
"May... Please... Kamu jangan terpengaruh sama kata-kata Richard ya, please.... " Leo terus saja merengek sambil mensejajari langkahku keluar dari rumahnya.
Sebelum sampai ke depan pintu aku berpapasan dengan Bibi yang tadi aku temui saat pertama kali datang ke rumah Leo.
"Aku pulang dulu ya Bi. Makasih minuman dan cemilannya." kataku sambil tersenyum ramah.
"Ah... Udah tugas Bibi, Neng. Loh Eneng udah mau pulang? Enggak nunggu Papanya Aden dulu?"
Aku menggelengkan kepalaku dengan senyum yang masih mengembang di wajahku. "Enggak, Bi. Aku sama Leo udah ada janji sama yang lain."
"Nanti main lagi ya Neng. Udah lama rumah ini enggak ada perempuan yang mampir. Den Leo masih cinta kayaknya sama Neng Maya."
Senyumku makin mengembang mendengar perkataan Bibi. Aku melirik ke arah Leo yang senyum-senyum sendiri lalu nama Lidya terlintas di kepalaku. Jadi sebal deh rasanya!
"Ah masa sih Bi? Bukannya Leo cintanya sama Lidya?" pertanyaan yang sebenarnya sindiran untuk Leo. Bibi memasang wajah bingung karena tak mengerti maksud perkataanku.
"May, please.... " rengek Leo lagi.
"Aku pulang dulu ya Bi." aku lalu berjalan menuju pintu keluar rumah yang rasanya amat jauh saking luasnya rumah Leo.
Yang ada dalam benakku adalah: gimana cara ngeberesinnya ya? Butuh air berapa ember buat ngepel?
"Tunggu May! Aku ambil jaket dulu!" Leo lalu naik ke kamarnya sementara aku memutuskan tetap berjalan ke luar rumah.
Aku menunggu di luar sambil memperhatikan deretan mobil mewah yang terparkir di garasi rumah Leo. Apakah ada mobil milik Leo diantara koleksi mobil mewah tersebut?
"Enggak ada punyaku disana," jawab Leo yang tiba-tiba muncul di belakangku sambil membawa sebuah jaket. "Itu semua koleksi Papa dan Richard."
"Aku enggak nanya." kataku berbohong. Tau dari mana coba Leo apa yang aku pikirin?
Leo lalu membuka jaketnya dan memakaikannya padaku.
"Enggak usah. Aku kan udah pakai cardigan." tolakku.
"Panas! Nanti kamu hitam siang-siang naik motor. Udah pakai aja. Itu jaket masih lumayan baru kok. Baru beberapa kali aku pakai."
Ucapan Leo masuk akal juga ya. Cuaca memang sangat terik dan panasnya amat mentereng pasti cepet banget bikin kulitku hitam.
"Yaudah sini." aku akhirnya mengikuti saran Leo. Memakai jaket dengan gambar daun singkong tiga berwarna hitam. Kegedean tentunya di tubuhku yang mungil ini.
Leo lalu berjalan menuju motornya dan memakai helm. Ia lalu mengambil helm milikku dan memakaikannya di kepalaku. Tak lupa Ia merapikan poniku agar tidak berantakan nantinya.
"Maaf ya May."
"Maaf kenapa?" aku bingung apakah Leo mau minta maaf soal Lidya atau soal yang lain nih.
"Ya maaf aku nganterin kamunya pake motor. Bukan pakai mobil yang berjejer di garasi. Kamu kan jadi kepanasan. Nanti aku ambil kreditan mobil deh biar kamu enggak kepanasan lagi."
"Iya enggak apa-apa." aku lalu naik ke atas motor dan langsung terdiam.
Mataku kembali memanas. Entah untuk keberapa kalinya dalam hari ini. Mengenal sisi lain Leo yang selama ini aku tak tahu.
Leo bisa saja meminjam mobil Richard atau milik Papanya yang lain namun Ia lebih memilih mengantarku dengan motor yang Ia beli sendiri.
Dan kata-kata maafnya terasa amat menyentuh hatiku. Aku pun terenyuh. Si Buaya Buntung ini ternyata bisa bikin aku mellow.
