
Tunggu sebentar....
Kayaknya ada yang kurang deh.
Aku flash back sebentar....
Leo mengangkat testpack yang aku kasih dan melihat hasilnya.
Tapi ada yang aku rasa aneh deh.
OMG!
Ada yang kurang di tangan Leo!
"Kamu kenapa?" tanya Leo yang heran melihat aku sepertinya baru menyadari sesuatu.
"Sayang! Kita harus balik lagi ke TMII!" Aku menarik tangan Leo.
"Mau ngapain?" tanya Leo dengan wajah bingungnya.
"Jam! Jam tangan kamu yang dijadikan jaminan! Masih ada sama anak-anak alay itu!"
Leo malah tersenyum. "Biarin aja."
"Loh kok dibiarin?" Leo kan barang-barangnya mahal. Kenapa malah dibiarin?
"Iya. Biarin aja. Jam KW itu, nanti aku beli lagi yang baru."
Aku melongo dengan mulut terbuka. "Jam KW? Kamu pakai jam KW?"
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Leo balik.
"Enggak mungkin! Kamu bohong kan?" tanyaku tak percaya.
"Bener kok! Itu jam KW. Aku beli di flash sale Shopee. Ada serba 1 rupiah cuma bayar ongkir aja. Yaudah aku beli pas lagi iseng." jawab Leo dengan santainya.
"Enggak percaya aku!"
Leo menghela nafasnya. Ia lalu mengambil Hp dan membuka aplikasi ecommerce berwarna orang tersebut. Dibukanya histori pembelanjaan lalu ditunjukkan padaku.
Aku melihat harganya, memang benar 1 rupiah. Bentuknya juga sama dengan yang tadi Leo berikan pada anak alay tersebut.
"Ih beneran loh KW." aku geleng-geleng kepala tak percaya. "Masa sih kamu pakai jam KW?"
"Memangnya kenapa? Mau jam KW atau jam asli kan fungsinya untuk mengetahui waktu. Bukan untuk pamer merk. Mau pamer sama siapa coba kalau aku pakai jam KW?" Leo membuka kaosnya yang basah karena keringat lalu memasukkan ke tempat baju kotor.
"Masa sih Mr. So pakai jam KW?"
Leo menyunggingkan seulas senyum. "Yang tahu aku Mr. So kan cuma kamu, Papa, Richard dan Lidya. Sisanya enggak ada yang tahu."
"Bukannya barang branded untuk menunjang penampilan?" pertanyaanku menghentikan langkah Leo yang hendak masuk kamar mandi.
"Enggak penting, May. Yang penting tuh fungsinya. Punya jam mahal juga kalau enggak on time buat apa? Aku mandi dulu ya. Kamu istirahat aja, kamu nanti kecapean. Aku pijitin kaki kamu setelah aku mandi."
Aku masih tak percaya dengan perkataan Leo. Aku pun memeriksa barang-barang miliknya di kamar.
Mulai dari dompet. Hmm... Kayaknya ini ori deh soalnya bahannya beda. Lalu tas, tasnya juga branded. Lalu gesper, juga branded. Masa sih jamnya barang KW?
Apa Leo takut aku marah karena Ia lupa akan jamnya yang jadi jaminan tadi?
Tak lama Leo keluar kamar dengan memakai celana pendek warna putih dan tanpa atasan. Rambutnya sedang Ia keringkan dengan handuk putih miliknya.
"Kamu enggak istirahat?"
"Aku masih penasaran."
Leo mengerutkan keningnya. "Penasaran apa lagi?"
Aku meletakkan dompet, tas dan gesper milik Leo diatas tempat tidur. "Ini semuanya ori. Masa sih jam tangannya KW? Kamu bohong ya supaya aku enggak marah?"
Leo mengu lum senyumnya. "Masih enggak percaya juga dia."
Leo lalu beranjak ke laci lemari bajunya. Mengambil beberapa kotak jam tangan. Lalu beralih ke lemari belajarnya dan mengambil beberapa jam tangan. Semuanya Ia letakkan diatas tempat tidur.
"Dompet harus ori, karena bahan ori tuh awet dan tahan lama. Begitu pun dengan gesper, kalau KW cepat rusak, harga enggak pernah bohong. Lalu tas, kenapa harus ori? Karena talinya lebih kuat. Aku suka bawa laptop naik motor. Kalau tasnya KW, bisa putus akibat berat dan nanti laptop jadi rusak, biaya lagi jadinya."
