Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Cokelat Penggoda Iman


__ADS_3

"Kok pakai syarat dan ketentuan yang berlaku sih? Kemarin kan janjinya enggak!" kataku berusaha nego tipis.


"Yaiyalah. Kan kita temenan, enggak ada salahnya kan sesama teman bertukar media sosial?" balas Angga.


"Enggak mau ah!" tolakku.


"Yaudah cokelatnya aku bawa pulang lagi aja. Eh aku bagi-bagiin anak-anak disini aja deh." pancing Angga.


"Jangan!" larangku dengan spontan.


"Mana medsos kamu?" Angga menagih barteran cokelatnya.


"Selain medsos deh." negoku.


"Yaudah nomor Hp." jawab Angga cepat.


"Medsos aja aku enggak kasih apalagi nomor Hp?" ketusku.


"Harus ada barterannya dong. Namanya juga take and give. Ayo pilih yang mana?" tantang Angga lagi.


"Hmm.... Selain nomor Hp dan medsos deh. Yang lain ya." negoku lagi tak pantang menyerah. Cokelat Toblerone 10 biji siapa yang enggak tergoda coba?


"Oke. Alamat rumah kamu dimana?"


"Di Kampung Mangga Jalan Manis No. 22 Kota Bahagia." jawabku dengan gamblangnya.


"Bukan yang di kampung. Tapi yang disini. Kamu tinggal dimana?"


"Di rumah kontrakkan." jawabku jujur.


"Iya rumah kontrakkannya dimana?" tanya Angga tidak puas dengan jawabanku.


"Ditinggal." jawabku lagi.


"Iya aku juga tau. Emangnya kamu keong yang bawa rumahnya kemana-mana?" jawab Angga dengan ketus.


"Ih Dia kesel! Emang bener kok rumah aku ditinggal! Aku udah jujur enggak percaya!"


"Aku percaya Maya. Percaya! Sumpah aku percaya! Jadi sekarang jawab rumah kamu dimana?" Angga pasti sudah geregetan dengan jawaban yang kuberikan dari tadi.


"Mau ngapain sih nanya rumah aku?" tanya balik aku.


"Mau mainlah. Enggak boleh?"


"Enggak." aku menggelengkan kepalaku.


"Kenapa? Ada yang kamu sembunyiin?" selidik Angga.


"Ada suami aku!" jawabku jujur tapi pasti Angga enggak percaya.


"Jangan kebanyakan alesan deh! Dari kemarin alesannya suami terus! Basi!"


"Tau ah. Batu banget ya kamu dibilanginnya! Udah ah aku mau pulang! Jadi makin mumet aku ketemu kamu! Padahal niatnya mau nepatin janji eh malah di PHP-in. Dasar laki-laki semuanya sama!"


Aku memutuskan untuk mengikhlaskan 10 cokelat Toblerone yang seharusnya menjadi milikku kalau saja aku mau bertukar informasi. Namun karena menjaga perasaan Leo tidak aku lakukan.


Aku berbalik badan dan hendak pergi. Namun perkataan Angga kembali membuatku ragu.


"Beneran enggak mau nih? Ada Ferrero Rochernya juga loh 1 box di dalam tas aku. Enggak nyesel?" pancing Angga lagi.


Aku menelan ludahku. Ferrero Rocher. Pasti melted banget di mulut.


Aku menggelengkan kepalaku. Enggak. Aku enggak boleh terkecoh dan berubah pendirian.


"Jangan sampai aku bawa pulang lagi nih!" Angga mengeluarkan cokelat Ferrero Rochers dari dalam tasnya.


Aku berbalik badan. Aku berjalan lagi mendekat ke Angga. Tanganku menyentuh Ferrero Rochers yang lumayan besar.


Aku menarik nafas dan menghembuskannya.


"Yakin enggak tergoda?"


Keputusanku sudah bulat.


Tangan kananku memegang Ferrero dan tangan kiri memegang Toblerone. "Kalian hati-hati ya Nak. Mama pergi dulu. Maafin Mama." kataku dengan suara sedih.

__ADS_1


Aku lalu berbalik badan, baru dua langkah kudengar Angga tertawa terbahak-bahak.


"Ha...ha...ha...ha...ha... Mama ninggalin anaknya sama aku! Ha...ha... ha..."


