
Aku meletakkan kantong plastik berisi nasi uduk di dekat tas Angga yang Ia letakkan di kursi penumpang belakang.
"Nasi uduknya aku taruh dekat tas kamu. Udah ada sendok plastiknya jadi kamu tinggal makan aja."
Aku lalu meletakkan nasi uduk punyaku dalam tas yang aku bawa. Kalau ditenteng malu aja.
"Iya makasih. Jadi kamu beneran enggak mau resign?" tanya Angga sambil tetap fokus menyetir mobil yang kini sudah memasuki jalan bebas hambatan.
"Memangnya kapan aku pernah bilang mau resign? Enggak pernah deh kayaknya!" aku masih mengingat-ingat kapan aku pernah bilang mau resign.
"Kamu memang belum pernah bilang sih, May. Aku yang mau kamu resign."
"Loh memangnya kenapa? Kusumajaya Group kan perusahaan impian aku. Jangan bilang karena aku satu kantor dengan Leo!" tebakanku pasti benar adanya. Melihat perubahan ekspresi Angga saat aku menyebutkan nama Leo.
"Sampai sekarang status aku juga kamu gantung, May. Aku udah lamar kamu tapi kamu belum jawab. Kamu boleh pending menjawab lamaranku tapi setidaknya biarkan aku tenang. Jangan bekerja di perusahaan yang sama dengan Leo. Please...."
Ini yang aku enggak suka dengan Angga. Apa salah kalau aku kerja bareng Leo lagi? Kecuali ciuman di rumah Leo terakhir, aku dan Leo memang tak ada hubungan apa-apa kan?
"Menurutku kamu enggak usah menunggu aku, Ga. Aku aja belum tau kapan akan berumah tangga lagi. Kalau ada cewek lain yang kamu suka ya kamu nikahi saja. Aku enggak pantas buat kamu. Yang ada tuh aku malah akan membuat kamu sakit hati terus." penolakan yang lumayan menyakiti hati Angga, aku tau itu.
"Aku enggak mau! Kalau aku mau dengan cewek lain untuk apa aku terus menunggu kamu May?"
"Ya karena kamu terus menunggu aku makanya membuat aku jadi enggak nyaman. Kamu tau gak, saat kita ditungguin sama orang lain maka kita akan terburu-buru melakukan sesuatu. Dan aku enggak mau itu."
Aku sebenarnya mulai bosan berdebat seperti ini dengan Angga. Mulai menjemukkan. Kayak enggak ada topik pembahasan lain aja!
"Kalau memang keputusan kamu yang terburu-buru adalah memilih aku, kenapa enggak?"
Aku menghela nafas kesal. Pasti Angga mendengarnya. Bodo amat ah. Aku paling enggak suka dipaksa seperti ini.
"Maaf, May. Mama sudah menyuruhku untuk menikah. Aku sih enggak masalah menunggu kamu siap, tapi aku punya orang tua yang tidak sesabar aku. Atau kamu mau ya ketemu sama orang tuaku dulu?"
Jawaban saja belum aku berikan sekarang malah diajak ke rumahnya. Makin enggak suka aku.
"Besok malam ya May. Please.... "
Sampai aku turun di depan kantor aku tak juga memberikan jawaban yang pasti kepada Angga. Menggantung. Aku enggak tau mau jawab apa.
Aku berjalan dengan pikiran yang kosong ke dalam ruangan audit. Seperti biasa, Leo sudah hadir dan sedang sibuk mengerjakan sesuatu.
"Pagi Maya! Tumben kamu datangnya agak siang?" sapa Leo padaku.
"Iya. Tadi antri dulu beliin Angga nasi uduk buat sarapan." Aku duduk di tempatku dan menaruh tas di tempat biasa lalu menyalakan komputer.
"Aku nggak dibeliin? Kok Angga aja sih yang di beliin?" Leo mengganti musik metal yang sejak tadi Ia putar dari komputernya dengan alunan musik yang lebih slow.
"Kamu mau? Nih makan aja punya aku." aku mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam tas dan hendak memberikannya pada Leo.
