
Dibyo Kusumadewa, anak terpintar di keluarga Kusumadewa sekaligus anak yang yang paling ambisius. Beliau tumbuh dan berkembang menjadi anak yang mandiri dan kuat.
Konon menurut Mama, Papa Dibyo dulu adalah sosok laki-laki yang hangat dan sayang terhadap keluarga kecilnya. Papa Dibyo dulu hanyalah seorang Manager Area di Perusahaan Kusumadewa milik orangtuanya.
Kusumadewa juga dulu bukan perusahaan yang sangat besar. Kusumadewa Group mulai membesar saat Papa dijodohkan dengan Mama yang seorang Wijaya, yakni anak pengusaha kelapa sawit yang terdekat yang terkenal sangat sukses dan sangat maju.
Papa jatuh cinta dengan mama pada pandangan pertama. Berbeda dengan Papa, Mama yang saat itu masih berpacaran dengan Om Hans tidak menaruh perasaan apapun terhadap Papa.
Karena dipaksa oleh orang tuanya, Mama akhirnya menyetujui untuk menikah dengan Papa karena takut dianggap sebagai anak yang durhaka. Papa senang dengan keputusan Mama, namun Mama sangat sedih.
Kesedihan Mama bisa dilihat dalam foto pernikahan Mama dan Papa, Papa terlihat amat bahagia bersanding dengan Mama yang mukanya ditekuk sebal tak ada senyum dalam setiap foto Mama.
Namun cinta itu bisa datang karena terbiasa. Papa yang memang mencintai Mama, berusaha bagaimana caranya untuk menarik hati Mama.
Berbeda dengan Mama, cerita yang Papa ceritakan kepadaku sangat berbeda jauh dengan apa yang Mama ceritakan. Menurut cerita Papa, Ia terus-menerus membuat hati Mama terketuk untuk mulai mencintainya.
Papa mulai berusaha dengan cara yang romantis. Ia benar-benar memperlakukan Mama seperti layaknya seorang putri. Namun, Papa beranggapan membahagiakan Mama memerlukan materi yang banyak sementara jabatannya sebagai Manajer Area tidak memungkinkan untuk memberi kebahagiaan Mama yang lebih lagi.
Mama yang lahir dari keluarga Wijaya sudah terbiasa dengan berbagai fasilitas mewah yang diberikan oleh orang tuanya. Namun perlahan hati Mama mulai tergerak melihat ketulusan yang Papa miliki.
Buah cinta mereka adalah lahirnya Richard dan aku. Papa masih berusaha bagaimanapun caranya tetap membahagiakan Mama meskipun keadaan perekonomiannya makin lama makin sulit karena Ia harus memenuhi gaya hidup Mama yang terbiasa mewah tersebut.
Sampai akhirnya, Kakek Kusumadewa meninggal dan mewariskan hartanya kepada anak-anaknya. Papa merasa, kalau perusahaan dipegang oleh kedua saudaranya maka dalam sekejap Perusahaan Kusumadewa akan hancur.
Kedua saudaranya tipikal pemboros dan suka berfoya-foya. Tidak mungkin kan Ia mau melepaskan perusahaan pada saudaranya yang seperti itu?
Lalu Papa pun mulai berambisius mendapatkan Perusahaan Kusumadewa, Papa mengakui itu. Bukan karena apa-apa, banyak karyawan yang bergantung hidup di Kusumadewa, dan Ia tidak rela membuat harapan mereka hancur hanya karena perusahaan dipimpin oleh orang yang tidak kompeten.
Papapun mulai mengambil alih perusahaan, membuatnya semakin maju dan kedua saudaranya hanya cukup menerima hasilnya saja. Tentunya dengan pembagian yang sesuai.
Kesibukan Papa membuat Ia mulai menjauh dari Mama. Ia pikir, dengan memberikan materi yang lebih banyak maka Mama akan semakin mencintainya, ternyata Ia salah.
Papa bilang kalau Mama mulai berselingkuh di belakanganya. Ia tahu karena tanpa sengaja memergoki Mama dengan Om Hans. Papa diam saja karena Ia ingin mempertahankan rumah tangga mereka.
