Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Adam


__ADS_3

POV LEO


Aku menatap nanar ke arah Maya yang baru saja turun dari mobil mewah. Mobilnya lebih baru dibanding 2 tahun lalu, tapi aku tahu benar siapa pemilik mobil tersebut.


Kulihat Maya melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Sepertinya Ia sekarang sudah bahagia dengan kehidupan barunya.


Aku teringat dengan anak kami, Adam. Awalnya aku tidak tahu siapa nama anak kami, sampai Maya pernah emosi dan mengatakan padaku bahwa aku tidak akan pernah Dia izinkan untuk bertemu dengan Adam.


Adam. Nama manusia pertama yang lahir di dunia ini. Bagus kok nama pemberian dari Maya. Aku menyukainya.


Namun bagaimana caranya aku bisa melihat Adam? Aku pernah membuntuti Maya saat pulang kerja. Aku mengikuti Kopaja yang menurunkan Maya di jalan dekat kontrakan kami yang dulu. Rupanya Ia masih betah tinggal di lingkungan kontrakan, mungkin karena Ia sudah terlanjur dekat dengan dua sahabatnya yakni Bu Sri dan Bu Jojo.


Aku sengaja memberi jarak agak jauh agar Maya tidak merasa kalau dirinya sedang dibuntuti. Maya lalu berjalan melewati rumah kontrakan yang lama, sepertinya Ia sudah tidak tinggal disana lagi. Aku pikir Ia akan berjalan ke rumah Angga, tapi ternyata tidak.


Maya lalu berbelok ke pemukiman yang lebih padat penduduknya dibanding kontrakan kami sebelumnya. Ia lalu masuk ke dalam salah satu kontrakan yang saat itu lampunya masih gelap dan belum dinyalakan. Kenapa rumahnya kosong? Kenapa Maya tinggal di kontrakan itu? Apa Ia juga tidak direstui hubungannya dengan Angga sama seperti kami dulu?


Banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Aku butuh jawaban namun tak juga aku dapatkan. Tak lama lampu kamar menyala seiring dengan masuknya Maya ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.


Aku masih menunggu dari kejauhan. Berharap ada seorang anak kecil yang akan berlari keluar dari rumah kontrakannya tersebut. Namun ternyata tidak ada seperti yang aku harapkan.


Aku baru saja hendak menyalakan motor ketika aku melihat 3 orang sedang berjalan sambil menenteng kotak pizza menuju kontrakkan Maya. Aku mengenali dua orang ibu-ibu sahabat Maya dan satu orang lagi adalah Angga ya mungkin kini sudah menjadi suami Maya.


Aku mengamati saat mereka memberikan kejutan di depan pintu kontrakan Maya. Tawa bahagia Maya langsung terpasang melihat orang-orang yang saat ini dekat dengannya. Aku masih berusaha melirik siapa tahu ada anak yang keluar dari rumah Maya tapi ternyata tidak ada.


Kecewa. Sedih. Marah. Itu semua yang aku rasakan. Kenapa untuk bertemu anakku sendiri rasanya sangat sulit. Keesokan harinya aku bertemu Maya sedang diantar oleh Angga. Kalau aku emosi seperti kemarin yang ada Maya malah akan semakin membenciku dan tidak mengizinkan aku untuk ketemu dengan Adam.


Aku pun menahan emosiku. Ternyata cara ini lebih efektif. Maya yang awalnya sangat jutek padaku perlahan membuka dirinya.


Setelah aku meminta dengan memelas, akhirnya Maya mengizinkanku bertemu dengan Adam. Tidak bisa dibayangkan bagaimana senangnya hatiku saat itu.


Walaupun aku berumah tangga hanya sebentar dengan Maya, aku tahu benar bagaimana sifat asli Maya. Ia adalah orang yang tidak tegaan. Mudah luluh jika ada yang dianggapnya kasihan.


Mungkin begitulah aku di mata dia, sangat kasihan. Aku nggak peduli, yang penting aku bisa bertemu dengan Adam.


