Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Mencoba Saling Mengenal-1


__ADS_3

Cukup lama aku terdiam sambil tersipu malu. Ungkapan perasaan Leo benar-benar membuatku terbang melayang. Inginku percaya sepenuhnya, namun aku terlalu takut untuk terjatuh. Terlalu takut menghadapi cobaan seperti waktu itu.


"May." panggil Leo.


"Hmm."


"Apa kamu... Apa kamu masih mencintaiku?"


Deg....


Cinta?


Apa aku masih mencintai Leo?


Kalau deg-degan tiap dekat Leo sih masih.


Kalau tersanjung tiap Leo memujiku sih masih.


Kalau melihat Leo sih masih terlihat tampan di mataku.


Tapi apakah semua itu yang dinamakan cinta?


Apakah nantinya akan menyakitkan seperti dulu?


"May?" panggil Leo lagi setelah tak mendengar jawaban yang tak juga kuberikan.


Aku masih menundukkan kepalaku. Aku tak tahu jawaban apa yang harus aku belikan kepada Leo.


"Apakah kamu masih mencintai aku seperti aku yang tetap mencintai kamu May? Apakah kita masih mungkin untuk kembali lagi bersama?" pertanyaan yang Leo ajukan membuat mataku mulai memanas.


Dalam benakku terulang lagi memori saat kami menjalani kehidupan berumah tangga 2 tahun lalu. Kehidupan berumah tangga tanpa restu dari kedua orang tua. Apakah cinta saja cukup? jawabannya tidak!


Apakah cinta yang ada di dalam hatiku saat ini cukup kuat untuk menghadapi semua masalah yang nantinya akan menghadang seperti waktu itu?


Takut. Aku sungguh takut. Aku tidak berani menghadapi lagi kehidupan yang menyakitkan seperti waktu itu.


"Kamu nggak perlu jawab May. Aku tahu, kehidupan kita dulu amat menyakitkan. Jangankan kamu, aku juga takut menghadapi problematika seperti dulu,"


Aku mendengar Leo menghela nafas berat. Aku tahu apa yang dirasakannya. Kami sama-sama mengalami rasa sakit tentang pernikahan.


"Kalau boleh memilih, aku mau kita bertemu seperti sekarang May. Saat kita sudah lebih dewasa, saat kita sudah bekerja, saat kita bisa mempertanggung-jawabkan kesalahan kita. Bukan seperti dulu, masih anak bocah yang harus bergantung dengan orang tua,"


"Tapi aku nggak pernah menyesal pernah menikah dengan kamu. Ya walaupun pada akhirnya aku yang sudah merusak pernikahan kita, aku enggak pernah menyesalinya. Kita ngalamin masa-masa susah bareng. Kita ngalamin puncak keegoisan kita dan kita juga ngalamin rasanya berbagi dalam ketidakmampuan kita. Sedih dan duka kita jalanin bersama. Mungkin memang sudah takdirnya ya kita harus berpisah."


Air mataku akhirnya tak kuasa untuk kubendung. Setetes.... lalu setetes... Air mata itu mulai menetes dari pelupuk mataku. Cepat-cepat aku mengambil tisu dan menghapusnya.


Aku tahu saat ini pasti Leo sedang menatapku. Entah Ia akan senang atau sedih melihat aku menangis saat terkenang kisah kita dulu.


"Pagi." sapa Kak Fahri yang baru saja datang.


"Pagi." jawabku dan Leo kompak. Untunglah aku sudah menghapus air mataku jadi Kak Fahri tidak curiga.


"Kalian berdua rajin ya pagi-pagi udah dateng. Kita masuk setengah 9 loh sebenarnya. Bukannya jam 8. Kalian udah dateng dari jam berapa?" tanya Kak Fahri dengan riang, sepertinya Ia amat bahagia hari ini. Apa karena hari jumat ya jadi suasana hati orang ikut bahagia juga?


"Jam setengah 8, Kak. Udah biasa datang pagi." aku tau Leo bohong. Aku yang datang jam setengah 8 pagi, Leo pasti lebih pagi lagi dari jam itu.