Aku menghentakkan kedua kakiku karena kesal. Tidak. Aku udah ikhlas!


"Mama.... Anaknya ketinggalan!" panggil Angga.


Aku terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tiba-tiba tanganku ditarik seseorang. Siapa lagi kalau bukan Angga?


"Dih ngambek si Mama. Ini." Angga memberikan semua cokelat yang Ia punya padaku. Ia bahkan sudah memasukkannya dalam papper bag seelum mengejarku. "Bawa pulang dan makan sama ibu-ibu teman kamu sana."


Aku mengernyitkan kening tidak percaya dengan perkataan Angga. "Beneran?"


"Bener. Kalau nyari alamat kamu mah gampang. Nanti aku nanya orang disekitar sini. Rumah kamu di kontrakkan enggak jauh dari taman, bisa dilihat dari kamu yang hanya pakai kaos dan celana pendek serta sandal jepit. Pakaian yang digunakan oleh orang yang biasanya keluar tidak jauh dari rumahnya. Bener gak?"


"Hmm... Bisa iya bisa enggak." jawabku ambigu.


"Nah ini poin pentingnya. Kalau kamu enggak ngaku tinggal nanya aja sama ibu-ibu tukang gosip deket sini. Pasti ada diantara mereka yang temen kamu. Bener kan? Masih mau ngeles lagi?"


"Iya...iya...iya... Analisis kamu bener. Kalau udah tau jangan ke rumah kontrakkan aku ya. Nanti-" belum selesai aku bicara sudah Angga potong.


"Nanti suami kamu marah. Masih aja pake alasan kayak gitu! Udah sana pulang. Wanita hamil pamali mau maghrib belum pulang!" ledek Angga.


"Iya juga ya. Makasih ya cokelatnya. Berarti sisa pizza ya." tagihku tak tahu diri. Dikasih cokelat minta pizza.


"Kalau mau pizza harus dine-in. Aku enggak mau take away. Gimana?" lagi-lagi Angga bernegosiasi.


"Gak usah ya. Bisa menimbulkan fatonah alias fitnah." tolakku tanpa dipikirkan dulu.


"Ya kan kamu bisa aja dua ibu-ibu teman kamu itu. Nanti boleh pesan apa aja deh. Bebas. Mau dibawa pulang juga boleh. Gimana?"


Lagi-lagi tawaran yang menggoda imanku.


"Aku pikir-pikir dulu deh." jawabku.


Angga tersenyum. Ia tau kalau aku tuh goyah. Aku suka banget makan pizza. Rasanya sudah lama sekali tidak memakan makanan khas Italy tersebut.


"Iya. Pikirin aja dulu. Kalau mau aku tunggu hati sabtu besok jam 2 sore disini." kata Angga.


"Enggak dong. Kan kita dine in. Belum perjalanan ke mallnya. Jadi pas maghrib kita udah sampai Taman lagi deh."


Bener juga sih perhitungan Angga.


"Iya aku pikirin dulu. Aku belum mengiyakan loh!"


"Aku sih enggak memaksa. Kalau kamu mau sok atuh. Kalau enggak yaudah. Daripada suami kamu marah... ups... lupa... ha...ha...." ledek Angga.


"Ngeledekkin terus. Kalau aku bener nanti kamu nangis guling-gulingan loh! Udah ah aku mau pulang. Makasih ya cokelatnya." kali ini aku beneran pulang. Enggak ada adegan tarik-ulur lagi kayak tadi.


"Bye May!" teriak Angga.


Aku melambaikan tanganku lalu mengacungkan jempol tanganku.


Aku berjalan dengan hati riang menuju rumah kontrakanku. Tak lupa aku mampir terlebih dahulu ke rumah Ibu Jojo. Kuberikan jatah coklat untuknya sesuai dengan janji aku tadi.


Setelah dari rumah Ibu Jojo, aku ke rumah Ibu Sri. Bu Sri seperti sudah bisa diduga sedang menunggu aku di teras rumahnya.


"Nih Bu. Sesuai janji aku. Buat Ibu Sri aku kasih 2 buah Toblerone. Baik kan aku?"


