Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Siapa Takut?


__ADS_3

Tidak tega rasanya harus berkata tegas dengan Angga. Terlepas dari sikap Mamanya yang sueper nyebelin, Angga tidak salah.


Berteman dengan Angga selama 2 tahun lebih membuatku lebih mengenal pribadinya yang pintar dan baik hati. Terkadang usil dan sedikit manja.


Tapi aku tetap tidak bisa membuka hatiku untuk Angga. Sekeras apapun Angga berusaha, tidak ada nama Angga dalam hatiku. Bagaikan menulis diatas air, usaha Angga sia-sia.


Aku harus tegas. Aku harus tegas. Aku harus tegas. Aku terus mengingatkan diriku dari kelemahanku yakni tak bisa melihat orang lain bersedih.


Ibu bilang kalau hatiku lembut. Melihat kucing melahirkan saja aku sampai nangis karena tak tega. Padahal tuh kucing juga ngelahirin akibat habis enak-enak sama kucing tetangga diatas loteng sampai membuat rumah kami bocor. Dahsyat banget kayaknya tuh enak-enak, enggak mikir kalau biaya nambal rumah tuh mahal!


Pagi ini pun seperti itu. Hatiku mulai dialiri perasaan tidak enak. Perasaan bersalah. Enggak tegaan.


Apalagi saat melihat raut wajah Angga yang langsung murung dan seperti mengibarkan bendera kalah.


Aku hanya bisa menjanjikan untuk tetap bersahabat dengannya sebagai suatu penghiburan agar hatinya tidak terlalu terluka.


Kenapa lemah sekali sih sebagai seoranh cewek? Bukan lemah, tapi ini lebih berempati. Coba bayangkan jika berada di posisi Angga. Dua tahun menemaniku kuliah, rela mobilnya rusak karena dipakai aku untuk belajar, mensubsidi makan dan jajan selama di Bandung eh ujung-ujungnya ditolak.


Kasihan. Enggak tega kalau semakin menyakitinya.


Ditolak saja hatinya sudah hancur apalagi kalai sampai berkata jahat lagi?


Mamanya Angga memang kejam dan jahat, namun Angga tidak. Aku bisa makan banyak es krim dan cokelat di masa susah dulu juga karena ada andil Angga di dalamnya.


Aku mengulurkan tanganku. "Sahabat?"


Aku tak berharap Angga akan menyambut tanganku. Yang penting Angga tidak terlalu terluka.


Agak lama aku mengulurkan tanganku sampai pegal rasanya. Akhirnya aku berinisiatif menarik uluran tanganku dan memasang senyum baik-baik saja padahal kesal juga dicueki seperti itu.


"Aku berangkat kerja dulu ya." aku menepuk bahu Angga lalu berjalan meninggalkannya yang masih terdiam di depan rumah kontrakkanku.


Aku melirik ke belakang, memastikan Angga baik-baik saja. Takut saja kalau Angga sampai bunuh diri. TKPnya depan rumah kontrakkanku soalnya.


Angga masih diam saja. Aku melanjutkan langkahku menuju kantor. Sekarang tinggal fokus pada Leo.


Leo sudah stand by depan komputer. Menyelesaikan tugasnya sebagai Mr. So.


"Pagi." sapaku saat masuk ke dalam ruangan.


"Pagi. Tumben udah jam 8 lewat baru datang. Udah mulai males kerja ya ngikutin seniornya?" tanya Leo setengah meledek.


"Ada yang menjegal saat keluar rumah." aku menaruh tas dan menyalahkan komputerku.


"Siapa? Angga?" tanya Leo penasaran.


"Iyalah, siapa lagi?" aku mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya. Semakin siang kopaja semakin padat saja. Mana tadi enggak kebagian duduk. Huft... Beli Mercy juga nih!


"Mau ngapain Dia? Mau nganterin kamu? Kalau dilihat dari ekspresi kamu saat ini mah kayak lagi kecapean habis naik kopaja bukannya duduk manis diatas mobil mewah." sindir Leo.


"Tuh udah tau jawabannya. Udah ah katanya enggak boleh bahas dia lagi!"


"Iya enggak bahas lagi. Tapi penasaran. Dia mau ngapain?" Leo melirik sekilas ke arahku dan langsung tertangkap basah olehku. Leo salah tingkah dan pura-pura mengetik di komputernya.


