Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
We Time


__ADS_3

Kartu berwarna hijau bertuliskan dana umum terletak di tengah. Bertumpuk. Kalau kartu dana umum di monopoli aku biasa saja. Tidak tegang seperti ini.


Tapi kartu ini berbeda. Bentuknya saja yang sama tapi tulisan di dalamnya sudah dicoret dan diganti dengan perintah yang baru. 16 kartu. 8 kartu isinya bagus dan 8 lagi isinya apes.


Kartu yang Leo dapat entah masuk kategori mana. Bagus di Leo namun apes padaku.


"Ayo dong Sayang dibuka. Aku kan penasaran." senyum seringai terpasang di wajah Leo.


Huft... Bagaimana mungkin kamu penasaran? Kamu pasti sudah tau apa saja perintah yang akan aku dapat.


Pelan-pelan aku membuka kartu di depanku. Senyum di wajah Leo tak pudar sedikitpun. Sambil menarik nafas aku membaca perintah yang Leo tulis.


Silahkan pilih, mau cium lawan atau duck face selama 5 menit.


"Ini perintah macam apa? Kenapa selalu ada perintah cium?" aku menunjukkan kartu yang kudapat pada Leo.


"Oh itu kan kartu buruk. Tapi karena aku baik jadi aku pilih yang tidak memberatkan kamu. Jadi kamu pilih yang mana?" Leo menaik turunkan alisnya, merasa menang. Ah tau kayak gini tadi aku kerjai saja dia sekalian. Eh tapi kalau aku yang dapet kartunya, malah jadi bumerang nanti buatku.


Hmm... Pilih mana ya? Jangan sampai membuat Leo merasa menang. Oke, aku pilih...


"Aku milih duck face aja. Lima menit."


Leo agak kecewa dengan keputusanku. Ia kemudian melihat jam di pergelangan tangannya dan mulai berhitung. "Yak... Dimulai dari sekarang!"


Aku memanyunkan bibirku layaknya duck face. Sambil menahan tawa Leo kembali melempar dadu. Keluar 9 langkah, Ia membeli rumah dan hotel di tanah tersebut.


"Sekarang gantian kamu!" Leo memberi ember kecil dan dadu untuk kulemparkan.


"Ieeya." jawabku masih dengan bibir dimanyunkan. Leo tak kuasa menahan tawanya melihat mukaku saat ini. Pasti jelek banget deh!


"Jengen kebeyeken ketewe. Pegel ini teu." omelku. Susah ternyata ngomong sambil manyun begini. Huruf a malah dibaca e.


"Ha...ha...ha... Ada pilihan yang gampang kenapa malah pilih yang susah sih Sayang? Coba kalau pilih nyium aku, pasti udah selesai hukumannya." puas sekali Leo menertawakanku.


Lihat saja nanti. Susah soalnya ngomel-ngomel kalau kayak gini. Sabar... sabar...


Aku gantian melempar dadu. Aku berhenti di negara Afrika. Salah satu komplek mahal. Aku beli hotel dan rumah disana. Lihat saja kalau kamu sampai kena, Leo. Bakalan miskin mendadak kamu!


"Yah.... Amsyong deh kalau aku kena disana." gantian aku yang tersenyum licik.


"Udah kan 5 menit? Curang ih enggak kasih tau! Pegel tau!" akhirnya hukumanku hilang. Jangan sampai deh dapet kartu dana umum buatan Leo lagi. Apes.


Keberuntungan kembali berpihak padaku. Dadu yang Leo gulingkan berhenti di kesempatan.


"Yess! Ayo dibuka!" kataku seraya tersenyum jahil.


"Tenang... Jiwa jahil kamu tuh enggak ada apa-apanya dibanding aku!" Leo membusungkan dadanya dengan sombong.


"Dih! Kita lihat aja nanti!"


Benar saja, senyum di wajah Leo menghilang. "Kamu yakin mau aku melakuin ini?"


Pasti kartu apes yang Leo dapet. Baguslah.


"Iya dong!" jawabku yakin. "Ayo buka isinya apa!"


Leo membuka kartunya. Tulisan tanganku yang amat kukenali.


Menyanyikan lagu potong bebek angsa sambil joged dangdut.


"Yess! Mamam... Ayo cepet lakuin."