Leo mengangkat kotak berisi jam tangan yang aku tahu ori. "Ini jam ori, jarang aku pakai. Hanya buat koleksi atau dipakai saat acara khusus."
Leo juga mengangkat jam tangan tanpa box miliknya. "Ini jam KW. Dipakai sehari-hari. Kalau kena embun dan rusak ya tinggal buang aja. Yang penting waktunya tepat enggak masalah pakai KW."
"Masih ragu?"
Aku menggeleng. "Enggak. Syukurlah kalau jam yang kamu kasih sebagai jaminan itu KW. Aku lega."
"Kalau ternyata asli gimana?"
Mataku langsung terbelalak kaget. "Beneran?"
__ADS_1
Leo tertawa terbahak-bahak melihat reaksiku. "Bohong May! Bohong! Itu jam KW. Udah sini kakinya aku pijitin."
Leo merapihkan kembali barang-barang miliknya lalu mulai memijat kakiku. Rasanya enak banget, pegal-pegal karena jalan jauh terasa hilang.
Tok....tok....tok....
Terdengar suara ketukan di pintu.
"Siapa?" teriak Leo.
"Keluar, Le. Jangan kebanyakan kekepan di kamar! Ada pengantin baru tuh di bawah!" ternyata Kakanda yang menyuruh Leo keluar kamar.
"Sebentar lagi tanggung nih!" Leo mulai meledek Richard.
Leo pun memberi isyarat padaku agar berpura-pura merintih.
"Aww... Pelan-pelan dong Sayang. Sakit nih!" aku ikut dalam rencana jahil Leo.
"Ini udah pelan kok Sayang." Leo menambahkan aktingku.
Terdengar Richard menendang pintu kamar Leo dengan kesal. "Pamer aja terooos! Pamer teroooss!"
Aku dan Leo tertawa cekikikan setelah langkah Richard terdengar menjauh.
"Kena kibul dia!"
"Udah ah, ayo kita ke bawah. Kita sambut Rome dan Juliet kita. Pasti habis keramas terus deh mereka." ledekku.
"Apa kita juga ikutan keramas kayak mereka?" Leo tersenyum jahil.
"Jangan macem-macem deh! Udah aku turun duluan nih!" seperti anak kucing, Leo mengikutiku turun ke bawah.
Papa dan Mama sedang duduk santai di ruang tamu di dampingi dengan Richard yang asyik bermain Hp.
"Loh kok udahan?" perhatian Richard teralih daru Hp setelah melihat kedatangan kami.
"Udahan apanya memang?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Bukannya kalian habis... emm.... gituan?" tanya Richard malu-malu.
"Gituan apa Cat?" Mama Lena penasaran ingin tahu.
"Makanya otak jangan mesum!" Leo melempar kepala Richard dengan bantal sofa. "Aku lagi pijitin kaki Maya yang pegal habis olahraga. Pake marah-marah dan nendang pintu segala lagi!"
"Oh... Jadi kalian kompak ngerjain ya? Awas ya! Nanti aku balas!" ancam Richard yang aku dan Leo balas dengan menertawainya sampai puas.
"Ya kan memang balik lagi ke rumah ini, Pa. Kita udah tau tanpa Papa kasih tau juga." jawab Richard dengan santainya.
"Pura-pura surprise kek. Biar Mama sama Papa senang." kata Papa merajuk.
Aku harus mengalihkan pembicaraan nih. Biar Papa enggak baper. "Pa, Maya lupa kasih tau. Kemarin Maya ditelepon sama teman Maya."
"Tentang rekening Johan?" tanya Papa.
"Ditelepon Adel, May?" Richard ikut bertanya.
"Iya. Adel bilang teman-temannya sulit memberi print out transaksi karena sifatnya rahasia. Tapi Maya berhasil nego. Ia bersedia kasih kisi-kisinya jadi kita bisa langsung bergerak."
Papa mengangguk-angguk. "Enggak masalah. Papa juga udah punya bukti lain sih."
"Bukti apa?" tanyaku dan Leo kompak.
"Papa udah sewa detektif buat ngikutin Johan. Ternyata uang hasil berkhianat Ia pakai buat foya-foya. Mantan selingkuhannya mau bersaksi di kubu Papa. Dan kemarin Papa sudah bisa mengajukan tuntutan padanya."