"Mau minta maaf." jawabku singkat.


"Lalu?" masih penasaran dia.


"Kepo!" aku pun tertawa terbahak-bahak. Apalagi kalau liat ekspresi Leo yang sebal dengan sikapku.


"Rese ya?!" gerutu Leo.


"Ish... Siapa duluan yang rese?"


"Kamu-lah." tunjuk Leo.


"Kamu."


"Kamu."


"Kamu."


"Kamu."


"Kamulah satu-satunya yang ternyata mengerti aku... Maafkan aku selama ini... Yang sedikit melupakanmu." aku menutup perdebatan dengan nyanyianku yang sumbang.


Leo tertawa melihat ulahku. "Ish gangguin orang kerja aja. Aku lagi ngebut nih. Nanti kita sambung lagi becandanya."


Leo fokus lagi dengan kerjaannya. Sepertinya memang banyak kerjaan karena jam segini belum selesai. Padahal yang lain sebentar lagi akan datang.


"Ada yang mau aku bantu enggak? Ada yang mau ditaruh di pantry bawah enggak?" tanyaku menawarkan bantuan.


"Beneran mau bantu?"


Aku mengangguk. "Iya."


Leo menyerahkan beberapa berkas padaku. "Jangan sampai kelihatan sama yang lain ya."


"Siap Bos!" jawabku sambil membawa berkas yang Leo minta.


"May!" panggil Leo sebelum aku melangkah meninggalkan ruangan.


"Kenapa?" Aku berhenti untuk mendengar perkataan Leo.


"Makasih." Leo tersenyum.


"Oke." jawabku sambil melirik kanan kiri memastikan tak ada yang melihat lalu masuk ke tangga darurat.


Aku menuruni tangga darurat dan masuk ke dalam pantry di lantai bawah. Menaruh di tempat yang kemarin Leo tunjukkan lalu balik lagi ke lantai atas.


Saat aku keluar dari tangga darurat ternyata aku tertanggap basah berpapasan dengan Ana.

__ADS_1


"Habis dari mana kamu May?" tanya Ana dengan penuh curiga.


"Hmm..." mikir cepat May. Harus kasih alasan yang masuk akal sama si cewek rese ini. "Tapi kamu jangan bilang siapa-siap ya." aku menurunkan suaraku lebih ke setengah berbisik.


"Iya. Ada apa?" tanya Ana penasaran.


"Aku habis ken tut di tangga darurat. Aku lagi sembelit jadi pengen buang gas yang kenceng biar lega. Nah sekarang udah lega deh. Kamu jangan masuk ke dalam dulu ya takut masih bau." aku lalu berjalan menuju ruanganku.


"Ih jorok kamu May!" teriak Ana.


Ah masa dibohongin sama si oon ini percaya? wuahahahaha..


"Heh ketawa-ketawa sendirian! Ngetawain apa sih?" tanya Richard yang sudah nongkrong di depan meja Leo.


"Richard... Mantan Kakak Iparku tersayang!" aku beneran bahagia melihat kedatangan Richard.


"Oh adik iparku tersayang! Sini peluk Kakakmu, Nak!" balas Richard tak kalah lebay dariku. Richard lalu bangun dan beradegan slow motion seperti berlari dan hendak memelukku.


"Heh! Ngapain pake peluk-pelukan segala! Mesum banget sih di kantor!" omel Leo yang menarik kerah baju Richard sampai Ia duduk kembali di kursinya.


"Ah merusak suasana aja nih orang!" gerutuku.


"Ish! Gimana berkasnya? Aman enggak? Ada yang lihat enggak?"


"Aman! Eh tapi pas keluar dari tangga darurat ketahuan sama Ana."


"Terus gimana?" tanya Leo.


"Ya Ana curiga terus nanya aku habis ngapain." aku duduk di kursiku dan meninju pelan bahu Richard sebagai tanda selamat datang. "Oleh-oleh mana?"


"Nih, cinta." ucap Richard yang membuatku tertawa geli.


"Ih malah saling ngegombal. Terus Ana gimana?" Leo masih penasaran dengan jawabanku.


"Ana udah beres. Udah enggak curiga dia."


"Memangnya kamu bilang apa sama Ana?" tanya Richard yang juga penasaran.


