
"Pizza Time!" teriak Angga sambil membawakan 4 kotak pizza ukuran besar untukku.
"Wow.... Kamu tahu dari mana rumah kontrakan aku? dan untuk apa pizza sebanyak itu?" tanyaku yang surprise melihat kedatangan Angga. Waktu aku pindah Angga sedang keluar kota jadi Ia tidak tahu dimana aku pindah.
"Ya... Buat kita berdua juga lah. Masa kita enggak dibagi sih?" ujar Duo Julid yang ternyata sejak tadi bersembunyi di belakang Angga.
Aku tersenyum melihat teman-temanku yang berbeda umur dan berbeda jenis kelamin telah berkumpul.
"Ya ampun.... Kalian ini kompak banget ya. Ayo sini masuk!" aku membukakan pintu untuk teman-temanku masuk ke dalam rumah mungilku ini.
"Ayo silakan duduk. Aku ambilin minum dulu ya. Tenang saja sekarang minum aku udah bukan air putih doang kok. Aku ada sirup juga nih di kulkas. Kalian mau sirup atau mau soft drink?" tanyaku menawarkan menu kepada mereka semua.
"Sombong banget. Soft drink... soft drink.... Biasa minum Pop Ice gretongan aja gegayaan minum soft drink." celetuk Bu Sri.
"Saya mah apa aja yang penting mahal." ujar Bu Jojo dengan santainya.
"Tunggu sebentar ya." Aku lalu masuk ke dalam dan mempersiapkan minuman untuk mereka semua. Tak lama aku kembali dengan membawa beberapa kaleng softdrink dan juga sirup.
"Banyak banget May nanti kita kembung dikasih minum melulu. Makanannya mana?" komen Ibu Sri seperti biasa dengan ceplas-ceplos seenaknya.
"Tuh... kan ada pizza yang udah dibawa sama Angga. Kalian makan itu aja!" Aku menunjuk 4 box pizza dengan menggerakkan mukaku.
"Ih nggak mau rugi banget.Tamu tuh seharusnya disambut tau Neng. Ini bukannya disediain makanan eh malah minum doang." gerutu Bu Jojo.
Angga yang melihatku diserang oleh Duo Julid langsung membuka kemasan Pizza yang Ia bawa. Ada beraneka rasa dengan berbagai topping tentunya.
"Udah nggak usah komplain. Kita makan Ini aja. Ini juga udah banyak kok. Aku sengaja pesan yang banyak untuk merayakan hari pertama Maya bekerja. Kalau kalian masih kurang nanti kita pesan makanan yang lain." kata Angga.
"Tuh May kayak Angga. Baek bener." sindir Bu Sri.
"Bodo ah. Maya kan baru mulai kerja. Belum gajian. Nanti aja kalau Maya udah dapet gaji kalian bakalan Maya traktir."
"Yang bener?" tanya Bu Jojo penuh semangat.
"Bener. Tapi enggak boleh lebih dari dua puluh ribu." jawabanku membangkitkan komentar mereka yang terpendam.
"Yaelah. Hari gini dua puluh ribu dapet apaan May? Paling bakso, itu juga minumnya air mineral. Kalau sama Es Campur masih kurang." protes Bu Sri.
Aku tertawa puas mengerjai Duo Julid. Memang ya emak-emak kalau udah itung-itungan dengan duit pasti paling cepat dan paling pinter.
"Pada nggak mau nih? Saya habisin nih!" ancam Angga.
"Mau!" jawab kami bertiga kompak. Kami pun langsung menyerbu Pizza yang Angga bawa dan memakannya dengan lahap.
"Enak banget ya. Kalau pakai nasi lebih enak lagi nih." komentar Ibu Sri yang langsung membuat aku dan Angga tertawa terbahak-bahak.
"Mana ada orang makan Pizza pakai nasi, Bu? Sama aja tuh kalau orang makan mie pakai nasi. Karbo campur karbo." celetuk Angga.
"Karbo? Karburator maksudnya?" tanya Bu Sri makin bingung.
Aku dan Angga kembali tertawa terbahak-bahak. Kami bukan menertawai kebodohan Ibu Sri, kami cuma lucu dengan keluguannya.
