
POV LEO
Aku bukanlah tipikal orang yang tidak tahu membalas budi. Apabila ada orang yang menolongku disaat aku terjatuh, aku akan berusaha untuk menolongnya balik.
Begitu pun yang terjadi dengan Lidya. Aku tahu perusahaannya sekarang baik-baik saja tapi aku pernah berhutang budi padanya.
Kusumadewa Group sedang mengembangkan usaha di beberapa sektor. Kita bukan cuma hanya terus terpaku pada usaha yang ada tapi harus melihat peluang ke depannya.
Sekarang sedang trend anak-anak muda yang menggemari segala hal tentang negeri Korea. Mulai dari dramanya, grup musik idolnya, bahkan yang sedang trending saat ini adalah makanan Korea.
Namun Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tentu makanan Korea identik dengan makanan yang mengandung daging babi atau ada unsur alkoholnya.
Pemasaran makanan Korea di Indonesia mungkin agak sedikit terganjal karena susah mendapatkan label halal. Saat Papa memintaku untuk mengembangkan usaha Kusumadewa Group yang aku ingat cuma restoran Korea milik Lidya.
Mungkin ini kesempatanku untuk membalas segala kebaikan Lidya saat aku terpuruk dulu. Aku memiliki suatu konsep kalau makanan Korea bisa dinikmati seluruh masyarakat Indonesia tentunya dengan label halal.
Aku mencoba mengajukan proposal rencana mengenai restoran Korea milik Lidya kepada Papa. Awalnya Papa tempat ragu, karena sekarang sudah banyak restoran Korea yang bertebaran.
Aku mencoba meyakinkan Papa kalau konsep yang kita miliki berbeda dari yang lain. Bagaimana makanan Korea bisa dinikmati di rumah hanya dengan cara dipanasi saja atau kita menjual bahan-bahan mentah untuk membuat makanan Korea di rumah.
Aku bahkan mengatakan kepada Papa kalau kita sebaiknya juga membuat restoran Korea dengan konsep yang benar-benar Korea, ada musik Kpop didalamnya, makanannya kita buat sesuai dengan nama-nama drama Korea yang terkenal dan bisa juga menjual cake dengan konsep yang bener-bener Korea banget.
"Kenapa kamu bersikeras untuk memajukan makanan Korea dibandingkan makanan Indonesia?" tanya papa.
"Bukan aku mau memajukan makanan Korea saja Pa. Nanti, next project aku mau membuat makanan Indonesia yang bisa aku ekspor ke luar negeri, tapi nanti. Kenapa aku pengen buat makanan Korea terlebih dahulu? Karena pangsa pasarnya sekarang mungkin lagi trend anak-anak muda yang menyukai segala hal tentang Korea."
"Kayaknya ini bukan kamu banget deh. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Papa. Dan kenapa kamu memilih restoran Samchi di antara sekian banyak restoran Korea yang ada?" jiwa bisnis Papa sangat kuat. Ia pasti tahu maksud terselubung aku dibaliknya.
"Jujur aja Pa, salah satu owner Samchi adalah orang yang sudah membantu Leo dulu. Papa juga tahu kok siapa dia."
"Siapa?"
"Lidya. Cewek yang pernah jadi rebutan antara Richard dengan Leo. Richard sih yang sebenarnya nuduh Leo mendekati Lidya padahal mah Leo sama Lidya cuma temenan aja."
"Lalu kamu mau mengumpulkan semuanya gitu?"
"Mengumpulkan semua gimana maksud Papa?" aku benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Papa. Terkadang pemikiran Papa amat jauh ke depan. Aku harus berlari untuk mengejar ketertinggalanku. Terutama dalam hal pola pikir.
"Ya kamu kalau join sama Lidya berarti kalian semua akan berkumpul dalam satu perusahaan. Kamu, Richard, Maya dan Lidya tentunya. Permasalahan akan banyak muncul. Ini bukan hanya tentang kerjasama saja. Kamu cuma membuat masalah baru saja dalam hidup kamu,"
Papa yang saat itu sedang sarapan aku ajak diskusi kembali meminum teh camomile kesukaannya.