Cerita Mama dan Papa sangat berbeda. Dari sudut pandang Mama, Papa jahat sampai mau menghancurkan perusahaan orang tuanya. Dari sudut pandang Papa, Mama harus Ia kekang agar jangan terbawa cinta sesaat dan melupakan anak-anaknya.
Mama dan Papa saling kecewa satu sama lain. Rasa cinta memudar dan berujung pertengkaran. Mama semakin melawan sampai Papa terpaksa membuat Mama menurut dengan mengancamnya akan membuat bangkrut perusahaan orang tuanya.
Papa membawa Mama pergi sejauh mungkin agar bisa lepas dari Om Hans, mantan pacarnya. Ternyata pertengkaran mereka tidak berkesudahan. Lama-lama Papa yang mulai tertekan dengan perusahaan dan tak kuasa menahan ulah istri yang membangkang akhirnya mulai berlaku kasar.
Kekerasan dalam rumah tangga, dimulai dari perilaku kasar yang diulang terus-menerus. Seperti sebuah candu, semakin sering dilakukan semakin membuat si pelaku tidak pernah merasa puas. Itulah kesalahan terbesar Papa.
Tanpa Papa sadari perasaan cinta yang awalnya ada di dalam hati Mama akhirnya hilang. Dan Papa yang memang sengaja mempekerjakan Om Hans malah berbalik menjadi senjata yang justru menyerangnya.
Tujuan Papa mempekerjakan Om Hans semata-mata hanya ingin Om Hans akhirnya melepaskan Mama dan lebih memilih untuk menjadi karyawannya yang setia. Penghianatan Om Hans dan Mama membuat hati Papa hancur, bahkan menurut Papa Ia hampir saja ingin bunuh diri di dalam penjara.
Papa bilang kedatanganku yang tetap setia berada di sisinya membuat Papa memiliki semangat hidup. Papa tidak mau membuat aku yang sedang hancur malah semakin hancur melihat keadaannya.
Papa berusaha bangkit dan mengikhlaskan kepergian Mama. Papa juga mulai berubah, perlahan Papa mulai menjadi Papa yang hangat. Papa yang dulu pernah Mama cintai.
Lagi-lagi seorang Dibyo Kusumadewa tidak bisa ditebak jika sedang merencanakan sesuatu. Contohnya saat ini, Ia sedang menghampiri mejaku dan Maya di kantin.
"Saya boleh gabung enggak disini?" tanya Papa berbasa-basi. Jawabannya pasti bolehlah. Mana berani kacung kampret seperti Maya and the genk menolak permintaan pemilik Kusumadewa Group?
"Boleh, Pak!" jawab Maya, Ana dan Aldi kompak. Aku hanya menggumam pelan saja agar tidak terlalu mencolok.
Papa lalu duduk di tengah. Kursi sendiri yang diapit aku dan Maya.
"Maaf ya saya mengganggu waktu makan kalian." kata Papa berbasa-basi.
"Oh enggak apa-apa kok, Pak. Kita malah seneng Bapak gabung sama kita disini." jawab Ana seakan sedang mencari perhatian Papa.
__ADS_1
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin. Banyak karyawan yang melihat ke arah tempat dudukku. Merasa heran melihat Papa yang biasanya killer sedang membaur dengan akrab pada kacung kampret macam kami.
"Kalian suka gak dengan menu makanan di kantin ini?" tanya Papa memulai percakapan.
"Suka, Pak." jawab Maya, aku dan Aldi singkat.
"Suka banget." ujar Ana.
Papa tersenyum senang mendengarnya. "Lalu menurut kalian Kusumadewa Group perusahaan yang kayak gimana? Kalian suka enggak kerja disini?"
Pandangan Papa melihat Maya, mantan menantunya yang paling menarik minatnya.
"Menurut Maya gimana?" tanya Papa langsung menyebut nama Maya.
"Hmm... Kusumadewa Group perusahaan yang saya impikan sejak dulu, Pak. Disini benar-benar memanusiakan manusia. Fasilitasnya benar-benar menunjukkan kalau perusahaan sangat memperhatikan karyawannya yang sejatinya adalah aset perusahaan itu sendiri." jawab Maya dengan lugas.