"Enggak usah. Aku cuma bercanda doang kok, tapi kalau kamu memaksa sih aku mau. Tapi maunya disuapin." ujar Leo sambil menyunggingkan seulas senyum.
"Jadinya mau apa enggak? Buat kamu aja nih aku nggak apa-apa kok. Aku udah enggak nafsu makan kok." aku meletakkan bungkus plastik berisi nasi uduk di meja Leo.
Sepintas aku melihat dokumen persetujuan sedang Leo rapihkan dengan cepat-cepat ketika melihatku hendak memberikan nasi uduk. Kenapa Leo bisa memegang dokumen persetujuan sih? Apa Pak Johan yang menyuruhnya untuk mengecek?
"Sebentar ya, aku mau-" belum selesai Leo berpamitan aku sudah memotong ucapannya.
"Mau ke tangga darurat kan? Yaudah sana!"
Leo mengu lum senyum. "Tau aja sih? Perhatian bener!"
Leo pun pergi meninggalkan ruangan sambil membawa beberapa berkas. Entah untuk apa aku nggak peduli. Aku kembali memikirkan tentang Angga.
Sayup-sayup lagu dari komputer Angga mulai mengusikku. Lagu yang yang awalnya dinyanyikan oleh Titi DJ tersebut seperti sedang menyentil diriku.
🎶 Kau satu terkasih
Kulihat di sinar matamu
Tersimpan kekayaan batinmu
Hoo
Di dalam senyummu
Kudengar bahasa kalbumu
Mengalun bening menggetarkan
Kini dirimu yang selalu
Bertahta di benakku
Dan aku 'kan mengiringi
Bersama
__ADS_1
Di setiap langkahmu🎶
Bertepatan dengan Leo yang kembali lagi ke dalam ruangan setelah melakukan kegiatan rutinnya di tangga darurat.
"Kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Leo setelah duduk di kursinya.
Reff lagu Bahasa Kalbu mengalun. Sangat pas sekali menggambarkan situasiku saat ini.
🎶Percayalah
Hanya diriku paling mengerti
Kegelisahan jiwamu, kasih
Dan arti kata kecewamu
Kasih, yakinlah
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu, kasih
Percayalah🎶
"Menurut kamu, apa yang harus kita lakukan untuk membalas segala kebaikan orang lain?"
"Tergantung." Leo menyerahkan lagi bungkus nasi uduk padaku. "Aku udah sarapan tadi. Cuma becandain kamu aja."
Kalau bisa ngomong pasti nasi uduk itu akan protes karena sejak tadi dioper ke sini dan kesana.
"Maksudnya tergantung itu apa?" aku menaruh nasi uduk di tempat lain di mejaku. Males aku makan sekarang. Pertanyaan Angga tadi itu beneran membuat nafsu makan ku hilang.
"Tergantung perbuatannya. Tergantung kebaikan apa yang kamu terima. Enggak semua harus membayar kebaikan dengan kebaikan, kan ada Tuhan yang nantinya akan membalas kebaikan setiap hambanya. Begitu pun dengan kejahatan." Leo kembali menyibukkan dirinya dengan komputer dan beberapa berkas lain di mejanya.
"Kalau membalas kebaikan orang dengan berpura-pura menerimanya gimana?" tanyaku lagi.
"Yang namanya berpura-pura itu enggak ada yang baik-baik. Kamu tuh harus jujur. Memangnya kamu mau menerima lamaran orang tanpa ada kejujuran dalam hati kamu? Eh... tunggu! Kamu Beneran mau nerima lamaran orang? Lamaran Angga?"
Leo yang awalnya fokus dengan komputer dan pekerjaannya langsung melepas semuanya dan menatapku. Apalagi setelah aku menjawabnya hanya dengan anggukan.
"Angga beneran ngelamar kamu? Terus kamu mau terima?" Leo sepertinya perlu memastikan lagi jawabanku karena tadi aku hanya mengangguk saja.
"Aku belum terima lamaran Angga secara resmi sih. Waktu itu Angga pernah melamarku tapi aku masih ragu untuk menjawabnya dan tadi Angga memintaku untuk berkenalan dengan orangtuanya besok malam."