"Ih kepo juga!" ledekku.


"May!" kata Leo dan Richard kompak.


"Sabar atuh. Aku bilang dari kemarin aku sembelit. Aku ke tangga darurat mau ken tut yang kenceng. Aku bilang aja jangan masuk dulu soalnya masih bau." aku memasang senyum dan bangga akan ulahku.


Leo dan Richard saling tatap lalu. "Buahahahahahahahahahaha...."


Richard tertawa sambil memegangi perutnya sementara Leo sambil mengusap air matanya.


"Gila kamu May! Cerdas banget!" puji Leo.


"Iya. Pinter kamu May. Aku aja sampai enggak kepikiran!" puji Richard.


****


Richard menatap tidak suka ketika Lidya duduk di sebelah Leo. Lagi-lagi Leo diapit Ana dan Lidya sementara Maya diapit Richard dan Aldy. Keadaan yang sangat absurd.


"Loh kok ada Richard?" tanya Lidya yang terlihat heran dengan kehadiran Richard di tengah mereka.


"Richard memang kerja disini kok, Lid. Kemarin Richard lagi keluar kota." kata Leo menjelaskan.


"Hi Lid!" sapa Richard dengan nada cool.


"Lama enggak ketemu, Cat. Kamu terlihat lebih segar dan bahagia kayaknya." jawab Lidya seakan semua baik-baik saja.


Aku tau dari cerita Leo kalau Lidya tidak pernah menyukai Richard. Padahal Richard cinta mati sama Lidya. Kasihan Richard, sebagai mantan adik iparnya kayaknya aku harus membantunya deh.


"Mana oleh-olehku?"


"Ada dong!" jawab Richard.


"Memangnya ada acara bagi-bagi oleh-oleh?" tanya Ana ingin tahu.


"Enggak ada sih. Cuma buat Maya seorang." ujar Richard.


"Maacih Kakakku tersayang." sahutku.


"Sama-sama adinda."


"Kakanda."


"Stop! Kalian kenapa sih dari tadi? Bikin aku mual saja ngelihatnya!" gerutu Leo.


"Ngiri bilang Bos!" ledek Richard.


"Tunggu deh. Kok kamu sekarang beda banget sih Cat? Sejak kapan kamu bisa becanda bebas kayak gini?" tanya Lidya yang mulai terpancing.


"Kakandaku memang kayak gini. Iya kan Kakanda?" aku yang menjawab pertanyaan Lidya.


"Sejak kenal Adinda, Kakanda jadi seperti ini. Adinda merubah segalanya." Richard ikut berimprovisasi.


"Cat! Ah elah! Geuleuh tau ngeliatnya!" omel Leo lagi.


Ih Leo mah enggak bisa diajak kerjasama! Udah tau aku lagi bantuin Kakaknya! Protes melulu nih kerjaannya!


"Biarin aja lagi Leo. Mereka tuh kayak ada chemistrynya kayak kita berdua." kata Lidya.


Loh kok malah Lidya makin agresif nih? Richard menyikut lenganku. Memberi kode kalau rencana awal gagal.


"Kita memang ada chemistry tapi sebagai adik kakak. Kalau Lidya sama Leo chemistrynya adik kakak juga kayak kita berdua ya?" aku mencoba membalikkan lagi keadaan seperti semula.


"Kalau kita berdua chemistrynya sebagai sahabat. Iya kan Lid?" aku bisa bernafas lega karena Leo ternyata mulai mengerti maksud dan tujuanku sebenarnya apa.

__ADS_1


"Heh... Iya." jawab Lidya kikuk.


"Richard, aku sama Aldi enggak dibeliin oleh-oleh nih?" tanya Ana dengan nada manjanya.


"Ada kok buat kamu." jawab Richard.


"Apaan?" tanya Ana penasaran.


"Permen Kojek." semua yang ada di meja makan pun tertawa dengan gurauan receh yang Richard buat.


"Ih Richard jahat!" gerutu Ana malah membuat semuanya makin tertawa.


Setelah semua tertawa aku membisikkan sesuatu di telinga Richard. "Cat, kamu harus jual mahal. Jangan kelihatan sedang mengejar Lidya. Aku bakalan bantuin kamu."


"Oke." Richard mengacungkan jempolnya.


"Kalian ngapain sih? Pake bisik-bisik segala?" lagi-lagi Ana yang kepo.