"May." panggil Leo saat kami sudah berada di jalan raya.
"Kenapa?"
"Kamu kenapa diam saja? Marah karena masalah Lidya?"
Ya ampun Leo, masih aja Lidya. Aku tuh bukan marah juga. Aku tuh masih terenyuh sama kata-kata kamu tadi. Permintaan maaf kamu karena cuma bisa mengantarku pakai motor.
Itu tuh buat cewek kayak aku luluh tau enggak? Kalau cewek matre mungkin akan ngedumel diajak naik motor sementara di rumah cowoknya banyak mobil mewah nganggur. Aku tuh beda. Beda Leo.
Aku enggak butuh gombalan tingkat dewa kayak kakakmu si Richard sang Kadal Buntung! Aku enggak butuh. Malah aku tuh typikal cewek yang geuleuh kalau mendengar cowok kebanyakan ngegombal. Terdengar enggak jujur dan tidak ada nilai ketulusan di dalamnya.
"Memangnya kamu beneran dekat dengan Lidya?" pertanyaan yang malas aku ajukan sebenarnya. Tapi aku penasaran juga sih, sedekat apa Leo dengan Lidya?
__ADS_1
"Aku dulu satu kampus sama Lidya. Aku, Richard dan Lidya. Seperti yang kamu lihat, aku dan Richard tidak terlalu dekat," Leo lalu berbelok ke arah Duren Tiga.
Benar kata Leo, jalanan memang tidak begitu macet karena kami naik motor. Cuma ya memang panas banget karena matahari bersinar sangat terik.
"Richard yang awalnya dekat dengan Lidya. Tapi ternyata Lidya harus mengulang satu mata kuliah dan kebetulan sekelas denganku. Aku lalu kenal dengan Lidya. Jujur saja Lidya anaknya baik dan asyik diajak temenan tapi ternyata Richard enggak suka dengan kedekatanku dengan Lidya."
"Karena Richard tau kalau kalian saling menyukai?" tanya aku dengan asal.
"Bukan, May. Bukan saling menyukai. Lebih tepatnya Lidya yang suka sama aku." Leo menjawab pertanyaanku dengan tenang.
"Sok kegantengan banget sih!"
"Emang ganteng kan? Ha...ha...ha..."
Aku mencubit pinggang Leo untuk menghilangkan tawa di wajahnya yang memang aku tidak bisa lihat tapi aku yakin pasti nyebelin banget deh.
"Aw... aw... Sakit May! Aku lagi bawa motor nih! Bahaya. Kalau mau peluk, peluk aja. Enggak usah pura-pura nyubit segala."
"Ih siapa yang mau meluk?" aku melepaskan cubitanku. Bener juga sih kata Leo, bahaya di jalan main cubit-cubitan.
Motor Leo lalu berhenti di lampu merah perempatan yang nyalanya lumayan lama tapi lampu hijaunya sebentar. Tanpa aku duga Leo menarik tanganku dan menggenggamnya erat.
"Aku lanjutin ya ceritanya biar kamu enggak salah paham."
"Ih siapa yang salah paham? Aku enggak begitu tuh." kataku mengingkari perasaanku sendiri.
"Aku dan Lidya satu kelompok belajar. Lidya banyak bertanya sama aku, kami cepat akrab. Tanpa aku sadari ternyata Lidya menyukaiku. Saat Richard nembak Lidya terus Lidya menolaknya dengan alasan Lidya suka sama aku. Nah disitulah aku bertengkar hebat sama Richard,"
"Pertengkaran kami sampai dipisahin sama Papa. Kamu tahu enggak cara misahinnya kayak gimana?"
"Mana aku tau sih. Papa kamu aja aku enggak tau yang mana!" kataku dengan judes.
"Iya... Jangan marah-marah terus kenapa sih? Aku kan lagi jelasin sama kamu. Tujuan aku tuh jelasin sama kamu biar kamu curiga sama aku. Biar clear masalah Lidya. Case close."