Aku mengangkat kedua bahuku. "Enggak tahu."
"Tapi kamu pernah terlintas dalam pikiran kamu sedikit gak kalau kamu bakal nerima Angga?"
"Jujur aja, pernah. Angga baik sama aku. Selama 2 tahun lebih aku kuliah di Bandung, Ia dengan setia menemani. Ia yang menguatkan aku dalam keadaanku yang paling terpuruk. Sebenarnya nggak ada alasan bagiku Untuk menolaknya."
Mendengar jawaban yang terlontar dari mulutku sepertinya Leo membutuhkan sesuatu untuk menenangkan dirinya. Ia lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Berarti, suatu saat nanti kamu akan menerima Angga?" Leo memastikan kesimpulan yang Ia buat dari jawabanku.
Aku kembali menggelengkan kepalaku. "Belum tahu."
"Kamu enggak bisa begitu May. Jangan menggantungkan perasaan orang lain! Kalau kamu nggak suka ya kamu tinggal tolak. Kalau kamu nggak mau memberi jawaban seperti ini, itu sama aja kamu memberi harapan terus-menerus pada orang tersebut!"
Perkataan Leo menang pedas, tapi Ia benar. Aku memang selama ini menggantungkan nasib Angga dengan berdalih kalau aku belum siap. Padahal kenyataan sebenarnya adalah aku terlalu takut juga kehilangan Angga.
Aku memang belum memiliki perasaan terhadap Angga selain menganggapnya sebagai sahabat. Tapi Angga adalah calon potensial yang akan diterima oleh Bapak. Semua yang Bapak inginkan ada dalam diri Angga.
Serakah, itulah aku. Egois, memang begitu adanya. Aku nggak mau munafik, Angga adalah kartu As yang akan aku keluarkan terakhir jika Bapak menyuruh untuk menikah.
Perceraian yang membuat aku trauma. Trauma untuk melangkah ke depan. Trauma untuk mencari pasangan hidup baru dan tentunya trauma jatuh cinta lagi. Aku memang tak mencintai Angga, tapi setidaknya kalau pun sampai menikah dengan Angga, aku akan tenang karena menikah dengan orang yang aku kenal.
"Apa kamu pada akhirnya menyukai Angga? Bukan menyukai dalam arti seorang sahabat atau teman yang baik, tapi kamu punya perasaan lain sama Angga?"
"Aku nggak tahu." aku mulai enggan membuka diri untuk bercerita dengan Leo. Salah bicara malah akan membuat Leo terluka juga nantinya.
Namun bukan Leo namanya kalau pantang menyerah. "Aku pernah baca tentang ciri orang yang namanya ada di dalam hati kamu salah satunya adalah kalau menyebut namanya jantungmu akan berdetak kencang. Apakah Angga ada di posisi seperti itu?"
Tanpa Leo tanyakan aku juga sudah tahu jawaban aku apa. Tidak ada, tidak pernah ada nama Angga dalam hatiku. Aku hanya menganggap Angga seperti temanku saja.
Tapi aku terlalu serakah. Aku takut kehilangan Angga yang selama ini selalu menemaniku. Itulah yang membuat aku berat untuk menolak Angga.
Ya, aku memang egois. Wajar kan? Im only human. Kalau orang lain berada di posisiku pasti tidak akan mudah melepas sosok seorang Angga.
Karena itu aku masih menggantungnya. Memang sih enggak enak digantungin tanpa adanya kepastian. Toh hidupku tak ada yang pasti.
"May." panggil Leo ketika aku tak juga menjawab pertanyaannya.
"Aku enggak mau jawab!"
__ADS_1
"Kenapa, May?"
"Karena ini urusanku. Kita sudahi saja ya percakapan ini. Aku mau ke pantry." aku harus menghindar dari Leo. Aku harus menjauhkan diri sejauh mungkin dari bayang-bayang Leo.
"May aku mau Milo ya." ujar Leo sebelum aku membuka pintu ruangan.
"Bikin aja sendiri!"
Aku keluar ruangan dan berjalan menuju kamar mandi, bukan ke pantry seperti yang aku bilang pada Leo. Di dalam kamar mandi sudah ada Ana yang sedang merapihkan make-upnya.