"Yang bener, Pa?" tanya Leo tidak percaya.
"Kamu kurang gerak cepat Leo. Nyamuk kayak dia tuh harus secepatnya dibasmi. Nanti kalau kamu sudah memimpin perusahaan, jangan lemah sama nyamuk kayak gitu!" pesan Papa.
"Iya, Pa."
"Kamu bersiap-siaplah. Saatnya kita umumkan siapa kamu." Papa melirik ke arah Richard. "Kamu masih mau di marketing atau megang perusahaan juga kayak Leo?"
Papa bertanya dengan serius pada Kakanda. "Nanti aja, Pa. Enakkan juga jadi marketing. Sering keluar kantor, ketemu sama yang bening-bening. Suruh Leo aja yang mimpin. Richard males pusing sama kerjaan. Enakkan juga jadi marketing bisa sambil cuci mata."
Papa Dibyo hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan putra sulungnya yang masih mau main-main saja. "Terserah kamu lah."
"Sudah... Sudah! Jangan ngomongin perusahaan di rumah! Gimana rencana resepsi pernikahan Maya dan Leo?" Mama Lena mengingatkan sesuatu yang hampir saja aku lupakan.
"Memangnya masih jadi Ma diresepsiin?" tanyaku.
"Ya tentu jadi dong, Sayang. Kamu kan anak perempuan Bembi dan Esih satu-satunya. Bisa kena amuk Papa Dibyo kalau sampai acara hajatannya enggak kita adain. Bisa-bisa ditarik lagi restu yang udah diberikan sama Leo." ujar Mama sambil melirik ke arah Leo.
"Jangan dong, Ma! Susah tuh dapetin restunya! Saingannya Si Kupret! Enggak di kantor, enggak di percintaan saingannya Si Kupret terus!" gerutu Leo.
"Ya makanya kalian juga pikirin dong tentang resepsi kalian! Sudah telepon Bembi dan Esih belum?"
Aku dan Leo kompak menggelengkan kepala kami. "Belum."
__ADS_1
"Kalian ini gimana sih?! Mau buat Bembi ngamuk lagi ya?" ancam Mama Lena.
"Enggak, Ma." jawabku dan Leo lagi dengan kompak.
"Yaudah cepetan telepon!" Mama mulai gemas melihatku dan Leo yang tak ada inisiatifnya sama sekali untuk menelepon.
"Iya, Ma!" Leo pun ke kamar untuk mengambilkanku Hp.
"Kamu disini saja. Jangan lari-larian!" tak lama Leo pun datang membawakan Hp milikku.
Aku memutuskan untuk melakukan video call dengan Bapak. Dalam beberapa dering, Bapak sudah mengangkat panggilanku.
"Assalamualaikum, Pak." sapaku.
"Waalaikumsalam. Eh Maya. Ingat juga kamu sama Bapak! Gimana keadaan kamu? Bahagia enggak disana?" tanya Bapak yang sedang asyik mengipasi dirinya dengan kipas anyaman miliknya yang sudah melegenda. Tuaan tuh kipas daripada aku.
"Maya sehat dan bahagia, Pak. Pak, atuh pakai kaos dulu. Disini ada Papa sama Mama Lena mau ngomong sama Bapak. Masa sih Bapak cuma pakai kaos kutang aja? Mana itu ada bolongnya di ketek! Cepet atuh ganti." omelku.
"Enak May pake kaos kutang begini. Adem. Bapak baru aja dari kebun, panas-panasan. Habis ngegowes pake sepeda yang dibeliin Lena sama Dibyo. Enak banget ngegowesnya enteng. Giginya bisa dimainin. Bilangin sama Dibyo beliin buat Ibu kamu juga, biar Bapak sama ibu bisa sepedahan keliling kampung juga kayak orang-orang di TV."
Yeh si Bapak malah ngelunjak. Itu kan sepeda mahal. Enak aja minta beliin lagi.
"Siapa yang telepon, Pak?" terdengar suara Ibu yang bertanya di belakang Bapak.
"Maya, Bu." jawab Bapak.
"Ibu mau bicara sama Maya, Pak. Ibu kangen."
Bapak lalu memberikan Hp pada Ibu.
"Bu, Bapak suruh pakai kaos dulu. Papa Dibyo dan Mama Lena mau ngomong. Malu itu kaos kutangnya bolong."
"Iya, May." lalu terdengar Ibu menyuruh Bapak pakai kaos dulu.
