Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Leo VS Angga-1


__ADS_3

Aku melihat raut wajah Ibu yang panik. Semua di luar rencana. Bagaimana mungkin Angga yang datang duluan? Angga enggak mungkin tau kan rencana kami?


Terdengar pintu mobil di tutup. Leo lalu berjalan menghampiri.


"Bu." Leo mencium tangan Ibu dan memeluknya.


"Leo." Ibu terlihat menepuk-nepuk punggung Leo. Suaranya terdengar sendu seperti menahan tangis.


"Ibu sehat?" tanya Leo seraya melepaskan pelukan Ibu. Ditatapnya wajah wanita yang telah melahirkanku. Kerutan di wajahnya semakin bertambah. Salah satu penyebabnya pasti aku, si bandel yang suka nyari masalah ini.


"Sehat. Aduh gimana ya ini?" Ibu kembali menyadari apa yang telah terjadi.


"Ada apa Bu?" tanya Leo. Leo tadi sibuk memarkirkan mobilnya. Setelah aku turun Ia tak tahu apa yang aku bicarakan dengan Ibu. Leo pasti berpikir aku sedang melepas kangen dengan Ibu.


"Kita kalah cepat." jawabku.


"Kalah cepat gimana?" Leo melirik mobil Mercy di depanku. Plat nomor Jakarta membuatnya mengernyitkan kening. "Si Kupret?"


"Iya." jawabku sambil mengangguk cepat.


"Kok bisa? Siapa yang bocorin? Duo Julid bilang-bilang gitu?" Leo mulai agak panik dan agak emosi namun langsung mengatur nafas agr lebih tenang.


"Enggak bakalan. Mereka enggak bakalan bocor. Mereka bisa jaga informasi." aku membela dua sahabatku itu.


"Ibu tau dari mana infonya bocor?" tanyaku.


Ibu menggeleng. "Ibu enggak bilang-bilang. Ibu enggak tau siapa yang bocorin."


Aku memegang tangan Ibu yang dingin. Wajahnya terlihat panik.


"Papa kamu belum sampai lagi. Masih dimana? Coba kamu telepon!" kataku pada Leo.


"Iya aku telepon dulu." Leo mengeluarkan Hp dan menelepon Papanya. Tak lama Ia menggelengkan kepalanya. "Enggak tersambung. Mungkin enggak ada sinyal."


"Gimana dong?" aku juga ikut panik.


"Sekarang masalahnya, di dalam Si Kupret sama Bapaknya. Kalau sendiri sih aku masih menang karena kita belum bawa orang tua. Kenapa Si Kupret bisa tahu rencana kita?" tanya Leo padaku.


Namun suara berat di belakang kami terdengar dari dalam rumah. "Dari saya! Kenapa? Enggak menyangka rencana kalian gagal?"


Aku, Leo dan Ibu reflek berbalik badan dan melihat Bapak sedang berdiri di depan rumah. Tangannya terlipat didepan dada. Matanya menatap penuh nyalang amarah.


"Bu." aku bagai anak kecil yang meminta perlindungan Ibunya.


"Apa yang kalian rencanakan? Hah?" tanya Bapak ke arahku dan Ibu. Kami berdua hanya saling berpegangan tangan ketakutan. Bapak enggak pernah semarah itu. Dulu saat aku dan Leo meminta restu Bapak memang marah, tapi ini level kemarahannya lebih tinggi lagi.


"Dan kamu!" kini Bapak menunjuk ke arah Leo. "Ngapain kamu kesini lagi? Enggak cukup kamu menghancurkan anak saya?!"


Leo bukannya takut tapi malah berjalan mendekat ke arah Bapak. Mau apa coba?


Ternyata Leo mau mencium tangan Bapak. Ia mengulurkan tangannya namun ditepis dengan kasar oleh Bapak.


"Enggak sudi tangan saya dipegang sama manusia kayak kamu!" Bapak menatap Leo tajam.


Tiba-tiba Angga yang mendengar keributan di luar pun keluar. Dibelakangnya ada Kak Rian dan Papanya yang centil itu.


Papa Angga langsung menyunggingkan senyumnya padaku. Membuatku merinding ketakutan. Enggak... Orang kayak gini enggak boleh jadi mertuaku. Enggak!


"Ada apa Pak?" tanya Angga pura-pura tak mengerti.