"Bisa saja hubungan kamu dengan Richard yang sudah membaik akan kembali memburuk dengan hadirnya Lidya. Kamu siap dengan itu? Belum lagi Maya dan Lidya. Perempuan kalau ketemu sama saingannya lalu cemburu, udah kelar deh perkara. Mumet. Urusan kamu udah banyak. Nambah-nambahin pikiran aja."
Cemburu? Maya akan cemburu? Kayaknya seru nih membayangkan Maya akan cemburu.
Maya memang agak cemburu dengan Ana yang jelas-jelaa mendekatiku namun sepertinya Ana bukan lawan yang sepadan di mata Maya.
Maya masih saja menyombongkan dirinya di depan Ana. Seakan Maya tahu kalau selama ini Ia dan Ana tentu di depanku dirinya yang akan menang.
Namun bagaimana dengan Lidya? Aku belum mencobanya. Lidya tuh gambaran wanita cantik orang Indonesia banget. Dengan kulitnya yang berwarna dan orang menyebutnya eksotik dan sexy.
Kalau aku menyebutnya Lidya seperti Chef Renata. Ada aura yang membuat banyak laki-laki tertarik padanya. Aku tidak termasuk di dalamnya.
Richard yang setengah mati cinta sama Lidya. Sudah seperti kutukan, kami keluarga Kusumadewa hanya bisa mencintai satu orang saja di dalam hati.
Papa yang hanya mencintai Mama, aku yang hanya mencintai Maya dan Richard yang hanya mencintai Lidya. Suatu kutukan bukan?
__ADS_1
Mengumpulkan 4 orang dalam satu kantor itu pasti banyak masalahnya. Aku setuju dengan apa yang Papa katakan. Masalahnya adalah, aku punya hutang budi yang harus aku bayar.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membayar hutang budi yang aku punya. Bekerjasama dengan Lydia membuka peluang untuk membayar hutang budi tersebut juga bisa mendekatkan Richard dengan Lidya kembali.
Tentunya aku punya keuntungan lain, membuat Maya semakin lengket denganku. Maya pasti akan cemburu dengan kehadiran Lidya dan dia pasti akan mempertimbangkan untuk balikan lagi sama aku.
Orang lain mungkin menyebut Maya oon, tapi bagiku Maya itu orangnya ekspresif. Saat Ia menyukai sesuatu Ia akan menggambarkannya dengan jelas, begitupun sebaliknya jika tidak menyukai sesuatu dia juga akan menggambarkannya meskipun dengan cara yang tidak tersirat.
Keputusanku ini pasti ada resikonya. Tapi, aku bersedia mengambil resiko untuk membuat Maya yakin untuk kembali padaku lagi.
Alasan lain adalah aku kasihan dengan Richard. Ia bercerita kalau beberapa kali berusaha menemui Lidya di restoran miliknya namun selalu ditolak. Alasannya karena statusnya yang mantan pemakai narkoba membuat Lidya memandang dengan sebelah mata padanya.
Setidaknya kalau kami satu perusahaan nanti Richard akan mudah untuk mendekati Lidya. Enggak ada salahnya kan membuka sedikit jalan kepada Richard?
"Leo yakin Pa dengan keputusan yang Leo buat." Papa pasti melihat kesungguhan dalam mataku. Papa juga tahu, aku adalah tipikal orang yang akan memikirkan sesuatu sebelum memutuskannya.
"Terserah kamulah Leo. Perusahaan kan kamu yang pimpin. Yang pasti Papa sebagai orangtua cuma memberikan masukan aja sama kamu. Segala resiko dalam setiap keputusan, kamu pasti sudah kamu pikirkan baik-baik. Papa cuma mengawasi saja. Lakukan yang kamu pikir itu baik, Papa tetap akan dukung kok."
"Makasih, Pa."
****
Demi memuluskan usahaku, aku menugaskan para bawahanku di kantor untuk secepatnya membuat proses kerjasama dengan perusahaan Lidya.
Ternyata Lidya menyambut baik tawaran kerjasama yang dilakukan oleh Kusumadewa Group terhadap perusahaannya. Tentu saja siapa sih yang menolak bekerjasama dengan Kusumadewa Group?
