Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Testpack


__ADS_3

"Wah kalian baru pulang? Malam sekali?! Mama siapin makan dulu ya." Mama Lena yang sedang duduk sambil menonton Papa bermain PS menyambut kedatanganku dan Leo.


"Iya, Ma. Leo lembur." jawabku sambil salim pada Mama dan Papa.


"Kasihan. Sudah kamu mandi dulu, nanti Mama siapin makan. Mama masak daging teriyaki kayak di restoran Jepang loh. Ada nugget homemade buatan Mama juga loh. Semuanya homemade deh pokoknya. Biar keluarga Mama sehat semua." Mama mengatakannya dengan mata yang berbinar. Terlihat sekali Ia bahagia sudah memberikan yang terbaik untuk keluarganya.


"Iya, Ma. Aku mandi dulu ya." Aku dan Leo yang habis salim pun masuk ke kamar.


"Sayang, Tony sekarang jadi sales mobil?" tanyaku sambil menaruh tas di rak khusus tas. Leo orangnya apik. Segala hal harus ditaruh di tempatnya.


"Enak aja sales mobil. Dia tuh punya show room mobil tau Sayang. Muka aja meles kayak orang susah, padahal mah anak orang tajir. Bisnis Bapaknya yang show room mobil dia yang jalanin sekarang." Leo sudah membuka kemejanya dan hendak masuk duluan ke kamar mandi tapi aku cegah.


"Ih aku duluan yang mandi."


"Kamu belum buka baju. Aku udah nih. Jadi aku duluan weekkk!"


"Enggak bisa gitu lah. Ladies first tau!"


"Yaudah bareng aja, gimana?" Leo menyunggingkan seulas senyum combonya. Combo jahil dan mesum.


"Enggak usah deh. Kasihan Mama Lena nanti nunggunya lama." aku lebih memilih mengalah untuk menang. Daripada ngotot ujung-ujungnya aku juga yang rugi.


"Loh Mama Lena malah seneng kalo kita mandi bareng kan kita bisa lebih cepet makan barengnya."


"Iya kalau cuma mandi doang. Enggak ada dalam kamus Leonardo Prakoso ngajak mandi doang tanpa ada embel-embel yang lain." sindirku tepat sasaran.


"Mulai deh kamu mikir macem-macem. Udah ayo bareng mandinya. Aku udah laper nih. Enggak macam-macam kok. Janji!"


"Beneran loh!"


"Iya. Aku janji enggak pas mandi tapi sebelum bobo macem-macemnya he...he...he... " senyum combo keluar lagi.


Akhirnya kami mandi bareng demi menghemat waktu. Mama Lena sudah menyiapkan makan malam untukku dan Leo.


"Mama enggak makan?" aku menyendok nasi untuk Leo beserta lauknya lalu menaruh di depan Leo.


"Mama, Papa dan Richard udah makan tadi. Kalian sih kemalaman pulangnya. Jadi enggak ikut makan bareng deh!"


"Maaf, Ma. Leo baru hari pertama buka kedok. Banyak nyamuk yang datang. Jadi dari tadi sibuk berbasa-basi. Sampai pegel Leo terus menerus senyum palsu." keluh Leo.


"Hush! Jangan kayak gitu. Nyamuk kayak gitu harus dipelihara. Harus dimaintain. Mereka kadang berguna juga buat kita. Kalau mereka belum mati, jangan dikubur dulu!" gurau Papa.


Leo terlihat tertawa mendengar gurauan receh Papa. Aku yang agak lola baru tertawa setelah mengerti maksudnya.


"Iyalah. Masa orang masih hidup udah mau dikubur? Papa gimana sih!" perkataan Leo ini yang membuat aku mengerti humor yang Papa buat dan tertawa setelahnya.


"Sudah ah jangan ngomongin kerjaan di rumah. Mama mau bahas tentang hajatannya Maya. Tadi Mama sudah menghubungi wedding organizer. Berhubung Bembi maunya pesta ala kampung tempat tinggalnya yaudah kita ikutun aja. Kebetulan WO ini biasa menangani hajatan antar daerah jadi enggak perlu ganti WO lagi."


