leo seorang. Namun sayangnya sejak dulu Leo tak pernah melihat ke arahku. Leo hanya menganggapku tak lebih dari sekedar teman dan bos di tempat kerja. Aku rasa sedikit banyak aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi aku baru mengerti hari ini," Lidya melihat lagi ke arah Leo dan Maya yang kini saling suap-suapan sambil meniup-niup daging yang masih agak panas dengan penuh kasih.
"Selama ini kupikir Leo tipikal laki-laki cool. Eh ternyata sudah menyimpan hatinya hanya pada satu orang saja. Seperti yang kamu bilang, aku iri melihat Maya mendapatkan keistimewaan seperti itu. Iri juga sama Mama kamu. Mungkin aku saja yang tidak sadar diri. Sebenarnya aku juga salah satu dari Maya dan Mama kamu, hanya saja aku terlalu mengejar sesuatu di depan sana dan tak melihat yang selalu berada di sampingku."
Kini Lidya menatapku. Tatapan yang berbeda dibanding biasanya. Tatapan penuh harap. Ah aku jangan terlalu ge er. Nanti salah paham yang ada aku yang sakit hati.
"Jangan pergi, Cat. Beri aku waktu untuk mulai menyukai kamu apa adanya. Mungkin perlahan aku akan seperti Maya dan Mama kamu. Itu impianku, menjadi wanita yang hanya Ia sukai seumur hidupnya."
Kan.... Kan..... Kadal Buntung ini tuh jago. Dua buntung di depan mah kalah langkah dibandingku. Luluh kan hati Lidya....
Aku hampir tak bisa menyembunyikan mimik bahagiaku. Tapi aku harus memasang wajah serius kalau tidak Lidya akan ilfil ngeliatku.
"Kamu serius?"
Lidya mengangguk yakin.
"Baiklah. Kita coba dari sekarang ya."
Lidya kembali mengangguk. Kali ini dengan senyum di wajahnya.
"Kita gabung sama yang lain yuk."
Akhirnya aku menikmati juga acara barbeque tanpa harus menjadi obat nyamuk he...he...he....
POV Richard End...
__ADS_1
*****
Sedikit clue, Delima itu siapa ya? Kok katanya mirip Maya? Hmm....