Hari-hariku semakin bahagia. Suasana hatiku semakin riang karena aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan Adam. Namun berbeda dengan Maya, Ia terlihat biasa aja.


Aku pernah menanyakan pada Maya, apa warna baju yang cocok aku pakai saat bertemu dengan Adam. Jawabannya sangat aneh, hitam. Emangnya anak kecil ada yang suka warna hitam? Anak kecil tuh sukanya warna yang cerah seperti warna merah, hijau dan kuning biasanya. Tapi masa iya sih Adam suka warna hitam?


Aku jadi teringat pertanyaanku sehari sebelumnya tentang mainan yang Adam sukai. Aku menyebutkan tokoh kartun yang biasanya anak kecil suka, namun Maya malah marah dan mengancam tidak jadi mempertemukan kami.


Aku menyerah. Ancaman itu bagiku sangat menakutkan. Sia-sia rasanya baik-baikkin Maya kalau gagal hanya karena aku ngeyel bisa sangat menyesal aku nanti.


Maka tanpa sepengetahuan Maya, sepulang kerja aku mampir ke salah satu Mall di kawasan Jakarta Pusat, Plaza Senayan. Mall yang memiliki jam besar di tengah ruangannya adalah salah satu mall menengah keatas yang banyak menjual barang-barang branded.


Aku langsung menuju ke pusat pembelanjaan Sogo khususnya di bagian anak-anak di lantai atas. Aku langsung memilih mainan yang mungkin akan disukai oleh Adam.


Karena tidak tahu apa yang dia sukai, aku mengambil mainan mulai dari Avengers, Thomas, Lego, mainan fisher-price pokoknya yang menurutku akan Adam akan sukai.


Selesai dari mainan aku ke sebelahnya dan memilih baju yang cocok untuk Adam kenakan. Aku mengambil kemeja dan beberapa kaos dengan berbagai ukuran.


Aku tidak tahu apakah Adam bertubuh gendut atau kurus, tinggi atau tidak, pokoknya aku belikan saja beberapa pakaian dengan berbagai ukuran yang menurutku akan bisa Ia pakai.


Setelah semua yang aku beli sudah selesai, aku membayar semuanya di kasir. Sudah bisa diduga sih kalau jumlah yang kubayar akan sangat mahal bahkan hampir separuh dari gajiku sebulan bekerja di Kusumadewa Grup.


Bagiku tak masalah. Uangku masih banyak tuh. Semenjak ditugaskan oleh Papa untuk melanjutkan kuliah lagi, aku selalu mendapat uang jajan bulanan yang besar tidak seperti dulu lagi.


Sejak Mama menggugat cerai dan Richard tertangkap karena narkoba dan harus menjalani rehabilitasi aku sudah seperti tangan kanan Papa. Aku orang kepercayaannya. Aku bebas menggunakan uang di brangkas Papa.


Tapi aku tidak serakah. Aku tidak mau berleha-leha dan tetap berusaha lulus kuliah sambil mengerjakan sebagian kerjaan Papa. Aku ibarat mata-mata Papa yang dikirim ke perusahaan sebagai kacung kampret, padahal aku adalah pembuat keputusan penting di perusahaan.


Identitasku harus tetap tersembunyi sampai Papa kembali. Ternyata sampai Papa keluar tahanan Ia masih menyuruhku menyembunyikan identitas dan masih harus bekerja sebagai anak buah. Ia harus mencari tahu siapa yang telah menghianatinya dan melaporkannya ke KPK.

__ADS_1


Dari hasil bekerjaku di belakang layar, aku sudah bisa membeli motor Aerox secara cash. Aku simpan di rumah karena malas kupakai ke kantor. Motor Vixion lamaku membuat aku makin tidak dikenali sebagai calon pemimpin Kusumadewa Group.


Kenapa tidak membeli mobil saja? Dan kenapa motor biasa saja yang dibeli, bukan motor Harley Anak Bapak David yang terkenal mahal dan keren itu? Jawabannya karena sayang uangnya.