"Atur aja, Ma. Leo sama Maya mah ikut aja. Papa, Mama, Bapak dan Ibu buat aja pesta sesuai keinginan kalian. Bapak kan mau nikahin anak perempuan satu-satunya. Biarkan mimpi Bapak kita wujudkan. Sama kayak Papa yang baru pertama kali ngadain pesta pernikahan. Kalian atur aja baiknya gimana. Maya dan Leo sebagai anak nurut aja." kata Leo sambil menikmati makan malamnya dengan lahap. "Nuggetnya enak, Ma. Nanti bikin lagi yang banyak ya buat Leo cemilin."


Mama Lena tersenyum senang. Ini adalah kebahagiaan baginya. Memasak untuk keluarga tercintanya. Mengalahkan bahagia saat shopping.


"Nanti aku belajar sama Mama cara buatnya. Biar aku juga bisa membuatkan untuk kamu, Sayang." aku menambah rasa bahagia Mama. Perasaan dihargai. Pasti Mama tambah bahagia deh. Terbukti dari wajahnya yang tersenyum makin lebar.


"Iya. Nanti Mama ajarin Maya sampai bisa. Nanti Maya bisa buatkan cucu dan anak Mama masakan turun temurun pakai resep yang Mama buat." kata Mama dengan mata berbinar.


Papa Dibyo pun mengalihkan topik pembicaraan. Ia mau menanyakan perihal mobil. "Besok kamu ke kantor naik mobil Papa saja ya Leo. Jangan naik motor lagi. Kamu kan sekarang sudah menjadi pimpinan. Kamu tuh wajah perusahaan. Papa enggak mau ada orang yang bilang gini: Yah pemimpinnya aja naik motor, gimana masa depan karyawannya kelak?"


"Memangnya ada yang nanya kayak gitu Pa?" aku yang bertanya menyuarakan pertanyaan dalam benakku.


"Ada, May. Biasanya anak baru atau investor. Belum mengenal siapa Leo yang sebenarnya. Mereka judge a book by the cover. Kalau anak baru jadi mengurungkan diri untuk kerja di perusahaan kita, sedangkan Investor malah bisa cabut enggak jadi menanamkan modal." Papa Dibyo menjelaskan dengan sabar padaku.


"Tapi Bos Facebook dan istrinya penampilannya sederhana, Pa. Tak memperlihatkan kekayaannya yang banyak itu. Malah hobby beramal malah." aku malah mendebat Papa dengan pemikiranku.


Papa tersenyum. "Kamu lupa May dimana kita tinggal? Disini tuh first looking yang dilihat. Mau penampilannya hasil ngutang atau pinjol alias pinjaman online yang penting gaya. Biar dikiran mampu dan banyak uang, padahal mah banyak utang. Beda sama di luar negeri. Justru orang kaya yang sebenarnya tuh rajin sedekah bukan rajin pamer." aku manggut-manggut mendengar penjelasan Papa.


Papa memang pintar. Dijelaskan Papa aku langsung mengerti. Pantas saja Papa menjadi pengusaha hebat. Wong pintar gitu. Apakah kakanda akan menjadi sehebat Papa?


"Iya, Pa. Besok Leo pakai mobil Papa aja yang Lexus. Tadi Leo baru pesan mobil sama Tony. Buat Maya juga Leo beli sekalian. Tapi kayaknya Leo mau mempekerjakan supir deh Pa."

__ADS_1


"Untuk apa? Kamu malas nyetir?" Papa pasti heran dengan permintaan Leo. Karena yang Papa tau Leo tuh enggak masalah bawa kendaraan sendiri sejak dulu.


"Buat Maya, Pa. Kasihan kalau besok-besok nungguin Leo sampai kemalaman." Leo sudah menyelesaikan makannya. Ia kini menenggak air putih miliknya sampai habis.


"Enggak usah, Sayang. Aku naik Kopaja aja." penolakanku langsung mendapat tiga pasang mata yang melotot ke arahku.


"Enggak boleh!" Mama, Papa dan Leo kompak melarangku.


"Err....." aku hanya menyunggingkan seulas senyum lalu menundukkan kepala. Takut. Keluarga Buntungers kalau sudah punya keputusan enggak bisa dibantah.


"Yaudah pakai supir Papa saja. Nanti pulang kerja Papa bareng sama kamu. Lebih menghemat waktu." keputusan Papa Dibyo malah membuatku merasa tidak enak.


Masa sih gara-gara mengantar pulang kacung kampret ini mereka jadi repot? Aku kan enggak enak. Mikir May! Mikir!