"Kalau masih baru sih kayak gitu ya. Nanti juga kalau udah agak lama di bagian ini kalian datangnya akan mepet. Contohnya senior kalian tuh si Anggi, kalau datang udah mepet banget. Telat dikit aja langsung deh absennya merah."


"Apaan nyebut-nyebut nama aku? Aku sekarang udah jarang dateng mepet tau!" ujar Ka Anggi yang baru saja datang dan sudah mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.


"Tumben banget jam segini udah datang. Enggak lari-larian di tangga darurat?" sindir Kak Fahri.


"Gila kali ya naik tangga darurat sampai ke lantai ini. Bisa berkonde betis aku nanti."


Kak Fahri dan Kak Anggi masih sahut-sahutan. Aku sudah tidak mengikutinya lagi. Aku asyik dengan pemikiranku sendiri.


Aku berusaha fokus dengan pekerjaanku dan tidak memikirkan perkataan Leo tadi. Sampai akhirnya aku berhasil menyelesaikan semua pekerjaanku dengan baik. Itu namanya profesionalitas.


Aku membawa nampan berisi makan siangku menuju tempat yang sudah Ana dan Aldi duduki.


"Hai!" sapaku.


"Leo mana May?" Ana langsung menanyakan keberadaan Leo.


"Nyusul katanya. Kerjaannya masih banyak. Enggak tahu deh ngerjain apaan." jawabku dengan ketus.

__ADS_1


Aku sebal, Kenapa sih Ana selalu menanyakan tentang Leo? Kelihatan banget kalau lagi pdkt deh. Leo nya juga sih, kebanyakan ngasih harapan sama Ana. Jadi besar kepala deh tuh anak.


"Besok jadi enggak nih kita?" tanya Aldi membuat ketegangan antara aku dan anak mencair.


"Jadi ngapain?"


"Ya ampun May kamu lupa? Kita kan udah janjian mau nongkrong besok di cafe." sekarang gantian Ana yang menjawab pertanyaanku dengan ketus. Oh.... gitu, sekarang main balas-balasan nih ceritanya? oke!


"Lagi ngebahas apa nih?" tanya Leo yang tiba-tiba sudah muncul dengan membawa nampan makan siangnya dan duduk disampingku.


"Akhirnya kamu datang juga Leo. Kita lagi ngebahas tentang rencana kita besok yang mau nongkrong di cafe. Kamu masih ingat kan? Masa sih Maya bisa lupa?" Ana mengadukanku pada Leo dengan suaranya yang manja dan dibuat-buat.


Ih aku sebel banget kalau ada orang yang mulut dan hatinya tidak sama. Kenapa Ana sifatnya sekarang kayak begitu ya? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Dulu waktu awal-awal kenal dia terlihat manis. Kenapa bisa jadi kayak gini?


"Mungkin Maya lupa. Aku juga lupa kok. Maklum saja, kerjaan kami di bagian audit kan banyak banget." ujar Leo membelaku.


"Sudahlah yang penting besok jadi apa enggak nih?" tanya Aldi menengahi.


"Jadi dong!" sahut Ana dengan penuh semangat.


"Jam berapa nih kita ketemuannya? Pagi?" tanya Aldi.


Aku tidak menanggapi obrolan mereka, hanya mendengarkan saja tapi tidak benar-benar mengikuti. Aku fokus dengan makan siangku.


"Aku enggak bisa pagi." jawab Leo.


Dasar bocah, ngapain juga pagi-pagi udah nongkrong di cafe? Kayak enggak ada kerjaan aja! Untung saja Leo menolak ketemuan pagi-pagi.


"Siang aja gimana? Nanti dari cafe kan kita bisa lanjut kemana gitu." usul Aldi.


"Boleh juga. Kamu setuju enggak Leo?" tanya Ana dengan suara manjanya yang nyebelin.


"Kamu mau ikut enggak May?" loh kok Leo malah nanya aku sih?


"Enggak." jawabku singkat.


"Kalau gitu aku juga enggak ikut." jawab Leo.


Aku langsung mengangkat wajahku dan melihat ke arah Leo. Wah bisa dianggap provokator nih kalau rencana gagal gara-gara aku enggak ikut.