"Maya apa kabar? Mana Lena dan Dibyo?"
"Maya sehat, Bu. Ini, Ibu ngomong sama Papa dan Mama ya." kuberikan Hp milikku pada Papa dan Lena.
"Assalamualaikum, Esih." sapa Papa Dibyo.
"Waalaikumsalam, Yo. Sehat kamu?"
"Sehat, alhamdulillah. Apalagi sekarang aku sama Lena habis jadi pengantin baru. Tambah sehat aja deh." Papa Dibyo mengumumkan pernikahannya pada Ibu yang disambut dengan tawa bahagia Ibu.
"Kalian sudah rujuk lagi? Syukurlah. Kalian enggak kasih tau kami sih! Kalau tahu pasti kami datang!"
"Maaf, Sih. Dadakan. Kayak tahu bulat digoreng dadakan. Habis lamaran diterima langsung deh nyari penghulu." jawab Papa, sementara Mama hanya senyum malu-malu.
"Kamu tuh kebiasaan, Yo. Apa-apa maunya dadakan! Yo wes lah. Yang penting kamu dan Lena bahagia. Jangan sampai pisah lagi ya! Inget anak-anak sudah besar, malu!" Ibu enak saja menceramahi Papa. Mungkin karena mereka teman sejak kecil kali ya jadi tak ada rasa takut Ibu terhadap Papa.
Mama Lena merebut Hp dari tangan Papa. "Iya Sih. Tenang saja. Ini pernikahan terakhir kami. Oh iya kita nelepon mau nanyain soal hajatannya Maya dan Leo. Kira-kira kapan mau dilaksanain?"
"Loh kami malah nunggu berita dari kalian." Bapak yang menjawab. Sepertinya sudah selesai ganti kaos.
"Kita disini juga nunggu kabar dari kalian, karena kan yang ngadain kalian. Loh malah jadi nunggu-nungguan kayak gini. Gimana toh?"
"Ya sudah kita putuskan saja baiknya kapan? Kemarin saya sudah hubungin organ tunggal, tapi enggak jadi. Enakkan dangdutan koplo, lebih asyik goyangnya. Pake gendang juga. Mahal dikit enggak masalah asal biduannya cantik-cantik." loh ini lagi Bapak. Kenapa malah ngomongin dangdut koploan?
"Boleh juga tuh, Yo. Saya setuju. Saya juga mau liat biduannya yang cantik-cantik." sahut Papa Dibyo.
"Oalah... Ini kalian udah tua masih aja demen liat biduan dangdut. Inget, nanti kalian dipajang loh di samping pengantin. Jangan sampai gara-gara musik dangdut koplo kalian bikin malu ya sampe nyawer segala!" Ibu hebat bisa mengomeli Bapak dan Papa dalam waktu bersamaan.
"Masalah dangdut mah gampang. Lalu kapan diadainnya?" Mama Lena mulai tak sabar dengan percakapan ketiga sahabat tersebut. Ngelantur kemana-mana.
"Kita sih terserah pihak kalian saja." jawab Ibu.
"Kita juga terserah kalian." jawab Papa Dibyo.
"Kapan kelarnya nih May kalau kayak gini?" bisik Leo di telingaku.
"Biarin aja. Nanti juga mereka capek sendiri." bisikku balik.
"Gimana kalau bulan depan aja?" usul Mama Lena. Tampaknya cuma Mama Lena aja yang pikirannya masih bener.
"Boleh juga. Wah saya harus pesen layar tancep juga nih dari sekarang." bukannya nentuin tanggal, Bapak malah mikirin layar tancep. Hadeh.
"Ibu juga harus nyari tukang masak dulu nih, Pak." Ibu ikutan bingung.
"Filmnya Bayi Ajaib aja, Bem. Tontonan kita jaman dulu tuh. Biar seru!" Papa Dibyo lagi malah nambahin keruwetan.
"Kenapa enggak Beranak Dalam Kubur aja?" saran Bapak balik.
Aku, Mama Lena, Leo dan Richard hanya geleng-geleng kepala. Enggak bakalan selesai sejam nih kalau Trio Musketer udah ngobrol. Makin absurd aja obrolannya. Hadeeeeeh....
******
Hadeeeehhhh like dan votenya turun terus nih hadeeeehhhh.... Authornya lagi rajin nulis nih eh dicuekkin hadeeeeehhhhh 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1