"Hi May!" sapa Ana.
"Hi, Na."
"Leo udah datang ya May?"
"Udah." jawabku singkat.
"Udah sarapan belum ya Leo?"
Leo lagi...Leo lagi... Leo lagi.... Kayaknya Angga bener deh kalau aku harus resign agar enggak mendengar tentang Leo terus.
"Tadi sih bilangnya udah pas aku tawarin nasi uduk yang aku bawa." aku mencuci tanganku dan di washtafel lalu membasahi sedikit tanganku dan mengusapkannya ke tengkuk belakang. Hal yang aku lakukan kalau mumet.
"Kamu bawain Leo sarapan? Udah kayak pacarnya aja!"
Aku memutar bola mataku, sebal dengan pernyatan Ana. Childist banget.
"Aku mantan istrinya bukan pacarnya." jawabku dengan kesal. "Dan tadi bukan bawain Leo tapi itu nasi uduk buat aku sarapan."
"Ih kamu suka ngaku-ngaku pernah nikah sama Leo. Apa jangan-jangan kamu naksir juga ya sama Leo?" selidik Ana.
Salah tempat deh kayaknya. Niatnya ke kamar mandi buat nenangin diri eh malah ketemu Ana yang malah buatku makin kesal rasanya.
"Ambil aja Na. Ambil. Itu juga kalau Leo mau sama kamu. Udah ya aku mau ke pantry."
Aku meninggalkan Ana yang menatapku dengan sebal. Bodo amat! Terkadang kita harus punya sikap bodo amat dengan orang-orang yang toxic banget kayak Ana.
Setelah membuat susu cokelat di pantry aku kembali ke ruangan. Sudah ada Kak Fahri dan Kak Anggi yang sedang mengobrol tentang pertandingan sepak bola semalam.
"Pagi, Kak!" sapaku.
"Pagi, May." jawab mereka kompak lalu melanjutkan lagi percakapan mereka sebelumnya.
Aku berjalan menuju meja kerjaku dan meletakkan cangkir di meja.
"Susu Mio buatku mana May?" tanya Leo.
"Enggak ada. Bikin aja sendiri." aku melanjutkan pekerjaanku dan tak mengindahkan Leo sampai saat istirahat pun aku bahkan pergi duluan ke kantin.
Sudah ada Aldi yang menempati tempat untuk kami di kursi panjang.
"Hi, Di!" sapaku.
"Hi juga May! Mana Leo?" tanya Aldi yang tak melihat Leo yang biasanya mengekoriku.
"Nyusul kayaknya." aku mulai menikmati makan siangku. Nasi uduk tadi pagi tak jadi kumakan. Sekarang aku merasa sangat lapar.
Tak lama Leo dan Ana datang bersamaan dan duduk di sampingku dan Aldi.
"Makin deket aja nih? Apa karena habis diantar pulang bareng hari sabtu kemarin?" ledek Aldi.
Aku tetap fokus dengan makan siangku dan tak memperdulikan Leo dan Ana.
"Iih.. Aldi! Ngeledekkin aja deh. Aku kan malu." Ana berbicara dengan nada manjanya yang membuatku hendak muntah mendengarnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menaruh nampan di sebelahku dan duduk tepat di sampingku.
"Hi Maya adikku tersayang." suara yang terdengar khas.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat cowok yang terlihat klimis sehabis bercukur dan benar-benar beda dari yang kemarin kulihat.
"Richard?"
Gila sih ini! Kenapa Richard bisa ada disini?
"Kaget ya? Pangeran tampan ini ada disini?"
Aku mengangguk. Bukan karena mengakui Ia tampan tapi karena kaget melihat kehadirannya disini.
Aku sekarang melihat ke arah Leo yang asyik saja makan. Sepertinya Leo sudah tau kalau Richard akan bekerja disini juga.
"Kamu beneran kerja disini? Di bagian apa?"
"Di hati kamu....."
__ADS_1
Ah aku lupa. Satu lagi keluarga Buntung yang sekarang hadir di hidupku. Welcome Kadal Buntung....