"Iya. Udah cepetan kenapa jangan kebanyakan ceramah. Dari tadi tuh muter-muter aja, sampai lampu merah berubah jadi lampu hijau deh."
"Jadi Papa itu misahin kami dengan cara mengambil tongkat golf dan memukuli kami berdua. Aku akhirnya mengalah, aku berhenti kuliah dan pindah ke kampus kita. Tapi aku enggak nyesel kok. Kalau aku nggak pindah kampus, aku nggak akan pernah bisa kenal sama kamu."
Tuh kan... Dasar Buaya Buntung! Ngomong apa juga ujung-ujungnya ngegombal!
"Papa kamu sering berlaku kasar seperti itu? Maksudnya, misahin kamu sama Richard pakai cara-cara kayak gitu? Enggak pakai cara baik-baik gitu?"
Aku lebih tertarik cerita tentang Papanya Leo dan bagaimana cara beliau mendidik anak-anaknya. Kenapa sih harus diselesaikan dengan kekerasan?Segala sesuatu kan pasti bisa diomongin baik-baik.
"Bagi Papa, daripada kebanyakan ngomong, lebih baik langsung pakai tindakan May. Ya caranya dengan cara kekerasan seperti itu. Tapi kamu nggak usah khawatir, Papa sekarang udah enggak kayak gitu lagi . Aku berani jamin! Dua tahun ini hidupnya begitu berat, jadi sepertinya Papa berubah drastis menjadi sosok yang lebih baik lagi."
"Mungkin sikap sabar kamu yang udah merubah Papa kamu Leo. Andai dulu kita berdua jadi lebih sabar ya, kita mungkin masih bisa mempertahankan rumah tangga kita. Dan mempertahankan Adam tentunya...."
Aku membuang pandanganku melihat pemandangan sekitar Jalan Mampang Prapatan Raya. Leo sepertinya sengaja mengambil jalur sebelah kiri karena Ia mengendarai kendaraannya dengan pelan. Ia masih butuh banyak berbicara denganku sebelum akhirnya nanti kami nongkrong dan ketemu anak-anak.
Aku tidak merasa keberatan. Bagiku, masih banyak yang harus aku ketahui tentang Leo. Tentang kehidupannya, tentang keluarganya dan tentunya tentang sikap Leo sendiri yang aku belum tahu banyak.
"Aku belajar tentang arti kesabaran setelah kita berpisah May. Sebelumnya, aku enggak jauh berbeda sama Richard. Aku juga emosian seperti Richard, cuma bedanya aku memang nggak terbiasa merengek sesuatu yang aku pengen. Jadi saat Papa ngusir aku saat aku ingin menikah dengan kamu yaudah aku pergi. Aku nggak mau merengek minta Papa menerima kamu. Untuk apa?"
"Iya sih. Kamu sama keras kepalanya sama Richard. Kayak anak bocah!"
"Lah apa bedanya sama kamu? Kamu juga keras kepala kan mau nikah sama aku?" Leo membalikkan lagi perkataanku.
"Waktu itu aku enggak mau menggugurkan kandunganku. Kalau masalah nikah sih aku enggak memaksa kamu. Kalau kamu enggak mau nikahin aku ya aku tetap akan mempertahankan kandunganku. Aku enggak mau sudah berbuat dosa malah masih menambah dosa lagi dengan menghilangkan nyawa bayi yang tak berdosa."
"Kalau aku boleh kembali lagi ke masa lalu, aku akan tetap memilih untuk menikahi kamu kok May. Karena sampai kapanpun aku enggak pernah menyesal pernah menikah dengan kamu."
"Cie... Buaya buntung lagi ngegombal!" celetukkanku membubarkan momen romantis yang susah payah Leo bangun.
"Ih kamu mah. Biarin aja sih sekali-kali aku ngegombal. Kamu pasti seneng kan aku gombalin?"
"He..he..he... Enggak tuh!" jawabku sambil tertawa. Keadaan kami tuh mudah sekali berubah, dari curhat, sedih lalu tertawa dan mulai saling meledek. Ah... aku rasanya seperti reuni dengan teman lama.
