
🎶 Hai, senangnya dalam hati
Kalau beristri dua
Oh, seperti dunia ana yang punya
Kepada istri tua
Kanda sayang padamu
Oh, kepada istri muda
I say, "I love you"
Istri tua merajuk
Balik ke rumah istri muda
Kalau dua-dua merajuk
Ana kawin tiga🎶
Lagu karangan Ahmad Dhani sangat sesuai dengan keadaanku saat ini. Diapit dengan dua wanita yang sedang mengincarku dan mantan istri yang sedang menatap penuh cemburu.
"Aku boleh join kan Leo disini? Enggak ada yang aku kenal disini selain kamu." tanpa menunggu jawabanku Lidya menaruh nampannya.
"Weits... Laris manis nih Leo. Makan siang aja diapit sama bidadari cantik." ledek Aldi.
Aku melirik sekilas ke arah Maya. Wajahnya makin terlihat suram saja. Ia terlihat sedang mengacak-acak makanannya seperti tidak nafsu makan lagi.
"Dia siapa Leo?" tanya Ana memasang wajah jutek melihat saingannya bertambah lagi.
"Kenalin, ini Lidya. Kalian pasti udah denger kan kalau perusahaan kita akan kerja sama dengan restoran Korea? Lidya ini salah satu owner restoran Korea Samchi." aku memperkenalkan Lidya pada semuanya kecuali Maya yang sudah kemarin aku perkenalkan.
Lidya menyalami Aldi dan Ana satu per satu. Senyum ramah tersungging di wajahnya.
"Ana dan Aldi teman satu angkatanku di kantor. Kita berempat sama Maya masuk bareng." aku menjelaskan pada Lidya.
"Kalau mereka seangkatan sama kamu berarti umur kita semua sama dong." ujar Lidya.
"Ya kurang lebih begitu." jawabku.
"Kamu diam aja May. Lagi sakit?" tanya Lidya pada Maya yang sejak tadi hanya diam sambil mengacak-acak makanannya.
"Lidya udah kenal sama Maya?" tanya Ana.
"Udah. Ketemu di lift waktu pulang kantor. May orangnya pendiam atau memang karena lagi enggak enak badan jadi diam saja?" tanya Lidya.
Maya hanya menyunggingkan seulas senyum.
"Kamu beneran enggak enak badan May?" tanya Aldi penuh perhatian.
Ini salah satu yang aku enggak suka. Maya tuh cantik. Jadi hilang Angga pasti akan ada kumbang lain yang mendekat.
"Aku enggak apa-apa kok. Cuma masih kenyang aja." jawab Maya.
"Eh kalian udah ngecek mobile banking belum? Gajian udah masuk nih. Kita enggak mau nongkrong dimana gitu? Gaji pertama nih! Apa kita nongkrong di Blok S kayak waktu itu lagi? Tapi kali ini aku mau dijemput sama Leo ya." ujar Ana dengan nada suaranya yang dibuat semanja mungkin.
Aku sebenarnya kurang suka dengan cewek-cewek seperti Ana. Terlalu sering mencari perhatian. Seperti haus belaian laki-laki.
"Aku mau pulang kampung besok." jawab Maya tiba-tiba membuatku langsung mengangkat wajahku dan menatap langsung ke dalam matanya. Maya menatapku balik.
"Pulang sama siapa May?" tanya Aldi lagi.
"Sama Kak Rian. Kemarin aku ditelepon. Kak Rian ngajak aku pulang karena sejak aku di Jakarta belum pulang lagi ke rumah." jawab Maya.
"Maya memangnya enggak tinggal disini ya keluarganya?" tanya Lidya.
"Iya. Aku anak kampung yang merantau seorang diri di Jakarta." ujar Maya dengan nada merendah.
"Berangkat kapan May?" tanya Aldi lagi. "Aku anterin ya."