Bapak tersenyum sinis. "Saya sudah duga kalau istri saya dan anak saya merencanakan sesuatu. Untung saja saya telepon kamu suruh kamu datang Angga. Kalau tidak pasti mereka akan merasa menang terhadap saya."


Kak Rian yang sejak tadi diam memperhatikan lalu berjalan mendekat ke Leo dan terlihat pasang badan di depan Leo. "Kita bicarakan semua di dalam, Pak. Enggak enak dilihat sama karyawan Bapak. Tentunya Bapak enggak mau jadi bahan pergunjingan di kalangan karyawan Bapak bukan?"


Bapak lalu melihat ke sekeliling. Karyawannya bahkan sampai berhenti kerja hanya untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi dengan keluarga majikannya.

__ADS_1


Gosip panas yang membuat mereka penasaran. Melihat mobil mewah Angga yang terparkir depan rumah sudah membuat mereka penasaran. Ini melihat kedatanganku dengan laki-laki yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Makin penasaran saja mereka.


"Ehem." Bapak pun berdehem. Keputusan cepat langsung Ia ambil. "Kamu benar, kita bicarakan di dalam!"


Bapak lalu masuk ke dalam rumah diikuti Angga dan Papanya.


"Ayo kita masuk, May!" ajak Kak Rian.


"Kak, kok bisa-bisanya sih Bapak telepon Angga?" tanyaku heran, tentunya sambil berbisik pelan agar Bapak tidak dengar.


"Kak Rian juga enggak tau. Bapak mungkin curiga May sama Ibu dan Kakak. Tiba-tiba Kak Rian pulang lalu Ibu masak banyak banget. Udah gitu pake pesen kue segala lagi. Bapak sampai dilarang pergi, gimana Bapak enggak curiga." bisik Kak Rian.


"Terus ini gimana? Kacau dong rencana kita?" tanyaku lagi.


"Mana Kakak tau? Kamu sih lama datengnya? Mana Papanya Leo? Katanya mau datang?" tanya Kak Rian lagi.


Aku melirik Leo yang ternyata sejak tadi menggandeng tangan Ibu. Eleh... eleh... bikin aku makin melting. Aku mah sibuk ngomong sama Kak Rian sampai lupa sama Ibu.


"Katanya sih bakalan nyusul. Tapi di telepon enggak aktif, kayaknya enggak ada sinyal deh." aku masih celingukan berharap melihat mobil Papanya Leo sebelum masuk ke dalam rumah. Namun ternyata sepi. Hanya para karyawan yang akhirnya membubarkan diri karena tak mendapatkan informasi atas kejadian yang terjadi.


"Dibohongin lagi enggak kamu? Kamu kan rada oon! Awas aja kalau bohong! Kakak udah pasang badan nih ngebela kamu!" ancam Kak Rian.


Aku merangkulkan menggandeng lengan Kak Rian. "Makasih Kakakku yang paling baik. Nanti di dalam bantuin lagi ya."


"Liat nanti aja. Bapak nyeremin tau! Kakak takut juga jadinya." aku Kak Rian.


"Yah kalau Kakak yang suka berontak aja takut apalagi aku?" aku mulai patah semangat.


"Kamu diem aja. Biar Leo yang menghadapinya dengan jantan." Kak Rian lalu mendahuluiku masuk ke dalam rumah.


Kulihat Leo masih berbicara dengan Ibu di luar. Mau masuk tapi kok malas ya kalau enggak ada temannya. Mau menunggu Leo, tapi sepertinya pembicaraannya dengan Ibu sangat serius.


Aku masih ragu dengan keputusanku tapi melihat Angga yang keluar dari rumah aku pikir lebih baik menghampirinya.


Angga tersenyum melihatku yang berjalan mendekatinya. Perkebunan Bapak memang luas. Dari Leo parkir sampai ke dalam rumah lumayan jaraknya.


"Enggak usah banyak basa-basi deh, Ga. Kenapa kamu kesini?" tanyaku to the point.


"Galak bener, Neng. Enggak kangen sama Aa Angga? Kita kan udah lama enggak ketemu." Angga bersikap seakan semuanya baik-baik saja. Disini aku merasa aneh.


Beberapa waktu lalu dengan jelas aku mengatakan pada Angga kalau aku ingin kembali dengan Leo. Kenapa sikapnya kali ini seakan kami tidak ada masalah? Seakan kami baik-baik saja? Kenyataannya kami tidak baik-baik saja!