"Bukan, Bu. Karbo tuh maksudnya karbondioksida. Bukan karburator." kataku menjelaskan dengan penjelasan yang tak kalah ngaco dan ajaibnya Bu Sri percaya lagi.
"Oh gitu." Bu Sri mengangguk angguk mengerti.
Tawaku tiba-tiba hilang dari wajahku dalam sekejap. Bagaimana tidak, Angga tiba-tiba saja mengambil selembar tisu dan membersihkan sudut bibirku.
"Kalau makan jangan belepotan May. Nih saos melulu di bibir kamu." ujar Angga dengan santainya seakan Ia sudah terbiasa melakukan hal seperti itu.
Udah bisa diduga, Duo Julid langsung saling berpandangan dengan senyum mengejek. Lihat aja sebentar lagi juga bakalan ngeledek. Udah kebaca tuh otak mereka yang jahil dan usil.
"Ehem.... Maaf Bang, masih ada tamu nih di sini. Mesra-mesraan ntar aja kali. Kita masih acara makan pizza." sindir Bu Jojo.
"Siapa yang mesra-mesraan sih Bu? Orang cuma bersihin saos doang." jawab Angga dengan santai. Angga mengambil lagi sepotong pizza dan memakannya tanpa ada beban.
__ADS_1
Berbeda dengan Angga, aku nggak bisa menyembunyikan grogi. Wajahku mungkin saat ini tengah memerah. Walau tanpa diucapkan dengan kata-kata, aku tahu kalau Duo Julid itu sedang menertawaiku.
"Ih pakai disembunyiin segala. Kita berdua udah paham kalau kamu tuh lagi PDKT sama Maya. Emangnya kita nggak pernah muda? Sorry ye kita udah pengalaman keles." jawab Bu Sri dengan logatnya yang kecentilan.
"Emangnya dulu waktu suaminya Bu Sri lagi PDKT kayak gimana Bu?" Lagi-lagi Angga bertanya dengan santainya. Aku tahu kalau Ia tuh sedang mencari informasi yang mungkin bisa bermanfaat untuk dirinya nanti.
"Ya macam-macam. Bawain martabak. Ngajak nonton. Ngajak jalan-jalan di pasar malam. Beliin orang tua saya makanan kesukaannya. Pokoknya banyak deh." ujar Bu Sri memamerkan kelebihan suaminya.
"Terus sampai sekarang masih dilakuin nggak?sindir Bu Jojo.
"Ya udah enggak lah Bu. Cuma saat pendekatan doang, giliran udah jadi suami mah beda. Sekarang aja kalau mau beli martabak pakai duit saya. Belum lagi kalau mau beliin saya baju katanya nunggu THR keluar dulu. Ya kali baju-baju saya nggak ganti-ganti kan kalau saya juga harus kece, Bu."
Aku mengambil sepotong pizza lagi dan menyimak curahan hati Ibu Sri sambil makan. Perutku benar-benar lapar. Untung saja Angga membawakanku makanan.
"Terus jadinya Ibu nyesel nikah sama bapak?" tanya Angga. Ia juga sama sepertiku, mendengarkan cerita Bu Sri sambil memakan pizza dengan santainya.
"Kalau nyesel mah kagak brojolin anak berapa biji, Ga. Ya... Udah nikah juga, masa sih saya mau kembaliin? udah nggak bisalah!" jawab Bu Sri.
"Kirain nyesel." celetuk Angga.
"Nanti Angga juga gitu ya sama Maya. Jangan baik sama Maya cuma saat PDKT aja. Kalau udah pacaran dan nikah sama Maya juga harus tetep baik, harus sayang sama Maya. Jangan kayak lakinya Maya yang dulu! Ups.... Maaf May keceplosan." Bu Sri langsung menutup mulutnya dan memukulnya pelan. Padahal Ia sendiri yang ngomong tapi dia sendiri yang mengomeli mulutnya. Aneh.
"Ih kamu mah kebiasaan banget sih Sri. Jangan begitu! Buka-buka luka lama aja!" omel Bu Jojo kepada sahabatnya tersebut.