"Hmm... Aku bareng sama Kakanda aja gimana? Untuk sementara sampai mobil yang Leo belikan udah ada?" ide dadakan yang tercetus di kepalaku.


Leo dan Papa terlihat mempertimbangkan ideku. "Boleh juga. Tapi aku nanti akan tetap pakai supir. Kita berangkat bareng, kalau pulang baru kamu boleh bawa mobil sendiri. Itu keputusanku, enggak boleh dibantah! Dan satu lagi, jangan pernah berpikir untuk naik kopaja lagi! Enggak aman! Dan aku juga tidak tenang membiarkan kamu pulang naik angkutan umum!"


Kalau Kaisar Leo sudah bertitah, permaisuri Maya enggak bisa ngeyel dan harus menuruti semua perintahnya.


"Iya. Baiklah." kataku menyerah.


"Tapi kayaknya besok Maya Mama yang jemput deh. Kita mau ke designer buat baju pengantin. Oh iya, ini baju seragam Mama kirim pakai paket ya ke rumah Ibu dan Bapak kamu. Mama enggak sempat nganterin langsung." Mama Lena mengalihkan lagi obrolan ke hajatanku.


"Iya, Ma. Nanti Maya bilang sama Ibu."


"Mama dan Papa istirahat dulu ya. Kalian jangan tidur malam-malam. Besok harus kerja lagi." Papa dan Mama meninggalkan meja makan.


****


Pagi hari aku merasa badanku remuk redam. Bukan hanya karena semalam Leo menagih janji minta dipijitin tapi karena ada adegan lain selain pijit memijt. You know lah apa itu....


Jam 5 pagi. Kayaknya aku masih mau tidur lagi. Tapi aku harus mandi dan sholat subuh, takut kesiangan.


Kulirik Leo yang sedang tertidur pulas. Heran. Kenapa kalau Ia kelelahan di kantor, tapi enggak pernah lelah kalau ngajak ibadah malam. Huft....


Sebelum mandi aku membawa alat testpack yang sudah sejak kemarin Leo wanti-wanti untuk kuperiksa saat pipis pertama di pagi hari.


Sambil menunggu hasil testpack aku mandi dan membersihkan tubuhku. Selesai mandi aku langsung mengambil wudhu dan lupa akan testpack yang kutinggal diatas toilet.


Leo yang ternyata sudah bangun langsung ke kamar mandi. Aku selesai sholat dan sedang memanjatkan doa. Memohon agar Leo suamiku selalu dilindungi dan setiap keputusan yang Ia ambil bisa bermanfaat untuk orang banyak.


Tak lupa doa untuk kesehatan dan pengampunan dosa kedua orang tuaku. Doa untuk kebahagiaan seluruh keluargaku dan tentunya doa agar rumah tanggaku selalu dilindungi dari segala macam godaan.


Sedang khusyuk berdoa aku mendengar suara teriakan dari dalam kamar mandi.


"Sayang!" teriak Leo.


Aku menyudahi doaku dan mengusap wajahku dengan kedua tangan seraya berkata 'aamiin'.


"Sayang!" teriak Leo lagi.


Aku menghembuskan nafas dalam, kelakuan suamiku pagi-pagi sudah absurd saja. Udah teriak-teriakkan.


"Kenapa? Ada kecoa?" Leo memang agak takut dengan kecoa. Setiap ada kecoa suka teriak-teriak. Dulu waktu tinggal di kontrakkan begitu. Bahkan semua barang-barang di kamar mandi dilempar demi mengusir makhluk cokelat menyebalkan itu.


"Bukan!" teriak Leo lagi.


"Ih ada apaan sih?! Tunggu sebentar, aku kesana." aku melipat mukenaku dan sejadah yang telah kugunakan. Belum selesai melipat ternyata Leo sudah keluar dari kamar mandi.


"Sayang!" Leo mengenakan handuk yang Ia lilit dengan asal di pinggangnya. Lilitannya juga kurang kencang, kesenggol dikit pasti copot.


"Ada apa sih? Itu rambut kamu masih banyak busa shampoonya. Nanti kalau masuk ke mata jadi pedih."


Leo tak memperdulikan perkataanku dan berjalan cepat ke arahku. Ia berjongkok dan membuatku harus menutup mata.


"Ih kamu! Itu keliatan!" aku menunjuk handuknya yang tersibak saat Ia berjongkok.