"Kamu beneran May dapet cokelat? Wah itu sih fix Angga naksir sama kamu. Hati-hati ah lama-lama saya juga jadi takut nih." kata Bu Sri sambil menerima coklat yang aku berikan.


"Takut kenapa Bu? Angga baik kok. Aku dikasih 10 buah Toblerone dan 1 buah coklat Ferrero Rocher yang gede. Baik banget tahu dia. Tadi aku udah bagi Bu Jojo 2 dan Ibu Sri juga aku kasih 2 sisanya buat aku he...he....he...." kataku membela Angga dan membanggakan kebaikanku sendiri.


"Terserah kamu mau kasih saya berapa May. Itu kan coklat punya kamu. Saya tuh cuma khawatir kalo Angga tuh punya maksud terselubung sama kamu. Tadi dia minta apa? enggak ada barterannya apa? Biasanya kan orang kalau ngasih suka minta imbalan. Dia minta apa sama kamu May?" tanya Bu Sri penuh curiga.


"Tadi sih Angga minta nama akun medsos aku tapi aku nggak kasih Bu, terus Dia juga nanya alamat aku di mana dan aku juga nggak kasih. Tapi Angga tuh pinter. Dia tahu kalau aku tinggal nggak jauh dari taman. Katanya nanti Dia mau cari tahu sendiri alamat aku." kataku dengan jujur.


"Bagus. Pinter kamu May. Jangan segampang itu kamu kasih tahu ke orang lain. Biarin aja Dia nyari-nyari sendiri nanti kan kalau Dia berbuat jahat sama kamu saya yang tinggal dekat kamu nanti akan teriak deh yang kencang." kata Bu Sri dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Tenang aja Bu. Angga nggak sejahat itu kok. Mungkin dia memang agak kepo aja pengen tahu siapa Maya. Tapi Maya yakin mah Dia itu selain anak orang kaya juga pasti banyak yang naksirlah. Dia cuma ngerjain Maya aja kali karena dianggapnya Maya lucu." kataku membela Angga.


"Tapi saya lupa nih ya May, Angga tuh tahu enggak ya kalau kamu udah nikah?"


"Tahu kok Bu. Tapi Dia tetep aja nggak percaya. Dipikirnya Maya itu bohong dan nyari-nyari alasan aja supaya nggak mau kenalan sama dia. Maya udah bilang berkali-kali masih aja nggak percaya. Biarin aja lah."

__ADS_1


"Oalah ada gitu ya orang dibilanginnya enggak percayaan? Ndableg itu namanya."


"Oh iya Bu, Angga ngajakkin Maya makan pizza di mall. Katanya boleh ngajak Bu Sri dan Bu Jojo. Gimana?" tanyaku.


"Gimana apanya? Ayo kita let's go lah!" jawab Bu Sri penuh semangat.


"Yeh nih emak-emak ya. Diajakin makan pizza aja let's go, tadi aja ngatain anak orang Ndableg. Gimana sih?" keluhku.


"Tapi nanti kalau ketahuan Leo suami kamu gimana May?" tanya Bu Sri baru menyadari kalau mau pergi ke mall bareng Angga ada pertimbangan lain bukan hanya sekedar senang karena akan makan gratis.


"Angga sih ngajakkinnya pergi jam 2 siang, Bu. Dan Dia bilang akan pulang sebelum maghrib. Kalau kayak gitu sih kayaknya aman, Bu. Leo kan pulangnya biasanya jam 8 malam."


"Iya itu aman lah ya. Kita capcus aja nanti." kata Bu Sri.


"Kalau ngobrol ajak tamunya masuk toh, Bu. Jangan di depan pintu. Udah mau maghrib. Nanti kasihan Maya bisa Lamar urung." celetuk Pak Bejo suami Bu Sri yang baru saja keluar hendak memasukkan burung peliharaannya.


Aku tersenyum menyapa Pak Bejo. Ia sudah mengenalku karena kami tetanggaan.


"Duh, keasyika ngobrol jadi lupa nawarin kamu buat masuk ke dalam May. Ayo masuk kita ngobrolnya lanjutin di dalam rumah udah mau maghrib." ajak Bu Sri mematuhi saran suaminya.


"Oh nggak usah Bu. Maya mau pulang aja. Maya kan mau makan coklat dulu sebelum Leo pulang." aku mengangkat paper bag yang aku bawa, paper bag yang masih penuh dengan coklat yang diberikan oleh Angga.