Ah ini kutu ngapain sih nyari muka di depan Maya? Pake mau anterin Maya segala. Rusak deh semua rencanaku. Mumpung Richard lagi keluar kota nih. Nanti si penggangu datang makin berantakan rencana awalnya.
"Enggak usah, Di. Makasih. Kak Rian bawa mobil kok." jawab Maya lagi.
Kak Rian sepertinya sekarang sudah berhasil. Pasti mobil yang Ia beli hasil kerja kerasnya selama ini. Memang Kak Rian paling mandiri dan sudah terlihat kalau Ia akan sukses.
Sudah lama aku tidak bertemu Kak Rian. Kalau bertemu dengannya pasti bogem mentah akan aku terima. Bagaimanapun adiknya sudah aku sakiti. Aku pantas mendapatkannya.
__ADS_1
"Yah... Batal dong rencana nongkrong kita? Atau kita tetap nongkrong aja tanpa Maya?" egois sekali sikap Ana ini.
"Iya. Kalian pergi saja tanpa aku. Aku baru balik hari minggu malam kok." kata Maya.
"Tuh Maya udah kasih ijin. Kita mau nongkrong dimana?" Ana masih ngotot dengan idenya tersebut
"Mau nonkrong di restoranku? Nanti aku kasih free voucher buat kalian. Gimana?" Lidya ikut menimpali.
"Boleh juga sih." jawab Aldi.
"Iya. Aku juga mau nyoba." kata Ana.
Aldi, Ana dan Lidya menatapku meminta persetujuanku. Sementara aku malah menatap Maya yang sejak tadi menunduk seperti tidak bersemangat.
"Aku absen ya. Aku ada kerjaan sampingan yang aku ambil." jawabanku membuat Maya mengangkat wajahnya. Mata kami kembali bertemu.
"Yaaahhh... Kalau enggak ada Leo mah enggak seru." kata Ana sedikit merajuk.
"Yaudah kita cancel aja ya. Aku juga maunya Leo ikut." perkataan Lidya membuat semua mata menatap padanya.
Ana menatap tidak suka, Aldi menatap penuh curiga dan Maya menatap sebal.
"Kamu deket banget ya Lidya sama Leo?" Ana mengambil kesempatan untuk bertanya pertama.
"Iya. Dulu Leo kerja di restoran Koreaku saat Leo kabur dari rumahnya. Leo dulu karyawan yang rajin loh." puji Lidya.
"Ah masa sih Leo pernah kabur dari rumah?" tanya Ana tak percaya.
"Kaburnya lumayan lama juga. Beberapa bulan kalau enggak salah. Terus pas Leo balik lagi ke rumahnya langsung deh berhenti kerja. Enggak nyangka kita malah ketemu lagi disini." kata Lidya menjelaskan.
Aku hanya tersenyum singkat mendengarnya. Seharusnya Lidya enggak perlu membongkar kisah masa laluku di depan yang lain.
"Kok kabur bisa lama ya? Kalau aku ngambek sama orang tuaku biasanya kabur sehari dua hari udah balik lagi. Leo beneran ngambek atau kawin lari?" Maya tiba-tiba nyeletuk. Sudah mulai terpancing ternyata. Kita lihat sejauh apa kamu akan terpancing May.
"Mungkin Leo kalau ngambek lama kali May. Enggak mungkin ah Leo kawin lari. Sama siapa? Sama kamu gitu?" Ana langsung bertindak sebagai pembelaku di garis terdepan.
"Ya mungkin sama aku. Kita kan enggak ada yang tahu takdir orang." jawaban Maya malah membuat yang lain tertawa. Sudah berani ternyata Ia mengungkap pernikahan kami ke semua orang meskipun tak ada yang mempercayai perkatannya.
"Kamu lucu banget ya May. Ha...ha... Tapi waktu kerja sama aku dulu tuh Leo selalu mau cepet pulang. Aku mikirnya Leo tuh kayak punya istri yang nungguin di rumah. Belum lagi Ia selalu dibawakan makan siang dengan tempat makan berwarna pink. Meski lauknya sederhana Leo selalu makan loh dan tak pernah jajan di luar." puji Lidya.