"Oh iya aku mau nanya dari tadi. Richard tuh mukanya mirip siapa ya? Kok enggak mirip sama kamu sih?" aku menanyakan pertanyaan yang sejak tadi membuatku bertanya-tanya.
__ADS_1
"Richard mirip Papa. Aku justru yang enggak mirip sama Papa dan Mama. Aku mirip Papanya Papa alias Kakek."
"Tapi kok aku kayak udah pernah liat Richard sebelumnya ya? Mukanya tuh enggak asing banget kayaknya."
Kami sudah sampai di Blok S. Deretan ruko yang menjual aneka makanan terlihat amat menggugah seleraku. Leo memarkirkan motornya di sisi jalan yang memang digunakan sebagai lahan parkir liar. Sudah ada Pak Ogah yang menjaga disana.
Aku melepas helmku sendiri. Khawatir Leo akan membantu melepasnya seperti tadi lalu ketahuan dengan Ana dan Aldi bisa panjang ceritanya.
Aku menyerahkan helm yang kupakai pada Leo yang Leo taruh diatas motor tanpa takut hilang.
"Nitip ya, Bang!" pesan Leo pada Pak Ogah yang usianya jauh diatas kami.
"Siap." jawab Pak Ogah tersebut.
Leo melihat ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang. Maklum jalanan depan Blok S adalah jalan umum yang siapapun bisa lewat.
"Ayo." Leo mengajakku menyebrang.
Aku menyusuri deretan tukang makanan yang menjual aneka makanan yang benar-benar menggugah selera. Jangan salah sangka, walau terletak di pinggir jalan harga makanan disini lebih mahal dibanding makanan pinggir jalan lainnya loh!
"Nanti kamu juga akan tahu kenapa bisa kayak melihat Richard sebelumnya. Mungkin tak lama lagi." jawaban Leo terkesan misterius dan penuh teka teki.
"Malah jadi penasaran aku karena kamu jawab kayak gitu."
Tapi aku tidak mendesak Leo untuk menjawab pertanyaanku lagi. Kali ini aku dan Leo mulai melihat satu persatu pengunjung di deretan tempat makan.
Aku mencari keberadaan Ana dan Aldi yang berdasarkan chat-nya tadi udah sampai di Blok . Kemudian aku dan Leo berbelok menuju deretan yang lebih banyak lagi tempat makanan.
"Ada tukang tahu gejrot juga ya?" aku menunjuk tukang tahu gejrot yang mangkal di pinggir jalan.
"Ada. Mau? Nanti aku pesenin."
"Enggak mau ah. Bau." tolakku. Aku suka tahu gejrot tapi enggak suka after taste nya. Bau bawang putih yang menyengat.
"Iya juga sih." Leo lalu berbisik di telingaku. "Kalau ciuman bau ya."
Aku langsung menyikut perut Leo dengan sikuku. Heran deh, sempet-sempetnya di tempat ramai begini ngomong mesum!
"Aww.... Lama-lama badan aku penyok deh May sama kamu. Waktu itu ditendang adikku, tadi dicubit eh sekarang disikut. Kejam! Lebih kejam dari ibu tiri kamu May!"
"Berisik ah!"
Mataku menangkap Ana yang sedang melambai ke arah kami. Mm... Lebih tepatnya ke Leo kali ya.
"Huft.... Si Centil beraksi lagi!" keluhku.
"Si Centil? Siapa?" tanya Leo bingung.
"Tuh!" aku menunjuk ke arah Ana. "Salah satu fans berat kamu!"
Aku dan Leo berjalan mendekati Ana. "Jealous ya?"
"Enggak tuh."
"Masa sih?"
"Iya."
"Tuh mukanya cemberut."
"Emang udah kayak gini dari sananya!"
"Tapi masih cantik kok."
Kan... kan... kan.... Buaya buntung ngegombal terus. Dan.... Si Oon ini demen loh digombalin...
****
Hi semua! Done ya hari ini 2x Up walau agak malam. Maaf kalau agak telat, aku usahain Up disela kerjaanku yang segunung. Votenya jangan sampai kendor ya. 😍😍😍😘😘
__ADS_1