Aku pernah merasakan susahnya mencari uang saat hidup berumah tangga dengan Maya dulu. Betapa berartinya uang dua puluh ribu yang Maya bekalkan untuk ongkos mencari kerja. Sekarang punya uang kok rasanya sayang untuk dihamburkan.


Aku keluar dari Mall dengan wajah sumringah. Tak sabar rasanya menunggu esok hari. Hari yang selama ini aku tunggu-tunggu.


Aku menaruh barang yang kubeli di dalam kamar dengan hati-hati. Setelah mandi aku menatap diriku di cermin.


Aku memasang senyum yang tidak akan membuat anak kecil menangis karena melihatku. Senyum tanpa gigi dan senyum memamerkan gigi putih khas Pepsodent.


"Hai Adam. Ini Papa," eh tunggu dulu.... Maya mengijinkan aku memperkenalkan diri sebagai Papanya Adam atau sebagai Om saja ya?


Aku ulangi lagi, senyum Pepsoden kusunggingkan, "Hai Adam. Kenalin, ini Om Leo. Teman Mama kamu."


Masih dengan senyum dan tatapan yang hangat agar Adam tidak takut berkenalan denganku, aku akan menghampirinya dan mengulurkan tanganku.


"Om Leo punya sesuatu nih untuk Adam. Ada Avengers," aku mengambil mainan Hulk dan Iron Man lalu berbicara seperti ada Adam di depanku. "Adam mau yang mana?"


Senyum. Aku harus banyak senyum. Ah aku sudah tidak sabar rasanya menunggu hari esok.


Tidurku gelisah. Tak sabar menunggu pagi datang. Aku harus cepat tidur aku mau bertemu Adam. Kira-kira Ia mirip denganku apa tidak ya?


Jam 6 pagi aku sudah bangun. Aku langsung mandi, bahkan kusempatkan untuk bercukur. Anak kecil takut dengan om-om berjenggot bukan? Aku lalu memilih baju yang akan kukenakan.


Benarkah Adam suka warna hitam? Ah aku ikuti saja. Aku mengambil kaos warna hitam bergambar Tazmanian Devil. Aku berharap tokoh kartunnya membuat Adam suka.


Kulirik jam di dinding, masih jam 7 pagi. Udah aku lama-lamain eh masih aja kurang lama. Yasudahlah daripada makin deg-degan lebih baik aku jalan sekarang aja.


Jam setengah 8 kurang aku sudah sampai di rumah kontrakkan yang lama. Kulirik keadaan sekitar, masih sama seperti waktu aku tinggal bersama Maya dulu.


Aku menunggu kedatangan Maya. Sesuai janjinya Maya datang tepat jam 8 pagi. Ia memakai kemeja hitam dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai indah. Membuatnya terlihat makin cantik.


🎶Pernah aku jatuh hati


Padamu sepenuh hati


Hidup pun akan kuberi


Apapun kan ku lakui


Tapi tak pernah ku bermimpi


Kau tinggalkan aku pergi


Tanpa tahu rasa ini


Ingin rasa ku membenci


Tiba tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya

__ADS_1


Kau bukanlah untukku🎶


Pura-pura lupa- Petrus Mahendra.


Cantik. Wanita cantik itu pernah menjadi istriku walau hanya sebentar. Wanita itu pernah ada dipelukanku dan membuat malam-malamku terlelap dengan mimpi indah.


Tapi kini Ia sudah ada yang memiliki. Ia tak lagi sendiri. Ia juga yang memutuskan untuk berpisah denganku.


Namun rasa itu masih ada. Masih tetap utuh seperti dulu. Bahkan semakin besar. Semakin aku mencoba untuk membencinya, perasaan itu malah semakin kuat.


Aku mencari anak kecil di belakang Maya, namun nihil. Kutengok mencari di sekeliling Maya juga tidak ada. Apa mungkin sedang bersembunyi?


"Adam mana May?" tanyaku setelah jarak kami sudah dekat.


"Nih kita mau kesana." jawab Maya.