"Udah ah jangan ngaco May. KTP Leo saja masih single. Ia kan Leo? Coba kita lihat kalau kamu enggak percaya Leo masih single May." Ana lalu meminta KTP milikku.
"Tuh kan KTPnya single. Kamu jangan ngarang ah May!" Maya seperti dipojokkan oleh Ana yang tak terima kalau aku sudah menikah.
"Aku memang sudah duda kok." aku berusaha membela Maya. Kasihan melihat Maya yang berusaha jujur tapi tidak ada yang percaya.
"Udah deh Leo. Jangan kebanyakan membela Maya. Pake ngaku duda segala." Ana menghentikanku sebelum aku bisa berbicara panjang lebar.
"Terserah kalau enggak percaya. Aku duluan ya. Ngantuk mau tidur dulu di ruangan." Maya lalu mengangkat nampannya dan pergi meninggalkan kami.
Tak lama aku menyusul karena aku harus menandatangani berkas di pantry lantai bawah.
Aku membeli dua buah Milo kemasan kaleng di mesin minuman dan membawanya ke ruangan.
Di dalam ruangan Maya sedang menaruh kepalanya diatas meja. Aku tahu Ia tidak sedang tidur.
Aku menaruh minuman yang kubawa diatas mejanya. "Nih minum."
Maya lalu mengangkat kepalanya. Benar kan Ia tidak tidur?
Maya membuka tutup kaleng dan meminum susu Milo yang kuberikan. Aku juga melakukan hal yang sama. Segar minum minuman dingin di siang hari ini. Apalagi kalau pikiran lagi mumet.
"Kamu masih marah sama aku?" tiba-tiba Maya bertanya padaku.
"Kenapa harus marah?" aku mengembalikkan pertanyaan Maya dengan pertanyaan lagi. Sengaja. Cara tercepat membuat orang kesal.
"Tinggal jawab aja sih masih marah apa enggak. Malah balik nanya!"
See? Mudah kan membuat orang lain marah. Seperti menjitak orang yang lagi diem pasti langsung marah. Namun yang sulit adalah membuat orang bahagia. Karena itu membahagiakan orang lain besar pahalanya.
"Kenapa aku harus marah? Aku juga bingung mau jawab masih atau udah enggak marah lagi. Kamu jawab dulu pertanyaan aku baru aku jawab pertanyaan kamu."
Helaan nafas kesal Maya sudah menjadi bukti kalau Maya makin kesal dengan perkataanku.
"Oke. Kamu masih kesal enggak gara-gara aku membahas Angga?" Maya pun mulai menyuarakan isi hatinya.
"Kalau kamu gimana? Kesal enggak kalau aku membahas tentang Lidya?" aku tanya balik lagi.
"Kalau enggak mau jawab yaudah. Jangan kebiasaan kalau ditanya malah balik nanya lagi. Bikin orang tambah kesel tau enggak!" mulai deh Maya ngegas.
__ADS_1
"Aku bukan balik bertanya. Aku sudah menjawab kok. Kalau kamu kesal saat aku ngobrol dengan Lidya maka perasaanku juga begitu saat kamu selalu membahas Angga dan membawanya diantara kita."
"Aku enggak-" aku potong perkataan Maya sebelum Ia selesai bicara.
"Begitu pun sebaliknya. Kalau kamu baik-baik saja aku dekat dengan Lidya maka aku juga akan baik-baik saja dengan hubungan kamu dan Angga. Sesimple itu."
Maya tidak jadi berbicara. Aku bagaikan memberinya buah simalakama. Salah menjawab akan menjadi bumerang sendiri bagi dirinya.
"Oke. Aku enggak akan membahas lagi tentang Angga." kata Maya pada akhirnya.