Lalu aku teringat perkataan Leo saat di mobil. Tentang kecurigaan Leo pada Angga. Aku tadi benar-benar meragukan perkataan Leo, namun kini aku kok merasa apa yang dikatakan Leo tidak sepenuhnya salah ya?


"Enggak usah kebanyakan basa-basi deh, Ga. Kamu tau apa maksud perkataanku. Apa tujuan kamu datang ke rumahku saat ini?"


Angga menyunggingkan seulas senyum. "Masa kamu enggak tau sih May? Ya untuk melamar kamu lah."


Aku menghela nafas berat. Mataku sambil melirik ke arah Leo yang tidak suka melihatku bicara dengan Angga. Maaf Leo, aku harus tau sendiri kebenarannya seperti apa.


"Atas ijin siapa?" tanyaku sambil melipat kedua tanganku di dada. Mulai terasa kesal rupanya hati ini.


"Bapak kamu. Semalam Bapak kamu telepon. Ia curiga ada yang kamu dan Ibu kamu rencanakan. Ya aku cerita aja kalau kamu sekarang mulai dekat lagi dengan Leo mantan suami kamu."


Aku menatap tajam ke arah Angga. "Maksud kamu apa bicara seperti itu?" ketusku.


"Kenapa? Aku membocorkan rencana kamu ya? Apa bedanya dengan kamu yang menyebarkan video Papa yang sedang bersama selingkuhannya ke warga satu kampung? Kita sama May. Sama-sama bocor!"


Perkataan Angga membuatku tersentak. Jadi Angga tau kalau aku yang menyebarkan video Papanya?


"Kenapa? Kaget kenapa aku bisa tahu?" Angga tersenyum penuh kelicikan. "Mudah, May. Saat berita perselingkuhan Papa tersebar sampai Mama nuntut cerai aku langsung mencari tau dari mana video ini berasal. Mudah melacak kamu. Aku enggak tau apa tujuan kamu melakukan semua ini, setelah semua yang aku lakukan sama kamu. Kamu tega May!"


Angga pasti sedang mengacaukan perasaanku. Ia pasti sedang bermain strategi agar aku luluh dan merasa bersalah. Untungnya Leo sempat menceritakan kecurigaanny terhadap Angga tadi. Jadi aku hanya memandangnya dengan tatapan.... jijik.


"Sedang apa kalian di luar? Kenapa tidak ada yang masuk?" teriak Bapak dari dalam rumah.

__ADS_1


Aku hanya geleng-geleng kepala sambil menatap penuh rasa jijik terhadap Angga lalu masuk ke dalam rumah.


Sebelumnya aku memberi kode pada Leo untuk masuk ke dalam rumah mengikutiku. Leo pun berjalan cepat dan menghampiriku bersama Ibu.


"Doain Maya ya, Bu." bisikku pada Ibu.


"Tentu saja. Ibu akan mendoakan kalian berdua." kata Ibu dengan suara lirih.


Aku menggenggam tangan Leo dan berjalan melewati Angga. Aku acuhkan pandangan tidak suka Angga atas apa yang aku lakukan.


Ternyata ruang tamu di rumah sudah disulap oleh Ibu. Kursi semuanya dipindahkan. Hanya ada karpet yang di gelar tanpa ada kursi duduk. Baguslah. Lebih baik begini. Kalau mau jontok-jontokkan akan lebih aman, begitu pikirku.


Aku melirik ke arah Leo. Rasa khawatir tiba-tiba menelusup dalam hatiku. Bagaimana kalau wajah mulus Leo yang selalu ingin kuciumi pipinya itu jika bonyok nanti akibat di pukuli?


Ah.... Tiba-tiba aku menyesali syarat yang kuajukan pada Leo. Kenapa harus pakai restu Bapak sih? Padahal kan tinggal dinikahkan dengan Kak Rian maka semua urusan akan beres.


Ah... Maya.... Bodoh!


Atau pakai cara dulu aja, tekdung duluan terus nanti langsung dinikahin? Enggak...enggak... Enggak boleh kayak gitu lagi! Tobat May.... Tobat!


Tapi kalau wajah Leo-ku yang ganteng sampai babak belur gimana? Ah mana kemarin Leo baru DP ciuman singkat doang lagi! Hush! Sempat-sempatnya mikir kayak gitu di situasi kayak gini!