Aku sengaja menyembunyikan perihal kerjasama perusahaan Lydia dengan Richard. Untuk surprise. Richard hanya mendengar gosip kalau akan bekerjasama dengan perusahaan Korea, tapi Ia tak tahu kalau seandainya perusahaan yang bekerja sama adalah perusahaan milik Lidya.
Aku menugaskan Richard keluar kota terlebih dahulu itung-itung sebagai pengalaman Ia bekerja di lapangan langsung. Lalu aku yang menyambut kedatangan Lydia di perusahaan.
Seperti rencana yang sudah aku pikirkan, Maya beneran mengikutiku ke pantry. Aku pura-pura tidak melihat Maya dan asyik mengobrol dengan Lidya. Kami membicarakan tentang rencana yang akan dilakukan. Lidya tentunya tidak tahu kalau aku adalah pemimpin di Kusumadewa Group.
Ketika Lidya sedang asyik menjelaskan konsep kerjasama yang ditawarkan oleh Kusumadewa Group, Maya berpura-pura hendak mengambil minum di pantry.
Nah ini yang aku bilang sikap Maya tuh ekspresif. Saat aku berpura-pura tidak melihat ke arahnya, Maya akan berusaha mencari perhatian.
Aku hampir tidak bisa menahan tawaku saat melihat Maya minum dua gelas air dari gelasnya yang besar itu.
Lalu saat pulang juga aku tahu Ia jalan duluan, aku sengaja memperlambat langkahku. Aku tahu pasti Maya akan menggunakan berbagai cara agar aku mengejarnya. Ketebak banget dah alurnya Maya.
Ia pikir mungkin aku cowok yang nggak peka kali. Aku bukan tidak peka tapi aku sengaja karena bagiku sangat menggemaskan melihatnya seperti itu.
Saatnya mengerjai Maya balik, biasanya aku pulang lewat jalan raya yang besar tapi aku sengaja memilih lewat jalan perkampungan yang banyak polisi tidurnya. Pasti meminum dua gelas besar air akan memberi efek kebelet pipis apalagi kalau kena polisi tidur. Kita lihat aja berapa lama Maya tahan menahan pipisnya.
Aku jahat? Bukan. Aku bukan jahat. Aku sengaja mau mengajak Maya mampir dulu ke restoran untuk makan berdua. Maya selalu menolak kalau aku mengajaknya keluar padahal kan aku mau ngajak Maya ngedate.
Keadaan pun berbalik. Aku yang awalnya mau mesra-mesraan malah dibuat kesal dengan pernyataan Maya kalau Ia akan menelepon Angga saat butuh bantuan.
What? Angga lagi?
Angga si laki-laki yang sudah membuatku salah paham. Angga si biang kerok yang bikin aku emosian dan akhirnya sampai kehilangan Angga.
Bagaimana cara membuat Maya lepas dari ketergantungannya dengan Angga. Satu lagi PR yang harus aku pikirkan.
Maka saat Maya mulai membela Angga aku hanya diam dan meninggalkannya untuk mencuci tanganku di washtafel.
Maya menghampiriku dan mencoba membaik-baikiku. Maya tuh kalau dikejar semakin jauh dan kalau dijauhin akan semakin dekat.
__ADS_1
Ada suatu perkataan orang tua, perempuan tuh rambutnya panjang tapi pemikirannya pendek. Berbeda dengan laki-laki, rambutnya pendek tapi pemikirannya panjang. Ini wejangan yang harus kami kaum lelaki pegang.
Walau sedikit memainkan emosi Maya bahkan sampai membuat Maya menangis aku mulai menjalankan rencanaku. Maya harus dijauhkan selamanya dari kutu busuk macam Angga.
Maaf ya Adam, Papa sudah membuat Mama kamu menangis lagi. Mama kamu harus sadar kalau Angga adalah hama yang sudah merusak dan memisahkan rumah tangga kami.
Maya yang emosional memintaku tak menjemputnya esok hari. Aku menurut tapi tidak benar-benar menurut.
Aku menunggu dari ujung jalan tempat Angga susah memarkirkan mobilnya di depan gang rumah Maya. Benar dugaanku, si Kutu Busuk itu masih saja berupaya mendapatkan hati Mayaku.