Leo menghela nafasnya. "Ganti cium kamu aja ya? Aku enggak bisa joged dangdut. Beneran deh!"


"Enggak bisa!" aku menolak negosiasi yang Leo lakukan tanpa pikir panjang.


"Ih curang! Aku aja kasih pilihan tadi sama kamu!" Leo mulai merajuk manja.


"Bodo amat! Tadi tuh bukan pilihan. Tapi maksa buat dicium. Udah cepetan joged!"


Dengan malas Leo turun dari tempat tidur dan mulai berjoged sambil bernyanyi.


๐ŸŽถPotong bebek angsa


Masak di kuali

__ADS_1


Nona minta dansa


Dansa empat kali


Sorong ke kiri


Sorong ke kanan


Lalalalalalala...๐ŸŽถ


Tak henti-hentinya aku tertawa terbahak-bahak melihat Leo berjoged. Lucu banget. Mukanya yang terpaksa membuat makin lucu saja.


"Udah kan? Lihat nanti ya!"


"Ih... takut! Tapi boong ha...ha...ha..." aku merasa diatas angin sekarang. Enggak sia-sia ternyata aku bikin ide gila. Bisa bikin Leo merasa terancam juga.


Aku melemparkan dadu dan malang nasibku, aku berhenti di tanah milik Leo. Mana ada hotel dan rumahnya juga lagi. Kuhabiskan uang yang kumiliki untuk membayar denda.


"Asyik! Jadi orang kaya mendadak nih!" Leo mengipas ngipaskan uang yang kuberikan.


"Sombong banget!" gerutuku.


"Namanya juga Leo Sombong Prakoso ha...ha...."


Leo gantian melemparkan dadu. 12 langkah. Aku harap-harap cemas. Berharap Leo akan berhenti di Blok H tepatnya di negara Afrika milikku. Lagi-lagi nasib baik belum berpihak padaku.


Ternyata Leo berhenti di Australia. Wah kalau Leo membeli Australia gagal dong aku membeli satu komplek.


"Yess!" Leo berseru kegirangan.


"Jangan dibeli dong. Kan aku udah beli Afrika duluan." pintaku dengan memelas.


"Ih gitu! Yaudah karena kasihan sama kamu maka.....aku beli deh Australia. Agar kita selalu berdekatan selamanya."


"Yaaahhhh.... Ih nyebelin banget!" pupus sudah harapanku. Sudahlah. Uang sudah mau habis. Aku sudah membeli beberapa negara dan membayar denda. Kalau aku kena di tempat Leo bisa dipastikan aku harus menjual seluruh aset milikku dan itu artinya Leo menang.


Namun ternyata aku berhenti di Dana Umum. Again. Huft... apa lagi coba keisengan Leo kali ini.


Tertawa selama 5 menit atau cium lawan main anda.


"Ayo pilih yang mana?" Leo menanti keputusanku.


Kali ini terpaksa aku harus mencium Leo. Tertawa 5 menit tuh lama. Bukan cuma nyengir doang. Bukan manyun kayak tadi.


Aku maju dan mencium bibir Leo cepat. "Itu pilihanku."


"Loh kok cepet banget. Aku belum siap nih. Cium tuh yang lama. Ini aku belum siap udah cium duluan." protes Leo panjang lebar.


"Eits enggak ada peraturan harus cium lama apa sebentar ya. Pokoknya udah. Next."


Dan dadu kembali bergulir. Babak pertama aku kalah. Kubayar cash 50 ribu pada Leo. Lanjut babak kedua. Ketiga dan aku sudah tak menghitung lagi. Karena lelah, aku pun sampai tertidur.


Pagi hari aku menggeliat karena udara yang dingin. Kutarik selimut menutupi tubuhku dan Leo. Aku mencari Hp yang semalam sempat kuletakkan diatas nakas. Jam setengah 6 pagi. Agak kesiangan untuk solat subuh.


Aku bangun dan menunaikan kewajibanku. Lalu kubangunkan Leo. Sambil menunggu Leo, aku keluar kamar dan menghirup udara segar. Letak kamarku tepat di depan kolam renang.


Pemandangan hamparan pepohonan dan udara bersih menjadi alasan kami kesini. Meskipun harus menghadapi kemacetan yang lumayan lama namun hasilnya sepadan.