Tapi aku masih merasa kurang cukup (sama kayak reader yang enggak pernah cukup walau sudah dikasih double up 🤣).
"Aku enggak pernah melarang kamu membicarakan Angga. Itu urusan kamu." aku bersikap sok acuh. Biarlah kali ini aku yang tarik ulur sama kamu May. Biar kamu tahu rasanya mencintai seorang diri rasanya seperti apa.
Aku memang kejam tapi aku tak akan pernah rela melepaskan kamu sama Angga!
"Kamu memang enggak pernah melarang aku. Tapi... Tapi aku yang mau melarang kamu." Maya terlihat malu-malu menyuarakan isi hatinya. Harus dipancing nih biar lebih bebas.
"Melarang untuk?" aku pura-pura tidak tau maksud Maya padahal aku tahu pasti ada hubungannya dengan Lidya.
"Untuk.... Untuk terlalu dekat.... dengan Lidya."
Nah kan tebakanku benar. Kamu tuh terlalu ekspresif May. Mudah ditebak.
"Memangnya kenapa?"
"Ya aku enggak suka aja. Aku juga enggak tau alasannya apa. Aku sebal aja ngeliat kamu begitu akrab dengan Lidya. Apa kamu enggak bisa lihat kalau Lidya tuh suka sama kamu?" Maya pun menyuarakan isi hatinya dengan bebas.
"Kamu cemburu?"
"Enggak! Kenapa aku harus cemburu?!" masih jaga gengsi ternyata.
"Karena menurutku apa yang kamu rasakan itu namanya cemburu May. Kamu lupa kalau aku pacar pertama kamu? Selama ini kamu belum tau seperti apa rasanya cemburu itu."
"Ih dibilang aku enggak cemburu juga!"
Aku menghela nafas dalam. Sabar, Leo. Sabar...
"Apa yang kamu rasakan sama persis saat aku melihat kamu bersama Angga dulu. Perasaan tidak suka saat melihat istriku yang sedang hamil pergi dengan laki-laki lain tanpa seijin aku selaku suaminya. Rasanya kesal. Merasa tak dianggap. Dan yang paling menyiksa adalah rasa takut kehilangan,"
Maya hanya diam saja tak lagi menyanggah perkataanku. Aku pun melanjutkan lagi perkataanku berikutnya.
"Setelah kita berpisah lalu kamu masih bersama Angga yang sejatinya adalah penyebab utama pertengkaran rasa sakit yang kurasakan makin bertambah. Apalagi saat kamu tanpa tersirat menyatakan kalau keluarga Angga tidak menerima kamu. Ada perasaan marah yang enggak bisa aku gambarkan seperti apa wujudnya. Aku enggak pernah terima melihat kamu dihina seperti itu hanya karena status kamu. Siapapun orangnya, sekaya apapun hartanya. Semua sama."
Aku melirik ke arah Maya. Ia terlihat menunduk dan aku bisa melihat buliran air mata yang tak kuasa Maya bendung.
"Renungkanlah May. Apa arti aku di dalam hati kamu. Kalau memang aku enggak pernah berarti apapun di dalam hati kamu, aku akan mencoba ikhlas menerimanya."
🎶Aku yang memikirkan
Namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku
Tersita dengan angan tentangmu
Mencoba lupakan
Tapi 'ku tak bisa
Mengapa begini
Oh, mungkin aku bermimpi Menginginkan dirimu
Untuk ada di sini menemaniku
Oh, mungkinkah kau yang jadi
Kekasih sejatiku
Semoga tak sekedar harapku🎶
Suara merdu Monita yang menyanyikan lagu Kekasih Sejati dari speaker komputer seperti menyiratkan perasaanku hari ini.
Bukan Maya saja yang mau menangis. Tapi aku juga. Bukan Maya saja yang sedih, aku juga.
-POV Leo End-
***
__ADS_1
Maaf ya agak telat Upnya. Ayo terus vote karena kini sudah masuk 10 besar. Fighting!!!