Papa hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban Maya. Sepertinya Ia puas dengan jawaban yang Maya kemukakan tersebut. Paduan kata yang Maya ucapkan, memanusiakan manusia sepertinya berkesan di telinga Papa.
"Kalian tahu kenapa saya lebih memilih gabung dengan kalian dibanding yang lain?" tanya Papa tiba-tiba disela makan kami yang makan dengan grogi, kecuali aku tentunya karena aku sih udah terbiasa makan dengan Papa satu meja.
Semuanya menggelengkan kepala kompak.
"Karena kalian bebas menyuarakan isi hati kalian tanpa beban. Mungkin di mata kalian saya ini owner, namun jiwa kalian masih bebas tidak seperti karyawan senior disini yang punya beban tanggung jawab di pundaknya. Yang menganggap saya sebagai orang yang killer, yang takut salah berkata,"
"Berbeda dengan kalian, jiwa muda kalian seakan tak takut ancaman. Kalau sampai dipecat tinggal cari yang baru, kalau senior kalian kan beda. Mau cari kerja dimana dengan usia segitu? Karena itu menurut saya jawaban kalian paling jujur."
Aku juga baru tau maksud Papa apa. Bener juga sih. Jiwa muda kami tidak takut diancam, tidak takut kehilangan.
"Kalian kira-kira bakalan betah enggak kerja disini?" tanya Papa lagi.
"Betah, Pak." jawab kami semua kompak.
Jawaban yang sudah Papa duga. Papa lagi-lagi tersenyum. "Ayo lanjutkan makannya. Nanti jam istirahat keburu habis."
"Tapi diantara kalian ada yang pernah menikah enggak sih?" tanya Papa tiba-tiba.
"Uhuk....uhuk...." Maya yang sedang makan tersedak mendengar pertanyaan Papa yang tiba-tiba tersebut.
Aku mengulurkan segelas air putih pada Maya. Ia menyambut gelas dariku dan meminumnya, sementara Ana membantu menepuk-nepuk punggung Maya.
"Ma...Maaf, Pak. Saya kaget Bapak tiba-tiba bertanya." ujar Maya setelah reda namun masih meneteskan air mata. Iyalah kan kalau tersedak rasanya pedas banget di hidung wajar kalau sampai keluar air mata.
"Oh tidak apa-apa. Justru saya yang kaget. Saya iseng aja nanya kayak gini padahal saya kan tahu kalian masih anak baru lulus kuliah, belum pernah menikah pastinya." sindir Papa.
Maya hanya tertunduk diam. Aku juga enggak ngerti apa maksud Papa.
"Saya harus pergi duluan ya. Kapan-kapan saya gabung lagi sama kalian." ujar Papa seraya menatap jam arloji di tangan kirinya.
Gayanya seakan sibuk dan banyak janji. Padahal mau main games The Sims tuh. Ah, dasar Gamers.
Papa lalu pamit dan meninggalkan meja kami. Disambut dengan helaan nafas lega dari Ana, Maya dan Aldi.
"Kamu kok tenang banget Leo? Enggak grogi apa?" tanya Ana yang sejak tadi terus memperhatikanku.
"Kenapa harus grogi? Kan kita sama-sama makan nasi, kalau Pak Dibyo makan orang baru deh aku takut." jawabku seenaknya.
"Ya kan beliau pimpinan disini. Kamu mah bener-bener cuek deh orangnya." gerutu Ana.
"Udah ya aku duluan juga. Mau ke kamar mandi dulu." aku lalu duluan meninggalkan mereka.
OB kepecayaan Papa sudah mengirimiku pesan kalau Ia sudah menaruh file di tangga darurat. Aku mengendap endap masuk ke dalam tangga darurat.
__ADS_1
Sudah ada berkas yang harus aku tanda-tangani. Sebelumnya semua berkas ini sudah aku periksa lewat email jadi hanya tinggal periksa sebentar lalu aku tanda-tangan. Sip! Kerjaan beres!
Aku baru saja hendak membuka pintu tangga darurat ketika kulihat Maya masuk. Kami berdua kaget. Maya menutup pintu darurat di belakangku dengan sorot mata menyelidik.