Leo yang baru datang langsung memelukku dari belakang. "Dingin. Masuk yuk."


"Enak tau. Udaranya segar. Malah aku mau berenang sekarang. Berenang yuk!" aku paling suka berenang subuh hari. Awalnya doang dingin tapi saat sudah masuk ke dalam air lama kelamaan akan terbiasa.


"Enggak deh makasih. Aku mau selimutan aja. Kamu kalau mau berenang sok atuh. Aku balik gerak!"


Dan aku pun berenang di pagi buta. Air kolam yang dingin aku nikmati. Segar rasanya. Kalau aku meminta untuk menginap sehari lagi pasti Leo akan mengiyakan. Tapi senin harus kerja lagi.


Takut kecapean. Kondisi hamil muda harus menjaga kesehatan. Jangan sampai kejadian kehilangan Adam terulang lagi.


Selesai sarapan kami berkemas dan siap kembali ke Jakarta. Monopoli kusimpan rapi untuk dimainkan lagi jika ada waktu senggang. Me time ala ku dan Leo. Enggak perlu mahal, hati pun senang. Biar lebih seru nanti akan beli kertas karton dua warna pink dan hijau lalu membuat dana umum dan kesempatan dengan perintah yang baru tentunya. Kali ini aku tak akan kalah saing dengan Leo.


Karena masih agak pagi, jalanan tidak terlalu macet. Aku mengajak Leo untuk makan toge goreng dulu sebelum pulang.


Kalau ke Bogor tidak makan toge goreng dan beli asinan Bogor rasanya enggak afdol. Apalagi aku ingat Papa Dibyo suka sekali dengan asinan Bogor.


Toge goreng itu toge yang direbus dengan ditambahkan mie basah warna kuning dan tahu lalu disiram dengan bumbu tauco. Rasanya segar dan tidak terlalu kenyang banget dimakannya. Pas lah.

__ADS_1


Selesai membeli toge goreng, aku request beli asinan Bogor. Langsung saja aku pesan 5 bungkus. Tak lupa beli kerupuk kuning terpisah yang bisa dinikmati dengan kuah pedas asinan. Rasa pedas dan asam sudah membuat air liurku mau menetes rasanya.


Sebelum hamil aku suka rasanya namun biasa saja. Saat ini terasa beda. Di mulutku seperti sudah penuh air liur dan mau ngeces membayangkan segarnya asinan sayur.


Yang aku suka dari asinan sayur ini adalah sawi yang diasinkan. Entah mengapa meski isinya sayuran namun harganya agak mahal. Asinan 5 bungkus beserta tambahan kerupuk saja habis lebih dari 200 ribu. Tak apalah, yang penting semua senang.


Meskipun sekarang uang sudah bukan masalah besar lagi bagiku dan Leo, namun pengalaman susahnya hidup karena tak punya uang membuatku lebih bijak lagi dalam mengeluarkan uang. Lebih baik banyak dipakai sedekah daripada foya-foya.


Leo menawarkan membeli lebih banyak namun aku menolak. Cukup rasanya. Mau belikan Duo Julid tapi malas mengantarkannya. Ya sudahlah buat keluarga besar Papa Dibyo saja.


Kami melanjutkan lagi perjalanan menuju Jakarta. Cuaca kembali mendung. Pertanda hujan akan kembali mengguyur Jakarta.


Hujan identik dengan kemacetan. Jalanan yang semula lancar jaya kalau hujan bisa langsung macet. Banyak alasannya, biasanya karena banyak pengemudi motor yang berhenti untuk berteduh atau hanya sekedar memakai jas hujan. Alasan lainnya adalah karena genangan air yang cukup tinggi, jika memaksa menerjang akan membuat kendaraan mogok.


Hujan pun mulai turun. Aku dalam hati berdoa. Semoga Allah menurunkan hujan yang bermanfaat, bukan hujan yang membawa bencana. Berharap dengan turunnya hujan bisa menjadi berkah.


"Hujan, Sayang." karena hujannya masih rintik aku membuka sedikit jendela mobil.


"Kok dibuka jendelanya? Nanti air hujannya bikin kamu kebasahan Sayang." protes Leo melihat kelakuanku yang aneh ini.