"Inget ya, jangan kamu makan semuanya sendirian. Nanti kelolodan. " pesan Bu Sri.


"Siap, Bu. Maya pulang dulu ya.... Pak Bejo, Maya pulang dulu ya." pamitku pada kedua suami istri itu.


"Iya. Makasih banyak, May." jawab Bu Sri mewakili suaminya.


Aku lalu masuk ke dalam kontrakan ku. Aku menikmati sendirian sekotak Ferrero Rodger yang benar-benar enak banget. Kalau begini terus mah, aku dan anakku bisa makan enak terus nih. Makanan yang benar-benar nikmat dan mahal. Bergizi pastinya.


Ternyata aku sayang juga sih menghabiskan satu kotak sendirian hari ini. Aku simpan untuk makan lagi nanti. Sebenarnya aku kasihan sama Leo. Aku pengen deh bisa bagi Dia cokelat ini. Tapi Leo pasti akan bertanya dari mana aku mendapatkan cokelat mahal ini.


Ah, andai Angga itu perempuan pasti aku sudah jujur sama Leo. Kalau aku jujur tentang Angga, Leo yang cemburuan mungkin akan ngamuk kali.


Dengan hati-hati aku menyembunyikan cokelat pemberian dari Angga. Di cicil makannya. Kalau aku habiskan semua hari ini, besok-besok aku nggak ada cemilan.


****


Sebelum Leo pulang kantor, aku sudah menyiapkan minuman kesukaannya. Apalagi kalau bukan Milo hangat.


Kalau aku pikir pikir kehidupan aku dengan Leo ternyata cuma begitu-begitu aja. Pagi hari aku menyiapkan sarapan lalu mengantar Leo berangkat kerja. Malam hari, membuatkan Leo minuman dan menyiapkan makan lalu tidur bersama. Bosan juga sih lama-lama.


Semenjak menikah, Leo jadi pelit kata-kata. Ia seperti asik dengan dunianya sendiri. Terkadang aku sudah suka perhatikan Ia kadang melamun entah memikirkan apa.


Apa mungkin Leo ada masalah ya? Apa mungkin di kantor Ia merasa tertekan? Pokoknya nanti aku harus tanya sama Leo.


Seperti dugaanku, Leo tak lama pulang. Aku menyambut Leo dengan senyuman. Mama mengajarkanku untuk menyambut suami yang pulang sehabis bekerja selalu dengan senyuman. Jangan dengan wajah yang ditekuk masam.


Leo duduk di lantai setelah memasukkan motornya. Terlihat wajahnya kelelahan.


Aku suguhkan susu Milo yang sudah aku buat. "Capek banget ya?"


Leo mengangguk tanpa menjawab.


"Mau aku pijitin?"


Leo menggelengkan kepalanya.


"Enggak usah. Nanti kamu kelelahan. Kamu kan lagi hamil. Aku baik-baik aja kok." tolak Leo.


Kupandangi tubuh Leo yang sekarang makin kurus.


"Kamu beneran enggak apa-apa? Kamu kerja di restoran secapek itu ya? Kalau kamu enggak kuat apa lebih baik pindah aja ganti kerjaan lain?" tanyaku dengan penuh kekhawatiran.


"Aku enggak apa-apa kok May. Aku masih kuat kok kerja disini." Leo mengambil gelas berisi susu Milo dan meminumnya.


"Aku tuh ngerasa kalau ada yang kamu sembunyikan. Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku. Jangan kamu pendam sendiri. Sekarang kan kita sudah jadi suami istri. Masalah kamu juga masalah aku. Bahagia kamu juga bahagia buat aku."


Leo tersenyum dengan perkataanku barusan. Bukan bermaksud sok picisan. Perkataanku adalah curahan isi hatiku yang sebenarnya.


"Enggak usah, May. Lebih baik kamu enggak usah tau. Dengan begitu aku akan tetap indah dimata kamu." jawab Leo sambil tersenyum. Bukan senyum manis namun senyum yang dipaksakan.


*****


Hmm... Ada apa ya sama Leo? Jangan lupa vote dan like ya 😘😘😘:

__ADS_1


__ADS_2