Aku melihat dari jauh apakah perkataanku semalam berhasil membawa pengaruh pada Maya. Kalau Maya menyadari perkataanku benar adanya pasti Ia akan menolak ajakan Angga. Tapi kalau Maya masih bersikukuh kalau dirinya sendiri yang paling benar, Ia akan menerima tawaran Angga.
Dan ternyata.... Maya menolak Angga! Yess!
Ini baru langkah pertama, selanjutnya membuat Maya semakin yakin padaku dan tak akan tergoda dengan Angga lagi.
Setelah memastikan Maya sudah menaiki kopaja aku langsung tancap gas ke kantor. Pekerjaan sebagai Mr. So sudah menungguku.
Aku berpapasan dengan Lidya di depan lift. Karena terlalu pagi datangnya, ruangan Lidya masih terkunci. Aku mengajaknya menunggu di ruangan audit sebagai salah satu bentuk basa basi.
Kami mengobrol tentang anak-anak di restoran Koreanya dulu. Beberapa masih tetap bekerja disana sampai sekarang.
Bagaimana Lidya memimpin restorannya ditengah banyaknya restoran Korea yang mulai bermunculan satu persatu.
"Kamu tau enggak ternyata ada yang mirip kamu dulu loh. Kayaknya dia anak orang kaya yang lagi nyari duit buat beli PS. Kerja part time terus salah melulu. Tapi karena ganteng jadinya pelanggan malah manggil dia terus." cerita Lidya.
"Iya. Dulu semakin aku salah malah makin banyak yang manggil ha..ha...ha..." aku terkenang masa lalu dengan segala kekikukanku. Tanpa kusadari aku tertawa terlalu keras.
Maya yang baru datang langsung memasang muka juteknya. Sepertinya Ia makin tidak suka dengan kedekatanku dengan Lidya.
"Kamu sih resign! Kalau waktu itu kamu enggak jadi resign, aku tuh mau ngangkat kamu jadi manajer restoran." kata Lidya.
"Aku nggak bisa Lidya. Aku tuh nggak jago ngerjain kayak gitu! Aku lebih baik kerja di belakang layar deh kayak gini daripada aku harus ngadepin pelanggan kamu yang seleranya aneh-aneh." jawabku.
Lidya lalu menyindir aku tentang aku yang dianggap Maya menyembunyikan kalau aku punya istri. Saat kulirik aura muka Maya makin tidak bersahabat saja.
Aku mendiami Maya. Membiarkan Maya mulai berpikir seberapa berartinya aku dalam hidupnya. Dunia bukan hanya tentang kamu seorang May.
Dunia tidak berputar mengelilingimu. Cobalah belajar menghargai orang yang amat mencintaimu. Mantapkanlah hati kamu untuk memilihku.
Kamu terus meragu antara aku dan Angga. Sudah jelas-jelas keluarga Angga menolak kehadiran kamu masih saja kamu ngeyel.
Mata Maya terlihat sedih dan kesepian. Aku mulai tidak tega tapi aku harus menahannya dulu. Belum terlalu dalam perasaan yang Maya miliki padaku. Maya masih goyah. Aku harus menahan diri agar tidak luluh dulu.
Dan masalah kembali datang. Lidya menaruh nampannya di sebelahku. Ia ikut bergabung untuk makan siang bareng. Aku bak selebritis. Di sebelah kiriku ada Ana dan di sebelah kananku ada Lidya. Lalu di depanku ada Maya yang dengan muka yang makin keruh saja.
****
Selamat pagi semuanya!
Semoga hari ini semakin cerah ya. Happy selalu. Jangan lupa juga untuk terus vote aku. Follow IG ku : Mizzly_ juga ya.
Aku mau minta maaf karena besok kita mulai menjalankan ibadah puasa. Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam penulisan. Masih belum bisa memuaskan semua orang dengan ceritaku. Masih banyak part yang aku lupa.
Semoga ibadah puasa kita diterima sama allah. Dan jangan lupa votenya kakak.... 😁😁
Sekali lagi makasih semua yang udah dukung aku. Aku bukan apa-apa tanpa kalian. Luv u all 😘😘😘
__ADS_1