"Sengaja. Aku suka bau jalanan yang tersiram air hujan. Mengingatkan aku saat masa kecil dulu. Main hujan-hujanan sehabis panas terik. Sesekali boleh lah ya bernostalgia." kataku sambil tersenyum dan membayangkam saat dulu bermain hujan dengan Kak Rian.


"Iya. Tapi aku tutup ya. Sekarang banyak debu dan polusi. Udara udah enggak sesehat dulu. Kamu menghirup udara kotor kayak gitu bukan bernostalgia malah sesak nafas nanti." tanpa meminta pendapatku Leo menutup jendela. Aku hanya bisa menatap keluar.


Tak ada lagi pemandangan anak kecil bermain hujan dengan bebas seperti dahulu. Tanah lapang sudah berubah menjadi perumahan.


Tanpa terasa mobil Leo sudah memasuki area perumahan. Rumah-rumah besar dan mewah mulai terlihat. Dulu kalau nginep di rumah saudara aku suka main ke komplek perumahan mewah hanya sekedar numpang mandi hujan. Namun anak-anak di sekitar komplek ini tak ada yang diperbolehkan bermain hujan sepertinya. Takut sakit.


Pak satpam membukakan pintu agar mobil Leo dapat masuk. Hujan masih turun dan semakin lebat saja.


Kulihat mobil Mama Lena sudah ada di parkiran, pertanda Mama dan Papa sudah pulang. Aku turun dari mobil seraya membawa plastik berisi asinan Bogor yang kubeli.


"Assalamualaikum." sapaku.


Ternyata Mama, Papa dan Richard sedang berkumpul di ruang keluarga depan TV.


"Waalaikumsalam." jawab semuanya. Namun jawaban Mama yang lemah mengalihkan perhatianku.


"Mama kenapa?" aku dan Leo langsung menghampiri Mama.


Terlihat Papa sedang mengolesi kening Mama dengan minyak kayu putih. Dan Richard sedang memijat kaki Mama.


"Mama sakit?" tanyaku lagi. Aku menaruh asinan yang kubawa di meja. Mama menatap apa yang kubawa.


"Kamu bawa apa May?" tanya Mama penasaran.


"Asinan Bogor. Mama sakit apa?" tanyaku khawatir. Mama juga lagi sakit sempat-sempatnya nanya aku bawa apa.


"Mama dari tadi muntah-muntah melulu May. Kepalanya pusing katanya." Papa Dibyo yang akhirnya menjawab pertanyaanku.


"Udah ke dokter belum Pa?" tanya Leo yang mengkhawatirkan keadaan Mama.


"Belum. Mama kamu enggak mau. Katanya cukup dipijitin aja nanti juga sembuh." jawab Papa.


"Mama ada salah makan enggak? Atau masuk angin mungkin?!" tanya Leo seraya memegang kening Mama. "Enggak panas kok."


"Yang bilang Mama panas siapa Le? Mama mual. Pusing. Enek. Mau muntah. Enggak ada yang bilang panas tau!" gerutu Richard namun tak berhenti memijat kaki Mama.


Kakanda walau terlihat cuek namun aslinya perhatian. Terlihat dari bagaimana Ia memijat Mamanya. Tak mau melihat Mamanya kesakitan.


"Ya siapa tau badannya panas juga. Atau panggilkan Dokter Ali aja Pa. Dokter Ali kan langganan Papa. Gimana?" saran Leo.


"Enggak usah. Nanti saja hari senin Mama mau sekalian ke Rumah Sakit." jawab Mama lemas.


"Loh kenapa nunggu senin Ma? Kan sakitnya sekarang? Nanti takut malah tambah parah." protes Leo lagi. Leo kalau perhatian tuh jadi bawel. Beda sama Richard yang berupa tindakan.


Semua pandangan sekarang tertuju pada Mama. Aku juga heran kenapa Mama Lena mau ke dokternya hari senin. Pertanyaan Leo masuk akal.


"Hmm... Mama mau ke Dokter Kandungan. Soalnya... Sudah sebulan ini... Mama enggak menstruasi...."


"Apa?????" tanya aku, Leo, Papa dan Richard kompak. Pertanyaan kami sama. Apakah Mama Lena hamil?????


*****


Ayo yang belum vote, vote sekarang ya. Likenya juga mana nih? Makin menurun saja. Yuks di vote dan like ya...maacih... ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2