Aku menggelengkan kepalaku. Berusaha mendapatkan lagi kesadaranku. Ini situasi gawat, jangan sampai aku lengah. Kalau ada yang mau nampol Leo, aku akan maju melindunginya.


Kulihat sudut di dekat jendela kosong. Bapak sudah duduk bersebelahan dengan Papanya Angga di bagian dalam. Letaknya di tengah jadi bisa langsung mengawasi kami dari sudut pandangnya.


Sambil tetap berpegangan tangan dengan Leo aku duduk di dekat jendela, bersebelahan dengan Leo dan Ibu yang duduk di dekatku, lebih tepatnya di samping Kak Rian. Angga lalu menyusul masuk ke dalam dan duduk di sebelah Papanya.


Aku mencari keberadaan Kakakku yang satu lagi namun ternyata tidak ada. Yah lumayan lah, satu kompor berkurang, walau ngadepin Angga dan Papanya juga bukan perkata mudah.


"Ehem!" Bapak lagi-lagi berdehem untuk mendapatkan perhatian kami semua. "Jadi ternyata istri dan anak saya merencanakan sesuatu di belakang saya, tanpa sepengetahuan saya tentunya. Pasti kamu kan dalang di balik semua rencana ini!" Bapak langsung menunjuk ke arah Leo.


"Maaf, Pak. Saya tidak punya rencana jelek. Mungkin kesannya menutupi dari Bapak mengenai rencana kedatangan saya kesini, namun semua semata-mata karena ingin Bapak ada dirumah saat saya menyampaikan maksud dan tujuan saya datang kemari." jawab Leo dengan tenang.


"Alaaah, enggak usah disampaikan saya sudah tau. Kamu pasti mau minta restu sama saya kan?" kata Bapak dengan nada merendahkan.


"Betul, Pak. Saya kesini mau-" belum selesai Leo berbicara sudah dipotong dengan Papanya Angga.


"Jadi Angga diterima kan lamarannya, Pak?" Papanya Angga tak membiarkan Leo menyelesaikan perkataannya. Ia langsung menyalip tak mau kalah.


"Lamaran apa, Pak?" Aku juga langsung menyambar omongan Papanya Angga. Enggak bisa dibiarin nih! Enak aja ngomongin lamaran tanpa aku tahu terlebih dahulu.


"Lamaran Angga terhadap kamu. Ini Papanya Angga baik-baik datang ke rumah kita mau melamar kamu untuk anaknya loh! Bapak benar-benar merasa dihormati dan dihargai loh sebagai orang tua kamu. Bukannya tiba-tiba hamilin kamu lalu kawin lari dan kamu kembali lagi saat keguguran. Enggak tau diri sekali itu!" sindir Bapak.


Aku melirik ke arah Leo. Pasti Ia sangat marah sekarang namun masih berusaha menahan emosinya. Ia terlihat mengeratkan genggaman tangannya padaku.


"Maya enggak tau tentang hal itu, Pak. Jangan bilang kalau Bapak mengambil keputusan sendiri tanpa meminta jawaban Maya!"


"Untuk apa meminta jawaban kamu? Setiap orang tua pasti akan memberikan yang terbaik buat anaknya. Lebih baik daripada jalan yang kamu tempuh dulu tentunya." Bapak sudah tidak menanyakan lagi pendapatku.


"Maya menolak lamaran Angga, Pak!" kataku dengan tegas.


"Kenapa? Karena laki-laki tak bertanggung jawab yang ada di sebelah kamu?" Bapak menunjuk langsung ke arah Leo.


Aku baru saja hendak menjawab namun Leo memberi kode agar aku tidak terbawa emosi.


"Maaf kalau cara saya salah, Pak. Saya kesini mau minta restu Bapak untuk rujuk kembali dengan Maya." ujar Leo.


"Diam kamu! Saya tidak minta pendapat kamu." kata Bapak dengan penuh emosi.


Leo terdiam. Aku tau Leo bukan takut. Aku tahu Leo tak mau memperkeruh keadaan dengan debat kusir. Aku tahu Leo sedang mengulur waktu....


****


Hi semua....

__ADS_1


Aduh banyak banget yang penasaran dan minta Up cepet. Sabar ya cantik dan ganteng... Vote dulu dong. Jangan kasih kendor ya...


__ADS_2