"Biarin aja! Udah sering liat juga masih malu aja!"

__ADS_1


"Ya kan liatnya malam-malam, bukan pagi-pagi kayak gini!"


"Yaudah besok kita mainnya pagi, biar kamu terbiasa melihat dikala pagi dan malam!"


"Ih apaan sih! Kesempatan banget!"


"Udah... Udah! Jadi lupa aku sama niatku kesini! Ini," Leo menunjukkan testpack yang tadi kupakai dan tertinggal di kamar mandi. "Ini artinya apa?"


Aku mengambil testpack dari tangan Leo. Seketika mataku membulat.


"Du..dua." kataku tergagap.


"Dua apa? Sarimi isi dua?"


Aku memukul pelan bahu Leo yang tanpa busana. Sempat-sempatnya bercanda disaat seperti ini.


"Ini maksudnya dua garis!"


"Lalu?"


"Ish! Masih aja belum ngerti. Ini tuh udah anak kedua kamu masih belum paham juga!"


"Oh... Anak kedua.... Eh... Ini maksudnya kamu hamil? Anak kedua kita? Adeknya Adam?" Leo baru menyadari maksud perkataanku.


"Iya. Dua garis tuh artinya aku lagi hamil. Bukan Sarimi isi dua!"


"Yang bener? Alhamdulillah!" Leo memelukku erat. Memindahkan busa sabun di kepanya ke mukaku.


"Sayang iiiihh! Ini busanya kemana-mana!" omelku. Habis sudah basah semua mukena kena badan Leo yang masih basah sudah memelukku.


"Biarin! Aku senang!" Leo melepas pelukannya dan memegang perutku. "Sayangnya Papa! Kamu harus kuat dan sehat ya. Papa sayang sama kamu. Jangan nakal ya. Jangan nyusahin Mama, oke?"


Dan Leo pun membuat bajuku juga basah. Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat ulahnya pagi ini. Mr. So yang dihormati di kantor, tak ubahnya anak kecil yang kegirangan saat mendapat hadiah.


Ia pun kembali melanjutkan mandinya. Meninggalkanku yang harus membersihkan bekas basah dan becek yang Ia buat.


Aku tersenyum sambil mengelus perutku yang masih rata. Mataku memanas dan tak kuasa air mataku pun menetes.


"Semoga Mama bisa menjaga kamu. Mama enggak mau kehilangan kamu, seperti Mama kehilangan kakak kamu, Adam. Sehat terus ya, Nak."


Dan sikap lebay Leo pun dimulai sejak Ia tahu kalau aku hamil. Aku bagai orang sakit yang Ia tuntun dengan hati-hati menuruni tangga. Membuat Mama, Papa dan Kakanda yang sedang sarapan menatap kami dengan pandangan ingin tahu.


"Leo, Maya kenapa? Sakit?" tanya Mama Lena.


"Enggak, Ma. Leo aja yang lebay! Maya enggak apa-apa kok."


Aku lalu mendudukkan diriku di kursi yang telah Leo sediakan bak ratu.


"Lantas kamu kenapa sampai Leo lebay begitu?" tanya Mama lagi.


"Iya dong Ma harus lebay. Kan Maya sekarang sedang hamil. Harus mendapat perlakuan istimewa." jawab Leo dengan bangganya.


"Hah? Maya hamil?" Papa yang pertama bertanya.


"Beneran Leo kalau Maya hamil?" Mama bertanya kedua.


"Cepet banget udah hamil aja! Jangan-jangan tekdung duluan ya?" pertanyaan Kakanda membuat semua menatapnya tajam.


"Enak aja tekdung duluan. Ini tuh murni dibuat setelah akad nikah." jawab Leo santai.


"Kok cepet banget?" masih aja nanya nih Kakanda.


"Ya gitu deh. Hebatnya si otong. Enggak pakai asalamualaikum waalaikumsalam langsung jadi." jawaban Leo membuat Kakanda skak mat. Enggak mau nanya lagi. Inilah perpaduan antara menjawab dengan pamer ha...ha...ha....


****


Hi Semua...


Aku mau ngucapin terima kasih banyak untuk dukungannya. Untuk tipsnya, hadiah dan vote. Makasih ya semuanya. Karena itu aku mau kasih berita di IG aku : Mizzly_ untuk kalian yang udah follow. Maacih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2