"Enggak ada apa-apa kok diantara aku dan Leo. Iya kan Leo?" aku memberi kode pada Leo dengan menendang kakinya namun sepertinya Leo tidak sependapat dengan ideku.


"Antara aku dan Maya memang ada apa-apa kok. Maya itu sebenarnya.... mantan istri aku." aku langsung menatap Leo tak percaya. Bagaimana bisa Ia mengungkapkan fakta hubungan kami semudah itu? Gila ini sih! Susah payah aku sembunyikan eh dengan mudahnya Leo mengungkapkannya.


Aldi dan Ana saling bertatapan lalu mereka berdua malah tertawa terbahak-bahak.


"Wahahahahaha.... Bisa aja kamu Leo. Ngarang bebas banget!" ujar Aldi disela derai tawanya.


"Kayak enggak ada karangan lain aja." sahut Ana.


"Memang Leo suka agak gila!" aku ikut berkomentar agar yang lain tidak curiga.


"Sudah... sudah... Sekarang serius. Ayo dong kita nongkrong." Aldi mengajak kami kembali ke topik bahasan sebelumnya. "Ayo, May!"


"Hmm.... Oke deh aku ikut. Tapi jangan di Kemang sih. Males banget terlalu banyak yang nongkrong." usulku.


"Blok S aja gimana? Aku ikut kalau di Blok S." sahut Leo. Tuh kan nih anak ngikutin aja. Gimana yang lain enggak tambah curiga coba?


"Boleh deh di Blok S asalkan Leo ikut." ujar Ana dengan nada manjanya yang menyebalkan sekali.


"Kamu bisa jemput aku enggak Leo?"


"Enggak bisa. Aku ada urusan besok dekat rumah Maya. Mau bareng gak May?" tuh Leo mulai nyerempet-nyerempet bahaya lagi.


Kini semua mata tertuju padaku. Aku melihat Ana menatapku dengan sebal, entah kenapa kok aku senang ya. Tapi pikir panjang aku pun mengiyakan ajakan Leo.


"Boleh deh. Males naik kopaja siang-siang." jawabku sambil menyunggingkan seulas senyum tanpa dosa.


"Oke. Deal ya. Kita ketemuan di Blok S jam 11 siang." kata Aldi.


"Oke."


*****


Sabtu pagi seperti biasa aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Adam. Kemarin sepulang kerja aku sempatkan mampir terlebih dahulu di salah satu tukang kembang langgananku. Untungnya aku dijemput sama Angga jadi aku bisa berhenti sebentar. Kalau naik Kopaja tidak bisa berhenti dulu, aku terpaksa harus membeli kembang di dekat pasar. Males juga sih jalannya.

__ADS_1


Aku sudah mengenakan pakaian serba hitam dan memakai pashmina warna hitam juga. Jam 8 pagi aku rasa waktu yang tepat untuk pergi ke makam. Aku berjalan pelan sambil sesekali menikmati panas matahari yang terasa menyehatkan di kulitku.


Langkahku pun berbelok ke suatu area pemakaman dan langsung menuju ke blok tempat Adam beristirahat untuk selamanya. Mataku memicing ketika melihat ada seseorang yang sedang berjongkok di dekat makam Adam.


Mendengar ada langkah yang mendekat, orang tersebut pun berbalik badan. Ternyata Leo yang sedang mendoakan Adam dengan matanya yang memerah sehabis menangis.


Hatiku mencelos melihat pemandangan di depan mataku saat ini. Rupanya Leo masih mengunjungi makam anaknya.


"Hi May!" sapa Leo dengan suara seraknya. Suara khas sehabis menangis. Serak-serak seksi, loh kok? Sadar May! Sadar!


Aku hanya menjawab dengan seulas senyum. Aku langsung menghampiri makam Adam. Membacakan doa lalu menyapanya seperti biasa.


"Hi Sayang! Mama datang! Kamu kangen sama Mama enggak? Mama kangen sama kamu!" aku mengusap-usap batu nisan Adam, membayangkan mengusap kepalanya dengan penuh kasih.


"Kamu bahagia ya Sayang disana. Mama akan selalu mendoakan kamu." aku menghapus air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mataku. Tak membiarkannya jatuh ke tanah.