"Santai aja Bu. Maya mah udah biasa. Kalian tuh kalau enggak keceplosan ya nyerempet-nyerempet terus nyindir deh." balasku.
Bu Sri dan Bu Jojo mengambil potongan pizza yang sudah tidak tahu sudah hitungan ke berapa.
"Kalau saya sih nggak akan kayak gitu Bu. Saya akan konsisten dari pendekatan sampai nanti sudah menjadi istri. Saya akan memperlakukan Maya dengan sama. Karena saya tahu, menunggu Maya untuk membuka hatinya aja lama banget." curhat Angga.
Aku menunduk malu mendengarnya. Aku bingung harus berbuat apa. Orang lain selalu bilang 'udah sama Angga aja'. 'Udah terima Angga aja'. 'Udah nikahnya sama Angga aja'. Tapi orang lain nggak tahu rasa trauma dalam diriku itu masih terlalu sakit dan dalam. Susah disembuhkan selain dengan waktu.
"Besok aku antar kamu kerja ya May?" tanya Angga setelah aku hanya diam tidak merespon curhatannya. Ia berusaha mencairkan suasana.
Angga tersenyum. Ia senang akhirnya aku mau untuk berangkat dan pulang kerja bareng.
*****
Angga menjemput aku pagi-pagi sekali agar kami tidak terkena macet. Sepanjang perjalanan Ia kadang bersenandung menggambarkan suasana hatinya yang bahagia karena aku mulai mau diantar dan dijemput kerja bareng.
Tapi saat sebuah lagu mengalun Angga tidak ikut menyanyi. Ia malah diam dan sesekali membuang pandangannya di jendela. Aku memperhatikan lirik lagunya ternyata lirik lagunya sangat sesuai dengan suasana hati dan kondisi kami saat ini.
🎶 Jangan minta jatuh cinta
Luka lamaku juga belum reda
Beri dulu aku waktu untuk
Sembuh sendirinya
Jangan minta jatuh cinta
Sakit sebelumnya masih kurasa
Beri waktu hingga aku mampu
Lupakan semua 🎶
-Tanpa tergesa- Juicy Luicy.
Melihat perubahan sikap Angga yang tiba-tiba aku sadar aku harus segera menghiburnya. Udah lama Angga menungguku membuka hatiku. Hampir dua tahun lamanya Ia selalu sedia berada di sampingku, menemaniku bahkan di saat aku terpuruk sekalipun.
"Ga... Nanti pulangnya kita makan sate padang yuk."
"Dimana?" tanya Angga.
__ADS_1
"Di Blok S. Namanya Sate Padang Ajo Ramon. Rasanya tuh enak banget. Sate padang terenak yang pernah aku makan." lagakku menirukan salah satu youtuber makanan terkenal.
"Ih sotoy banget. Kayak pernah makan aja!" Angga tersenyum menertawaiku. Ini yang aku suka dari Angga. Walaupun marah, Ia akan cepat baik lagi dan suasana di antara kami pun mencair.
"Pernah dong! Kan Kak Rian pernah bawain aku waktu itu. Asli, enak banget. Apalagi sate ususnya... Wuih mantap! Badabest!"
Angga makin tergelak melihat ulahku. "Iya. Nanti pulang kerja kita ke sana ya. Emangnya kamu pulang jam berapa? Nanti sebelum pulang jangan lupa kabarin aku ya. Kantor Aku kan nggak jauh dari kantor kamu, paling 10 menit deh aku udah sampai. Jalan protokol walaupun padat tapi sekarang kan udah rapi, pasti cepet deh aku jemput kamu. Jangan pulang duluan ya!"
Angga takut aku pulang naik Kopaja lagi. Pokoknya Ia mau aku hari ini pulang pergi dijemput olehnya.
"Siap bos!"
Mobil Angga lalu memasuki halaman gedung kusumadewa grup. Ia menurunkan aku di lobby dan langsung tancap gas menuju kantornya.
Baru beberapa langkah memasuki gedung aku mendengar suara sindiran yang amat aku kenal siapa pemiliknya. Aku tetap saja berjalan walau kulihat Ia mensejajari langkahku.