"Tuh kan sudah aku duga kalau kamu cuma beralasan aja ke kamar mandi padahal kamu di tangga darurat kan? Ayo ngaku, kamu habis ngapain?" selidik Maya.
Untung saja tadi berkasnya aku taruh 1 lantai dibawah lantai tempatku berdiri. Semoga saja Maya tidak turun ke bawah dan memeriksanya.
"Enggak ada apa-apa kok." jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
"Bohong! Pasti ada yang kamu sembunyiin kan?" Maya masih saja tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
Maya melirik ke belakang punggungku, mencoba mencari tahu sesuatu.
"Aku habis telepon orang." jawaban yang sama yang aku ucapkan tadi pagi saat Maya memergokiku keluar dari tangga darurat.
"Bohong!"
Aku mengeluarkan Hp dari saku celana dan menunjukkan histori teleponku. Memang tadi sambil memeriksa berkas aku menelepon OB kepercayaan Papa. Memastikan ada berapa banyak yang harus ditanda-tangani.
Maya memperhatikan histori telepon dan mencocokkan dengan jamnya. Terlihat aku tidak bohong. Namun mata Maya seperti membelalak kaget.
"Kenapa?" tanyaku mengambil alih Hp dan melihat apakah ada yang aneh dengan Hp-ku.
"Kenapa masih kamu pajang foto pernikahan kita? Dijadiin wallpaper lagi. Kalau ada yang ngeliat gimana?" Maya memberondongku dengan banyak pertanyaan.
"Oh kirain kamu kaget kenapa." aku memasukkan Hp ke dalam saku celana lagi dan bersiap keluar dari tangga darurat sebelum kantor ramai kembali oleh karyawan yang sudah selesai istirahat.
Maya mencegahku keluar dari tangga. "Hapus sekarang!"
"Enggak mau!" jawabku.
"Hapus enggak! Aku enggak mau yang lain sampai tahu! Aku mau memulai hidup baru!" terlihat Maya sudah mulai emosi.
Aku heran, apa salahnya sih memajang foto pernikahan di Hp milikku sendiri? Rumit memang pola pikir cewek!
"Ya terus masalahnya dimana? Toh aku enggak pernah bilang siapa-siapa kok kalau kamu mantan istri aku!"
"Kalau ada yang lihat gimana?"
Maya cuma mengulur waktu saja. Semakin lama aku di tangga darurat semakin menarik perhatian banyak orang. OB Papa juga belum mengambil berkasnya lagi! Kalau sampai hilang gimana?
"Nanti aku hapus. Udah cepetan aku mau keluar!" aku mencoba membuat Maya membiarkanku keluar namun Ia masih saja menghalangi pintu.
"Enggak mau! Hapus sekarang di depan aku! Kalau enggak aku enggak mau minggir!" ini nih sifat Maya yang aku sebal. Keras kepala.
"Kamu balalan nyesal May kalau enggak mau minggir!" ancamku berharap Maya akan takut dengan ancamanku.
Namun Maya lebih takut jika foto itu tersebar dibanding dengan ancamanku.
"Hapus dulu baru aku minggir!" ancam Maya balik tanpa gentar.
Aku menarik nafas dalam. "Aku udah peringatin kamu loh, May!"
Dan aku pun memajukan wajahku menatap wajah cantik Maya dengan bibirnya yang merona merah. Awalnya aku hanya mau mengancam saja namun entah kenapa tubuhku tak bisa diajak kompromi.
Dalam sekejap aku sudah mencium bibir Maya. Tangan Maya berusaha mendorong tubuhku menjauh namun bukannya menjauh aku malah mencium Maya makin dalam sampai akhirnya.
"Awwww!!!" aku melepaskan ciuman ketika kurasakan rasa sakit di juniorku.
Maya menendangku tepat di bagian masa depanku yang ternyata bereaksi saat menciumnya tadi. Maya lalu langsung keluar dari tangga darurat meninggalkanku yang kesakitan seorang diri.
__ADS_1
Tak apa May, balasan ini tak ada apa-apanya dibanding mencicipi bibir kamu tadi.
POV Leo End