"Ini Maya lagi bisikin ke aku, katanya ngasih oleh-olehnya nanti aja jangan di depan yang lain. Takut dimintain katanya." jawab Richard.


"Ih kamu pelit ya May." ledek Aldi.


"Hehehe... begitulah." aku melirik ke arah Leo yang hanya geleng-geleng kepala saja.


"Richard sekarang berubah ya. Beneran deh, lebih ke jadi diri sendiri apa adanya gitu. Enggak jaim kayak dulu." Lidya lalu mengeluarkan pendapatnya tanpa diminta.


"Ah masa sih? Richard sejak dulu memang seperti ini kok. Kamu aja yang belum mengenal Richard lebih jauh Lidya." sahutku. Daripada Richard menjawabnya dengan gelagapan lebih baik aku saja yang menyambarnya.


"Iya nih. Kayaknya aku memang perlu lebih dekat mengenal Richard deh. Kalau Richard kayak gini sih lebih seru daripada Leo. Tuh lihat aja Leo, mukanya jutek terus." sindir Lidya.


"Iyalah, aku kan enggak menebar senyum ke semua orang. Senyumku hanya untuk 1 orang." Leo menatapku sambil tersenyum.


Aku lalu menunduk dan menyembunyikan wajahku yang malu-malu kucing.


"Cie.... Siapa tuh? Pasti Ana kan!" ujar Ana dengan penuh percaya dirinya.


"Ih pede banget kamu Na." celetuk Richard.


"Ih Richard mah! Iyain aja sih!" omel Ana.


Kami pun menertawakan ulah Richard dan Ana yang bertengkar terus bak Tom and Jerry.


****


"Kamu tadi kompak banget sama Richard, May." ujar Leo yang baru kembali ke ruangan setelah menandatangani berkas di pantry.


"Iya dong. Kan sekali tepuk dua lalat bisa kena." jawabku santai sambil memainkan Hp. Membaca Instagram akun gosip dan langsung baca kolom komentar. Netijen Indonesia memang paling hebat menurutku. Lebih seru baca komentar dibanding beritanya. Kayak Netijen yang paling tahu segalanya.


"Maksudnya?" tanya Leo yang kini sedang duduk santai di kursinya.


"Iya. Bantuin Richard PDKT dengan Lidya."


"Lalu satunya lagi?"


"Ya jauhin Lidya dari kamu lah. Kalau Richard berhasil dapetin Lidya kan otomatis Lidya akan menjauhi kamu."


Aku melirik ke arah Leo dan melihatnya bukan hanya senyum tapi tertawa melihat ulahku.


"Memangnya kenapa kalau aku deket sama Lidya?" ini pertanyaan mengetes namanya.


"Ya enggak suka lah. Aku C E M B U R U! Puas?"


Leo malah tertawa makin keras.


"See? Senyum dan tawa kamu hanya untuk aku orang." kataku penuh percaya diri.


Leo makin tertawa lebar.


"Udah berani speak up nih ceritanya?" ledek Leo.


"Iya dong. Kalau enggak berani speak up nanti banyak yang kecentilan sama kamu! Kamu sih memang kesenengan digodain banyak orang!"


"Cemburu nih ceritanya?"


"Iyalah. Pake ditanya lagi!"


"Nah gitu dong. Kan aku senang dengernya! Coba kamu dari dulu kayak gitu. Jadi makin cinta deh aku sama kamu!" Leo menopang wajahnya dengan kedua tangannya dan terus menatapku.


"Memangnya sekarang enggak cinta gitu?" tanyaku balik.


"Cinta sih tapi...."


"Tapi apa?"


"Tapi...." Leo menggantung perkataannya.


"Ih! Tapi apa enggak!"


"Tapi.... Sekarang makin cinta lagi deh." awww... pengakuan cinta bukan yang pertama namun masih berhasil membuat hatiku berbunga-bunga.


Aku menutup wajahku karena malu. Pasti mukaku kayak kepiting rebus deh.


"Jadi...."


"Jadi apa?" kataku sambil menyembunyikan wajahku dibalik kedua tanganku.


"Jadi kita rujuk nih?"


"Siapa takut!" jawaban yang membuat Leo makin tertawa bahagia.


*****

__ADS_1


__ADS_2