Konon kata orang tua, kalau di makam jangan sampai menangis dan jangan sampai air mata yang terlanjut keluar sampai menetes di tanah makam orang tersebut, karena akan membuat orang yang dikubur merasa sedih di alam sana.


"Papa juga akan selalu mendoakan Adam. Maaf Papa baru beberapa kali kesini. Adam pasti tau kan Papa sebenarnya sayang sama Adam. Kalau saja Papa bisa mengulang waktu, Papa pasti akan menjaga Adam lebih ketat lagi. Maafin Papa ya sayang...." Leo masih menangis sesegukan.


Sepertinya Leo tak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Aku saja sudah tidak pernah lagi menyalahkan Leo atas semua yang terjadi. Lama kelamaan aku belajar ikhlas menerima kepergian Adam.


"Sudahlah. Jangan terus ditangisi. Kasihan Adam."


Aku mengambil bunga mawar yang kubawa lalu menaburkannya diatas makam milik Adam. Tak lupa air mawar untuk membersihkan batu nisannya dan disiramkan ke sekeliling tanah makamnya.


"Kamu masih mau disini? Kita kan janjian pergi jam 12. Mau mampir ke rumahku dulu?"


Leo seperti mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya mengiyakan ajakanku.


"Aku ke rumah kamu dulu deh. Tapi nanti sebelum berangkat kita mampir ke rumah Papa dulu ya. Aku mau ganti baju dulu."


Aku mengernyitkan kening, ke rumah Papanya Leo? Aku? Dulu aja aku ditolak, apalagi sekarang?


"Aku nunggu di dekat rumah kamu aja deh." tolakku.


Seakan bisa membaca kekhawatiranku, Leo lalu menenangkanku. "Tenang aja. Enggak ada siapa-siapa di rumah. Papa lagi jenguk kakakku di pusat rehabilitasi. Sebentar aja. Gimana?"


"Baiklah."


Kami lalu pergi ke rumahku. Leo asyik bermain hp di ruang tamu sementara aku mencuci muka lalu berganti baju. Enggak mungkin kan nongkrong pakai pakaian kayak mau ke makam?


Jam 10 pagi. Masih sempat kalau mau ke rumah Leo dulu.


"Ayo." ajakku.


"Cantik banget sih." puji Leo. "Jadi pengen..."


"Udah jangan macem-macem! Cepetan jalan!"


"Hehehe.... Ayo." Leo mengu lum senyumnya. Aku lalu mengunci pintu dan mengikuti Leo ke tempat Ia menitipkan motornya di warung Pak Husin.


Leo menyerahkan helm baru untukku. "Aku beli baru khusus buat kamu!"


Leo tersenyum sambil memakaikanku helm. Aku lalu naik ke atas motor Aerox miliknya. Motor baru yang jarang Ia bawa ke kantor.


Leo lalu mengemudikan motornya dan berbelok ke suatu komplek perumahan mewah di daerah Pasar Minggu. Deretan rumah-rumah mewah nan megah berjejer di kiri dan kanan jalan dengan indahnya.


Aku pikir Leo hanya motong jalan saja, ternyata Leo berhenti di salah satu rumah mewah bercat putih dengan pagar yang menjulang tinggi. Ia membunyikan klakson dan tak lama seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya.


Tunggu, beneran nih ini rumah Leo? Ah pasti bukan deh.


"Papa belum pulang kan Bi?" tanya Leo pada asisten rumah tangga yang sudah agak tua tersebut.


"Belum, Den."


Aku turun dari motor masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Leo menghampiriku dan membukakan helm untukku.


"Den, ini..... Neng ini yang ada di foto di kamar Aden kan?" tanya Bibi sambil tersenyum hangat dan kubalas dengan senyuman lagi. "Cantik banget, Den."


"Iya, Bi. Ini Maya. Mantan istri saya. Sebentar lagi juga jadi istri saya lagi." jawab Leo sambil meloyor masuk ke dalam rumah.


Tunggu... Apa-apaan ini? Jadi istri Leo lagi?


Deg... deg....

__ADS_1


Deg.... deg.....


__ADS_2