"Enak banget ya, berangkat pagi naik mobil mewah. Walaupun macet tapi nggak kegerahan karena ada AC. Tempat duduknya juga pasti nyaman, mobil mewah gitu loh!" sindir Leo yang baru saja berjalan dari parkiran motor dengan menenteng helmnya.
"So what gitu loh!" jawabku dengan santai.
"Udah diresmikan belum? Kan biasanya janda itu ngebet banget pengen buru-buru diresmiin. Apalagi dapetnya perjaka, orang kaya lagi. Dapat jackpot kamu May!" sindir Rio lagi dengan kata-katanya yang lebih pedas.
"Dih bisanya sirik doang. Kamu aja sana! Jangan mau kalah sama aku. Cari tuh perawan tajir yang mau diambil mahkotanya sama kamu. Terus diperlakukan semena-mena dan disakitin. Habis itu ditinggalin deh." jawabku tak kalah pedas dari perkataan Leo.
Aku menekan tombol lift dan menunggu sampai pintu lift terbuka.
"Maaf ya. Aku nggak pernah ninggalin orang. Kan yang nuntut cerai kamu, bukan aku!" balas Leo tak kalah pedas.
" Oh ya? Bodo!"
Pintu lift yang aku tunggu pun terbuka. Aku langsung masuk dan tak menanggapi lagi omongan Leo. Tapi bukan Leo namanya kalau dengan begitu saja Dia langsung menyerah.
"Adam manggil Angga apa? Papa? Om? atau Jing?" tanyanya sambil menyunggingkan seulas senyum.
"Papi dong. Kalau manggil Papa yang baik, kaya raya, sabar dan pastinya ganteng mah cuma Papi yang cocok." jawabku lagi dengan santai.
Kelihatannya aja sih santai, padahal mah hati aku tuh gondok. Kesal setengah mati dengan ulah Leo.
"Memangnya diterima sama mertua kamu? Biasanya tuh, anak tiri itu nggak diterima sama keluarga sambung. Eh tapi memang kamu diterima juga? Mana mau sih orang tua anaknya nikah sama janda? Janda ditinggalin suaminya lagi, bukan janda ditinggal mati."
Makin pedas aja kata-kata Leo. Kayaknya aku harus balas dengan lebih pedas lagi.
"Diterimalah. Menantunya kan cakep, Primadona kampus gitu loh. Pasti bakalan punya cucu yang cakep juga nantinya. Mereka pasti tidak akan mempermasalahkan statusku. Tapi kalau aku boleh pilih ya, aku lebih memilih janda mati loh dibanding jadi janda dari laki-laki nggak bertanggung jawab yang kelakuannya kayak Dajjal!"
Ucapanku akhirnya berhasil membungkam mulut Leo. Ia terdiam dengan wajahnya yang memerah menahan kesal. Untunglah lift sudah berhenti di lantai kami. Aku langsung masuk ke dalam ruangan. Percakapan kami pun selesai.
Rupanya Leo masih marah sama aku. Seharian ini Ia lebih banyak berdiam diri bahkan di saat jam istirahat ketika aku, Ana, Aldi dan dirinya makan satu meja di kantin. Ia asyik menekuni makanannya tanpa berkata apapun.
Saat sedang asyik makan handphoneku berbunyi. Aku lalu mengangkatnya. "Halo. Iya aku lagi makan nih. Kamu udah makan Ga?"
"Aku makan sama temen-temen aku di kantin. Aku malas keluar, Ga. Nanti malam aja ya kan kita udah janji pulangnya mau makan di luar."
Setelah berbincang-bincang sebentar aku pun menutup teleponku.
"Cie... Siapanya tuh yang telepon? Perhatian bener?" ledek Ana.
Aku tersipu malu. "Ada deh."
Aku melirik ke arah Leo dan kulihat Ia hanya menunduk sambil mengacak-acak makannya tanpa dimakan.
"Pacar ya?" tanya Aldi penasaran.
"Ya pasti pacar lah, Di. Masa bergitu aja nanya sih!" omel Ana pada Aldi.
Leo langsung bangun dan meninggalkan kami semua. Ia mengangkat nampannya dan menaruhnya di tempat nampan bekas dan pergi tanpa pamit.
__ADS_1