Aku pikir Adam bersama suami Maya, Angga. Maya hanya menggeleng. Maya lalu menintaku mengikutinya. Aku titipkan motorku di warung Pak Husin seperti permintaannya.


Benar dugaanku, Adam ada di rumah kontrakkan Maya. Kan kontrakkan Maya tidak jauh dari kontrakkan lama. Begitu pikirku.


Namun aku mulai curiga ketika Maya berbelok ke arah pemakaman. Aku masih postif thinking dan berpikir kalau Maya mau memotong jalan.


Lagi-lagi aku salah. Maya malah berbelok ke salah satu Blok di pemakaman. Blok P. Untuk apa Ia kesana? Perasaanku tiba-tiba terasa tak enak.


Maya lalu berhenti dan berjongkok di depan sebuah makam berukuran kecil. Ada batu nisan dengan rumput yang rapi pertanda selalu dijaga keluarganya. Ngapain Maya kesana?


Ucapan Maya berikutnya membuatku bagai tersambar petir di siang bolong.


"Adam Sayang.... Ini Mama datang.... Mama datang sama Papa kamu, Nak." ucap Maya.


Aku tidak percaya dengan ucapan Maya. Aku langsung berjalan mendekat dan melihat tulisan diatas batu nisan. Adam. Tanggal lahir dan tanggal meninggal yang tertera adalah pada hari dimana aku bertengkar hebat di parkiran dengan Maya. Hari dimana Papa ditangkap.


Tanpa kusadari aku melepas peganganku pada paper bag yang kubawa. Aku langsung terjatuh lemas, terlebih saat mendengar Maya mengatakan kalau Adam pergi saat aku meninggalkan mereka.


Otakku berpikir cepat. Tapi lebih cepat air mata yang sudah menetes tanpa bisa kutahan. Aku ingat semuanya.


Aku menepis tangan Maya sampai jatuh saat di parkiran. Bukannya membantu Maya yang sedang kesakitan, aku malah pergi meninggalkannya setelah mendapat telepon dari Mama.


Jadi.... Aku yang telah membunuh anakku sendiri? Aku menatap tanganku, tangan yang sudah membunuh anak kandungnya sendiri.


"Adam.... Tidak.... Adam.... " Aku langsung menghambur ke depan makam. Aku menangis meraung-raung menyesali perbuatanku.


"Adam... Maafin Papa.... Adam......"


Maya juga tengah menangis di sampingku. Ya Tuhan.... Aku Papa paling tidak bertanggung jawab. Aku bahkan tega membunuh darah dagingku sendiri.


Aku terus memeluk makam Adam. Tangisanku membasahi makamnya. Rasanya aku rela menggantikan posisi Adam saat ini. Lebih baik aku yang mati, bukan anakku.


Sekarang aku memeluk nisannya. Membayangkan sedang memeluk tubuh mungil yang mungkin saat ini sedang menari bahagia bersama malaikat dk surga sana. Ia bahkan belum sempat melihat dunia namun sudah diambil lagi oleh Sang Pencipta.


Aku mengelus batu nisan tersebut. Air mataku bahkan sudah membasahi nisan yang terukir indah tersebut.


Tidak tahu sudah berapa lama aku menangis. Aku tidak peduli. Namun sebuah sentuhan di pundakku menyadarkanku dan sedih yang tak berujung.


"Sudah siang. Tak baik terus menangisi Adam. Biarkan Adam tenang di alamnya."


Maya mengulurkan tangannya padaku. Membantuku berdiri. Ia bahkan membawakan paper bag yang tadi aku bawa.


"Ini boleh aku sumbangkan ke panti asuhan?" tanya Maya yang hanya kujawab dengan anggukan. Tubuhku masih terasa lemas. Maya sadar itu, Ia tidak melepaskan pegangan tangannya dan tetap menuntunku yang bak mayat hidup tanpa nyawa.


Aku mengikuti saja setiap langkah Maya tanpa protes. Pikiranku kosong. Segunung penyesalan terus menghimpit dadaku. Membuat aku bahkan membenci diriku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2